DETAK Love Story' School

DETAK Love Story' School
Episode 360 Jawaban yang tepat.


__ADS_3

Sasy harus mengasingkan diri. Di mana dia makan sendirian di halaman rumah sakit yang di sana terdapat salah satu bangku.


" Makan sendiri memang tidak enak. Tapi tidak apa-apa, aku memang harus terbiasa. Aku mana mungkin bersama mereka. Yang di bahas setiap hari sudah berbeda. Mereka sudah membahas masalah rumah tangga mereka. Sementara aku tidak punya rumah tangga. Walau tidak enak tidak apa-apa, lama kelamaan aku akan biasa makan sendirian. Dari pada sakit hati mending di biarin aja," ucap Sasy yang tersenyum tipis menutupi hatinya yang sedang sakit.


Sasy hanya berusaha untuk tegar dalam setiap hal. Menyadari lebih baik. Dari pada dia akan terus merasa sakit hati.


*************


Toby duduk di salah bangku di Bandar. Toby duduk yang sudah lengkap dengan pakaian pilot yang pasti dia ada penerbangan untuk saat ini. Duduk termenung dengan wajahnya yang murung dengan kopernya yang berada di sampingnya.


Toby melihat handphonenya dan yang mana ternyata Toby melihat foto dia dan Sasy. Mata itu menatap sendu saat melihat Sasy. Teringat kembali kejadian di mana mereka bertengkar hebat dan akhirnya Sasy memutuskan hubungan mereka.


Toby terlihat menarik napasnya panjang dan membuangannya perlahan kedepan.


" Maafkan aku Sasy, aku tidak bisa menikah denganmu, mungkin memang aku tidak yang terbaik untukmu, maafkan aku Sasy," ucap Toby dengan matanya berkaca-kaca yang mungkin tidak akan mudah bagi Toby untuk melepas Sasy.


Pasti memang tidak mudah untuk melepas Sasy. Tapi mau gimana lagi. Sasy tidak bisa bertahan dengan pria yang tidak punya komitmen.


" Kapten!" tegur salah satu pramugari yang membuat Toby kaget.


" Hmmm," sahut Toby.


" Sebentar lagi penerbangan," ucap Pramugari mengingatkan.


" Hmmm, baiklah," sahut Toby menyimpan handphonenya. Dia harus fokus pada penerbangannya. Karena keselamatan penumpang ada di tangannya.


Toby langsung bangkit dari duduknya, menyeret kopernya dan berjalan menyusul Pramugari tersebut.


***********


Nadya keluar dari kamar mandi dan melihat Varell masih tertidur pulas. Padahal matahari sudah tinggi. Tetapi dia masih tidur saja. Nadya tersenyum lalu menghampiri Varell duduk di samping Varell dengan memegang pipi Varell.


" Varell bangun, Varell sudah siang, Varell!" ucap Nadya dengan lembut membangunkan Varell yang masih tetap tertidur pulas.


" Varell bangunlah!" ucap Nadya yang lagi-lagi membangunkan Varell. Varell tetap tertidur. Namun meraih tangan Nadya dan meletakkan didanya.


" Aku masih mengantuk Nadya," ucap Varell dengan suara serak. Matanya masih tetap terpejam.


" Tapi ini sudah siang," sahut Nadya.


" Sebentar lagi, 5 menit lagi," ucap Varell yang melakukan tawar menawar dengan Nadya.


" Ya sudah kamu tidur lagi, aku siapkan sarapan ya untuk kamu," sahut Nadya yang ternyata juga kasihan jika membiarkan suaminya bangun dengan terpaksa.


Nadya pun ingin berdiri keluar dari kamar. Namun Varell menarik yang membuat Nadya kaget yang mana Nadya sudah berada di atas tubuh Varell dan Varell langsung memeluk Nadya mengkunci Nadya agar tidak bisa bergerak.


" Kamu!" ucap Nadya kesal saat wajah itu berhadapan dengan Varell. Varell tersenyum dengan jahilnya dengan membelai-belai rambut Nadya.


" Nadya aku ini pengangguran, jadi untuk apa membangunkanku pagi-pagi seperti ini," ucap Varell dengan suara seraknya.

__ADS_1


" Ini bukan pagi lagi Varell ini sudah siang dan kamu malah tidak bangun, ini bukan masalah bangun ada pekerjaan atau tidak. Tetapi ini supaya tetap bangun pagi. Walau ada pekerjaan atau tidak," ucap Nadya dengan lembut.


" Baiklah istriku, aku akan bangun lebih cepat, supaya istriku tidak mengomeliku," sahut Varell.


" Aku tidak mengomelimu, aku hanya mengingatkan saja," sahut Nadya.


" Hmmmmm," sahut Varell yang memeluk erat Nadya lagi, " Aku tidak percaya, jika akhirnya kita bisa menikah, kamu sudah menjadi istriku, aku masih merasa jika semua itu hanya mimpi," ucap Varell yang begitu bahagia dan masih tidak percaya dengan statusnya yang berubah menjadi suami.


" Aku juga sama Varell, aku juga tidak percaya dengan kita ber-2 yang sudah menjadi suami istri," sahut Nadya.


" Nadya jangan pernah berhenti mencintaiku, aku tidak tau bagaimana hampanya hidupku tanpa cintamu," ucap Varell.


" Meski aku sudah berhenti bernapas. Aku bisa menjamin 100persen jika aku tidak akan pernah berhenti mencintai mu," sahut Nadya.


" Terima kasih untuk ketulusan dan kesabaranmu untukku selama ini," sahut Varell.


" Aku yang berterima kasih, karena kamu sudah menerimaku dan memilihku menjadi istrimu," sahut Nadya.


Varell tersenyum dengan memeluk erat istrinya seakan tidak akan pernah di lepasnya. Kebahagian memang pasti akan bertambah lengkap, jika Helena merestui mereka. Tetapi ternyata tidak mendapat restu mereka tetap bahagia. Walau kebahagian itu tidak sempurna yang mereka harapkan.


*************


Raquel berlari mengejar Sasy yang ingin memasuki mobil. Sedari tadi Raquel memanggil nama Sasy. Namun Sasy tidak mendengar atau pura-pura tidak mendengar, makanya Raquel harus kewalahan untuk mengejarnya.


" Sasy tunggu!" panggil Raquel yang berhasil menahan tangan Sasy. Saat Sasy ingin membuka pintu mobil. Sasy membuang napasnya perlahan. Lalu membalikkan tubuhnya menghadap Raquel.


" Ada apa?" tanya Sasy datar. Namun Raquel masih terlihat mengatur napasnya yang naik turun.


" Maaf aku tidak dengar, mungkin karena aku buru-buru," sahut Sasy yang terlihat cuek.


" Issss, sok buru-buru, memang mau ngapain, mau siapin makanan untuk suami, memang punya," sahut Raquel yang bicara asal-asalan.


Sasy harus menahan diri dengan sakit hati. Mungkin omongan Raquel bercanda. Tetapi Raquel tidak sadar, kata-kata itu membuat Sasy sakit hati.


" Memang ada apa kamu memanggilku?" tanya Sasy mengalihkan segalanya.


" Temani ke Mall dong, kita kan sudah lama nggak jalan-jalan, sekalian ajak Cherry juga," sahut Raquel.


" Aku tidak bisa," sahut Sasy menolak.


" Ishhh, parah banget, biasanya juga paling lancar kalau soal jalan-jalan, memang kamu mau kemana coba, bukannya Toby lagi ada penerbangan. Jadi kamu mau kemana," ucap Raquel.


" Aku tidak bisa bukan berarti ada urusan dengan Toby, jika kalian punya kesibukan. Aku juga punya kesibukan," sahut Sasy dengan ketus.


" Apaan sih Sasy, ngomongnya serius amat kayak udah orang benar aja. Udah ahhhh kita ke Mall pokoknya hari ini, shopping, makan dan yang lainnya," ucap Raquel yang memegang tangan Sasy yang ingin mengajaknya. Namun Sasy langsung melepasnya dengan paksa yang membuat Raquel heran.


" Tolong ya Raquel bukan cuma kamu yang punya prlrivasi aku juga punya privasi. Jika tidak mau di ganggu, jadi jangan menggangguku, aku sudah mengatakan tidak. Maka tidak. Permisi!" ucap Sasy dengan tegas dan langsung pergi.


Raquel sampai bengong dengan kata-kata Sasy yang terlihat dingin sampai dia tidak menyadari jika Sasy sudah memasuki mobil dan pergi. Raquel tampaknya terkejut makanya sampai tidak bisa bicara apa-apa.

__ADS_1


" Sasy!" panggil Raquel saat mobil itu sudah melaju.


" Sasy kenapa sih, kenapa coba dia bicara seperti itu. Kenapa aku merasa sikapnya sangat aneh belakangan ini," batin Raquel yang tersentak dengan sikat Sasy sampai membuatnya diam dan tak bisa bicara apa-apa.


Raquel tidak pernah menyadari jika setiap kata-kata yang di ucapkannya pada Sasy membuat Sasy sakit hati. Dan Sasy juga punya ke sabaran di lain masalah yang banyak terima dengan Toby.


Di tambah teman-temannya yang sama sekali tidak satupun tau apa yang di rasakannya. Bukannya membuat hatinya membaik. Terkadang bicara teman-temannya yang tidak sengaja justru semakin melukainya.


********


Mall


Tidak ada Sasy saat ini. Di mana hanya ada Cherry, Verro, Raquel, Aldo, Aziz, Vandy, Iqbal, Nadya dan Varell yang ke Mall. Meraka berbelanja bersama-sama saling memilihkan pasangan masing- masing. Vandy juga tidak lupa mengajak anaknya untuk bermain game. Cherry si bumil cantik juga mulai melihat-lihat pakaian bayi.


Ya banyak yang mereka lakukan di dalam Mall, sekedar untuk healing agar pikiran tidak terlalu penat.


Setelah selesai dengan kegiatan masing-masing di dalam Mall, berbelanja dan sebagainya, mereka melanjutkan dengan mengisi perut makan malam di Restauran yang ada di Mall di mana mereka berada di satu meja yang besar dengan penuh banyaknya makanan yang banyak.


" Sasy memang tidak datang?" tanya Cherry tiba-tiba yang mengingat Sasy. Sedari tadi dia memang menunggu-nunggu Sasy.


" Lagi PMS kali, nyebelin banget belakangan ini," sahut Raquel dengan wajah kesalnya yang mengunyah makanan dengan lahap.


" Memang Sasy kenapa?" tanya Azizi heran.


" Sudahlah, Sasy itu biasa kalau moodnya aja yang harus di turuti. Kalau dia yang mengajak harus semuanya ikut, giliran orang di malah suka-sukanya. Sok sibuk," sahut Vandy sambil menyuapi Iqbal makan.


" Kok bisa gitu ya, atau jangan-jangan Sasy ada sesuatu lagi," sahut Nadya menebak-nebak.


" Ada sesuatu apa. Dia itu nggak kenapa-kenapa, memang anaknya aneh-aneh aja tingkahnya. Udahlah nggak usah di pikirin. Bikin pusing aja," sahut Varell.


" Hmmmm, tapi benar kata Nadya, aku juga merasa Sasy belakangan ini, dia kayak menghindar gitu," sahut Cherry.


" Kamu berlebihan Cherry, kalaupun ada apa-apa, dia pasti beri tahu kita," sahut Verro.


" Memang Toby kemana?" tanya Aldo.


" Paling ada penerbangan," sahut Varell.


" Hmmm, aku juga tidak pernah komunikasi dengan Toby sejak habis di nikahan Nadya dan Varell. Toby juga kelihatan sibuk banget belakangan ini," sahut Vandy.


" Penerbangan jadwalnya tidak menentu, mungkin itu juga yang membuatnya sibuk. Tapi bukannya biasanya Toby juga akan menyapa atau apapun di grup," sahut Azizi.


" Yang iyanya Sasy maupun Toby sama- sama sok sibuk, udahlah biarin aja," sahut Raquel yang sepertinya begitu kesal dengan Raquel.


" Ya sudah kita sebaiknya makan aja, biar kita pulang udah larut malam juga," sahut Nadya.


" Iya ayo makan, jangan cerita mulu," sahut Varell.


" Aku merasa ada sesuatu pada Sasy, kenapa ya dia, aku akan mencoba bertemu dengannya nanti aku bertanya ada apa dengannya," batin Cherry yang tetap kepikiran dengan Sasy.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2