DETAK Love Story' School

DETAK Love Story' School
Episode 81 kembali ke Vila


__ADS_3

Vandy dan Azizi sudah duduk berdekatan di depan api unggun. Yang lain tidur mereka malah mengobrol dengan asyik di tengah malam.


Dengan kopi yang sedari tadi mereka minum sambil tertawa-tawa seperti apa yang mereka ceritakan begitu lucu sampai ke-2nya tidak lepas tertawa.


" Astaga aku tidak menyangka ternyata Verro diam-diam dari dulu cemburuan dengan Cherry," sahut Azizi.


Ternyata topik pembicaraan itu adalah Verro. Verro yang menjadi bahan Gibah yang membuat ke-2nya tidak hentinya tertawa.


" Dia itu memang seperti itu. gengsinya terlalu tinggi padahal dia itu sayang banget sama Cherry hanya saja mengungkapkan itu sulitnya minta ampun," sahut Vandy lagi.


" Makanya dia suka marah-marah dengan Cherry," tebak Azizi.


" Kamu benar, setiap ada cowok yang dekat dengan Cherry, pasti Verro akan mencari kesalahan Cherry dan mengomelinya. Dan dari dulu Cherry itu selalu dia dan menerima saja apa yang di lakukan Verro kepadanya," ucap Vandy menjelaskan.


" Berarti selama ini kamu mengintai Verro dan Cherry," ucap Azizi menebak-nebak.


" Aku hanya bisa melihat dari mata Verro yang sebenarnya menyukai Cherry yang bukan karena apa-apa. Tetapi hatinya memang menyukai Cherry. Makanya aku juga sering memanas-manasinya supaya dia semakin dongkol," jelas Vandy lagi.


" Aku juga bisa melihat kalau Verro dan Cherry itu sama-sama gengsian padahal sama-sama sayang," sahut Azizi yang juga bisa menebak.


" Kamu benar. Tetapi syukurlah gengsi itu sudah di runtuhkan," sahut Vandy.


" Yang penting sekarang mereka sudah jadian. Dan itu adalah hal yang baik. Banyak sahabat yang akhirnya menjalin hubungan lebih dari sahabat memilih untuk pacaran. Bahkan ada yang sampai menikah," ucap Azizi.


" Kamu benar, kita doakan saja yang terbaik dengan hubungan mereka. Dan ya aku harus jaga jarak dengan Cherry. Kalau tidak Verro setiap hari akan terbakar cemburu," sahut Vandy.


" Kamu harus menjadi korban," sahut Vandy.


" Sudah resiko mau gimana lagi," sahut Vandy tertawa. Azizi juga ikut tertawa bahagia.


" Kamu sudah mengantuk,?" tanya Vandy.


" Belum bagaimana mau mengantuk dari tadi kita tertawa-tawa saja," sahut Azizi. Vandy menatap Azizi dengan dalam. Dia belum pernah melihat Azizi berpenampilan seperti itu.


Menurutnya Azizi memang sangat berbeda. Kalau cantik pasti Azizi terlihat sangat cantik tanpa menggunakan kacamata dan rambut tanpa di kelabang. Mata Vandy tidak henti-hentinya menatap wajah itu.


" Vandy kenapa melihatku seperti itu?"tanya Azizi merasa gugup mendapat tatapan yang penuh arti seperti itu.


" Hah, Ohh.." Vandy menjadi salah tingkah dan dengan cepat mengalihkan pandangannya. Azizi melihat nya tersenyum tipis.


Sekarang Vandy malah gugup dengan menggaruk-garuk kepalanya.


" Apa ada yang salah denganku?" tanya Azizi.


" Hmmm, oh tidak, aku hanya aneh saja melihatmu berpenampilan tidak biasanya," jawab Vandy gugup. Azizi memeriksa penampilannya sendiri.


" Jika nyaman seperti itu, kenapa tidak seperti itu saja," sahut Vandy pelan tanpa melihat Azizi.


" Aku lebih nyaman seperti biasanya. Aku seperti ini karena mau tidur saja," jelas Azizi.


" Apa kau lebih suka melihatku seperti ini dari pada sebelumnya," tanya Azizi pelan.


" Tidak. Aku suka kau mau berpenampilan seperti apapun. Yang penting kenyamanan mu," jawab Vandy melihat ke arah Azizi dan tersenyum lebar.


" Hmmmm, iya aku nyaman seperti biasanya," sahut Azizi. Vandy mengangguk dan menatapnya tanpa mengedip dalam dan sangat dalam.


Azizi membalas tatapan itu. Keduanya saling menatap dengan debaran jantung mereka yang aneh. Aneh tetapi tidak bisa di jelaskan. Mungkin saja Vandy jatuh hati dengan Azizi atau sebaliknya.


*********


Pancaran sinar matahari sudah bangun dari tidurnya. Pagi ini begitu cerah dengan tiupan angin yang sangat dingin.


Murid-murid sekarang sedang menikmati sarapan mereka. Dengan berkumpul berbaris saling berhadapan dengan daun pisang tengah-tengah mereka yang di susun memanjang.


Lebih tepatnya sarapan itu seperti liweten tapi yang di makan bukan nasi liwet tetapi nasi goreng yang di masak secara bekerja sama.


" Anak-anak perhatiannya sebentar," Pak Sony berdiri dengan toaknya. Memberi arahan sebelum melakukan sarapan.

__ADS_1


" Ini adalah kemping terakhir kita," ucap Pak Sony.


" Yeeeee," sorak murid-murid. Pasti ada yang senang dan ada yang tidak senang.


" Sudah tidak sabar rebahan di kasur empuk," sahut Selina mengangkat keatas ke-2 tanagnnya keatas.


" Ahhhh, pengen tidur nyenyak dan menikmati fasilitas Villa," sahut Sasy yang lebih suka berada di Villa dari pada di hutan.


" Kok cepat banget sih Pak," protes Toby yang menurutnya masih kurang


" Benar Pak, belum juga ngapain-ngapain," sambung Beben yang juga sepertinya menyukai perkempingan.


" Ini sudah jadwal yang memang di tentukan, jadi jangan banyak komplen. Setelah sarapan kalian mengemasi barang-barang kalian yang ada di dalam tenda jangan sampai ada yang ketinggalan," jelas Pak Sony.


" Dan untuk Aldo dan Raquel," Pak Sony mengalihkan pandangannya kepada Aldo dan Raquel.


" Kalian ber-2 masih dalam proses hukuman atas kegagalan kalian mengambil bendera. Jadi hukuman pertama. Kalian yang akan membuka semua tenda menyusunnya dengan rapi," ucap Pak Sony dengan tegas.


Raquel yang duduk berhadapan dengan Aldo saling melihat. Ketika mendengarkan hukuman pertama itu.


" Apa itu tidak berlebihan pak?" sahut Mitha memperotes keberatan dengan temannya yang akan di hukum.


" Kamu mau ikut Mitha mendapat hukuman seperti mereka?" tanya Pak Sony. Mitha langsung menggeleng dengan cepat.


" Kalau tidak mau ikut jangan banyak protes," tegas Pak Sony.


" Iya pak," sahut Mitha kesal.


" Kalian berdua harus mematuhi apapun hukuman yang akan di berikan. Jangan membantah. Mengerti Aldo?" tanya Pak Sony melihat Aldo.


" Iya Pak," jawab Aldo lapang dada menerima hukuman itu.


" Kamu Raquel," tanya Pak Sony mengalihkan wajahnya pada Raquel. Raquel hanya mengangguk sebagai jawaban.


" Hmmmm, ya sudah kalau semua sudah jelas. Kalian bisa mulai sarapannya," ucap Pak Sony.


" Baik Pak," sahut mereka dengan serentak.


" Apa makanannya ada di wajahnya?" tanya Verro sinis membuat Cherry kaget sedikit. Sadar ternyata Verro mempehatikannya.


" Tidak bukan itu," sahut Cherry menyendokkan makanan masuk kemulutnya.


" Lalu kenapa melihatnya sangat dalam?" tanya Verro dengan wajahnya yang kesal.


Cherry melihat kearah Verro. Melihat wajah Verro yang tidak bisa menyembunyikan rasa cemburunya.


" Dasar cemburuan," desis Cherry tersenyum.


" Aku tidak cemburu. Tapi apa cocok ada kekasihmu di sampingmu. Tetapi malah melihat pria lain, apa itu pantas," ucap Verro dengan serius. Mendengarnya Cherry semakin tersenyum.


" Kekasih, dia sekarang terlihat posesif," batin Cherry tampak senang dengan kata kekasih.


" Malah tersenyum, aku serius," sahut Verro kesal.


" Baiklah Verro kita lupakan, aku minta maaf. Aku hanya heran saja kenapa Aldo tidak bisa menyelesaikan tugasnya," sahut Cherry menjelaskan dengan lembut.


" Dan kamu khawatir dengan hal itu," sahut Berry yang benar-benar posesif.


" Tidak... siapa bilang," Cherry langsung membantah. Sudahlah ayo kita makan, jangan membahas itu lagi," ucap Cherry. Verro mengangguk.


" Awas kalau melihatnya lagi," ancam Verro dengan lembut.


" Iya," sahut Cherry tidak ikhlas.


" Cemburu tidak mau mengaku," batin Cherry mengkerucutkan bibirnya.


********

__ADS_1


Murid-murid sudah selesai menyiapkan barang-barang mereka dan sudah di masukkan ke dalam ransel masing-masing.


Tetapi Aldo dan Raquel yang mendapat hukuman harus membuka semua tenda. Ke-2 nya bahkan tidak saling bekerja sama.


Ke-2 nya saling berjauhan mengerjakan tugas masing-masing. Mereka juga tidak ada pembicaraan. Padahal jelas. Kondisi seperti itu membuat Raquel pasti membutuhkan bantuan Aldo.


Karena mana mungkin orang sepertinya bisa menyelesaikan hal itu. Jadi dia hanya membuka asal dengan wajahnya yang penuh kekesalan yang penting selesai.


Jelas Aldo mencuri-curi untuk melihat Raquel yang bekerja sembarangan membuat Aldo geleng-geleng.


" Apa tidak ada hukuman lebih berat dari sini," batin Raquel kesal.


Sementara di sisi lain. Cherry, Azizi, Sasy, dan Nadya duduk di atas rumput di bawah pohon mengobrol. Murid-murid tetap harus menunggu Aldo dan Raquel baru bisa kembali ke Villa.


" Kok bisa sih Aldo nggak selesain tugasnya?" tanya Sasy Azizi heran.


" Pasti gara-gara Raquel lah. Kan dia memang malas. Jadi Aldo sial aja satu tim dengannya," sambar Sasy sambil memperbaiki riasannya di depan kaca yang di genggamnya.


" Shutttt," sahut Cherry meletakkan1 jarinya di bibirnya, " kamu nggak boleh asal tuduh belum tentu itu benar," lanjut Cherry.


" Benar kata Cherry belum tentu juga Raquel yang membuat masalah," sahut Azizi.


" Coba aja kita tanya Aldo, pasti apa yang aku katakan benar, jika Raquel dalangnya," sahut Sasy benar-benar yakin.


" Yang paling terpenting mereka ber-2 mau menjalani hukuman dan untungnya Pak Sony meringankan hukuman mereka. Tidak melapor pada orang tua," sahut Nadya berpikir positif.


" Tuh, setuju yang di katakan Nadya," sahut Cherry.


" Bagaimana kaki kamu Nadya, apa masih sakit?" tanya Azizi.


" Sudah tidak," jawab Nadya.


" Syukurlah kalau begitu," sahut Azizi.


" Ini semua berkat kalian, terima kasih sudah membantuku," sahut Nadya merasa bahagia.


" Santai aja itu sudah hal biasa," sahut Cherry tersenyum.


" Eh kalian agak rapat," tiba-tiba Toby datang dengan kamera yang menggantung di lehernya.


" Biar aku fotoin," ucap Toby.


" Boleh," sahut Cherry tersenyum.


" Siap ya, 1 2 3," Ceklek Toby memotret wanita-wanita itu.


" Lagi dong, bum terasa nih," sahut Sasy ketagihan.


" Oke ganti gaya," sahut Toby kembali memotret.


Mereka tersenyum dengan gaya masing-masing yang berfoto dengan duduk dan sudah entah gaya yang mereka tunjukkan.


" Verro sini?" panggil Cherry melihat Verro, Vandy dan Varell, " Ayo foto sama," ajak Cherry.


Verro, Varell dan Vandy saling melihat. Lalu setuju untuk ikut berfoto.


Merekapun bergabung berfoto dengan gaya yang berbagai macam. Sekarang Toby juga sudah bergabung bersama mereka.


Para laki-laki berdiri membungkuk dan wanita duduk dengan gaya masing-masing dan pasti sudah entah berapa kali.


Ternyata di balik kebahagian persahabatan itu. Di ujung sana ada Fiona yang melihat dengan rasa tidak suka. Fiona berdiri dengan ke-2 tangan di letakkan di dadanya dengan wajah fokus menatap ke arah kerumunan itu.


" Mereka terlihat sangat bahagia. Setelah mempermalukan ku, mereka sekarang tertawa-tawa," batin Fiona yang tampak menyimpan dendam melihat kebahagian itu.


Bersambung...


Jangan lupa mampir ke sini ya. Ditunggu like Coment, Vote nya. Terima kasih.

__ADS_1


Hay para readers yang baru bergabung. Bantu support ya novel aku yang baru.


Tinggalkan jejak. Komentar, like, dan jangan lupa vote sebanyak-banyaknya. Agar aku semakin semangat melanjutkan ceritanya.


__ADS_2