DETAK Love Story' School

DETAK Love Story' School
Episode 177. Donor


__ADS_3

Azizi memasuki ruangan Verro. Verro mengatakan ada yang ingin disampaikannya mengenai operasi sang anak. Setiap Verro mengajak bertemu. Perasaannya pasti tidak tenang dan seperti hari ini.


Pikirannya pasti kemana-mana membuatnya. Karena jika Verro mengajaknya bertemu. Pasti membicarakan hal yang sangat serius. Jadi wajar saja. Jika dia benar-benar gemetaran.


" Ada Verro memanggilku. Apa masalah biaya operasi yang belum aku lunasi," batin Azizi yang panik.


" Verro, kenapa kamu memanggilku?" tanya Azizi akhirnya. Karena dia sudah tidak sabaran dengan apa tujuan Verro memanggilnya.


" Azizi aku minta maaf sama kamu," ucap Verro Tiba-tiba. Azizi mengkerutkan dahinya. Heran dengan Verro yang malah minta maaf. Dan perasaannya justru semakin tidak karuan. Dia mulai merasa pasti ada yang tidak beres.


" Apa maksud kamu. Minta maaf soal apa?" tanya Azizi bingung.


" Kamu tenang ya," ucap Verro lagi yang belum mengatakan apa-apa sudah menyuruh untuk tenang.


" Ada apa Verro, katakan yang jelas," desak Azizi semakin penasaran.


" Kita tidak bisa melakukan operasi Iqbal," ucap Verro. Azizi kaget mendengarnya. Wajahnya yang tadi panik semakin panik.


" Apa maksud kamu. Kenapa tidak jadi. Aku memang belum membayar biaya pengobatannya. Tapi bukan berarti itu tidak jadi. Verro kamu tidak bisa seperti ini. Aku akan melunasinya," ucap Azizi yang penuh kepanikan.


" Azizi, bukan seperti itu, kamu tenang dulu," sahut Verro.


" Tenang bagaimana, anak ku harus sembuh dan kamu seenaknya mengatakan operasinya tidak bisa di laksanakan hanya karena aku belum melunasi biaya pengobatannya," sahut Azizi menaikkan Volume suaranya. Dia mulai marah dengan kata-kata Verro.


" Tidak Azizi. Ini bukan masalah biaya. Ini masalah donor tulang sumsumnya yang tidak cocok," sahut Verro menegaskan. Azizi semakin kaget mendengarnya.


" Apa maksud kamu?" tanya Azizi dengan suara beratnya.


" Donor tulang sumsunya tidak cocok untuk Iqbal dan itu berati operasinya tidak bisa di jalankan secepatnya. Kita harus menundanya untuk sementara," jelas Verro. Azizi langsung meneteskan air mata mendengar kenyataan tersebut.


" Itu tidak mungkin. Lalu sampai kapan. Bukannya kamu bilang. Kalau operasinya semakin lama. Kondisi Iqbal akan semakin memburuk," ucap Azizi yang langsung menangis. Verro mengerti perasaan Azizi. Tetapi dia hanya Dokter yang hanya bisa berusaha.


" Verro, bagaimana nasib anakku. Aku tidak mau kehilangan dia," ucap Azizi lagi yang benar-benar panik.


" Aku mengerti perasaan kamu. Tapi kita harus menunggunya sampai ada donor yang baru," ucap Verro.


" Apa jika sudah mendapatkan Donor itu. Iqbal akan segera di operasi," ucap Azizi. Verro mengangguk.


" Kalau begitu aku saja. Aku tidak apa-apa. Asal kan putra ku bisa sembuh," sahut Azizi yang tergesa-gesa.


" Tidak bisa Azizi," sahut Verro.


" Apa maksud kamu tidak bisa. Aku adalah ibunya. Pasti akan sama buka," sahut Azizi.


" Aku sudah mematikannya dan berbeda dengan Iqbal," ucap Verro. Azizi kaget mendengarnya. Bahkan dia saja tidak bisa membantu putranya.


" Jika kamu berbeda dan berarti ayahnya yang sama. Dan jika operasinya ingin di laksanakan secepatnya. Mungkin donor tulang sumsum belakang akan di dapat dari ayahnya," jelas Verro.


" Ayah," ucap Azizi pelan. Verro mengangguk.


" Mungkin itu bisa menyelamatkan Iqbal," lanjut Verro Air mata Azizi kembali menetes. Ketika mendengar hal itu.

__ADS_1


" Apa tidak ada cara lain?" tanya Azizi dengan suara beratnya. Verro menggeleng.


************


Setelah dari ruangan Verro. Azizi duduk termenung di salah satu bangku rumah sakit yang berada di taman. Kata-kata Verro yang mengatakan yang menyelamatkan Iqbal hanyalah sang ayah jelas itu membuat air matanya terus menetes.


..." Aku sudah mengatakan aku hamil," ucap Azizi mengatakan sekali lagi....


..." Lalu apa hubungannya dengan ku," sahut Vandy mengnggapi dengan datar....


..." Vandy," lirih Azizi....


..." Jika kamu hamil apa urusannya denganku?" tanya Vandy menegaskan....


..." Kamu tidak lupakan Vandy kejadian malam itu?"...


..." Iya aku tidak lupa dengan kejadian. Kejadian di mana kamu menjebakku untuk melakukan semua itu," ucap Vandy membuat Azizi melotot tidak menyangka jika Vandy mengatakan bahwa dia menjebak...


..." Apa maksud kamu menjebak. Kamu sendiri yang datang ke kamarku. Kamu yang yang bolos dari kegiatan dan datang ke kamarku dan membawaku ketempat itu,"...


..." Aku memang membawamu. Tetapi kamu memulai semuanya," sahut Vandy yang benar-benar mengelak dengan kebenaran....


..." Aku hanya mengakui perasaanku. Karena suasana yang kamu berikan. Aku mengakui perasaanku karena kamu memberikan peluang kepadaku Dan kamu juga membalas perasaan itu," jelas Azizi....


..." Dan sekarang dengan seenaknya kamu mengatakan itu jebakan. Di mana hati kamu Vandy," lanjut Azizi mulai mengeraskan suaranya....


..." Apa aku ada mengatakan aku ada membalas perasaanmu. Apa aku ada mengatakan aku menyukaimu. Kau yang menyukaiku Azizi dan kau menyerahkan dirimu kepadaku. Dan itu bukan salahku," tegas Vandy membuat Azizi kaget....


..." Kenapa aku harus bertanggung jawab. Asal kau tau saja. Aku juga tidak bodoh Azizi. bukan aku orang yang pertama melakukan itu dan pekerjaan mu yang seperti itu. Mana tau kau hamil anak siapa. Jadi jangan menuntut apapun kepadaku. Karena anak yang kau kandung bisa memiliki banyak ayahnya," tegas Vandy dengan entengnya....


..." Kau benar-benar jahat Vandy,"...


..." Apa yang yang kamu bukan anakku. Jadi jangan menuntut apa-apa kepadaku," tegas Vandy....


Masa lalu itu kembali teringat di dalam benak Azizi. Mengingat hal yang menyakitkan itu membuat tangannya harus beberapa kali menyeka air matanya.


" Apa Iqbal adalah anakku,"


Vandy yang beberapa hari yang lalu juga sempat menanyakan tentang Iqbal yang diduganya adalah anaknya.


" Seharusnya dia memang anakmu. Tetapi kau tidak mengakuinya. Meski saat dia berada di dalam rahimku,"


" Dan sekarang apa yang harus aku lakukan. Bagaimana caraku menyelamatkan anakku. Hanya Vandy yang bisa menyelamatkannya. Tetapi tidak mungkin aku mengatakan jika b


memang Iqbal anaknya. Semuanya terlalu menyakitkan. Dia tidak mengakui hal itu dan bahkan dulu dia mencampakkan ku,"


" Bagaimana ini. Apa yang harus aku lakukan," ucap Azizi menangis terisak-isak saat di mana dia membutuhkan Vandy untuk anaknya.


Azizi harus di hadapkan 2 pilihan memberi tahu kebenaran dan melupakan sakit hatinya agar putarnya sembuh. Atau tetap dia dan melihat putranya semakin menderita.


Masa lalunya dengan Vandy yang sangat menyakitkan membuat luka yang sangat dalam. Dan memang tidak punya keinginan di dalam hidupnya untuk mencari Vandy atau menceritakan pada putranya jika Vandy ayahnya.

__ADS_1


Karena selama ini Azizi mengatakan jika sang ayah sudah meninggal. Dia mengarang cerita agar putranya tidak bertanya-tanya. Azizi tidak pernah menikah sama sekali. Dua berbohong pada semua orang. Bahwa dia pernah menikah.


Karena pada kenyataannya. Azizi selama ini merawat kandungannya sendiri dan membesarkannya sendiri tanpa bantuan orang lain. Dia menjadi ibu sekalian ayah untuk Iqbal.


************


Vandy berada di dalam ruangannya duduk di kursi kenyamanannya. Vandy membuka amplop putih dengan tangannya yang bergetar.


Wajahnya yang begitu cemas dan rasa penasaran yang besar dengan isi amplop tersebut dan tidak menunggu lama Vandy membukanya setelah menarik napasnya panjang dan membuangnya perlahan.


Vandy mengeluarkan lipatan surat dari amplop itu. Dan Vandy langsung membuka lipatan kertas itu. Bola matanya berkeliling membaca dengan teliti lipatan kertas itu.


Hasil tes DNA


" Jadi benar Iqbal adalah anakku," kirinya selesai membaca hasil tes DNA itu.


Dugaannya benar jika Iqbal adalah anak kandungnya. Vandy yang begitu penasaran melakukan hasil tes DNA diam-diam tanpa sepengatuhaan Azizi. Dan sekarang dia terkejut melihat hasil tes DNA itu.


Vandy meletakkan surat itu di atas meja dan mengusap wajahnya sampai keatas rambutnya dengan ke-2 tangannya yang ke-2 sikunya menyentuh meja.


" Kenapa semuanya seperti ini. Apa yang kau lakukan Vandy. Kenapa kau dulu kau tidak mengakui anak itu," batin Vandy yang baru menyesal sekarang.


" Kau benar-benar gila Vandy. Kau bahkan menghina saat itu tanpa kau tau apa yang terjadi kepadanya. Kau benar-benar sangat bodoh," ucap Vandy mengutuk dirinya sendiri. Menyadari dirinya yang benar-benar bodoh.


" Lalu sekarang apa yang harus aku lakukan," ucap Vandy dengan suara beratnya. Kebingungan dengan kelanjutan yang harus di lakukannya. Vandy memijat kepalanya yang semakin berat.


Tok-tok-tok-tok. Seseorang mengetuk pintu.


" Masuk!" ucap Vandy. Vandy melihat Saski yang mengetuk pintu dan Vandy langsung buru-buru menyembunyikan apa yang tadi di lihatnya.


" Steres amat kenapa kamu?" tanya Sasy melihat Vandy yang tampak resah.


" Tidak apa-apa," jawab Vandy bohong. Mana mungkin dia menceritakan pada saat.


" Ada apa kemari?" tanya Vandy.


" Nih, hasil pasien yang lo minta," ucap Sasy meletakkan di meja Vandy.


" Makasih ya," sahut Vandy.


" Oke sama-sama, kalau begitu gue balik dulu. Oh iya jangan lupa," ucap Sasy tiba-tiba.


" Lupa apa?" tanya Vandy heran.


" Makan malam. Bareng anak-anak," jawab Azizi. Ingat jangan sampai telat," tegas Azizi.


" Iyaaaa," sahut Vandy.


" Oke kalau begitu gue balik dulu," ucap Sasy pamit dan Sandy mengangguk saja. Vandy membuang napasnya panjang kedepan.


" Aku harus bicara dengan Azizi. Aku tau ini kesalahanku. Tapi aku tidak bisa membiarkan dia sendirian menangani Iqbal. Apa lagi sekarang sakit parah. Aku harus bicara dengan Azizi. Iya harus aku harus bicara," batin Vandy mengambil keputusan.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2