
" Ada yang bisa saya bantu mbak?" tanya resepsionis yang menyapa kehadiran Cherry. Cherry tampak diam dan malah mengabaikan resepsionis tersebut.
" Cherry!" tegur Nadya yang melihat diamnya Cherry.
" Cherry!" tegur Nadya lagi.
" Ha, iya," sahut Cherry tersentak kaget.
" Sedang di tanya," ucap Nadya. Cherry hilang fokus membuang napasnya perlahan.
" Ada yang bisa saya bantu mbak?" tanya resepsionis lagi.
" Dia tidak ada di sini," ucap Cherry yang langsung pergi membuat Nadya dan sang resepsionis bingung.
" Cherry mau kemana?" panggil Nadya langsung berlari menyusul Cherry yang ternyata Cherry menuju mobilnya.
" Cherry kamu kemana?" tanya Nadya.
" Yayasan, dia di sana, bukan di sini," ucap Cherry yang langsung memasuki mobilnya.
" Maksudnya apa sih," gumam Nadya kebingungan dan mengikut saja. Karena dia pergi bersama Cherry dan harus pulang juga bersama Cherry. Tidak tau angin dari mana tiba-tiba saja Cherry punya firasat. Jika Verro berada di yayasan dan bukan berada di hotel dan Cherry memutuskan pergi.
*********
Mobil Verro berhenti di depan Yayasan. Dugaan Cherry benar. Jika Verro memang pergi kesana.
" Ini sudah jam 12, tapi aku harus menyelesaikan semuanya," batin Verro melihat arloji di tangannya dan buru-buru keluar dari mobilnya. Dia tidak bisa menunggu-nunggu besok-besok lagi dan ini adalah penuntasan untuknya.
Verro langsung memasuki Yayasan itu dan langsung menemui Fiona. Ya Verro menemui Fiona di kamarnya. Karena semenjak kejadian pemerkosaan itu Fiona tidak mau keluar dari kamar. Dan mau tidak mau Verro harus memasukkan kamarnya.
Fiona berada di dalam kamarnya berdiri di depan cermin yang tampak tampil berbeda. Fiona tidak biasanya menggunakan pakaian yang terbuka dan kali ini dia memakai piyama dress berwarna merah mencolok yang sedikit terbuka. Bahkan hanya sepanjang pahanya.
" Kasian sekali kamu Cherry, kamu hanya akan membuang waktumu dengan begitu aku bisa bersama Verro di sini dan kamu pontang panting di sana," ucap Fiona yang tersenyum penuh rencana di depan cermin.
tok-tok-tok-tok.
Mendengar ketukan pintu membuat Fiona tersenyum licik dengan menyemprotkan parfum ke seluruh tubuhnya.
" Akhirnya dia datang," ucap Fiona yang langsung melangkah mendekati pintu dan membuka pintu dengan wajahnya yang sendu dan layaknya memang seorang penyakitan.
" Verro!" lirih Fiona.
" Fiona langsung saja aku ingin bicara denganmu," ucap Verro.
" Masuklah Verro!" ucap Fiona.
__ADS_1
" Di sini saja," sahut Verro yang tidak ingin mencari masalah.
" Ya sudah katakan ada apa?" tanya Fiona yang membiarkan saja Verro berbicara di depan pintu.
" Fiona, aku tau kamu sudah mempercayaiku sebagai Dokter mu. Aku tau kamu sedang berjuang untuk kesembuhan mu. Tapi aku minta maaf Fiona. Aku sungguh tidak bisa menjadi Dokter mu," ucap Verro langsung bicara to the point.
" Iya, bukannya kamu memang sudah menjadi Dokter ku," sahut Fiona dengan wajah sedihnya.
" Tapi bukan hanya itu Fiona," sahut Verro.
" Memang ada apa lagi Verro. Aku tidak memaksamu untuk menjadi dokter ku dan masalah kemarin. Aku berusaha melupakannya, aku juga minta maaf sudah menyalahkan Cherry, aku sungguh menyesal," ucap Fiona dengan sandiwaranya.
" Iya aku akan menyampaikan padanya," sahut Verro, " Fiona. Kamu jelas tau aku sudah menikah dan Cherry adalah prioritas utama ku. Aku tidak ingin rumah tanggaku berantakan tidak menjadi Dokter mu aku rasa tidak cukup. Maafkan aku Fiona. Dengan berat hati. Kamu harus meninggalkan Yayasan ini," ucap Verro dengan tegas membuat Fiona kaget mendengarnya.
" Jadi Verro, mengusirku demi Cherry," batin Fiona tidak habis pikir dengan permintaan Verro.
" Maafkan aku Fiona," ucap Verro. Fiona tersenyum tipis mendengarnya.
" Iya. Aku mengerti Verro. Tidak apa-apa. Jika memang aku harus pergi dari sini. Lagian aku tidak pernah bermaksud apa-apa, jika memang aku pergi bisa membuat semuanya membaik. Maka aku akan pergi dari Yayasan ini. Walau jujur. Aku sangat nyaman di tempat ini," ucap Fiona.
" Terimakasih Fiona. Kamu sudah mengerti. Kalau begitu aku permisi dulu," ucap Verro yang tidak ingin berlama-lama. Fiona mengangguk tersenyum seakan rela dan menerima semuanya.
" Selamat malam," ucap Verro pamit.
Bruk.
" Astaga Fiona," ucap Verro yang langsung memasuki kamar dan berjongkok melihat Fiona.
" Fiona, kamu kenapa?" tanya Verro panik.
" Aku kesulitan bernapas dadaku sesak," lirih Fiona. Dengan suara seraknya.
" Aku akan memeriksamu, aku akan ambil alat dulu," ucap Verro yang panik ingin pergi. Namun Fiona menahan tangannya.
" Tidak Verro, aku hanya sesak. Kamu bantu aku ketempat tidur saja," ucap Fiona yang kesulitan bicara.
" Kamu yakin tidak apa-apa?" tanya Verro. Fiona mengangguk.
" Tolong bantu aku," ucap Fiona. Dan Verro pun langsung mengangkat Fiona tanpa berpikir apa-apa. Fiona menyunggingkan senyumnya saat Verro sudah membaringkannya di tempat tidur.
" Hah,hah, hah," terdengar suara napas Fiona yang tidak beraturan.
" Fiona kamu harus Kerumah sakit," ucap Verro. Fiona memegang kuat tangan Verro.
" Tidak Verro, sudah tidak ada gunanya lagi. Aku merasa sesak dan mungkin ini hari terakhirku," ucap Fiona.
__ADS_1
" Apa yang kamu bicarakan," sahut Verro. Fiona terus merasa sesak di dadanya dan batuk-batuk.
" Fiona kamu kenapa, Fiona," ucap Verro panik.
" Dadaku, sesak, aku tidak bisa bernapas," lirih Fiona. Jiwa ke Dokteran Verro pun timbul dan dan dengan cepat membuka kancing baju Fiona yang ingin memeriksa kondisi Fiona walau Fiona menolaknya.
Saat tangan Verro membuka kancing baju itu dan saat itu juga Cherry muncul dan terkejut melihat apa yang di depannya. Dan Fiona yang terus berpura-pura sesak melihat kehadiran Cherry dan dengan cepat Fiona menarik Verro kepelukannya dan membuat Cherry kaget dengan apa yang di saksikan nya di depan matanya.
" Aku sesak Verro, aku sesak," keluh Fiona yang kesulitan bicara dan memeluk Verro erat. Terlihat jelas di depan Cherry dan yang terlihat di depan Cherry Fiona yang sedang mencium bagian telinga Verro.
Bukan Fiona yang sesak. Tetapi Cherry yang sekarang sesak. Dia kesulitan bernapas. Air matanya jatuh melihat perbuatan suaminya jelas di depan matanya.
" Cherry kamu cepat sekali larinya," sahut Nadya yang tiba-tiba datang berdiri di samping Cherry yang berdiri di depan pintu mematung dan mendengar nama Cherry membuat Verro kaget dan langsung melepas diri dari Fiona dan melihat Cherry sudah ada di depan pintu yang sudah menagis. Nadya juga schok melihat apa yang di lakukan Verro.
" Cherry!" lirih Verro yang tidak habis pikir jika Cherry ada di sana. Cherry mengepal tangannya dengan kemarahannya dan langsung masuk kedalam kamar tersebut dan menarik Fiona dari tempat tidur.
Plakkk
satu tamparan melayang ke pipi Fiona membuat wajah Fiona miring kesamping dengan tangannya memegang pipinya.
Verro, Nadya kaget melihat hal itu.
" Kamu Fiona!" tunjuk Cherry tepat di wajah Fiona dengan suara menekannya yang tidak tahan dengan Amarahnya.
" Kamu salah paham Cherry," ucap Fiona mengeluarkan air matanya.
Plakkk Cherry kembali melayangkan tangannya ke pipi yang satunya dengan mata Cherry terbuka lebar yang tidak bisa mengendalikan dirinya.
" Cherry, ini tidak seperti yang kamu pikirkan," ucap Verro mencoba menenangkan Cherry dengan memegang lengan Cherry.
" Cukup Verro!" teriak Cherry dengan suaranya menggelegar menepis tangan Verro dari nya. Menatap tajam suaminya itu.
" Kamu, kamu sudah memilih semua ini," ucap Cherry menunjuk tepat di wajah Verro dengan jari telunjuknya yang bergetar dan air matanya yang terus mengalir.
" Cherry, dengarkan aku," ucap Verro berusaha menenangkan Cherry.
" Jangan menyentuhku," teriak Cherry saat Verro berusaha mendekatinya.
" Kamu menghiyanatiku Verro," teriak Cherry.
" Aku tidak pernah menghiyanatimu," sahut Verro.
" Pembohong," teriak Cherry, terlihat Frustasi dan. Cherry merasa sesak dan sudah tidak sanggup bicara apa-apa lagi dan akhirnya memutuskan pergi dari tempat itu.
" Cherry, tunggu!" panggil Verro yang langsung mengejar Cherry dan Nadya yang berada di dalam sana bingung. Melihat Cherry dan Verro.
__ADS_1
Bersambung