
Setelah mengganti pakaian semua murid-murid yang mengikuti jam pelajaran olah raga berkumpul di lapangan yang luas itu.
Mereka harus berkumpul di bawah terik matahari yang berada di atas kepala mereka. Karena cuaca memang sedang panas.
Sebelum melakukan olah raga. Pak Sofyan memberikan arahan terlebih dahulu ke pada murid yang berbaris di depannya. 2 barisan pria dan 2 barisan wanita.
Cherry berdiri di belakang Sasy terus melihat ke arah Fiona yang di sampingnya. Fiona terus melihat ke arah Verro tatapan Fiona juga sangat aneh kepada Verro. Bahkan Fiona tersenyum saat melihat Verro.
" Benar aku bilang, dia menyukai pacarmu," bisik Azizi yang berada di belakang Cherry yang juga memperhatikan Cherry melihat ke arah Fiona.
Menyadari Azizi memperhatikannya membuat Cherry mengalihkan pandangannya, fokus pada arahan Pak Sofyan guru olahraga tersebut.
" Baik anak-anak, sampai di situ saja, kalian sekarang bagi tim 2 regu. Kita akan melakukan permainan bola kasti," jelas Pak Sofyan.
" Iya Pak," sahut murid-murid mulai mencari teman-teman masing-masing. Sementara Cherry menyinggir dari barisan itu karena memang dia tidak akan mengikuti olahraga.
Cherry pun mengambil tempat duduk di tangga lapangan olahraga, melihat teman-temanya yang mulai membentuk tim yang akan mengikuti permainan.
Memang percuma dia ganti baju. Dia tidak akan pernah mengikuti permainan olahraga. Cherry memang sudah terbiasa dengan hal itu. Karena memiliki jantung yang lemah. Membuat guru menjagakan hal yang tidak di inginkan. Lagi pula itu saran dari papanya.
Cherry hanya duduk di tangga lapangan dengan termenung melihat keseriusan teman-temannya dalam permainannya. Berlari sana-sini, saling berteriak. Hal yang tidak mungkin di rasakannya.
" Kenapa aku harus berbeda dari mereka?" tanya Cherry dalam hatinya. Hal yang tidak pernah di sadari nya.
Selama ini dia selalu ceria dan menganggap tidak mempunyai penyakit jantung. Tapi karena mood nya yang benar-benar buruk membuat Cherry harus mempertanyakan itu.
Cherry memang sedang tidak baik-baik saja. Seketika ada yang membuatnya merasa sedih terus menerus. Atau mungkin karena Fiona yang menyukai Verro.
Tapi kenapa hal itu membuat Cherry sedih dia selalu mengatakan tidak memiliki perasaan apa-apa kepada Verro.
" Mereka sangat bahagia. Tidak aku, apa salahnya aku merasakannya. Kenapa? aku tidak mati dari awal. Untuk apa memberiku hidup hanya untuk melihat orang lain tertawa. Sementara aku hanya bisa bermimpi untuk bisa melakukan itu, bermimpi bisa seperti mereka," Cherry terus bergerutu di dalam hatinya dengan air mata yang sudah meneteskan air mata.
Hatinya benar-benar teracak-acak dengan banyak kejadian. Cherry melihat ke arah Verro yang sekarang sedang berlarian dan Fiona wanita yang belakangan ini sering di lihatnya memperhatikan Verro terus menerus.
Malahan sekarang terlihat viona mengejar Verro yang ingin melemparkan bola. Seperti orang yang terlihat begitu dekat. Cherry mendengus melihat hal itu. Senyum palsu berseri di wajahnya.
" Apa kehadiranku mencuri kebebasanmu," ucapnya dengan air matanya yang kembali menetes.
Bagaimana tidak menetes suasana hati yang buruk sementara teman-temannya di bawah sana tertawa dengan bahagia.
Tring-tring-tring.
Bunyi alarm Cherry berbunyi waktunya Cherry minum obat. Cherry mengusap air matanya. Dan mengambil kantung yang di bawanya membuka jenis obat yang biasa di minumnya dan mengumpulkannya di telapak tangannya.
" Kenapa kau salalu ada?" tanya Cherry menatap penuh kebencian pada obatnya, " aku selalu bersamamu dari kecil. Tapi apa kau bahkan tidak membantuku, bukannya aku juga akan mati, jadi untuk apa aku menelanmu," lanjutnya lagi Dengan penuh kemarahan dan Cherry langsung membuang obat tersebut.
Cherry berdiri dan pergi berlari. Dia sudah tidak sanggup berada di tempat itu. Seketika dia sangat membenci ke adaannya.
Ternyata Verro memperhatikan gerak-gerik Cherry. Sampai akhirnya Fiona melemparkan bola ke arah Verro karena sedang tidak fokus.
" Yeeeee," teriak murid-murid yang menjadi lawan Verro.
" Aduh, Verro kenapa kau melamun," sahut Toby kesal karena 1 groupnya membuat kalah. Verro tidak mempedulikan yang lainnya dan meninggalkan lapangan.
" Verro kau mau kemana permainan belum selesai," panggil Vandy heran.
Fiona yang heran denagn Verro yang pergi tiba-tiba.
Verro pun menaiki tangga yang ada di pinggir lapangan dan mendekati tempat Cherry tadi duduk. Verro melihat butiran obat Cherry yang berserakan. Bahkan botol obat itu juga berserakan semuanya.
" Ada apa dengannya," batin Verro heran memegang 1 butir pil itu. Tanpa berpikir lama Verro pun meninggalkan tempat itu.
__ADS_1
Ternyata Verro mencari Cherry. Verro sudah mencari kekelas, kantin, tetapi tidak menemukan Cherry.
Pada akhirnya Verro menemukan Cherry di pinggir kolam renang. Cherry terduduk memeluk kakinya dan menangis Sengugukan dengan wajahnya yang terus mencium ke-2 dua lututnya.
Cherry tidak pernah menangis kecuali di marahi Verro dan kali ini dia menangis dan bukan karena di marahi Verro. Suasana hatinya benar-benar buruk. Dia juga tidak mengerti apa yang terjadi kepadanya. Semuanya seperti itu saja.
Perlahan Verro mendekati Cherry. Dia benar-benar heran denagn Cherry yang menangis.
Wajah Cherry memang tertutupi rambutnya. Tetapi Verro bisa mengetahui jika memang Cherry menangis karena suaranya yang terisak.
" Hiks-hiks-hiks,"
" Ada apa?" tanya Verro yang sudah berdiri di samping Cherry.
Mendengar suara Verro. Cherry menggeserkan tubuhnya dan membakangi Verro dan tetap menangis memeluk ke-2 kakinya dan kepala yang menunduk.
" Cherry," tegur Verro dengan suara dingin.
" Kenapa kau di sini hiks?" tanya Cherry t
dengan suaranya Sengugukan.
" Katakan ada apa kenapa kau menangis?" tanya Verro lagi.
" Pergilah! jangan menggangguku!" usir Cherry.
" Cherry katakan?" Verro terus bertanya
" Aku bilang pergi, Bukannya jika aku di dekatmu akan menyusahkanmu. Lalu kenapa kau di sini," sahut Cherry dengan suaranya yang serak berbicara.
Kata-kata Cherry membuat Verro semakin bingung. Perasaan seharian dia tidak ada memarahi Cherry.
" Katakan ada apa?" tanya Verro sekali lagi, " kenapa kau membuang obatmu?" tanya Verro.
Verro benar-benar tidak mengerti dengan Cherry. Selama mengenal Cherry. Cherry adalah wanita yang tidak pernah peduli dengan penyakitnya.
Mati dan tidak mati Cherry tidak pernah peduli. Tetapi sekarang Cherry seperti wanita yang putus asa.
" Apa yang terjadi?" tanga Verro merasa ada yang tidak beres dengan Cherry.
" Bukan urusanmu, aku bilang pergi!" sahut Cherry ketus.
Verro membuang napasnya perlahan dan duduk di samping Cherry dengan kakinya di masukkan kekolam renang. Cherry melirik Verro dan melihat Verro malah di dekatnya bukannya pergi.
" Kenapa kau disini. Pergilah aku ingin sendiri," usir Cherry. Verro tidak mempedulikan omongan Cherry dan tetap duduk mengambil ponselnya. Dia juga tidak bertanya lagi. Karena lelah bertanya tidak mendapatkan jawaban.
Akhirnya setelah beberapa menit Cherry tidak menangis lagi. Dia sudah diam dan perlahan mengangkat kepalanya. Dan melihat Verro yang didekatnya duduk bersilah kaki dan serius melihat ponsel.
" Kau sudah diam?" tanya Verro tanpa melihat Cherry tetap fokus pada ponselnya.
" Kenapa kau di sini terus?" tanya Cherry.
Verro melihat ke arah Cherry dan melihat mata Cherry yang sembab. Pipinya yang penuh air mata.
" Hapus air matamu!" ucap Verro memberikan tisu. Cherry mengambil perlahan dan mengusap air matanya.
" Apa kau sudah bisa bicara dengan tenang?" tanya Verro. Cherry diam saja.
" Katakan Ada apa, kenapa kau menangis?" tanya Verro lagi.
" Aku hanya iri melihat kalian bisa olahraha," jawab Cherry jujur.
__ADS_1
" Lalu kenapa kau tidak ikut?" tanya Verro
" Buaknnya kau akan marah jika aku mengikutinya. Kau akan mengatakan aku akn menyusahkanmu jika terjadi sesuatu nanti," jawab Cherry.
" Yang menyuruhmu menyusahkan ku siapa?" tanya Verro. Cherry terdiam sudah tidak bisa menjawab lagi.
" Itu karena kau tidak hati-hati. Maknya kau di marahi. Kau selalu ceroboh...."
" Sudah jangan katakan lagi, aku sudah hafal," sahut Cherry sudah tau kelanjutan omongan Verro.
Verro berdiri dan menjulurkan tangannya.
" Ayo," ajak Verro.
" Mau kemana?" tanya Cherry.
" Sudah Ayo," ajak Verro.
Cherry pun menyambut uluran tangan Verro. Verro membawanya pergi.
Di lapangan olah raga. Sasy sedang minum. Melihat di sekelilingnya seperti mencari seseorang.
" Mana Cherry?" tanyanya bingung.
" Toby lihat Cherry tidak," tanya Sasy
" Paling di UKS," sahut Toby.
" Tuh dia," tunjuk Toby meliaht Cherry yang datang kelapangan bersama Verro.
" Kita mau ngapain," tanya Cherry bingung yang sudah berada di lapangan sementara murid-murid yang lain sedang beristirahat.
Verro mengambil bola yang kasti yang jatuh dan melemparnya ke pada Cherry.
" Auhhh," lirih Cherry kesakitan saat bola itu mengenai lengannya.
" Verro kau sengaja!" pekik Cherry.
" Ayo ambil, lempar!" sahut Verro dengan menaikkan 1 alisnya.
" Cepat, mau aku lempar lagi," desak Verro. Cherry yang kesal pun mengambil bola, kapan lagi bisa membalas perbuatan Verro. Saat ingin melemparnya.
Verro mengelak. Dan membuat Cherry kesal. Mengambil bola lagi dan berusaha melempar Verro dan terakhirnya mereka saling kejar-kejaran.
Sasy heran melihat Verro dan Cherry yang tidak biasanya.
" Aku nggak salah lihat kan," ucap Sasy tidak percaya.
" Toby, fotoin buruan," desak Sasy memukul-mukul lengan Toby.
Dengan semangat Toby langsung mengambil pasangan yang bermesraan di lapangan.
Vandy dan Varell saling melihat, mereka heran dengan Verro yang tiba-tiba hangat dengan Cherry.
" Kesambet apa dia?" ucap Varell bingung.
" Sudah mulai nyadar mungkin," sahut Vandy sambil meneguk minumannya.
💝💝💝Bersambung
Hay para readers yang baru bergabung. Bantu support ya novel aku yang baru.
__ADS_1
Tinggalkan jejak. Komentar, like, dan jangan lupa vote sebanyak-banyaknya. Agar aku semakin semangat melanjutkan ceritanya