DETAK Love Story' School

DETAK Love Story' School
Episode 39. Memeluk


__ADS_3

Cherry bahkan melihat pria itu kembali mengambil fotonya dengan Verro.


" Dia pasti akan mengadukan hal ini lagi," batin Cherry yang merasa gelisah.


" Cherry aku sedang bicara denganmu," ucap Verro kesal. Cherry malah mengacuhkannya dan tidak mempedulikannya.


" Cherry," bentak Verro semakin kesal.


" Cherry apa kau sudah tuli," pekik Verro. Spontan Cherry langsung memeluk Verro.


Membuat Verro kaget saat ke-2 tangan wanita melingkar di pinggangnya. Verro terdiam bahkan tidak bergerak sama sekali ketika mendapat pelukan Cherry secara tiba-tiba.


" Aku tidak melakukan apapun, aku sungguh tidak melakukannya," ucap Cherry dengan pelan. Tetapi matanya fokus pada orang yang mengawasinya.


" Apa yang kau lakukan?" tanya Verro dengan suara berat.


" Verro jangan membuat kepala ku tambah sakit. Jangan memarahi ku terus. Tidak ada untungnya untukku mengadukan perbuatan mu. Lagi pula apa yang harus aku adukan. Tidak ada untungnya untukku Verro, jadi berhentilah memarahiku jangan terus menyalahkanku," ucap Cherry dengan suaranya yang pelan terus memeluk erat Verro.


" Kau selalu saja tidak pernah mengakui apa yang kau perbuat," ucap Verro melembutkan suaranya.


" Iya aku tau kau tidak akan mempercayaiku. Tapi aku mohon jangan terus memarahiku," ucap Cherry yang benar-benar tidak ingin ribut dengan Verro.


" Jika tidak ingin di marahi, jangan membuat ulah," jawab Verro dengan lembut. Seketika kemarahannya benar-benar hilang.


Cherry melihat Pria tersebut sudah pergi. Cherry pun melepas pelukan yang sempat membuat Verro bergetar hebat.


Setelah dewasa mungkin ini pertama kali mereka berpelukan. Ke-2 nya saling melihat berdiri berdekatan. Verro melihat mata Cherry yang bengkak dan bergenang seperti ingin menumpahkan sesuatu.


" Aku...."


" Apa minta maaf," sahut Verro memotong pembicaraan Cherry.


" Tidak aku tidak minta maaf, kenapa aku harus minta maaf. Aku tidak salah. Justru aku yang kesal denganmu. Kau yang seperti itu dengannya. Tetapi kenapa menyalahkanku. Dan mataku seperti ini karena ulahmu dan dia," oceh Cherry yang malah berbalik marah membuat Verro bingung.


" Apa maksudmu?" tanya Verro.


" Sudahlah jangan di bahas. Jika kau dan dia memang memiliki hubungan yang lain. Aku tidak akan ikut campur. Tetapi aku mohon jangan mengaitkan ku dengan urusan kalian. Aku sudah lelah memikirkan ini terus menerus," ucap Cherry dengan wajahnya yang lesu.


Mendengar perkataan Cherry membuat Verro mengkerutkan dahinya. Sungguh apapun yang keluar dari mulut Cherry tidak bisa di cernanya sama sekali.


" Apa yang kau katakan dan siapa yang kau maksud?" tanya Verro semakin bingung.

__ADS_1


" Apa yang aku katakan kenapa juga aku harus mengatakan itu pada Verro apa itu penting," batin Cherry yang merasa sangat bodoh. Dia menyadari jika hal itu hanya akan membuatnya terlihat jelas tidak menyukai hal itu.


" Cherry apa kau memikirkan hal itu?" tebak Verro.


" Sudahlah! lupakan intinya aku tidak pernah mengadukan apapun, aku juga malas berdebat denganmu. Lagi pula dia sudah pergi," ucap Cherry tidak jelas dan langsung pergi.


Hal itu justru membuat Verro semakin bingung. Dia hanya melihat punggung Cherry yang berjalan semakin jauh.


" Apa yang di katakannya, apa dia memikirkan kejadian apa yang terjadi dengan Fiona semalam. Apa dia salah paham," ucap Verro menerka-nerka.


" Lalu kenapa dia seperti itu, seperti itu. Tadi marah-marah, tiba-tiba main peluk. Lalu marah lagi dan malah main pergi saja, dasar aneh," Verro terus bergerutu di dalam hatinya bingung dengan melihat tingkah aneh Cherry.


" Aku rasa Cherry bukan wanita yang bodoh, tidak mungkin hal seperti itu menggangu


pikirannya sangat tidak masuk akal," batinnya yang terus melihat punggung Cherry yang


semakin jauh.


*********


Cherry berjalan sambil bergerutu kesal. Mulutnya tidak hentinya mengoceh.


" Dia selalu mau suka-sukanya, memarahi ku tanpa sebab, dia yang seperti itu aku yang di salahkan. Memang dia pikir dia siapa apa dia sudah merasa paling hebat," ocehnya terus menerus tanpa henti.


Cherry menghentikan langkah kakinya saat melihat sepasang kaki berdiri tegak di depannya. Cherry mengangkat kepalanya yang ternyata melihat Fiona yang berdiri di depannya.


Mata Cherry dan Fiona saling beradu pandang. Dengan arti masing-masing. Mungkin seperti biasa Fiona selalu melihat Cherry dengan tatapan dining tetapi menusuk.


" Ada apa?" tanya Fiona dengan suara beratnya.


" Kau bertanya kepadaku, kenapa bertanya?" sahut Cherry ketus.


" Kau menghalangi jalanku," ucap Fiona. Membuat Cherry tersenyum miring.


" Tapi kiri dan kananku kosong, sepertinya kau yang membuat jalanku terhalang," sahut Cherry dengan sinis yang sepertinya muak dengan Fiona yang tidak tau apa masalahnya tetapi Fiona seperti tidak menyukainya.


" Maksudmu?" Tanya Fiona.


Cherry memeringkan tubuhnya bergeser dari hadapan Fiona.


" Silahkan lewat," ucap Cherry memberi jalan. Membuat Fiona menatapnya sinis.

__ADS_1


" Jangan menatapku seperti itu," sahut Cherry yang semakin lama semakin kesal dan memilih pergi.


Fiona tidak mengerti dengan sikap Cherry. Dia hanya mengetahui gadis itu sangat ramah. Tetapi Cherry justru berbicara ketus dengannya.


Cherry kembali melangkahkan kesal.


" Di dalam mimpiku dia menghinaku, setelah menghinaku malah berciuman dengan Verro, dan sekarang dia mengatakan aku menghalangi jalannya. Memang dia pikir dia siapa," Cherry kembali merocos dalam langkahnya.


" Tapi mungkin memang benar dia menyukai Verro dan jelas menatapku seperti itu. Karena aku mungkin jadi penghalang untuknya," gerutunya lagi.


Sebelum kekelas Cherry kekamar mandi mencuci wajahnya. Saat selesai mencuci wajahnya. Cherry membalikkan tubuhnya membelakangi kaca seakan tidak mau melihat kaca.


" Jadi Orang itu masih terus mengawasiku dan Verro, sampai kapan Om Hariyanto akan terus mengawasiku dan Verro. Kenapa dia harus mengorbankan Verro untuk semua ini," batin Cherry yang masih memikirkan hal yang barusan terjadi.


" Ahhhhh, sudahlah sebaiknya aku kekelas, tidak ada gunanya memikirkan hal itu," ucapnya memutuskan keluar dari kamar mandi tanpa melihat penampilannya di depan cermin.


***********


Cherry memasuki kelas dengan rasa kekesalan. Saat memasuki kelas Cherry melihat kerumunan di bangku Fiona seperti yang terjadi di dalam mimpinya.


" Apa mereka membicarakan soal kejadian semalam," batin Cherry takut-takut. Dia mulai merasa tidak tenang. Tetapi Cherry tetap tenang dan mulai duduk.


" Bagaimana matamu?" Tanya Sasy yang membalikkan tubuhnya melihat ke arah Cherry.


" Aku yang bertanya, apa mataku sudah kembali normal," tanya Cherry. Sasy melihat dengan teliti.


" Lumayan lah, tapi lihat aja sendiri di cermin," jawab Sasy memberikan cermin yang langsung di tepis Cherry.


" Jangan tunjukkan kaca itu kepadaku, sangat menyeramkan," sahut Cherry yang tidak mau melihat wajahnya begitu menyeramkan untuk yang ke-2 kalinya.


" Oke baiklah," sahut Sasy dengan santai.


" Sasy kenapa mereka mengerumuni tempat duduk Fiona?" tanya Cherry pelan melirik ke arah Fiona.


" Apa lagi, jika bukan anak-anaknya menggodanya soal kejadian semalam," jelas Sasy.


" Dugaan ku benar, tammat lah aku hari ini," batin Cherry dengan lemas.


Verro memasuki kelas saat melangkahkan kakinya ketempat duduknya. Verro berhenti melihat ke arah Cherry. Hanya sebentar dia kembali kebangku nya dan duduk dengan tenang.


💝💝Bersambung

__ADS_1


Hay para readers yang baru bergabung. Bantu support ya novel aku yang baru.


Tinggalkan jejak. Komentar, like, dan jangan lupa vote sebanyak-banyaknya. Agar aku semakin semangat melanjutkan ceritanya


__ADS_2