DETAK Love Story' School

DETAK Love Story' School
Episode 24 Merasa aneh.


__ADS_3

Ruang ganti pakaian.


Hari ini pelajaran olahraga semua murid-murid 11 A mengganti pakaian. Di ruangan wanita dan di ruangan Pria. Ruangannya tidak di gabung ya. Kalau di gabung beda cerita.


Pakaian olah raga mereka untuk wanita kaos berwarna biru muda lengan pendek dengan celana pendek putih sepaha. Untuk pria kaos biru dan celana pendek sampai lututnya.


Cherry selesai mengganti pakaiannya. Membuka lokernya dan memasukkan seragam sekolahnya ke dalam loker di ruangan ganti yang memang tersedia khusus untuk tempat Pakaian.


" Hay Cherry," sapa Azizi yang juga membuka loker di sampingnya.


" Hay," jawab Cherry dengan senyuman manisnya.


" Kamu tidak mengikat rambutmu, bukannya akan kepanasan jika berolah raga dengan rambut di gerai?" tanya Azizi yang tetap dengan kacamatanya dan kuciran kepangnya.


" Tidak, aku tidak ikut olahraga," jawab Cherry dengan ramah.


" Oh, iya kenapa? apa kau sakit?" tanya Azizi.


" Tidak aku memang tidak pernah ikut olahraga," sahut Cherry dengan wajah datar.


" Oh begitu rupanya," sahut Azizi menganguk-angguk dan menutup lokernya setelah merapikan seragamnya.


Tiba-tiba Fiona memasuki ruangan ganti. Cherry melihat ke arah Fiona yang tampak tenang. Ya seperti biasa wajah Fiona selalu seperti itu diam. Tetapi jika dengan Verro akan berbicara.


" Apa dia menyukai Verro," batin Cherry tanda tanya.


Saat melihat Fiona mengeluarkan pakaian dari dalam ranselnya. Fiona menyadari jika dia dilihati dan langsung melihat kearah bola mata yang menatapnya. Sehingga dia dan Cherry saling melihat.


" Ada apa?" tanya Fiona dengan heran.


" Tidak apa-apa," jawab Cherry santai lalu ke luar dari ruangan itu.


" Cherry, tunggu! panggil Azizi ikut keluar mengejar Verro.


" Kenapa dia?" tanya Fiona bingung melihat tingkah Cherry.


Azizi mengejar Cherry dan sudah berada di samping Cherry mensejajarkan langkah mereka. Cherry menoleh kesamping dan tersenyum tipis.


" Apa dia seperti itu?" tanya Azizi.


" Siapa?" tanya Cherry bingung.


" Fiona, dia tidak pernah bicara, bahkan sewaktu aku mengajaknya berkenalan. Dia malah mengacuhkanku, dia sangat sombong," ucap Azizi mengeluh.


" Oh iya, aku juga tidak pernah berbicara dengannya," sahut Cherry pada kenyataannya.


" Padahal kau lebih cantik, tapi kau lebih baik dari pada dia. Kau malah sangat enak jika di ajak mengobrol beruntung kekasihmu memilikimu," ucap Azizi tiba-tiba membuat Cherry bingung. Cherry mendengus tersenyum.


" Aku tidak mempunyai kekasih," jawab Cherry merasa lucu dengan pernyataan Azizi yang di kiranya murid cupu pendiam ternyata melebihi Sasy si tukang kepo.


" Lalu dia siapa?" tanya Azizi mengarahkan kepalanya pada Verro yang sedang berbicara pada Vandy dan Varell. Cherry pun melihat orang yang di maksud Azizi. Melihat hal itu membuat Cherry tersenyum.


" Dia hanya temanku," jawab Cherry.


" Tapi...."

__ADS_1


" Isu yang di sekolah tidak benar, kami hanya berteman sejak kecil dia bukan kekasihku," jawab Cherry, bukan hanya Azizi yang sudah di beritahu Cherry banyak orang sudah di beri tahu Cherry menegaskan hal itu. Tetapi tetap saja tidak ada yang percaya.


" Tidak mungkin," sahut Azizi.


Cherry menggedikkan bahunya. Sudah biasa orang-orang memang tidak akan percaya dengan hal itu dan terus menganggap jika dia dan Verro berpacaran.


" Jika kau memang tidak ada hubungan dengannya. Kenapa dia selalu memperhatikanmu?" tanya Azizi. Cherry hanya tersenyum tanpa menjawab.


" Tapi pantasan Fiona menaruh hati padanya, karena memang dia bukan milik siapa-siapa," sahut Azizi tiba-tiba membuat langkah Cherry berhenti.


" Fiona?" tanya Cherry dengan wajah serius melihat ke arah Azizi. Azizi mengangguk cepat.


" Dia menyukai Verro?" tanya Cherry menunggu jawaban. Azizi mengangguk.


" Kau tau dari mana?" tanya Cherry penasaran.


" Aku kan duduk di depannya, sini!" Azizi melambaikan tangannya menyuruh Cherry mendekatkan telinganya. Cherry mendekatkan telinganya.


" Aku melihatnya pernah memperhatikan foto Verro," bisik Azizi membuat Cherry kaget.


" Hah!" pekek Cherry kaget mendengarnya.


" Iya, sepertinya dia menyukai Verro dalam diam," jelas Azizi menarik kesimpulan membuat Cherry menelan salavinanya. Tidak tau kenapa dia merasa tidak suka dengan hal itu.


" Makanya aku bilang dia aneh," lanjut Azizi sementara Cherry hanya diam saja. Dia tidak dapat mengerti dengan perkataan Azizi.


Namun apa yang di katakan Azizi membuat kebenaran tersendiri untuknya. Bahwa banyak kemungkinan yang di katakan Azizi memang benar. Karena belakangan ini dia sering memperhatikan Fiona melihat curi-curi pandang pada Verro.


" Cherry," teriak Sasy dengan suara cemprengnya menghampiri Cherry langsung meletakkan tangannya di belakang leher Cherry. Hal itu membuat lamunan Cherry buyar.


" Sedang apa kalian?" tanya Sasy kepo.


" Ya sudah, ayo kita kelapangan," sahut Sasy. Cherry mengangguk dan mengikut saja dengan wajahnya yang murung karena pemikirannya tentang Verro.


**********


Vandy, Verro dan Varell sedang mengobrol di tangga di depan lapangan olahraga sembari menunggu pembina olahraga datang.


Nadya menuruni anak tangga yang luas itu menuju lapangan. Berarti Nadya akan melewati ke-3 pria tampan itu.


" Heh," panggil Varell membuat langkah Nadya terhenti.


" Iya kenapa?" tanya Nadya membalikkan tubuhnya menunduk kan kepalanya dengan menggenggam tangannya erat.


" Aku ingin bicara denganmu," ucap Varell, Vandy dan Verro saling melihat. Aneh dengan Varell


" Bicaralah," jawab Nadya gugup. Varell berdiri.


" Ikut denganku!" ucap Varell yang berjalan terlebih dahulu dengan ragu Nadya mengikuti Varell.


" Apa dia menyukainya?" tanya Verro heran dengan sikap Varell belakangan ini.


" Entahlah, tapi aku rasa mungkin. Tidak salah juga dia menyukainya," sahut Vandy.


" Tidak masalah, aku hanya tidak percaya tipenya seperti itu," sahut Varell.

__ADS_1


" Biarlah dia seperti itu. Mungkin dengan Vandy mendekatinya. Paling tidak Raquel dan teman-temannya tidak terus membully Nadya," sahut Vandy. Verro tidak menanggapi dan hanya diam saja.


" Oh, iya Verro menurutmu siapa yang mereka perbuatan Raquel dan teman-temannya?" tanya Vandy yang menjadi tanda tanya.


" Apa itu penting," sahut Verro paling tidak suka ikut campur.


" Ya tidak sih, hanya saja orang itu sangat berani, sampai memasukkan ke group sekolah, ya salut saja," sahut Vandy mengajukan jempolnya.


" Paling tidak dengan begitu, mereka akan jera. Lagi pula itu bagus agar Sasy tidak ikut-ikutan, supaya Cherry tidak terus celaka karena ulahnya," desis Verro mengingat Sasy pasti membuatnya kesal. Vandy tersenyum mendengar penuturan Verro.


" Kenapa kau tersenyum?" tanya Verro heran.


" Kau sangat khawatir kepadanya," sahut Vandy tersenyum penuh curiga.


" Kakakku mengatakan kau sering menemaninya jika dia di rumah sakit. Lalu kenapa kau bersikap kasar kepadanya saat di sekolah?" tanya Vandy.


" Bukan urusanmu," sahut Verro kesal.


" Sudahlah Verro, kau jangan gengsi, tidak ada salahnya bersikap manis kepadanya saat di sekolah atau di manapun, semua orang juga tau tentang hubungan kalian. Jadi apa yang salah," ujar Vandy.


" Dan kau juga tau tentang kebenaran hubungan itu," sahut Verro.


" Iya aku memang tau. Tapi aku juga bisa melihat bagaimana perasaanmu kepada Cherry. Jika kau tidak memiliki perasaan apa-apa kepadanya tidak mungkin kau terus menemaninya dan bahkan mengkhawatirkan nya," sahut Vandy berusaha mengkorek-korek isi hati temannya.


" Sudahlah kau banyak cerita," sahut Verro kesal dan langsung berdiri meninggalkan Vandy yang sangat kepo.


" Verro, seharusnya kau beruntung bisa bersama Cherry. Jika aku menjadi dirimu mungkin aku akan membahagiakan Cherry. Kau juga tau bagaimana Cherry," batin Vandy geleng-geleng dengan kelakuan sahabatnya.


***********


" Kita mau kemana?" tanya Nadya yang terus mengikut di belakang Varell dan sekarang sudah berada di belakang sekolah. Varell menghentikan langkahnya dan menghadap Nadya yang terus menunduk.


" Aku ada di depanmu, bukan di bawah mu," sahut Varell kesal. Membuat Nadya mengangkat kepalanya perlahan.


" Ada apa, kenapa mengajakku kemari?" tanya Nadya dengan suara pelan.


" Kau tau siapa orang yang merekam perbuatan Raquel dan teman-temannya?" tanya Varell menyampaikan maksudnya bicara dengan Nadya.


" Bukannya kamu yang melakukannya?" jawab Nadya membuat Varell melebarkan matanya.


" Kau menuduhku," sahut Verrel kesal.


" Tidak! aku pikir kamu yang melakukannya," sahut Nadya dengan suara pelannya.


" Aku tidak punya kerjaan melakukannya," sahut Varell menegaskan.


" Lalu siapa?" tanya Nadya.


" Aku bertanya malah bertanya lagi," sahut Varell kesal.


" Tapi aku juga tidak tau. Berarti kamu salah menanyakannya," gumam Nadya.


" Hmmmm, kamu benar, aku memang salah berbicara denganmu," sahut Varell merasa tidak ada gunanya bicara dengan Nadya yang sangat kaku.


💝💝💝Bersambung

__ADS_1


Hay para readers yang baru bergabung. Bantu support ya novel aku yang baru.


Tinggalkan jejak. Komentar, like, dan jangan lupa vote sebanyak-banyaknya. Agar aku semakin semangat melanjutkan ceritanya


__ADS_2