
Kediaman Vandy.
Terlihat Azizi yang memakaikan Iqbal seragam sekolah yang berlutut di depan Iqbal. Dengan mengkancing baju anaknya itu.
" Iqbal kamu dengar mama, kamu jangan jahil sama dan papa. Kamu tidak boleh melakukan itu, kamu mengerti," ucap Azizi penuh penegasan dan penekanan pada putranya.
" Memang Iqbal ngapain ma, kan Iqbal nggak ngapa-ngapain," ucap Iqbal.
" Ya seperti kemarin, kamu ngapain coba, pakai rusak-rusak shower, kan semuanya berantakan, papa kamu bisa marah, kalau ulah kamu seperti itu," ucap Azizi.
" Tapi kan mama sama papa biasa aja tuh, orang mama dan papa juga tidak apa-apa," ucap Iqbal dengan santainya.
" Kamu ini ya, benar-benar, tidak mau mengakui kesalahan," geram Azizi.
Ceklek. Vandy membuka pintu kamar dan membuat Azizi menjadi diam dan tidak mengoceh lagi. Namun Iqbal langsung lari ke Vandy dan memegang tangan Vandy.
" Papa benar, Iqbal kemarin merusak shower buat papa marah," ucap Iqbal yang mengadu. Vandy melihat ke arah Azizi dan Azizi mengalihkan pandangannya. Vandy tersenyum pada Iqbal.
" Tidak kok, shower nya sudah bagus lagi. Jadi tidak ada yang marah," ucap Vandy.
" Tapi kenapa mama marah- marah sama Iqbal?" tanya Iqbal.
" Tidak ada yang marah, tapi kamu harus ingat jangan melakukannya lagi," ucap Vandy menegaskan pada Iqbal.
Dia memang tidak marah. Karena justru mendapat keuntungan dari apa yang di lakukan anaknya. Di mana perbuatan Iqbal membangun kedekatan dengannya dan Azizi. Tetap dia harus menegaskan putranya itu agar tidak melakukan hal yang salah.
" Sudah ya, sekarang Iqbal siap-siap lagi. Hampir telat sekolah," ucap Vandy.
" Hmmm, iya pa. Papa antar Iqbal sekolah kan?" tanya Iqbal.
" Iya papa akan antar," jawab Vandy. Iqbal melihat ke arah mamanya.
" Mama juga ikutkan?" tanya Iqbal.
" Kan, ada papa. Kenapa mama juga ikut," sahut Azizi.
" Nggak apa-apa dong ma, biar lengkap. Sekalian Iqbal bisa tunjukin sama teman-teman Iqbal. Kalau Iqbal sama seperti mereka. Mempunyai papa juga," ucap Iqbal dengan senyum cerianya.
Azizi mendengarnya menatap anaknya nanar. Dia merasakan kesedihan anaknya selama ini yang pasti iri dengan teman-temannya yang mengantar sekolah dengan keluarga lengkap. Sementara Vandy mengusap-usap pucuk kepala Iqbal.
" Ya sudah, kamu cepat sana siap-siap. Mama sama papa akan mengantar kamu," ucap Vandy.
" Baik pah," sahut Iqbal yang kembali mendekati mamanya dan Azizi membantu Iqbal kembali bersiap-siap.
************
__ADS_1
Akhirnya Azizi dan Vandy mengantarkan Iqbal kesekolah dengan kegembiraan Iqbal yang menggandeng ke-2 tangan orang tuanya yang seolah ingin memamerkannya.
" Selamat pagi Iqbal," sapa seorang guru yang berdiri di hadapan keluarga kecil itu. Guru dengan rambut lurus sepundaknya dengan rok mininya berwarna hitam dengan blouse putih dan tangannya yang memegang buku.
" Pagi Bu guru," sahut Iqbal.
" Apa Iqbal sudah sembuh?" tanya guru wanita itu.
" Sudah bu guru. Makanya Iqbal sekolah," jawab Iqbal, " ini mama dan papa Iqbal," ucap Iqbal mengenalkan orang tuanya.
" Selamat pagi Bu, pa," sahut guru wanita itu menyapa dengan berjabat tangan.
" Selamat pagi " sahut Azizi.
" Saya, Silvi wali kelas Iqbal," ucap guru tersebut mengenalkan namanya.
" Oh, iya kami orang tuanya, mohon bantuannya untuk membingbing anak saya," ucap Azizi.
" Iya Bu pasti, itu sudah tugas kami," sahut Silvi.
" Ya sudah Iqbal, kalau begitu ayo kita masuk kekelas," ajak Silvi dengan ramah.
" Baik Bu guru," jawab Iqbal, " mah, pah, Iqbal kekelas dulu ya," ucap Iqbal pamitan pada mama dan papanya dengan mencium punggung tangan ke-2 orang tuanya itu.
" Kamu belajar yang benar ya sayang," ucap Azizi memberi saran.
" Permisi Bu, pa," ucap Silvi pamit. Azizi mengangguk, begitupun dengan Vandy.
" Daaa mama, daaa papah," ucap Iqbal melambaikan tangannya. Azizi dan Vandy pun membalas lambaian tangan itu dengan tersenyum melihat anaknya yang pasti tidak percaya jika bisa kembali kesekolah.
" Ayo kita pulang!" ajak Vandy. Azizi mengangguk dan mereka pun pulang meninggalkan sekolah anak mereka yang sekarang memberikan tugas itu pada guru.
**********
Seperti biasa Verro akan melakukan aktivitas nya di rumah sakit. Verro sedang berada di ruangannya dengan beberapa catatan medis dari pasiennya.
Tok-tok-tok-tok.
" Masuk!" perintah Verro dari dalam ruangannya. Pintu ruangan terbuka yang ternyata Sasy yang masuk keruangan itu.
" Kamu tadi memanggilku?" tanya Sasy.
" Iya, aku ada perlu sama kamu," jawab Verro.
" Apa?" tanya Sasy.
__ADS_1
" Ini," Verro memberikan berkas di pegangnya dan langsung di ambil Sasy.
" Apa ini?" tanya Sasy.
" Aku minta sama kamu, tolong kamu periksa catatan medis dari Fiona. Dia harus ditangani dengan serius," ucap Verro.
" Kok aku," sahut Sasy tampak tidak mau.
" Memang kenapa harus tidak kamu?" tanya Verro.
" Ya kenapa harus aku yang periksa. Lagian bukannya dia juga nggak mau di tangani serius. Dia juga tidak mau melakukan cuci darah lagi. Dia juga tidak mau operasi, lalu kenapa harus repot-repot buat ngurusin dia segala. Banyak Verro pasien yang membutuhkan kita," ucap Sasy kesal.
" Sasy, kamu itu Dokter. Kamu nggak bisa pilih-pilih pasien. Fiona dan penderita kanker lainnya itu sama. Kamu nggak bisa beda-bedain," ucap Verro.
" Aku nggak pernah beda-bedain. Justru dia yang ingin beda sendiri. Sudah syukur Cherry mau menanggung biayanya. Memberikan dia pengobatan yang terbaik. Tetapi apa yang di lakukannya. Dia menolaknya dan menyia-nyiakan semuanya. Yang itu artinya dia yang tidak ingin hidup," tegas Sasy.
" Sasya dan itu tugas kita sebagai Dokter. Kamu tau kan pasien penderita kanker banyak putus asa apalagi seperti Fiona yang putus asa dan tugas kita untuk membujuknya demi keselamatannya," ucap Verro memberikan pencerahan.
" Ngapain bujuk-bujuk orang yang gak penting. Kamu aja yang melakukan sendiri banyak orang yang masih mau berobat," sahut Sasy kesal.
" Sasy, sudahlah, kamu jangan seperti ini. Jangan marah-marah tidak jelas hanya karena Fiona," sahut Verro.
" Orang kamu yang membuat masalah duluan," sahut Sasy kesal.
" Ya sudah, kamu jangan marah-marah lagi. Aku tidak akan menyuruh kamu untuk mengatasi Fiona. Aku akan melakukannya sendiri. Yang penting kamu cek semua hasil medisnya," ucap Verro menegaskan.
" Ishhh, kalau ingat," sahut Sasy kesal yang langsung pergi. Dan Verro hanya geleng-geleng saja melihat Sasy.
Sementara Sasy sudah kesal di depan ruangan Verro.
" Ngapain juga harus repot-repot ngurusi dia. Nggak penting banget," ucap Sasy kesal memukul-mukul hasil tes Fiona karena saking kesalnya.
Sementara Verro yang di dalam ruangannya membuka ponselnya dan membaca pesan wa masuk dari istrinya.
..." Sayang, aku lagi di Yayasan, aku lagi berkunjung di sana," tulis Cherry....
..." Kalau sudah selesai di sana bilang ya. Aku akan menjemputmu," balas Verro....
..." Hmmm, iya sayang pasti. Jangan lupa makan siang,"...
..." Iya kamu juga jangan lupa makan siang,"...
..." I love you,"...
..." I love you to,"...
__ADS_1
Bersambung