DETAK Love Story' School

DETAK Love Story' School
Episode 63 jatuh bersama.


__ADS_3

Exspresi kaget yang mereka lihat saat melihat dan mendengar bagaimana Fiona mengatai Cherry dengan kata-kata kasar dan bahkan kata wanita penyakitan berulang kali keluar dari mulut Fiona.


Melihat hal itu membuat Verro mengepal ke-2 tangannya, begitu juga dengan Vandy dan Varell yang benar-benar terbawa emosi dengan Fiona dalang selama ini.


Sasy menutup mulutnya dengan air matanya yang jatuh saat sahabatnya di hina dengan keji oleh wanita pendiam. Hal yang tidak pernah terpikir olehnya.


" Keterlaluan," desis Varell tidak bisa menahan dirinya.


" Wanita sialan," sambung Sasy geram dengan Fiona.


" Jadi semua ini gara-gara dia," sahut Vandy yang terbakar emosi.


" Kenapa Fiona Setega itu kepada Cherry," sahut Nadya tidak habis pikir.


" Aku tidak menyangka dia sampai se begitunya," sambung Azizi yang juga schok.


" Fiona benar-benar kelewatan. Dia sangat tega kepada Cherry," batin Aldo yang benar-benar tidak menyangka.


Raquel mengambil ponselnya dari Varell, setelah perkumpulan sahabat itu sudah selesai menonton.


" Kalian sudah taukan, jika Fiona menghampiri Cherry dan mengatakan semua itu, aku tidak sengaja melihatnya dan merekam semuanya," ucap Raquel menjelaskan.


" Berati Cherry sudah tau. Jika papa memperalatnya, tetapi dia malah diam dan membiarkan saja. Dan memang benar selama ini Cherry tidak pernah mengadukan apa-apa. Papa menyuruh orang untuk mengawasiku dan Cherry dan orang itu orang tua Fiona," batin Verro di penuhi rasa bersalah.


" Bukan cuma itu," sahut Toby tiba-tiba.


" Ada apa Toby?" tanya Azizi.


" Aku menemukan ini, salah satu foto yang aku ambil dari Fiona sewaktu aku berada di dalam tendanya," ucap Toby gugup memberikan foto itu dengan tangannya bergetar dan langsung di tarik Vandy, melihat 2 lembar foto.


Lagi dan lagi mereka sangat kaget. 1 foto menunjukkan Cherry dan Verro dan Cherry di coret-coret dan satu lagi Foto Cherry dengan gambar jantung di sampingnya.


" Gila," teriak Vandy.


" Wanita itu benar-benar sadis," desis Varell.


" Sial," desis Verro.


Verro semakin emosi melihatnya dan Verro langsung berlari memasuki hutan yang tadi di masukin Cherry yang mungkin Verro sudah bisa menyimpulkan Semuanya.


" Verro mau kemana?" teriak Varell.


" Wanita sialan," desis Sasy langsung pergi.


" Sasy mau kemana," teriak Toby mengejar Sasy.


Azizi dan Nadya juga mengejar Sasy yang masuk kedalam perkemahan. Vandy dan Varell pun juga ikut mengejar Sasy.


Raquel menarik napasnya panjang dan membuangnya perlahan. Raquel tersenyum tipis. Seakan bahagia dengan apa yang di lakukannya. Mungkin ini pertama kali dia melakukan hal baik. Tetapi senyum Raquel tertangkap oleh Aldo.


" Kenapa melihatku seperti itu?" tanya Raquel salah tingkah.


" Tidak apa-apa," sahut Aldo yang langsung pergi meninggalkan Raquel sendiri. Raquel melihat di sekelilingnya dan sangat sepi membuatnya semakin takut.


" Tunggu Aldo!" teriak Raquel berlari mengejar Aldo dia tidak ingin di tinggal sendirian.


**********


Sasy yang benar-benar emosi dengan Fiona langsung menghampiri Fiona yang sedang makan. Dengan penuh kemarahan Sasy mengambil air dan menyiram Fiona.

__ADS_1


Byurrrr.


Siraman Sasy membuat Fiona kaget dan juga orang di sekitar Fiona. Dengan geram Fiona langsung berdiri. Belum sempat mengeluarkan suara Sasy langsung menamparnya.


Plakkk.


" Kau," lirih Fiona geram dengan panas di pipinya.


" Dasar perempuan jahat, perempuan hina, tidak punya hati, sakit jiwa," teriak Sasy mengumpat seluruh isi hatinya.


Azizi dan Nadya datang dan mencoba meredakan kemarahan Sasy.


" Apa yang kau katakan," geram Fiona.


" Kau wanita yang paling kejam yang pernah kutemui, kau diam tetapi sangat menusuk," lanjut Sasy menunjuk tepat di dada Fiona.


" Tutup mulut mu apa maksudmu?" tanya Fiona bingung.


" Apa karena kau mencium Verro, kau sudah merasa paling hebat. Kau sudah merasa jika kau melakukan itu. Verro akan menyukaimu. Apa kau merasa hebat telah mengakui perasaanmu kepada Verro sehingga kau berbicara dengan lancang, kau menyukainya. Tapi apa perlu kau menghina Cherry. Dia memang sakit dia mempunyai kelainan jantung, dia memang berbeda dari kita yang lahir dengan normal. Tetapi dia jauh lebih baik dari pada kau. Dia bahkan tidak pernah mengganggumu, tidak pernah mengusik hidupmu," lanjut Sasy marah-marah di depan Fiona dengan terus menunjuk-nunjuk Fiona.


" Apa yang dia katakan apa Cherry mengadukan semua yang aku katakan," batin Fiona.


" Kenapa kau diam, apa kau berpikir. Jika Cherry mengadukan semua yang kau katakan kepadanya. Kau harus tau wanita gila, gara-gara ucapanmu kesehatannya menurun," teriak Sasy seakan tau apa yang di pikiran Fiona.


" Kenapa mulutmu sangat jahat, bisa-bisanya orang seperti mu mengeluarkan kata-kata kasar seperti itu. Apa kau tidak tau bagaimana perasaannya. Selama ini dia selalu berusaha melupakan penyakiy di dalam dirinya. Dia selau ceria dan tidak peduli apa-apa. Tetapi kau membuatnya putus asa. Kau mengingatkannya tentang perbedaan kau membuat temanku ingin mati," Sasy terus mengoceh tidak terkendalikan. Sementara Fiona hanya diam.


" Sasy sudah," ucap Azizi menenangkan Sasy. Varell dan Vandy sudah berada di antara kerumunan itu.


" Kau benar-benar jahat Fiona. Kau sok tau tentang persahabatan kami, apa kau pikir kami sepertimu yang diam-diam tapi menusuk. Kami sangat tulus bersahabat dengan Cherry. Kami menyayanginya. Tidak seperti yang kau katakan. Jika kami bersahabat dengannya. Hanya kerena kasihan," lanjut Toby yang ikut kesal.


" Keterlaluan banget sih lo Fiona. Lo nggak tau apa-apa tentang hubungan Cherry dengan Verro. Bisa-bisanya lo bilang Verro cuma simpatik kepadanya. Apa lo tau orang yang paling takut saat Cherry masuk rumah sakit itu adalah Verro," sambung Vandy membuat Fiona terdiam.


" Dan benar kata Sasy. Kita berteman sama Cherry bukan karena simpatik. Kita bahkan lebih mempedulikan Cherry di banding diri kita sendiri dan kita tidak perlu harus tunjukkan kepadamu bagaimana persahabatan kita. Karena kita bersahabat pake hati bukan logika," tambah Varell menunjuk otak Fiona.


" Dia tidak akan mengerti tentang hal itu. Karena dia tidak punya sahabat," sahut Sasy sinis.


" Benar, dia memang tidak akan bisa memahami itu. Dia wanita yang sangat menakutkan, sangat hina, mending juga Raquel terlihat jahat. Tapi tidak munafik sepertimu," kecam Toby membawa-bawa nama Raquel.


" Kenapa dia membawa-bawa namaku," batin Raquel.


" Dasar wanita jahat, wanita ular, sakit jiwa, pantas saja lo nggak punya teman," kecam Sasy penuh emosi.


Fiona dengan mata bergenang melihat orang-orang di sekelilingnya yang melihatnya penuh kebencian. Tidak tahan akhirnya Fiona pergi.


" Mau kemana kau wanita jahat, aku tidak akan melepasmu," teriak Sasy geram melihat kepergian Fiona.


" Sudah lah Sasy," ucap Azizi menenangkan Sasy.


" Dia yang membuat Cherry seperti itu. Omongannya benar-benar sangat pedas," ucap Sasy kesal.


" Ayo kita ketenda tenangkan diri kamu dulu," ajak Nadya mengusap punggung Sasy.


" Cherry bagaimana?" tanya Sasy khawatir.


" Kita akan cari," sahut Varell.


" Kalau begitu aku ikut," ucap Sasy yang juga ingin mencari Cherry.


" Aku juga ikut," sahut Toby.

__ADS_1


" Ya sudah kalian boleh iku. Tetapi jangan bikin rusuh," ujar Varell mewanti-waniti. Karena Sasy dan Toby memang tidak pernah serius dalam hal apapun.


" Apa kami juga boleh ikut?" tanya Nadya pelan.


" Ya sudah ayo," sahut Vandy. Azizi dan Nadya saling melihat tersenyum.


" Aku juga akan membantu mencarinya," sahut Aldo. Varell mengangguk membiarkan saja.


Akhirnya mereka semua pergi mencari Cherry. Sementara Raquel dia di tempatnya dan di samperin Selina dan Mitha.


" Kenapa Raquel?" tanya Mitha. Raquel menggedikkan bahunya. Lalu pergi.


" Kenapa sih si Raquel, kayak menghindar dari kita," tanya Selina.


" Tau tuh, dia kayak lebih dekat sama Aldo," ucap Mitha.


" Dia benar-benar suka sama Aldo?" tebak Selina.


" Mungkin saja, seleranya menurun," sahut Mitha yang juga tidak mengerti dengan sahabatnya itu.


*************


Di sisi lain Cherry menangis di bawah pohon dengan berjongkok. Melipat ke-2 tangannya di Atas lutunya. Dia menangis sengugukan sakit hati dengan Verro yang terus memperlakukannya seenaknya.


" Verro jahat, kau sangat Jahat, kau sangat jahat, kau terus seperti itu kepadaku, kau membuatku bingung, dulu kau berjanji tidak akan menyakitiku. Kau berjanji akan melindungiku hiks. Tetapi kau berubah, kau selalu marah kepadaku hiks . Apa itu salahku jika papamu memperalatku. Seharusnya kau katakan kepadaku dari hiks," ucapnya terus terisak-isak.


" Kau berubah Verro, kau sudah mengingkari janjimu. Kau bukan Verro yang aku kenal. Kau tidak tau apa yang aku rasakan. Aku selalu berusaha agar kau tidak di marahi. Tetapi kau tidak pernah melihat usahaku, kau sangat jahat Jahat," umpat Cherry terus menerus.


Ternyata Verro sudah ada di belakangnya dan mendengar semua keluhan perasaan Cherry yang begitu terluka. Cherry menangis menahan napasnya yang sesak di tengah hutan yang dingin.


" Cherry," lirih Verry.


Mendengar namanya di panggil Cherry membalikkan badannya melihat orang yang memanggilnya adalah Verro.


Cherry menatap Verro dengan tajam. Menatap penuh kebencian. Tetapi ada rasa bertanya-tanya kenapa wajah Verro seperti itu. Wajah yang babak belur justru membuat Cherry cemas. Verro melangkahkan kakinya mendekati Cherry.


" Jangan mendekat," cegah Cherry yang benar-benar tidak ingin Verro dekat dengannya. Cherry langsung berdiri dengan jarak 2 meter dari Verro.


" Cherry, ayo kembali," ajak Verro dengan lembut menahan sakit.


" Jangan mengurusiku, pergilah! di sini juga tidak ada mata-mata itu. Jadi pergilah aku sudah tidak mau menemuimu, aku akan mengatakan semua kepada papaku, biar kau bisa bebas dari ku, aku membencimu jadi jangan mencampuri urusanku," teriak Cherry dengan linangan air matanya.


Verro mendengarkan saja kemarahan Cherry dan melangkahkan kakinya mendekati Cherry. Tetapi Cherry mundur selangkah demi selangkah demi selangkah.


" Aku bilang jangan mendekat," tegas Cherry yang terus mundur sampai tidak sadar jurang di bawahnya.


" Aku tidak akan pergi sebelum kamu ikut denganku," tegas Verro yang sudah sangat dekat dengan Cherry.


" Tetapi aku tidak mau," ujar Cherry mundur lagi dan mundurnya adalah langkah terakhir.


" A-a-a-a-a-a," Cherry membulatkan matanya saat tubuhnya kayang ingin jatuh.


" Cherry," teriak Verro meraih tangan Cherry. Tetapi Cherry menariknya dan akhirnya Verro ikut jatuh bersama Cherry.


Verro memegang kepala Cherry dengan telapak tangannya dan guling-guling bersama Cherry di dalam jurang.


💝💝Bersambung


Hay para readers yang baru bergabung. Bantu support ya novel aku yang baru.

__ADS_1


Tinggalkan jejak. Komentar, like, dan jangan lupa vote sebanyak-banyaknya. Agar aku semakin semangat melanjutkan ceritanya.


__ADS_2