
Setelah pulang sekolah. Ternyata Cherry meminta untuk ke Supermarket untuk berbelanja bahan makanan. Dia ingin memasakkan Verro sesuatu.
Seperti biasa Verro pasti akan menolak. Karena Cherry benar-benar semakin parah. Tetapi lagi dan lagi. Cherry memaksa dan akhirnya Verro pun akan mengalah demi menuruti permintaan Cherry.
Dengan tangan yang saling menggenggam dan 1 tangan memegang troli mereka berjalan dengan lambat. Mereka masih memakai seragam sekolah.
" Kamu mau masak apa?" tanya Verro lembut dengan mengusap pucuk kepala Cherry. Dia hanya bisa menjaga istrinya tanpa bisa melakukan apa-apa. Karena dia tau kondisi Cherry sangat parah.
" Yang mudah dan cepat di buat dan pastinya kamu suka dengan masakan ku," jawab Cherry dengan pelan.
Cherry berbicara sangat jelas menahan sakit di tubuhnya. Dia hanya berusaha kuat agar bisa menuntaskan apa yang di inginkannya hari ini memasakkan Verro makanan.
" Setelah itu kita kerumah sakit ya!" ucap Verro yang pasti sangat Khawatir dengan Cherry dan Cherry harus secepatnya mendapat penanganan.
" Iya, kita pasti kerumah sakit," jawab Cherry masih bisa tersenyum lebar.
Tidak banyak yang mereka beli dalam berbelanja. Cherry hanya mengambil apa yang di butuhkan nya untuk memasak 1 menu masakan saja untuk suaminya.
Seperti janjinya kemarin. Dia ingin melakukan itu untuk terakhir kalinya. Dia ingin sekali saja berguna sebagai istri.
Setelah selesai berbelanja mereka pulang. Cherry dan Verro duduk di bangku belakang dengan tangan yang tetap saling menggenggam dan satu tangan Kevin mengusap keringat di dahi Cherry. Yang pasti keringat karena menahan rasa sakit.
" Verro boleh kita ke toko bunga. Aku ingin membeli bunga," ucap Cherry melihat Verro.
" Iya, kita akan kesana," jawab Kevin tanpa menolak.
" Pak, kita mampir ke toko bunga!" ucap Verro pada supir.
" Baik mas," jawab supir.
Cherry menyandarkan kepalanya di bahu Verro. Tubuhnya semakin lemas. Mulutnya komat-kamit meminta untuk di berikan kekuatan.
" Aku ingin meminta waktu lebih lama lagi untuk bersamanya. Tuhan aku mohon kasih aku tenaga. Agar aku bisa menghabiskan sisa hidupku dengannya. Aku ingin terus bersamanya," batin Cherry dengan matanya yang bergenang.
***********
Tidak berapa lama mereka sampai ke toko bunga. Cherry membeli mawar pink kesukaannya. Cherry menghirup mawar itu dengan dalam. Tersenyum dengan melihat keindahannya.
" Kevin suatu saat apapun itu. Aku tidak mau kamu memberiku mawar lain. Aku tetap ingin yang pink," ucap Cherry berpesan.
Verro hanya mengangguk pasrah dengan semua pertanda yang di berikan Cherry. Hal itu memang akan datang dan dia hanya mempersiapkan dirinya saja.
Dratttt- Dratttt-Drattt. Tiba-tiba ponsel Verro berdering. Verro mengambil dari sakunya dan melihat panggilan dari Laskarta.
" Aku angkat telpon sebentar, kamu lihat-lihat lagi bunganya," ucap Verro. Cherry mengangguk.
Verro pergi untuk mengangkat telpon. Sementara Cherry masih melihat-lihat bunga-bunga yang indah. Meski jauh dari Cherry. Tetapi mata Verro tidak menatap Cherry yang. Dia terus mengawasi istrinya.
📞" Hallo om," sapa Verro mengangkat telpon dari Laskarta.
📞" Cherry, di mana Verro, bukannya seharusnya dia sudah pulang sekolah. Ini siang. Kalian ada di mana?" tanya Laskarta yang panik dengan Cherry.
Laskarta memang menunggu Cherry di rumah sakit. Malam hari Cherry akan berangkat ke Jerman. Dan semua persiapannya sudah selesai.
📞" Maaf Om, tetapi Cherry masih ingin jalan-jalan. Verro janji, setelah ink akan membawanya kerumah sakit," jawab Verro.
__ADS_1
📞" Baiklah, tolong cepat ya Verro, Cherry harus di tangani secepatnya. Om takut dia kenapa-napa," ucap Laskarta dengan suara bergetar.
📞" Pasti Om, Verro akan segera bawa dia," jawab Verro yang terus melihat Cherry masih tersenyum menghirup aroma bunga.
Setelah menutup telpon. Verro kembali menghampiri istrinya. Verro memegang pundak Cherry.
" Sudah selesai?" tanya Verro. Cherry mengangguk.
" Iya sudah selesai, ayo pulang," jawab Cherry. Verro mengangguk dan kembali menggenggam tangan Cherry membawanya keluar dari toko bunga itu.
Cherry tidak hanya membeli bunga mawar pink saja. Bahkan dia juga membeli bibit mawar pink. Kevin tidak bertanya lagi untuk apa bibit itu.
Karena dia juga pasti tau jika Cherry mempersiapkan itu untuk di tanam di atas makamnya. Seperti kata-kata Cherry tempo lalu yang ingin ada tanaman mawar di makamnya. Verro hanya menuruti tanpa banyak protes.
************
Nadya, Sasy, dan Toby sekarang sedang menunggu di pinggir jalan. Setelah pulang sekolah mereka janjian untuk mengunjungi Cherry. Karena temannya itu akan pergi berobat.
Mereka sedang menunggu jemputan. Vandy dan Varell yang katanya akan menjemput mereka. Tidak berapa lama mobil mewah Varell pun berhenti di depan mereka.
" Tuh dia datang juga," ucap Toby. Varell dan Vandy keluar dari mobil dan menghampiri Nadya dan yang lainnya.
" Raquel sama Aldo mana, bukannya katanya mau ikut?" tanya Vandy yang tidak melihat 2 orang itu.
" Aldo lagi bicara sama guru. Jadi mereka akan nyusul ke rumah sakit nanti," jawab Sasy.
" Ya sudah, ayo kita pergi. Cherry belum di rumah sakit. Dia masih ada di rumah dengan Verro," ucap Varell.
" Bukannya kondisinya sangat parah. Kenapa masih ada di rumah?" sahut Toby.
" Ya udah deh kalau begitu," sahut Nadya.
" Ayo masuk!" ucap Vandy. Merekapun masuk ke dalam mobil. Varell dan Vandy duduk paling depan. Sementara Nadya, Toby dan Sasy duduk di bagian belakang. Raquel dan Aldo akan menyusul mereka.
***********
Setelah selesai seharian di luar. Cherry dan Verro sudah tiba di rumah. Dan sekarang Cherry sudah berada di dapur memasak untuk Verro.
Sementara Verro terus berdiri 3 meter dari Cherry. Berada di belakang Cherry yang terus memperhatikan gerak-gerik Cherry. Takut jika Cherry kenapa-napa dan dia bisa langsung bergerak cepat.
Cherry memasak dengan tubuh yang benar-benar lemah. Keringatnya terus menetes dan beberapa kali tangannya mengusap keringat itu dengan lengan tangannya.
Sakitnya semakin parah dan sangat sakit. Rasa sakit itu tidak bisa di gambarkan dan dia tidak tau apakah tuhan masih memberinya waktu sebentar saja. Paling tidak sampai apa yang di masaknya selesai dan Verro bisa memakannya.
Cherry hanya memasak spageti yang memang makanan favorite Verro. Itu juga pertama kali dia memasaknya. Karena pada dasarnya Cherry memang tidak bisa memasak.
" Akhirnya selesai juga," batin Cherry merasa lega saat masakannya selesai.
Cherry memegang pinggir pemasakan dengan kuat saat dia sudah ingin jatuh. Karena tidak kuat lagi. Verro langsung mendekatinya dan menahan tubuh Cherry dari belakang.
" Kamu tidak apa-apa?" tanya Verro panik. Berdiri di belakang istrinya memegang lengan Cherry yang sedang berusaha memindahkan spageti dari wajan ke piring.
Cherry hanya menggeleng. Dengan 1 tetas air matanya menggambarkan jika dia sudah tidak kuat lagi.
" Aku akan bantu, duduklah!" ucap Verro membatu istrinya duduk. Untung kali ini Cherry tidak membantah dan mau menuruti.
__ADS_1
Verro pun langsung buru-buru memindahkan spageti itu ke atas piring agar selesai dan bisa membawa Cherry kerumah sakit. Karena Laskarta terus mengirim Verro pesan agar Cherry secepatnya di bawa kerumah sakit.
Setelah selesai Verro meletakkan di atas meja makan dan duduk di samping Cherry. Cherry tersenyum melihat Verro.
" Tenanglah Verro, kamu jangan tergesa-gesa. Aku akan kerumah sakit," ucap Cherry yang melihat Verro sangat memburu.
" Iya aku tau. Aku tidak tergesa-gesa. Aku tergesa-gesa ingin mencoba masakanmu," sahut Verro yang pasti bohong.
" Baiklah kalau begitu cobalah, maaf jika tidak enak!" ucap Cherry.
Verro mengangguk dan langsung memakannya. Dia tidak bisa mengendalikan dirinya. Jika memang tidak buru-buru.
" Pelan-pelan Verro, masih panas," tegur Cherry dengan suara lembutnya. Verro mengangguk dan meniup makanan yang di lilit dengan garpu itu lalu memakannya.
" Apa enak?" tanya Cherry suaranya semakin memelan karena menahan sesak. Wajahnya juga semakin pucat.
" Enak sangat enak. Terima kasih Cherry. Sudah memasakkanya untukku," jawab Kevin yang terus memakannya sambil menangis.
" Itu akan menjadi masakan pertama dan terakhir untukmu," ucap Cherry. Verro terdiam dengan air matanya menetes. Kala mendengar kata-kata terakhir yang sangat menyakitkan itu.
" Verro !" panggil Cherry.
" Ada apa?" tanya Verro.
" Aku ingin mencobanya?" jawab Cherry.
Verro mengangguk dan menyuapkan Cherry pasti meniup terlebih dahulu. Cherry membuka mulutnya pelan dan mencicipi masakan yang di masaknya.
" Kenapa berbohong. Ini tidak enak," sahut Cherry.
" Bagiku. Ini sangat enak. Aku tidak berbohong. Lidah orang berbeda-beda Jadi menurutku. Ini sangat enak," sahut Verro.
" Aku akan memasaknya lagi sampai benar-benar enak!" ucap Cherry mencoba berdiri. Verro menahan tangannya.
" Cherry cukup! ayo kerumah sakit," ucap Verro. Cherry menggeleng dan berdiri.
" Cherry. Kita harus kerumah sakit. Kamu harus mendapat perawatan jangan membantah. Ayo," bujuk Verro.
" Sebentar saja. Aku yakin ini akan berhasil," jawab Cherry.
" Kamu sudah tidak kuat Cherry, jangan memaksakan diri," ucap Verro.
" Aku bisa Verro, tunggulah sebentar, aku akan kerumah sakit," jawab Cherry tetap kekeh.
Cherry pun melepas tangannya dari genggaman Verro. Dan berjalan kembali ingin memasak masakan untuk suaminya. Dia tidak akan puas. Jika tidak berhasil.
Verro memijat kepalanya. Saat lagi dan lagi Cherry tidak menurutinya. Dia sudah tidak bisa melakukan apa-apa lagi. Cherry sangat keras kepala. Sampai dia tidak bisa melakukan apapun.
Sementara air matanya sudah menetes. Saat melihat istrinya yang sekarat. Tetapi tetap memaksakan dirinya.
Cherry berjalan menuju kulkas dengan tangannya yang memegang dadanya yang ternyata debaran jantungnya semakin parah. Bahkan napasnya mulai terasa sesak. Suara ******* napas itu pun sudah saling memburu. Pandangan mata Cherry benar-benar mulai membayang sampai akhir nya.
Brukkk Cherry terjatuh di lantai.
Bersambung....
__ADS_1