DETAK Love Story' School

DETAK Love Story' School
Episode 279 Bercandaan.


__ADS_3

" Kamu bilang aku tidak mengalaminya. Kamu bilang di tidak merasakannya. Kamu jangan bicara sembarangan Azizi. Lalu bagaimana dengan Cherry. Kamu bilang aku tidak merasakannya. Oh iya aku lupa kamu tidak ada di saat-saat detik-detik sekaratnya Cherry. Jadi kamu bisa bicara sembarangan," teriak Sasy yang malah emosian dan orang-orang di sana malah ikut panik.


" Sasy, sudah," sahut Toby pelan memegang pundak Sasy. Namun Sasy langsung menggesernya.


" Kamu dengar ya Azizi. Aku lebih dulu berteman dengan Cherry di bandingkan kamu. Aku yang tau bagaimana dia mengalami sakitnya. Jadi kamu jangan mengatakan dengan sembarangan aku tidak bisa merasakan itu. Karena aku ada di saat masa-masa sekaratnya. Aku tau bagaimana takutnya kehilangan,"


" Jangan cuma gara-gara Fiona sakit. Lalu kamu bisa bicara suka-suka kepadaku. Kamu juga ada di sana. Bagaimana mulut wanita itu bicara pada Cherry dan kalian semua juga tahu gara-gara mulut Fiona. Kondisi Cherry pada saat itu semakin memburuk. Kalian bahkan menutup mata hanya karena dia sakit," tegas Sasy dengan matanya memerah dan Azizi diam tidak berani menjawab lagi.


" Sasy, tenangkan diri kamu. Jangan jadi ribut," sahut Nadya


" Jika dia memang sakit. Dia tidak perlu memamerkan sakitnya kepada semua orang. Dia tidak perlu mencari simpatik orang lain. Kalian semua bahkan melupakan apa yang terjadi karena hanya melihat dia menangis. Aku tau siapa dia dan aku bisa melihat bagaimana dia,"


" Terserah ya kalau kalian mau membelanya karena simpatik kepadanya itu urusan kalian. Tapi ingat ketika suatu saat terjadi sesuatu pada Cherry dan Verro karena wanita itu. Kalian semua," tunjuk Sasy pada teman-temannya dengan menjeda sebentar bicaranya.


" Kalian semua yang harus bertanggung jawab," tegas Sasy.


" Dan kamu Azizi. Aku benar-benar kecewa sama kamu. Kamu seolah-olah membuat aku sebagai wanita yang tidak punya hati dan pasti semua itu. Hanya karena membela wanita itu, sana saja kamu berteman dengannya karena kamu lebih tau apa yang di rasakannya," tegas Sasy yang langsung pergi dengan emosinya yang membara.


" Sasy mau kemana kamu, tunggu!" sahut semuanya yang panik dan terus memanggil Sasy yang langsung memasuki rumah dengan penuh kemarahan dan kekecewaan.


" Biar aku bicara kepadanya," sahut Toby yang langsung menyusul pacarnya yang marah.


" Apa aku salah bicara?" tanya Azizi dengan wajah sendunya yang merasa bersalah.


" Sudahlah ini hanya salah paham. Sasy hanya sensitif nanti semuanya juga akan baik-baik saja," sahut Vandy yang juga mencoba menenangkan Azizi.


" Benar kata Vandy, Sasy hanya terbawa suasana makan dia semarah itu. Sama dengan kamu yang juga terbawa suasana makanya bisa seperti itu. Jadi sudah lah jangan memikirkan apa-apa," sahut Varell menambahi.


" Sudahlah, sebaiknya kalian istirahat. Masalah ini tidak akan selesai. Jika kita terus membahasnya dan saling menyalahkan," sahut Arif dengan bijak.


" Ayo Azizi, kita istirahat," sahut Vandy. Azizi mengangguk dan menurut saja.


" Aku juga sebaiknya masuk dulu," sahut Nadya. Varell mengangguk dan akhirnya masuk.

__ADS_1


" Ayo Varell?" ajak Arif.


" Iya kak?" jawab Varell mengangguk dan mereka masuk bersamaan.


Mereka ribut di bawah sana sementara Verro dan Cherry sudah berkeringat di atas ranjang. Pasangan yang sedang bercumbu itu tidak menyadari ada keributan di bawah sana karena sama-sama menikmati dengan penuh cinta.


************


Keesokan harinya di pagi yang cerah tetap dengan suasana yang dingin. Bagaimana tidak bertambah dingin di kamar Cherry dan Verro sedari tadi malam jendela benar-benar tidak di tutup dan pasangan itu masih tertidur.


Di mana Cherry yang sudah memakai kemeja putih Verro yang tertidur di samping Verro dengan lengan Verro yang di jadikan bantal dan pasti Cherry tertidur di dada bidang suaminya itu dengan berat yang tidak memakai pakaian dan tertutup dengan selimut.


Dengan perlahan Verro membuka matanya dan melihat ke arah Cherry yang masih tertidur di depannya. Verro langsung mencium lembut kening Cherry. Lalu turun pada kelopak mata Cherry.


" Sayang bangun," ucap Verro lembut yang membangunkan istrinya. Perlahan Cherry membuka matanya ketika mendengar suara lembut yang identik dengan serak itu.


" Morning," sapa Verro.


" Morning," sahut Cherry. Verro mencium bibir Cherry.


" Tetapi aku merasa cuacanya begitu cerah," sahut Cherry. Verro tersenyum dan mengatakan matanya pada jendela yang di ikuti oleh Cherry dan membuat Cherry kaget sampai melototkan matanya.


" Jendelanya terbuka?" tanya Cherry tampak kaget. Verro mengangguk.


" Apa tidak di tutup semalaman?" tanya Cherry panik. Verro mengangguk tersenyum.


" Sayang, kamu kok lupa nutup. Bagaimana jika ada yang melihat kita," sahut Cherry dengan wajah paniknya.


" Shutttt, kamu berisik sekali pagi-pagi. Sekalipun ada yang melihat kita. Itu tidak masalah karena kita sudah menikah. Itu hanya kesialan untuk mereka saja," sahut Verro menenangkan istrinya agar tidak panik.


" Tetap saja sayang. Apapun itu. Kamu seharusnya mengingat menutupnya," sahut Cherry yang masih kepanikan.


" Sudahlah Cherry lupakan semuanya. Lagian semuanya sudah terlanjur. Jadi tidak ada yang harus di sesalkan," sahut Verro.

__ADS_1


" Ya kamu benar, kamu sih, suka buru-buru terakhirnya seperti itu. Sekali lagi kamu harus memastikan dulu, jangan sampai kejadian ini terulang lagi," tegas Cherry pada suaminya.


" Iya, kalau begitu aku akan menutupnya sekarang," sahut Verro membuat Cherry bingung.


" Untuk apa?" tanya Cherry heran.


" Bukannya kita harus memastikannya dulu," sahut Verro dengan menaikkan alisnya menyunggingkan senyumnya.


" Tidak, aku tidak mau," sahut Cherry yang menolak karena tau maksud Verro.


" Ayolah sayang, biar jendelanya aku tutup lagi," sahut Verro yang menggoda Cherry. Cherry menggeleng dengan cepat. Verro terus menggodanya namun Cherry tetap menolak dan sampai-sampai Verro harus menggelitiknya.


" Verro geli," sahut Cherry yang kegelian yang menggelinjang karena ulah Verro yang jahil.


*********


Azizi malah gelisah di dalam kamar dengan wajahnya yang terlihat begitu sendu dengan pemikiran yang sangat banyak.


" Kamu kenapa Azizi?" tanya Vandy yang yang melihatnya seperti orang bingung.


" Sasy pasti marah kepadaku masalah kemarin. Aku tidak tau harus melakukan apa lagi. Aku bingung," sahut Azizi yang memikirkan hal itu.


" Ya sudah sebaiknya kita untuk sarapan. Lalu bicara kembali padanya dengan kepala dingin. Tanpa ada emosian," ucap Vandy mencoba memberikan dukungan pada Azizi.


" Bagaimana jika dia tidak mau bicara dengan ku?" tanya Azizi yang terlihat menakutkan hal itu.


" Kita belum turun. Jadi kita tidak akan tau," sahut Vandy.


" Tapi tetap saya aku takut dia benar-benar marah," sahut Azizi.


" Sudahlah, kita kebawah dulu. Dan Menik Sasy. Agar masalah ini tidak berkepanjangan," ucap Vandy menegaskan.


" Ayo!" ajak Vandy. Azizi mengangguk ragu dan akhirnya sama-sama keluar dari kamar untuk sarapan dan pastinya membicarakan masalah mereka.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2