DETAK Love Story' School

DETAK Love Story' School
Episode 375 Masalah yang terselesaikan.


__ADS_3

Sasy dan Toby ternyata semakin nyaman dengan ke adaan seperti itu yang sampai akhirnya mereka sama-sama tertidur dengan posisi yang sama di mana Toby yang tetap memeluk Sasy.


Tingnong, Tingnong, suara bel rumah terdengar begitu kuat membuat Toby terbangun. Toby memijat pelipisnya dan melihat Sasy yang masih tertidur di pelukannya. Toby tersenyum dengan mencium pucuk kepala Sasy yang memeluknya begitu erat.


Suara bel itu terus berbunyi membuat Toby mau tidak mau haru bangkit dari tempat tidur untuk melihat kedepan siapa yang telah bertamu. Dengan perlahan Toby mencoba tangan Sasy dari memeluk pinggangnya. Namun begitu keras yang Sasy memang kelihatan tidak ingin lepas dari Toby.


" Sasy," lirih Toby yang membangunkan Sasy. Agar dia bisa membukakan pintu. Namun sangat kelihatan Sasy yang benar-benar tidak mau lepas dari pelukan itu.


" Sasy bangunlah," ucap Toby dengan lembut membangunkan Sasy.


" Ada apa?" tanya Sasy dengan suaranya yang pelan. Suara khas bangun tidur.


" Ayo bangun sebentar. Aku ingin membuka pintu," ucap Toby dengan lembut.


" Memang siapa yang datang?" tanya Sasy dengan suaranya yang begitu manja.


" Aku mana tau, dari tadi belnya berbunyi. Biar aku buka sebentar. Kalau kamu mau istirahat maka istirahatlah," ucap Toby. Sasy mengangguk. Namun tetap memeluk Toby dengan erat membuat Toby mendengus tersenyum melihat Sasy.


" Sasy aku mana mungkin bisa pergi. Kalau kamu masih seperti ini," ucap Toby. Dengan malas Sasy membuka matanya yang sipit dan melihat ke arah Toby yang menaikkan 1 alisnya.


" Seperti apa?" tanya Sasy heran.


" Tangan kamu. Kau tidak bisa bergerak," ucap Toby. Sasy dengan polosnya melihat tangannya yang melingkar begitu erat. Sasy pun akhirnya melepasnya dengan perlahan.


" Maaf," lirih Sasy yang merasa malu.


" Kenapa harus minta maaf," sahut Toby.


" Ya sudah sana buka pintu. Aku masih mau lanjutin tidur," ucap Sasy.


" Ya sudah aku buka dulu," sahut Toby. Sasy mengangguk saja dan Toby pun langsung beralih dari tempat tidur dan menyelimuti Sasy yang memang dengan cepat memejamkan matanya.


Toby keluar dari kamar untuk membukakan pintu. Baru aja Toby pergi Sasy sudah kembali terbangun.


" Siapa kira-kira yang datang malam-malam begini," batin Sasy yang kelihatan sangat penasaran.


Saking penasarannya. Akhirnya Sasy pun bangkit dan menyusul Toby. Dia memang sudah tidak mengantuk lagi dan ingin melihat siapa yang bertamu Kerumah Toby.


Tony menuruni anak tangga yang langsung menuju ruang tengah untuk membuka pintu. Begitu sampai di depan pintu Toby langsung membuka pintu. Toby langsung di kejutkan dengan kedatangan teman-temannya.


Cherry, Verro, Raquel, Aldo, Vandy, Azizi, Nadya dan Varell mereka semuanya hadir malam-malam kerumah Toby yang membuat Toby heran.


" Kalian," sahut Toby yang kelihatan begitu schok melihat teman-temannya itu.


" Kita boleh masuk tidak?" tanya Varell.


" Oh, iya pasti. Ayo masuk," sahut Toby yang terlihat begitu gugup. Namun tetap membiarkan teman-temannya itu memasuki rumah dan langsung menuju ruang tamu menggambil tempat duduk masing-masing.


" Ada apa kenapa kalian datang ramai-ramai kemari?" tanya Toby dengan gugup yang matanya melihat Cherry. Dari mata Cherry sudah bisa di jelaskan bahwa Cherry sudah memberitahu teman-temannya tentang penyakitnya.


" Siapa yang datang Toby," sahut Sasy yang masih mengantuk yang menuruni anak tangga. Suara itu membuat Cherry dan yang lainnya melihat ke arah anak tangga dan kaget melihat keberadaan Sasy di rumah Toby.


Sasy jauh lebih kaget melihat teman-temannya yang tiba-tiba ada di sana yang lebih parahnya teman-teman menangkapnya berada di rumah Toby dan ekspresi Cherry dan yang lainnya memang begitu kaget sampai mereka saling melihat yang bertanya-tanya dengan keberadaan Sasy di rumah itu.


" Sasy kamu di sini juga," sahut Azizi dengan wajah kagetnya. Sasy menjadi gugup, malu dan salah tingkah yang ketangkap di rumah Toby. Namun Nadya dan Cherry tersenyum tipis yang melihat keberadaan Sasy yang ada di sana.


" Hmm, i-iya aku berada di sini," jawab Sasy gugup.


" Kok bisa?" tanya Varell.


" Varell tidak perlu di tanya," sahut Nadya menegur suaminya itu.


" Hmmmm, kalian sepertinya ingin menemui Toby. Ya sudah kalian lanjutkan saja. Aku pulang dulu," sahut Sasy yang begitu canggung yang memilih untuk pulang.

__ADS_1


" Biar aku antar," sahut Toby yang langsung menghampiri Sasy. Cherry dan yang lainnya saling melihat dengan senyum-senyum. Tadinya wajah semuanya begitu tegang-tegang eh sekarang malah senyum-senyum sendiri.


" Tidak usah Toby. Aku naik Taxi saja. Kamu harus menemui mereka," ucap Sasy pelan menolak tawaran Toby.


" Tidak apa-apa Sasy. Kamu tidak mungkin pulang sendirian," sahut Toby yang terlihat begitu khawatir kepada Sasy.


" Kenapa harus pulang Sasy, mari mengobrol bersama," sahut Cherry.


" Iya Sasy bukankah ini juga kesempatan kan. Bukannya tadi siang kamu juga ingin ketemu anak-anak dan ingin menyelesaikan masalah salah paham di antara kita," sahut Azizi menambahi. Sasy jadi menunduk malu yang tidak bisa bicara apa-apa lagi.


" Kalau begitu Kemarilah Sasy. Ayo mengobrol dengan kepala dingin. Kita juga sekalian ingin mengobrol dengan Toby," sahut Nadya. Sasy terdiam yang masih tetap menunduk. Toby mengusap-usapnya lengan Sasy.


" Ayo kesana!" ajak Toby dengan lembut. Sasy menganggukkan kepalanya dan Toby langsung meraih tangannya dan membawanya pergi keruang tamu untuk mendekati teman-temannya yang mana membuat Cherry dan yang lainnya saling melihat dengan tersenyum.


Sasy dan Toby mengambil tempat duduk yang saling berdampingan.


" Apa kamu baik-baik aja Sasy?" tanya Cherry. Sasy yang menunduk hanya menganggukkan kepalanya.


" Syukurlah kalau begitu," sahut Cherry yang tersenyum lega.


" Hmmm, langsung saja kedatangan kami kemari. Karena sudah mendengar semuanya dari Verro dan juga Cherry," sahut Aldo yang langsung to the point.


" Maaf Toby kami harus mengatakannya," sahut Varell yang melihat Toby. Dan Toby hanya pasrah yang akhirnya teman-temannya juga tau semuanya.


" Sasy apa kamu juga sudah tau apa yang menimpa pada Toby?" tanya Vandy. Sasy mengangguk.


" Dokter Arif menceritakannya kepadaku," sahut Sasy yang bicara tetap saja masih menunduk-nunduk.


" Akhirnya kita semua tau apa yang terjadi," sahut Varell yang merasa lega.


" Maafkan aku yang sudah menyembunyikan ini dari kalian. Seharunya memang aku tidak menyembunyikan ini. Aku hanya tidak ingin kalian memikirkanku. Aku hanya tidak ingin kalian sedih dan menjadi repot karena apa yang terjadi padaku," sahut Toby yang memberikan alasannya pada teman-temannya.


" Tetap saja Toby. Kami sangat kecewa dengan kamu yang merahasiakan ini. Jika Cherry dan Verro tidak tau hal ini. Kami tidak tau kapan kami akan tau dan tidak tau sebesar apa nanti penyesalan kami," sahut Raquel dengan wajahnya yang penuh kekecewaan.


" Tapi ya sudahlah, yang penting kita sudah tau semuanya dan kami mohon untuk kamu jangan merahasiakan apa-apa lagi dari kami. Karena kami adalah sahabatmu," sahut Varell yang mengaskan. Toby hanya mengangguk mendengar kata-kata itu.


" Benar kata Varell, kami adalah sahabatmu. Apapun yang terjadi kami tidak akan meninggalkanmu. Kami tetap mendampingimu untuk melewati semua ini. Kami akan tetap berada di sisimu. Jangan takut Toby penyakit tidak menyeramkan. Kamu harus tenang agar bisa melawan sakit itu," sahut Cherry yang memberikan supportnya pada Toby.


" Iya Cherry terima kasih sudah memberikanku dukungan. Makasih untuk perhatian kalian. Baru mendengar saja. Kalian semuanya datang malam-malam kerumahku. Aku benar-benar tidak menyangka. Jika kalian memang sahabat yang baik. Ya seharusnya tidak ada yang aku sembunyikan dan mungkin. Jika aku tidak menyembunyikan apa-apa. Pasti aku lebih tenang menghadapi semua ini," sahut Toby tersenyum yang merasa lega.


" Yang lalu biarlah berlalu yang terpenting sekarang bagaimana cara kamu akan sembuh. Ingat kamu punya 4 teman yang berprofesi sebagai Dokter. Belum lagi Dokter Arif yang specialis jantung. Jadi jangan takut apapun. Kita ada untuk kamu," sahut Verro yang memberikan dukungannya kepada sahabatnya itu.


" Makasih," sahut Toby yang tersenyum dengan penuh keharuan.


" Aku juga minta maaf kepada kalian," sahut Sasy dengan gugup yang masih tetap menunduk. Yang lain saling melihat dengan tersenyum mendengar kata-kata maaf dari Sasy.


" Tidak seharunya aku berpikiran pendek. Aku melupakan ribuan kebaikan kalian. Hanya demi 1 kesalahan yang sama sekali tidak berati. Aku kekanak-kanakan. Aku egois. Aku tidak tau malu, aku merasa paling benar. Sampai tega menyakiti perasaan kalian," ucap Sasy yang di penuhi rasa bersalah.


" Aku minta maaf kepada kalian semua. Sungguh aku benar-benar sangat menyesal dengan semua ini. Aku sudah mendapatkan teguran atas apa yang terjadi. Maafkan aku yang sudah begitu jahat. Aku menyesal sungguh aku menyesal melakukannya," lanjut Sasy dengan meneteskan air matanya.


" Sasy ini hanya salah paham. Bukan kamu yang meminta maaf. Tetapi kita. Kita semua juga salah dan kita semua juga harus meminta maaf atas apa yang terjadi," sahut Nadya.


" Benar Sasy. Kita juga salah yang tidak mengerti perasaan kamu. Seharusnya kita kau lebih peka karena kita sahabat yang seharunya memang saling memahami," sahut Cherry yang menambahi.


" Aku juga minta maaf sama kamu Sasy. Kata-kata ku sudah membuatmu sakit hati. Tanpa tau apa yang kamu rasakan sebenarnya. Maafkan aku Sasy," sahut Raquel yang juga mengakui kesalahannya.


" Aku yang salah. Aku tidak bisa memahami kalian semua aku yang minta maaf termasuk kamu Raquel karena tanganku begitu lancang sudah menamparmu. Maafkan aku," sahut Sasy yang penuh penyesalan.


" Ini terjadi karena aku. Semua masalah ini akulah penyebabnya. Jadi aku yang harus bertanggung jawab dan memohon maaf sebesar-besarnya kepada kalian," sahut Toby yang mengambil alih permintaan maaf itu.


" Sudah-sudah jangan terus mengatakan maaf atau apapun. Kita semua sudah saking mengetahui pokok permasalahannya. Kita semua sudah saling mengoreksi diri kita masing-masing dan kita semua sudah saling meminta maaf yang artinya kita semua sama-sama mengakui kesalahan kita. Yang itu artinya salah paham di antara kita sudah selesai," sahut Aldo yang dengan bijak mengambil penyelesaian masalah itu.


" Benar kata Aldo masalah salah ini sudah kita anggap selesai. Jadi sudah tidak ada lagi yang harus kita pikirkan, kita sekarang hanya fokus pada Toby saja," sahut Verro. Yang lainnya mengangguk dengan tersenyum.

__ADS_1


Cherry berdiri dan menghampiri Sasy duduk di samping Sasy yang langsung memeluk Sasy yang di ikuti oleh Azizi, Nadya dan Raquel.


" Kangen banget," ucap Cherry memeluk sahabatnya itu dengan erat.


" Aku juga kangen sama kalian semuanya," sahut Sasy yang meneteskan air matang yang mendapat pelukan dari sahabat-sahabat itu.


Aldo, Vandy, Varell dan Toby saling tersenyum dan sama-sama saling melihat yang penuh kebahagian pasti mereka jauh lebih bahagia dengan persahabatan mereka yang kembali utuh. Di balik sakitnya Toby telah mendapatkan hikmah untuk semuanya yang kembali saling mengoreksi dan belajar lebih mendewasakan diri.


" Makasih ya untuk semuanya. Aku sangat senang dan merasa tidak seperti orang sakit," sahut Toby.


" Santai aja, semua akan baik-baik aja," sahut Verro.


" Hmmm, kalian semua jangan pulang ya. Kita pesan makanan dulu dan kalian tinggal menginaplah 1 malam di rumah ini," ucap Toby. Mereka saling melihat.


" Boleh sih tidak keberatan," sahut Varell.


" Tapi kayaknya aku nggak bisa. Soalnya Iqbal suka rewel," sahut Azizi yang tidak bisa meninggalkan anaknya.


" Azizi. Nanti aku akan telpon mama biar Iqbal nanti di temani mama dan papa tidur," sahut Vandy.


" Memang Iqbal tidak bisa tidur sendirian," sahut Cherry.


" Tidak bisa maklumlah, dia sangat manja dan tidur harus dengan kami berdua," sahut Azizi.


" Terus kalau mau mantap-mantap an bagaimana?" tanya Varell.


" Varell kamu ini ya!" tegur Nadya kesal.


" Itu rahasia dapur," sahut Vandy.


" Sudah-sudah kita pesan makanan ya," sahut Toby. Yang lain mengangguk setuju. Toby memang jauh lebih ceria bahkan tidak seperti orang sakit sama sekali. Kehadiran teman-temannya memang membawa energi yang positif padanya.


*************


Arif yang memberhentikan mobilnya di depan mini market. Arif mematikan mesin mobilnya dengan menarik napasnya panjang dan membuang perlahan kedepan. Lalu Arif melihat kearah mini market tersebut dan tidak lama Selina keluar dari mini market dan langsung menghampiri mobil Arif. Arif tersenyum melihatnya.


" Maaf aku pulangnya lama," ucap Selina yang sudah duduk di samping Arif dengan wajah cerianya.


" Tidak apa-apa sayang. Aku juga baru sampai," sahut Dokter Arif.


" Hmmm, bagaimana apa maslaah Sasy sudah selesai?" tanya Selina.


" Iya, aku sudah menceritakan semuanya dan dia juga sudah bersama dengan Toby," jawab Arif.


" Hmmmm, syukurlah kalau begitu. Aku tidak kebayang bagaimana Toby yang terus berharap kamu untuk menggantikan Sasy. Hmmm aku bisa kehilangan kamu," sahut Selina.


" Itu tidak mungkin. Aku sudah punya komitmen terus bersamamu," sahut Arif menegaskan.


" Hmmm, aku tau itu," sahut Selina dengan bahagianya.


" Hmmm, ya sudah sekarang sebaiknya kita makan. Kamu bukannya belum makan?" tanya Arif. Selina mengangguk.


" Mau makan?" tanya Arif Selina mengangguk.


" Makan apa?" tanya Arif.


" Hmmmmmm, nasi goreng," sahut Selina.


" Ya sudah kita makan tempat biasa," sahut Arif. Selina mengangguk dengan senyum lebarnya.


Tidak tau kapan dan apa yang terjadi yang bisa-bisanya. Selina sudah pacaran saja dengan Dokter Arif.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2