
Cherry terlihat murung di dalam kamarnya yang penuh pemikiran. Verro suaminya yang memasuki kamar melihat kemurungan istrinya yang duduk di atas tempat tidur. Verro langsung duduk di samping Cherry.
" Ada apa sayang. Kamu masih memikirkan Sasy?" tanya Verro.
" Tidak sekarang malah memikirkan Toby," jawab Sasy.
" Ada apa sayang ada apa dengan Toby?" tanya Verro.
" Hmmmm. Toby pasti menyembunyikan sesuatu yang penting dari kita," ucap Sasy.
" Memang apa yang di sembunyikannya?" tanya Verro.
" Aku mana tau apa yang di sembunyikannya. Kalau aku tau aku tidak akan kepikiran," ucap Cherry.
" Lalu kenapa kamu tau. Kalau Toby menyembunyikan sesuatu?" tanya Verro.
" Karena banyak ke anehan," jawab Cherry.
" Memang apa aja ke anehannya?" tanya Verro.
" Pertama. Toby itu putus dari Sasy. Hanya karena Sasy meminta untuk hubungan mereka di perjelas yaitu kepernikahan. Tapi Toby menolak dengan alasan tidak siap. Itu sungguh tidak masuk akal. Padahal tadi aku dan Toby tidak sengaja bertemu dan kita melihat sendiri bahwa Pria yang kemarin di bawa Sasy jalan dengan cewe lain. Dan Toby terlihat marah dan seolah pasang badan untuk Sasy. Itu artinya Toby sangat mencintai Sasy dan pasti jika Sasy marah dan minta putus. Mana mungkin Toby diam aja. Dia pasti membujuk Sasy dan membuat Sasy mengerti dan tidak akan mungkin hanya diam tanpa bertindak saat mereka putus," ucap Cherry mengeluarkan apa yang di pikirkan pada suaminya.
" Lalu kesimpulannya?" tanya Verro.
" Ada sesuatu yang di sembunyikannya. Seolah-olah Toby memang ingin putus dari Sasy. Ingin melepas Sasy karena ada sesuatu," ucap Cherry.
" Ya tapi karena apa sayang. Toby hanya menceritakan alasannya itu kepada kita," sahut Verro. Cherry berdiri dan terlihat menuju kolong tempat tidur berjongkok yang seperti mengambil sesuatu yang membuat Verro heran.
" Sayang kamu mau ngapain?" tanya Toby yang menghampiri istrinya. Cherry sudah duduk di lantai dan terlihat membuka kotak yang di ambilnya dari kolong tempat tidur dan Verro hanya mengikut saja dan sudah duduk di depan Cherry.
" Ada apa sayang?" tanya Verro heran. Cherry terlihat membongkar isi kotak itu dan mengambil 1 botol obat yang membuat Verro heran.
" Untuk apa itu?" tanya Verro.
" Aku menemukannya di kantung tempat obat yang Toby vitamin," ucap Cherry. Verro mengambil botol obat itu.
" Ini bukannya obat jantung?" tanya Verro. Cherry mengangguk.
" Ini obat jantung kumat dan aku menemukannya ada pada Toby," ucap Cherry.
" Lalu?" tanya Verro.
" Mungkin kamu belum intens bicara dengan Toby dan memperhatikan gerak geriknya. Tetapi aku sudah dan bisa melihat ciri-ciri Toby yang tidak ada bedanya denganku dulu. Wajah pucat, sering gemetar, terlihat sesak jika bicara dan tubuh yang bergetar dan berkeringat dingin," ucap Cherry yang menduga-duga kondisi Toby.
" Maksud kamu Toby punya penyakit jantung?" tanya Verro menebak-nebak. Cherry mengangguk. Verro kaget mendengarnya yang merasa itu tidak mungkin.
" Sayang itu tidak mungkin. Toby itu seorang pilot dan pilot tidak bisa punya riwayat jantung," ucap Verro.
" Tapi aku feeling ku sudah mengatakan seperti itu. Dan aku yakin 100% kamu sih mana bisa tau walau hanya melihat dari gerak-gerik Toby. Fiona aja dulu dekat dengan kamu. Kamu aja tidak tau dia pura-pura atau tidak," sahut Cherry menyindir.
" Sayang kenapa jadi di ungkit kesana sih," sahut Verro.
" Ya habisnya kamu itu nggak bisa lihat dengan jelas. Karena Dokter senior tapi masa iya tidak bisa melihatnya. Masa lebih peka aku," sahut Cherry.
" Kan kamu istrinya Dokter makanya lebih tau," sahut Verro dengan becandaan.
" Ahhhhh, sudahlah sayang. Aku kali ini serius. Jangan becanda Muku," ucap Cherry rada-rada kesal.
" Iya, iya aku serius. Tapi kan apa yang kamu rasakan belum terbukti dan Toby juga tidak mungkin merahasiakannya dari kita," ucap Verro.
" Sayang. Justru karena itu. Dia pasti alih-alih tidak mau orang-orang lain tau. Lalu kepikiran dan lain sebagainya. Dan termasuk dengan Sasy. Aku juga yakin pasti karena masalah itu. Makanya Toby akhirnya juga menerima lempang-lempang aja putus dari Sasy. Pasti karena itu," ucap Cherry yakin.
" Ya sudah-sudah, kita coba ya besok temui Toby dan coba bertanya padanya. Bukannya tidak bisa bohong dengan kamu dah dia pasti jujur. Jadi kamu tenang saja," ucap Verro mengusap-usap pundak istrinya.
__ADS_1
" Benar besok mau temui Toby?" tanya Cherry memastikan suaminya.
" Iya sayang, kamu tenang aja besok kita temui Toby," sahut Verro meyakinkan istrinya itu.
" Ya sudah aku lega mendengarnya," sahut Cherry baru bisa tenang sedikit. Verro hanya tersenyum dengan mengusap-usap pucuk kepala istrinya.
" Oh iya sayang kamu bilang kamu dan Toby pergoki pacarnya Sasy selingkuh?" tanya Verro. Cherry mengangguk.
" Benar aku dan Toby melihat laki-laki itu dengan wanita lain dan yang lebih parahnya dia itu ngamuk-ngamuk dan malah nyalahin Toby dan pakai ancam-ancam segala. Pokoknya nyebelin banget. Bawaannya pengen nerkam Pria gila itu," ucap Cherry yabg terlihat begitu kesal dengan Pria yang ditemuinya tadi.
" Lalu kamu tidak bilang Sasy?" tanya Verro
" Mau ngasih tau gimana. Dia aja kayak kesetanan gitu. Udah gitu aku sama Toby lupa lagi ambil bukti. Jadi percuma Sasy juga tidak percaya begitu saja," sahut Cherry sudah yakin dan memang benar apa adanya Sasy sama sekali tidak pernah percaya dan bahkan sudah melabrak Toby dan menyalahkan Toby.
" Hmmmm, kamu benar sih. Mana mungkin Sasy percaya begitu saja. Ya sudahlah biarin aja. Biar Tuhan yang bukakan matanya. Kalau kita ngasih tau yang adanya dia semakin ribut. Lagian aku juga tadi kayaknya membuatnya tambah marah gitu," ucap Verro yang membuat Cherry heran dengan kata-kata Verro.
" Marah. Memang apa yang kamu lakukan?" tanya Cherry heran.
" Hmmm, tadi di rumah sakit. Aku itu kesal aja lihat sikapnya dan aku coba aja mengatakan suatu hal yang membuatnya bisa sadar. Aku tidak tau itu menyadarkannya atau justru membuatnya bertambah marah. Tapi aku lihat sih dia kayak menahan tangis gitu," ucap Toby.
" Ya kalau kata-kata kamu menyakitkan pasti dia tambah marah dia kan anaknya sensitif," sahut Cherry yang sudah bisa menebak.
" Ya sudahlah semuanya juga sudah terlanjur. Dari pada kita mikirin dia. Mending sekarang kita istirahat, tenangi pikiran agar besok kita bisa berpikir jernih lagi," ucap Verro.
" Hmmm, aku juga sudah ngantuk," sahut Cherry. Verro tersenyum dan membantu istrinya untuk memebereskan apa yang terbongkar tadi setelah sudah beres mereka pun sama-sama naik keatas tempat tidur dan istrirahat.
***********
Sementara Toby harus galau dengan dia yang akhirnya harus menerima nasibnya yang niat membantu Sasy malah dapat kata-kata pedas dan makian dari Sasy.
Toby yang bersandar di kepala ranjang melihat handphone. Membuka galeri di mana melihat foto-foto bersama dirinya dan Sasy. Bahkan foto-foto dari mereka sama-sama masih sekolah masih tetap ada di galerinya.
" Kamu kenapa berubah Sasy. Hubungan kita hanya berakhir. Tetapi kenapa harus kamu yang berubah. Sasy kamu wanita yang Ceria. Wanita yang baik. Dan kamu berubah menjadi orang lain. Hanya karena hubungan kita berakhir. Sasy jika kamu jika kamu seperti ini. Aku akan semakin sulit untuk meninggalkanmu. Karena aku takut kamu tidak ada teman di sisimu.
" Sasy aku mencintaimu, sangat mencintaimu. Namun aku tidak bisa berbuat apa-apa. Karena tidak mungkin kamu harus bersamaku. Mending kamu terluka sekarang dari pada nanti. Tetapi bukan ini yang aku harapkan Sasy. Aku hanya ingin pergi. Ketika melihatmu sudah bahagia. Bukan seperti ini di mana kamu menjadi orang lain,"
" Ya Allah, aku mohon berikan aku hidup lebih lama lagi. Agar aku bisa berusaha untuk melihatnya bahagia. Kembali seperti wanita yang dulu aku kenal. Aku mohon ya Allah tolong berikan aku hidup lebih lama lagi," batin Toby dengan doa dan harapannya di dalam tangisnya yang berdoa meminta umur panjang.
Toby mendoakan Sasy yang sekarang sedang bersama Bagas di rumahnya. Di mana mereka duduk di sofa dan Sasy sedang mengobati luka Bagas yang begitu parah di wajahnya.
Perasaan wajahnya tidak separah itu. Tetapi kenapa seperti di keroyok masak ya. Hmmmm pasti Bagas sudah menambah-nambahi ini ceritanya.
" Isss, Auhhh, pelan-pelan sayang," keluh Bagas yang keperihan saat Sasy mengobati pipinya yang memar.
" Maaf," lirih Sasy dengan meniup-niupnya luka itu dengan lembut, " pasti sakit ya," ucap Sasy dengan wajah ibanya.
" Hmmm, memang sangat sakit. Aku tidak tau apa salahku kepadanya kenapa dia begitu agresif sekali," sahut Bagas yang merasa tertindas.
" Dia itu benar-benar keterlaluan. Aku sudah tidak ada urusan dengannya. Tapi bisa-bisanya ikut campur urusanku dan malah main tangan kepada kamu. Benar-benar tidak tau diri!" geram Sasy yang masih kesal dengan Toby.
" Aku juga kaget sayang. Tiba-tiba saja dia datang dan menuduhku yang tidak-tidak. Main pukul sembarangan," ucap Bagas dengan emosinya.
" Dia juga mengatakan seperti itu di saat aku mendatanginya. Dia mengatakan jika kamu berselingkuh," sahut Sasy dengan kesal. Bagas terlihat gelisah mendengar kata-kata Sasy.
" Lalu kamu percaya kepadanya? tanya Bagas memastikan.
" Bagas aku mana mungkin percaya. Aku tau dia itu hanya ingin mengganggu hubungan kita. Aku sangat mengenalmu Bagas dan kamu tidak mungkin bermain di belakangku. Apa yang terjadi sama kamu sudah menjelaskan dia yang salah. Lihat wajahmu sampai babak belur seperti ini dan aku masih percaya. Itu tidak mungkin," ucap Sasy memegang pipi Bagas.
Bagas tersenyum dengan memegang pipi Sasy dan mengusap-usap nya lembut.
" Aku sangat beruntung memiliki kekasih seperti kamu. Kamu begitu baik. Sangat cantik. Dan pasti aku begitu bahagia karena memiliki pacar seperti kamu," ucap Bagas dengan kata-kata manisnya.
Sasy tersenyum mendengarnya kata-kata Bagas yang begitu lembut itu. Yang mungkin membuatnya melayang-layang sampai mau terbang ke langit ke-7.
__ADS_1
" Aku mencintaimu Sasy," ucap Bagas.
" Aku juga mencintaimu Bagas," sahut Sasy tersenyum.
Bagas mendekatkan wajahnya pada Sasy dengan mata Bagas yang menatap intens bibir Sasy. Bagas memiringkan kepalanya yang ingin meraih bibir itu dan terlihat Sasy memejamkan matanya yang seolah mengijinkan Bagas untuk menciumnya.
" Ehemmm!" tiba-tiba suara deheman membuat Sasy dan Bagas tersentak dan mengurungkan niat mereka dalam ciuman itu.
Mereka sama-sama melihat pada suara Pria yang berdehem itu yang tak lain adalah Dokter Arif.
" Dokter Arif," ucap Sasy salah tingkah dan menjauh dari Bagas dan berpura-pura merapikan dirinya untuk menutupi salah tingkahnya.
" Sial, siapa lagi itu," batin Bagas yang terlihat kesal. Lagi dan lagi dia gagal untuk melancarkan aksinya.
" Dokter Arif ada apa?" tanya Sasy yang terlihat gugup dan berdiri dengan canggung di depan Dokter Arif.
" Hmmm, ini hanya membawakan beberapa data-data yang kamu minta kemarin," jawab Arif memberikan apa yang di pegangnya pada Sasy.
" Oh. Makasih ya Dok," sahut Sasy.
" Hmmmm, kita bisa bicara sebentar," ucap Dokter Arif. Sasy melihat ke arah Bagas.
" Hmmm, boleh Dok," sahut Sasy.
" Ayo bicara di luar tidak baik laki-laki dan perempuan ada di dalam rumah tanpa pengawasan orang lain. Jadi mari bicara di luar," ucap Dokter Arif dengan sindiran pada Bagas. Bagas yang merasa tersindir menyunggingkan senyumnya.
" Aku sebaiknya pulang," sahut Bagas yang langsung berdiri yang sudah merasa males.
" Tapi luka kamu belum di obati semuanya," sahut Sasy kelihatan panik.
" Kamu duduk saja. Biar saya mengobatinya," sahut Arif dengan tenang bicara.
" Tidak perlu. Aku pulang saja," sahut Bagas menolak dengan penuh kekesalan.
" Silahkan!" sahut Arif tersenyum dengan santai bahkan mempersilahkan Bagas menuju pintu.
" Aku pulang Sasy," ucap Bagas pamit dengan kesal.
" Hati-hati Bagas," ucap Sasy yang merasa tidak enak dengan Bagas yang pergi dengan wajah kekesalan.
" Mari Sasy bicara di luar!" ajak Dokter Arif.
" Iya Dokter," sahut Sasy mengangguk.
************
Sasy dan Arif mengobrol-ngobrol penting di Luar yang pasti masalah rumah sakit. Karena tujuan Arif datang kesana ya pasti untuk hal itu. Mereka tidak lama mengobrol. Setelah selesai mengobrol Sasy mengantarkan Arif kemobil.
" Sekali lagi terima kasih ya Dokter sudah membantu saya dan juga repot-repot membawakan saya data-data itu," ucap Sasy.
" Sama-sama," sahut Arif tersenyum. " Sasy kamu itu tinggal sendirian dan kamu seorang wanita tidak baik membawa laki-laki yang baru kamu kenal ke rumah kamu. Ingat orang tua kamu jauh di sana pasti memikirkan kamu jadi jangan kecewakan kepercayaan mereka," ucap Arif yang tidak segan-segan memberi ingat pada Sasy.
" Iya Dokter," sahut Sasy dengan suara pelan.
" Ya sudah saya permisi dulu. Ini sudah malam. Kamu langsung istirahat dan ingat pesan saya. Kamu harus lebih dewasa. Jangan setiap hari terbawa emosi. Marah boleh. Tapi ada batasnya. Jangan gara-gara ego kamu kehilangan semuanya," ucap Arif mengingatkan.
" Iya Dokter," sahut Sasy menunduk malu.
Sepertinya hanya kata-kata Arif yang pedas yang tidak membuatnya sakit hati. Karena memang Sasy tidak ada masalah dengan Arif.
" Ya sudah saya pulang dulu," ucap Arif pamit
" Iya Dokter, sekali lagi terima kasih," sahut Sasy. Arif mengangguk dan pergi. Sasy membuang napasnya perlahan kedepan.
__ADS_1
" Ya ampun Sasy, kamu sih. Kan jadi malu di depan Dokter Arif," batin Sasy yang menyesalkan kejadian yang baru iya lalui.
Bersambung