DETAK Love Story' School

DETAK Love Story' School
Episode 7 Peringatan Hariyanto


__ADS_3

" Di kasih tau yang benar juga, langsung nyolot," sahut Vandy mengerucutkan bibirnya.


" Si Aldo kayaknya ada hati sama si Cherry," sahut Varell tiba-tiba. Membuat Verro langsung menengok kearah Varell dan menatapnya sinis ke arah Varell.


" Tau dari mana lo, bukannya Aldo couple sama Nadya," sahut Vandy.


" Itu kan hanya ceng-cengan anak-anak doang. Tapi kalian bisalah perhatikan baik-baik bagaimana Aldo dengan Cherry," ucap Varell yang belakangan suka memperhatikan Cherry.


" Ya nggak ada masalah dong. Kalau ada yang menyukai Cherry kan ada yang salah. Memang Cherry banyak yang suka. Apa lagi kalau Cherry juga menyukainya. Iya kan Verro," ucap Vandy mencoba menyindir Verro.


" Kenapa gue," sahut Verro kesal.


" Nggak apa-apa kan kalau Cherry suka cowok lain. Nggak ada yang keberatan. Kan elo nggak suka sama dia," ucap Vandy memanas-manasi Verro.


" Berisik lo," ucap Verro dengan kesal langsung berdiri dan ke luar dari ruangan itu.


Sepertinya telinganya panas mendengar Vandy berbicara.


Vandy mendengus melihat kepergian Verro dengan kemarahan.


" Dasar, bilangnya nggak suka. Cherry pembawa sial dalam hidupnya, giliran ada yang deketin. malah panas," gerutu Vandy tersenyum miring.


Memang Vandy sengaja menambah-nambah gosip. Sebagai sahabat Vandy atau Varell memang tidak tau bagaimana perasaan teman mereka terhadap Cherry.


Yang mereka tau Verro dan Cherry di jodohkan. Sama dengan anak-anak yang lain di sekolah itu. Hanya mengetahui sebatas itu.


************


Cherry, duduk di anak tangga di dekat lapangan sekolah, Dia masih sedih karena di marahi oleh Verro.


" Dia pikir dia siapa, selalu saja marah, tidak tau apa-apa malah mengomeliku, seharusnya dia cari tau dulu, baru menyalahkanku," cerocos Cherry. Yang bisa meluapkan kekesalannya hanya dengan berbicara sendiri.


Cherry melihat sapu tangan yang tadi di berikan Aldo kepadanya. Cherry tersenyum melihat sapu tangan itu.


" Aldo memang baik," pujinya lagi yang mengingat kebaikan Aldo.


" Tapi siapa ya, orang tadi, kenapa aku sepertinya pernah melihatnya? dan kenapa dia membawa kamera? Sudah seperti Toby saja," batin Cherry kebingungan dengan Pria yang tadi di lihatnya di lapangan. Seakan Pria yang menonton dirinya dan Verro bertengkar.


*********


Di sisi lain Sasy langsung mencari keberadaan Cherry. Karena tadi Sasy melihat Cherry di bawa pergi oleh Verro.


" Cherry di mana ya?" ucapnya bingung sambil terus mencari-cari. Sibuk mencari-cari sampai tidak melihat jalan Sasy menabrak Verro.


" Auhh," ucap Sasy ketika wajahnya menabrak dada Verro. Maklum Sasy sangat pendek


Verro merapatkan giginya geram dengan Sasy yang mengganggu jalannya.


" Apa kau tidak bisa jalan dengan baik," ucap Verro dengan nada suara tinggi.


" Sorry, galak amat," sahut Sasy santai. Kepalanya malah terus melihat-lihat di sekelingnya tetap mencari Cherry.


Namun Verro yang sudah kesal. Ditambah emosi lagi. Karena Sasy masih menutup jalannya.


" Sampai kapan kau akan berdiri di situ?" tanya Verro.


" Iya-iya," sahut Sasy minggir.


Verro melanjutkan langkahnya.


" He Verro," panggil Sasy. Membuat Verro berhenti dan menoleh kan kepalanya kebelakang.

__ADS_1


" Mana Cherry?" tanya Sasy.


" Memang dia anakku, harus aku tau kemana dia pergi," sahut Verro.


" Kau kan tunangannya dan tadi dia bersamamu. Pasti kau memarahinya kan," tebak Sasy.


" Terus apa yang kau lakukan. Seharusnya kalau ingin jambak-jambakan. Tauran sendiri sama mereka jangan mengajaknya," ucap Verro sinis menyalahkan Sasy.


" Ishhhhhss," desis Sasy, " aku tidak mengajaknya," sahut Sasy langsung mengelak.


" Terserah, awas ya kalau sekali lagi Cherry ikut bersamamu, dan bermasalah karena ulahmu. Kau yang habis denganku," ucap Verro penuh penekanan dan dengan ancaman lumayan menakutkan.


Setelah membuat peringatan kepada Sasy Verro langsung pergi.


" Ishhhh, dasar monster, pemarah," umpat Sasy kesal.


" Dia ada di lapangan sekolah," teriak Verro tanpa menolehkan badannya.


" Dari tadi kek. Pake ngancam-ngancam segala baru di kasih tau. Dasar aneh," desis melanjutkan langkahnya langsung mencari ke beradaan Cherry.


Sasy langsung menghampiri Cherry yang di katakan Verro berada di lapangan sekolah. Dan yang benar saja.


Sasy melihat sahabatnya yang duduk termenung. Sasy langsung mendekati Cherry dan duduk di sampingnya.


" Cherry," tegur Sasy


" Sasy,"


Sasy langsung mengusap pundak Cherry. Dia melihat mata temannya masih memerah akibat menangis.


" Pasti lo di marahin ya sama Verro," tebak Sasy merasa bersalah.


" Tidak kok, tidak apa-apa," jawab Cherry.


" Lo sendiri bagaimana?" tanya Cherry.


" Lihatlah rambutku malah rusak gara-gara si Mitha. Liat aja aku akan balas dia," ucap Sasy masih menyimpan dendam.


" Jangan di balas, nanti rambut kamu tambah rusak," ucap Cherry.


" Benar sih, ya sudah nanti pulang sekolah, temani aku kesalon ya, aku harus memperbaiki rambutku," ucap Sasy terus memegang rambutnya.


" Sip," sahut Cherry mengacungkan jempolnya.


" Oh iya Sasy, kamu pernah liat tidak ada orang yang aneh gitu di sekolah kita?" tanya Cherry membuat Sasy bingung.


" Bukannya memang di sekolah kita rada aneh semuanya," jawab Sasy dengan santainya.


Memang di sekolah itu kebanyakan murid-murid anak.


" Ini berbeda. Orang itu lebih dewasa dan bukan murid-murid," jelas Cherry.


" Berarti guru dong," sahut Sasy.


" Bukan tau," ucap Cherry kesal.


" Ahhhh, sudahlah jangan memikirkan hal lain, sekarang ayo kita kekelas," ucap Sasy menarik tangan Cherry.


" Iya-iya," sahut Cherry dengan malasnya.


Mereka kembali kekelas dengan tangan yang mengayun sambil menggenggam.

__ADS_1


**********


Sasy dan Cherry kembali memasuki kelas. Seperti biasa kelas selalu ricuh sebelum guru datang Verro melihat kedatangan Cherry hanya melihatnya dengan dingin dan kembali fokus pada hanphonenya.


Cherry juga melihat Verro sebentar dan kembali duduk di bangkunya.


" Cherry lihat bagus tidak," ucap Toby memberikan 1 lembar foto falaroid pada Cherry apa lagi kalau bukan foto Sasy yang dengan wajah basahnya habis di siram oleh Mitha.


" Ihhhh, dasar," ucap Sasy ingin menarik foto falaroid itu tetapi tangan Toby langsung menghindar.


Sementara Cherry melihatnya tertawa. Apa lagi ketika Sasy dan Toby kembali adegan lari-larian saling mengejar. Cherry tertawa sangat luas.


Aldo menoleh kebelakang melihat Cherry. Aldo tersenyum ketika melihat Cherry kembali tertawa. Ternyata curi-curi pandang Aldo di perhatikan oleh Verro.


Verro mengingat kata-kata Varell beberapa saat yang lalu mengenai ketertarikan Aldo kepada Cherry. Verro hanya menatap sinis kepada Aldo.


**********


Verro memberhentikan mobilnya di depan rumahnya. Sore hari Verro baru pulang karena memang Verro lebih suka berada di sekolah.


Dengan kegiatan ekskull yang banyak. Verro memang sengaja mengikuti banyak ekskul. Menghabiskan waktunya di sekolah. Dari pada di rumah yang banyak peraturan dan bentar-bentar papanya akan marah.


Setalah mematikan mesin mobilnya. Verro membuka pintu rumahnya, melewati ruang tamu ingin menuju kamarnya.


" Apa yang kamu lakukan," ucap Hariyanto papa Verro yang ternyata sedari tadi sudah duduk di ruang tamu. Langkah Verro terhenti ketika mendengar suara itu yang di tekan itu.


" Maksud papa apa?" tanya Verro. Hariyanto langsung berdiri dan menghadap Verro.


Plakkk.


Tidak menjawab. Verro mendapatkan jawaban dengan tamparan yang sangat keras. Sampai wajah tampan itu miring kesamping. Verro menggerak-gerakkan lidahnya pada area pipi yang panas.


" Apa kamu tidak bisa. Jika lembut sedikit kepadanya," bentak Hariyanto.


" Jadi dia langsung mengadu," desis Verro dengan menyunggingkan senyumnya. Seakan Verro sudah tau apa yang di maksud papanya.


" Astaga mas," teriak Farah menutup mulutnya dengan ke-2 tangannya ketika melihat kegaduhan. Farah langsung berlari menghampiri suaminya.


" Mas cukup, turunkan emosi kamu. Verro baru pulang sekolah jangan langsung marah-marah," ucap Farah terlihat panik.


" Bagaimana aku tidak marah dengan kelakukan dia," teriak Harianto menunjuk-nunjuk wajah Verro.


" Mas tenanglah," ucap Farah menenangkan. Sementara Verro hanya mendengus sambil tersenyum.


" Cihhh,,, penuh sandiwara," desis Verro kesal melangkahkan kakinya menaiki anak tangga.


" Verro," panggil Hariyanto. Verro menghentikan kembali langkahnya di anak tangga pertama.


" Temui dia dan buat dia kembali bahagia!" perintah Hariyanto dengan penuh penegasan.


Verro tidak merespon dan kembali melanjutkan langkahnya menuju kamarnya.


" Dasar tidak berguna," umpat Harianto kesal.


" Sudahlah mas," ucap Farah mengelus pundak suaminya.


💝💝💝Bersambung


Hay para readers yang baru bergabung. Bantu support ya novel aku yang baru.


Tinggalkan jejak. Komentar, like, dan jangan lupa vote sebanyak-banyaknya. Agar aku semakin semangat melanjutkan ceritanya

__ADS_1


__ADS_2