
Verro mengajak Cherry Keruangannya mendudukkan Cherry di sofa yang ada di ruangan itu. Verro mengambil tisu basah yang ada di mejanya dan duduk di samping istrinya meraih tangan istrinya dan melap nya, Cherry hanya melihat Verro yang benar-benar cemas kepadanya.
" Apa Fiona masih menyukai kamu?" tanya Cherry tiba-tiba. Membuat Verro melihatnya sebentar.
" Aku tidak tau," jawab Verro kembali melanjutkan pekerjaannya.
" Tapi aku melihat, dia masih menyukaimu," ucap Cherry yang bisa melihat dari mata Fiona. Bahwa wanita itu masih menyukai suaminya.
Verro menarik napasnya panjang dan membuangnya perlahan kedepan lalu melihat Cherry, menatap istrinya dengan dalam dan pipinya mengusap lembut pipi Cherry.
" Lalu bagaimana dengan aku. Apa kamu melihat di mataku. Jika aku mempunyai perasaan kepadanya?" tanya Verro. Cherry menggeleng pelan. Verro tersenyum mendengarnya.
" Jika seperti itu. Maka aku dan dia tidak ada hubungan apa-apa. Mau dia menyukaiku dan menggilaiku. Tetapi aku tidak pernah menyukainya sedikitpun," ucap Verro dengan wajahnya yang tulus berbicara pada istrinya.
" Kamu mempercayaiku kan?" tanya Verro. Cherry tersenyum menganggukkan matanya.
" Jelas, aku percaya padamu. Lagian selama 7 tahun kamu hanya mencintaiku dan tidak pernah mencoba membuka hati pada wanita lain. Jadi jelas aku percaya padamu," sahut Cherry tersenyum lebar.
" Jadi, kalau misalnya Fiona menyukaimu atau tidak. Itu bukan salah kamu. Karena kamu tidak menyukainya dan mungkin itu salah wajah kamu. Kamu terlalu tampan, jadi jelas siapapun akan menyukaimu," ucap Cherry dengan tersenyum manis. Verro mendengarnya mendengus tersenyum dan langsung mencium kening Cherry.
" Jika aku tidak tampan, kamu tidak mungkin jatuh cinta 2 kali kepadaku," ucap Verro, membuat Cherry menaikkan 1 alisnya.
" Hmm, kamu kalau di puji langsung melayang-layang," sahut Cherry kesal. Verro tertawa kecil mendengarnya.
" Hmmm, oh, iya, bagaimana dengan makan siangnya. Makanannya sudah tumpah semua," ucap Cherry yang sedih dengan makanan yang sudah bersusah payah di ambilnya.
" Kita akan makan di luar," sahut Verro.
" Tapi kan aku capek buat makan siangnya dan kita malah makan di luar," ucap Cherry yang tampak kecewa.
__ADS_1
" Sayang, makanannya sudah tumpah, dan ini sudah waktunya makan siang, kamu aku dan juga anak kita harus makan tepat waktu. Agar kesehatan kita baik, jadi jangan menunda-nunda makan," ucap Verro memberi penjelasan pada istrinya.
" Tapi..." Cherry masih menyayangkan makanan yang tumpah itu.
" Pulang dari rumah sakit. Aku ingin makan malam dengan makanan yang kamu buat. Jadi tetap kamu haru memasakkanku," ucap Verro yang mencari cara agar istrinya tidak sedih.
" Benar," sahut Cherry tampak mulai semangat. Verro mengangguk membenarkan.
" Kalau begitu, ayo kita makan di luar," sahut Cherry yang menjadi semangat. Verro tersenyum melihat mood Cherry sangat mudah kembali.
" Baiklah, kamu mau makan apa?" tanya Verro.
" Hmmmm, aku ingin makan soto, gado-gado, ketoprak, sate, mie Aceh dan banyaklah," jawab Cherry menghitung dengan jarinya yang seakan ingin memakan semuanya.
" Memang akan habis?" tanya Verro dengan menaikkan 1 alisnya.
" Baiklah sayang, ayo kita makan," ucap Verro. Cherry mengangguk dengan semangat dan langsung berdiri dengan tangan yang saling bergandengan dengan suaminya keluar dari ruangan itu dengan genggaman yang erat.
Ternyata Fiona masih ada di rumah sakit. Fiona berada di parkiran di dalam mobilnya dan mata Fiona melihat ke arah lobi rumah sakit di mana Cherry dan Verro saling bergenggaman tangan berjalan saling melihat dengan wajah ke-2 pasangan itu yang tampak sangat bahagia dengan kecerian senyum berseri-seri di wajah itu.
Fiona terus melihat pasangan yang romantis itu yang memasuki mobil di mana Verro membukakan pintu mob untuk Cherry sangat manis kepada Cherry.
" Jadi Verro benar-benar bersama kembali dengan Cherry. 7 tahun aku menunggu semuanya berakhir sia-sia," batin Fiona dengan penuh kekecewaan melihat hasil yang iya telah jalani.
" Verro kenapa kamu tidak bisa membuka hatimu sedikit saja untukku," batin Fiona yang kecewa dengan perasaan yang sudah di abaikan.
Mata Fiona terus melihat sampai mobil itu berjalan dan ternyata Fiona mengikutiku arah mobil itu sampai berhenti di depan Restauran dan Verro lagi-lagi bersifat romantis pada Cherry dengan membukakan pintu mobil dan lagi-lagi Verro menggengam tangan istrinya itu memasuki Restaurant.
Fiona sangat betah melihat ke romantisan itu. Tetap berada di dalam mobilnya dan melihat Verro dan Cherry yang memilih tempat duduk di samping dingding kaca yang bisa terlihat dari luar.
__ADS_1
Fiona pasti sangat panas di dalam mobilnya saat menyaksikan pasangan romantis itu.
" Bagiamana apa makanan yang kamu minta sudah ada di sini semua?" tanya Verro ketika pelayan Restaurant sudah menghidangkan makanan yang di minta Cherry.
Wajah Cherry tersenyum lebar dengan matanya berbinar melihat makanan yang enak-enak itu sampai beberapa kali dia menelan ludahnya yang sudah tidak sabaran untuk memakan makanan itu.
" Sayang, kenapa dia, kok nggak di jawab?" tanya Verro.
" Aku sampai tidak bisa berkata-kata. Saat aku melihat banyaknya makanan ini," ucap Cherry dengan kegembiraannya. Verro tersenyum mendengarnya dan mengusap pucuk kepala Cherry.
" Kalau begitu kamu harus menghabiskan semuanya," sahut Verro.
" Kamu juga harus bantuin aku dong," sahut Cherry yang sudah bisa menebak jika dia tidak akan bisa menghabiskan makanan itu sendirian.
" Pasti!" sahut Verro, " Aku dan anak kita akan membantu mama yang cantik ini untuk menghabiskannya," ucap Verro mengusap-usap perut ramping Cherry. Cherry hanya tertawa kecil mendengarnya. Lalu langsung menyendokkan salah satu makanan dan menyodorkan kemulut suaminya.
" Kalau begitu, papanya harus mencoba pertama," ucap Cherry dan Verro langsung membuka mulutnya dan menerima suapan itu dan malah bergantian menyuapi Cherry.
Pasangan itu terlihat sangat romantis saling suap-suapan bahkan sesekali Verro mencium kening Cherry yang benar-benar tidak peduli harus romantis-romantisan di tempat umum. Toh mereka suami istri jadi tidak ada yang salah.
Dan keromantisan itu harus di saksikan Fiona yang masih betah di dalam mobilnya dengan matanya yang mulai berkaca-kaca yang mungkin hatinya sakit melihat kebahagian orang lain yang sebenarnya dia tidak pantas sakit hati.
Yang seharusnya Viona sadar jika Verro memang tidak pernah menyukai apa lagi mencintainya. Jadi seharusnya sadar dan tau diri. Berhenti untuk mengharapkan Verro karena sampai kapanpun Verro tidak mungkin membuka hatinya untuk siapa-siapa termasuk dirinya.
Karena cintanya pasti hanya untuk Cherry. Cinta pertamanya. Wanita yang juga pertama kali ada di dalam hidupnya.
" Aku tidak tau apa yang ada di diri Cherry, sampai kamu tidak bisa berpaling darinya," batin Fiona dengan air matanya yang menetes.
Bersambung
__ADS_1