
Sasy menjalani hari-harinya tanpa teman-temannya di mana dia melakukan apa-apa sendiri. Tidak ada yang tau apa yang terjadi dengan Sasy. Hanya Cherry yang berusaha untuk mencari tau sementara yang lain memang merasa Sasy tidak terjadi apa-apa.
Dan Sasy memang menjauhkan diri dari semua orang dia benar-benar. Kalau makan sendirian, di tegur hanya cuek dan bicara seperlunya tidak pernah nongkrong seperti biasanya dia benar-benar menghindari teman-temannya. Hal itu di lakukannya untuk menjaga hatinya agar tidak terluka lagi. Karena Sasy tidak mau sakit hati lagi.
Sasy sekarang sedang berada di ruang UGD di mana dia sedang memeriksa Fiona yang sekarat. Fiona yang mengalami banyak komplikasi memang harapan hidupnya nya tipis. Sasy hanya memeriksa infus Fiona saja. Sementara Fiona tertidur dengan alat pernapasan di mulutnya.
Matanya terbuka perlahan dan kepalanya menoleh sedikit ke kanan melihat Sasy yang sedang mengganti infusnya. Fiona melihat Sasy. Sasy menyadari jika Fiona melihatnya. Namu Sasy biasa saja. Dia hanya melihat dari ekor matanya.
" Kenapa dia melihati ku, apa dia pikir aku memasukkan sesuatu kedalam infusnya, Hmm memang sudah keadaannya seperti itu masih bisa berpikir seperti itu," batin Sasy yang merasa risih dengan Fiona yang melihatnya terus menerus.
" Ada apa?" tanya Sasy yang melihat ke arah Fiona. Sasy tetap ketus melihat Fiona. Dia sebenarnya tidak terlalu memperdulikan Fiona. Fiona membuka alat pernapasan di mulutnya yang sepertinya Fiona memang ingin bicara dengan Sasy.
" Kamu masih mau menolongku," ucap Fiona dengan suaranya yang begitu lemah.
" Siapa yang menolongmu. Aku tidak menolongmu. Aku hanya Dokter dan memang tugasku untuk melakukan semua ini. Jadi jangan berpikiran. Jika aku menolongmu. Aku tidak pernah menolongmu sama sekali," ucap Sasy dengan ketus bicara.
" Maafkan aku," sahut Fiona dengan suaranya yang pelan. Wajah Fiona sudah memperlihatkan dia yang kesakitan yang juga pasti sangat menyesal dengan apa yang di lakukannya.
" Minta maaf, minta maaf soal apa?" tanya Sasy.
" Atas semua yang aku lakukan," jawab Fiona. Sasy tersenyum miring mendengarnya.
" Fiona berhenti meminta maaf. Jika kamu sendiri tidak ikhlas meminta maaf. Kamu sudah melakukan banyak kesalahan. Kamu juga kemarin meminta maaf. Tetapi ada sesuatu di balik maafmu itu. Dan bagaimana mungkin aku harus percaya kepadamu saat ini," sahut Sasy.
" Aku tau kesalahan ku dan kamu juga tau kondisiku. Dengan kondisiku yang seperti ini. Sudah menjelaskan bahwa maaf ku memang sungguh-sungguh," ucap Fiona meneteskan air matanya.
" Jadi kamu baru meminta maaf dengan sungguh-sungguh setelah kondisimu seperti ini begitu. Sangat keterlaluan," ucap Sasy sinis.
" Aku memang tidak pantas di maafkan. Aku tau kesalahanku sangat besar. Maaf tidak cukup. Aku membuat banyak kesalahan kepadamu dan terutama pada Cherry dan juga Verro. Sekarang aku baru mendapatkan karma atas apa yang terjadi. Aku sudah mempermainkan penyakit dan ini adalah pelajaran untukku. Aku mendapatkan semua ini," ucap Fiona yang mengakui kesalahannya dengan linangan air matanya.
" Sudahlah Fiona, kamu tidak perlu menagis. Dari pada kamu menangis tidak ada gunanya. Mending kamu perbanyak amal kamu, berdoa dengan sungguh-sungguh. Agar rasa sakit kamu hilang. Jangan seperti ini, sangat tidak ada gunanya. Kamu masih punya sisa waktu hidup. Jadi gunakan dengan sebaiknya dan pasti bermanfaat untuk orang-orang di sekitarmu," ucap Sasy memberi saran untuk Fiona. Fiona menganggukkan matanya dengan air matanya yang kembali menetes.
" Istirahatlah, aku masih banyak pekerjaan," ucap Sasy yang memilih untuk pergi.
Sasy keluar dari ruangan Fiona dan menutup pintu kamar itu. Sasy membuang napasnya dengan perlahan kedepan.
" Huhhhhh, sudah seperti ini baru mau meminta maaf sungguh aneh. Ya memang tidak akan aneh. Manusia memang akan seperti itu. Minta maaf saat dirinya benar-benar sudah tidak berguna. Sebelumnya tidak mau berpikir. Ya mau gimana lagi. Mungkin memang sudah seperti itu," batin Sasy yang menggedikkan ke-2 bahunya dan langsung pergi.
Bukannya dia tidak memaafkan Fiona. Memaafkan pasti. Tetapi Sasy juga tidak ingin terlalu banyak mendengar yang apa-apa dari Fiona. Dia tau Fiona memang sungguhan sakit. Tetapi hari orang tetap tidak ada yang tau.
__ADS_1
**********
Cherry makan siang bersama Verro di ruangan Verro. Cherry memang khusus datang kerumah sakit untuk mengantarkan suaminya makan malam. Di mana tadi Cherry sudah memasakkan Verro masakan kesukaan Verro dan sekarang Verro sedang menikmatinya.
" Kamu tidak makan?" tanya Verro yang melihat istrinya tidak makan sama sekali.
" Aku tadi sudah makan di rumah. Aku kemari hanya membawakan suamiku makan," ucap Cherry.
" Kalau begitu terima kasih istriku yang sudah membawakanku makan siang. Ini sangat enak," ucap Verro sembari mengunyah makanannya.
" Hmmm, sama-sama sayang," sahut Cherry dengan tersenyum lebar. Verro pun kembali menikmati makanannya, " Hmmmm. Oh iya kamu pernah di kabari sama Toby?" tanya Cherry tiba-tiba.
" Toby," sahut Toby melihat kearah Cherry. Cherry mengangguk.
" Belum ada. Lagian ngapain dia mengabari. Kalau misalnya ada apa-apa bukannya dia biasanya ngomong di grub dan lagian kalau pun apa pasti Sasy yang akan memberitahu. Kalau ada sesuatu," ucap Verro.
" Justru itu. Aku sangat heran belakangan ini. Saay ataupun Toby sama-sama tidak aktif gitu. Biasanya mereka paling aktif di grup dan terlebih lagi. Aku tidak pernah melihat Toby belakangan ini dan Sasy sangat aneh belakangan ini," ucap Cherry yang mengatakan rasa yang mengganjal di pikirannya.
" Masa sih sayang," sahut Verro.
" Aku hanya berpikiran saja. Aku tidak tau benar atau tidaknya," ucap Cherry.
" Masuk!" perintah Verro. Yang ternyata Azizi membukanya yang di susul oleh Vandy yang berdiri di belakanganya.
" Azizi, Vandy," gumam Cherry.
" Sorry yang mengganggu," sahut Azizi.
" Nggak apa-apa kali, masuk aja," sahut Cherry. " tumben banget Azizi kamu kemari?" tanya Cherry. Azizi dan Vandy bergabung duduk di sofa.
" Ini. Aku hanya mau memberikan undangan untuk ulang tahun Iqbal," ucap Aziz sembari memberikan undangan itu pada Cherry dan Cherry langsung meraihnya.
" Iqbal ulang tahun?" tanya Verro.
" Iya benar, Iqbal ulang tahun. Jadi kita pengen buat acara untuk Iqbal," ucap Azizi.
" Hmmm, ya ampun makasih ya undangannya, kita pasti datang," ucap Cherry.
" Sama-sama. Kami tunggu kedatangannya. Hmmm aku mau menemui Raquel dan Sasy sebentar ya. Aku juga belum memberikan untuk mereka," ucap Azizi yang teringat pada 2 orang itu.
__ADS_1
" Hmmm, ya sudah," sahut Cherry.
" Hmmm, Vandy kamu tunggu di sini aja ya," ucap Cherry.
" Hmmm, oke," sahut Vandy. Azizi pun langsung keluar dari ruangan Verro untuk memberikan undangan lada Raquel dan Sasy.
" Vandy kamu tidak mau makan sekalian?" tanya Cherry. Vandy terlihat berpikir-pikir sambil melihat apa yang di makan Verro.
" Sudah jangan malu-malu. Makan aja," sahut Verro.
" Siapa yang malu-malu. Memang aku mau makan," sahut Vandy yang akhirnya makan. Cherry hanya tersenyum geleng-geleng.
************
Azizi keluar dari ruangan Verro dan langsung melihat Sasy.
" Sasy!" panggil Azizi. Sasy pun menghentikan langkahnya. Azizi langsung menghampiri Sasy.
" Azizi, tumben kamu kerumah sakit," ucap Sasy.
" Iya, aku mau ketemu kalian. Makanya sekalian ke rumah sakit," jawab Azizi.
" Memang ada apa?" tanya Sasy. Azizi membuka tasnya dan mengambil undangan dari dalam tasnya.
" Ini," ucap Azizi yang langsung memberikan pada Sasy.
" Undangan apa ini?" tanya Sasy meraihnya.
" Iqbal ulang tahun. Jadi kamu datang ya. Dia pasti senang kalau kamu datang," ucap Azizi.
" Ohhh, begitu. Ya aku akan datang kalau tidak ada halangan," sahut Sasy yang kelihatan biasa saja.
" Iya, kami tunggu ya kedatangan kamu," ucap Azizi. Sasy hanya mengangguk saja.
" Hmmm. Hanya itu saja kan, kalau tidak ada lagi aku pergi ya. Soalnya aku banyak pekerjaan," ucap Sasy yang terlihat jutek. Dan bahkan tanpa basa-basi. Sasy langsung pergi begitu saja. Azizi jelas heran dengan Sasy yang tidak seperti biasanya.
" Ada apa dengannya. Kenapa Sasy pergi begitu saja. Padahal aku masih mau cerita dengannya. Tetapi dia sudah main pergi aja," batin Azizi dengan wajahnya yang bertanya-tanya. Penuh kebingungan.
Bersambung
__ADS_1