DETAK Love Story' School

DETAK Love Story' School
Episode 301 Melepas rindu.


__ADS_3

Cherry pun berkunjung ke Yayasan. Untuk mengisi ketenangan hatinya dan juga mengisi kekosongan nya. Sudah 2 hari dia tidak bertemu Verro. Jika di tanya sangat merindukannya pasti. Pasti Cherry sangat merindukan suaminya.


Mereka diam-diaman, tidak saling mengabari. Tidak saling bicara. Tetapi Verro berusaha untuk untuk mengabari Cherry. Tetapi Cherry tidak merespon. Walau sebenarnya dia juga ingin merespon. Karena menahan rindu pada suaminya.


Cherry yang duduk di salah satu bangku meneteskan air matanya. Yang sebenarnya merindukan Verro. Tetapi tidak bisa berbuat apa-apa.


" Cherry!" terdengar suara Fiona yang tiba-tiba dan Cherry langsung mengusap air matanya dengan buru-buru.


Cherry melihat Fiona. Wanita yang berdiri di sampingnya itu, sangat pucat. Dia ingin marah dan meneriaki Fiona yang tidak bisa di pungkiri Cherry kalau Fiona yang membuat kerikil di dalam rumah tangganya.


Namun Cherry adalah seorang manusia yang tumbuh dengan kasih sayang dengan hati yang besar. Sehingga tidak sanggup untuk marah dan sebagainya. Karena melihat ke adaan wanita itu.


" Cherry!" tegur Fiona lagi yang melihat Cherry masih saja bengong.


" Hah! i-iya kenapa?" tanya Cherry.


" Aku boleh duduk?" tanya Fiona. Cherry mengangguk dan Fiona pun akhirnya duduk di samping Cherry.


" Bagaimana keadaan kamu?" tanya Cherry.


" Belakangan ini. Aku selalu merasa tidak enak. Aku juga muntah-muntah dan kata Verro kondisi ku menurun. Ya tapi untung saja. Verro selalu ada di sisiku yang mengawasiku. Sehingga aku tidak apa-apa," jawab Fiona dengan santainya dan Cherry pasti cemburu mendengar kata-kata itu.


" Apa lagi kemarin, dia menemaniku sampai malam di sini. Jadi aku sangat bahagia," ucap Fiona tersenyum melihat kearah Cherry. Seakan tidak merasa bersalah mengatakannya.


" Fiona apa kamu sangat bertergantungan pada Verro?" tanya Cherry. Fiona mengangguk.


" Iya. Aku sekarang jadi tergantung dengannya. Dia seolah-olah menjadi nyawaku," jawab Fiona. Cherry meremas meremas dressnya kuat dengan tubuhnya yang bergetar.

__ADS_1


" Apa kamu masih menyukai Verro?" tanya Cherry memberanikan diri untuk menanyakan hal itu.


" Cherry, aku menyukai Verro dari masa sekolah. Dan mana mungkin aku melupakan perasaan itu. Justru perasaan ku semakin besar kepadanya. Aku tidak hanya menyukainya. Tetapi juga mencintainya," jawab Fiona yang membuat hati Cherry seakan di bom. Matanya berkaca-kaca mendengar wanita lain yang berkata di depannya mencintai suaminya.


" Dan aku sangat bersyukur, dia ada di sisiku. Saat-saat akhir hidupku. Karena memang itu salah satu keinginan ku, untuk memilikinya?" lanjut Fiona lagi.


" Fiona!" lirih Cherry dengan suaranya menekan, " Kamu taukan Verro sudah menikah," ucap Cherry menahan sesak di dalam sana. Fiona memegang tangan Cherry yang dinginnya minta ampun.


" Aku tau Cherry, dia sudah menikah dan kamu istrinya. Tetapi aku sangat membutuhkannya di akhir hidupku. Aku bahagia. Saat dia ada di sisiku. Cherry kamu wanita yang baik dan aku tau kamu tau apa yang aku rasakan. Karena kamu juga pernah sakit," ucap Fiona yang berbicara begitu lantang.


" Cherry, jika ada Verro di sisi ku. Maka aku akan sangat bahagia. Di akhir hidupku. Aku mohon kamu tolong memakluminya," ucap Azizi dan Cherry langsung meneteskan air mata dengan perasaannya yang sakit dengan kata-kata Fiona dan langsung melepas tangannya dari Fiona dan langsung berdiri. Dengan menyeka air matanya.


" Cherry, aku mencintai Verro, aku ingin menghabiskan waktu dengannya sebelum aku mati," ucap Fiona lagi dan Cherry yang semakin tidak tenang dengan perasaannya semakin sakit. Akhirnya memilih untuk pergi.


Kepergian Cherry membuat Fiona. Tersenyum puas.


" Walau tempat ini sangat membosankan, yang ada aku ketularan penyakit-penyakit orang di sini," desisnya dengan kesal melihat di sekelilingnya yang banyak orang sakit.


" Tapi tidak apa-apa. Memang hanya cara ini untuk menarik simpatik dari Verro. Aku akan terus bersamanya dengan kata sakit kanker darah, Aisssa menjijikkan. Amit-amit punya penyakit itu," ucapnya menggedikkan bahunya yang merasa jijik. Dan Fiona pun langsung pergi.


*******


Sementara Cherry hanya bisa menagis melangkah masuk kerumahnya. Air matanya menetes dengan rasa sakit yang di bawanya.


" Tidak Cherry, kamu tidak bisa menangis. Verro adalah suamiu. Mau ada wanita yang menyukainya itu jelas tidak hubungannya. Banyak orang yang menyukai Verro. Tapi apapun itu dia adalah suamimu. Kamu adalah istrinya,"


" Cherry, apapun keadaannya. Dan siapapun Fiona kamu tidak mungkin membiarkan Verro bersamanya. Walau dia sakit sekalipun. Karena Verro hanya mencintaiku dan aku tidak akan mempertaruhkan rumah tanggaku untuk semua ini," ucap Cherry dengan yakin lalu melangkah cepat memasuki rumahnya dengan menyeka air matanya.

__ADS_1


Saat berada di ruang tamu. Cherry melihat Verro yang terbaring di sofa yang sedang tertidur dengan 1 tangan Verro berada di bawah kepalanya di jadikannya bantal.


Cherry meneteskan air matanya. Saat melihat orang yang di rindukannya itu. Perlahan langkah Cherry mendekati suaminya di berdiri di samping suaminya.


" Aku sakit Verro, aku sangat kecewa sama kamu," ucap Cherry yang jika mengingat hal itu masih terasa luka.


Air mata Cherry jatuh pada kelopak mata Verro dan membuat Verro mengerjapkan matanya dan membuka perlahan melihat istrinya berdiri di sampingnya yang dengan tangisannya.


Namun Cherry yang masih marah memilih pergi. Namun Verro langsung menarik tangannya dan Cherry juga tertarik dan akhirnya jatuh ke atas tubuhnya.


Verro memeluknya erat untuk melepas rasa rindunya pada istrinya itu. Air mata Verro juga menetes karena rindu yang akhirnya kesampaian.


Cherry tidak memberontak di peluk bahkan tangisnya pecah saat juga bisa melepas kerindunya pada suaminya. Orang yang di cintainya yang tadi juga ada wanita yang mengatakan mencintai suaminya dan dua tidak ingin kehilangan Verro.


" Maafkan aku Cherry," ucap Verro yang terus memeluk Cherry. Cherry mengangkat kepalanya dan melihat suaminya.


" Kamu jahat, kamu tidak peduli lagi kepadaku. Kamu lebih pada orang lain," ucap Cherry yang masih marah.


" Tidak, aku tidak peduli orang lain. Bagiku. Hanya kamu yang aku pedulikan. Aku sangat mencintaimu Cherry. Aku minta maaf Cherry," ucap Verro. Cherry masih terdiam. Dengan air matanya yang terus bercucuran.


Verro mengecup keningnya dengan lembut. Lalu mengusap air mata di pipi istrinya itu.


" Kamu memaafkan ku kan!" ucap Verro. Cherry mengangguk yang memang harus memaafkan suaminya. Untuk memperbaiki rumah tangganya yang sedang di uji dengan wanita yang mencintai suaminya. Verro tersenyum mendengarnya. Lalu memeluk istrinya dengan erat.


" Aku sangat merindukan mu Cherry," ucap Verro.


" Aku juga mencintaimu," jawab Cherry yang masih menangis.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2