DETAK Love Story' School

DETAK Love Story' School
Episode 370 Permintaan Toby


__ADS_3

Hari ini seperti biasa Toby akan melakukan pemeriksaan dengan Dokter Arif di mana Toby sudah berbaring di atas ranjang dan Dokter Arif sudah memeriksanya bersama 1 suster.


" Kamu catat kondisinya!" titah Dokter Arif pada suster.


Suster mengangguk dan langsung melaksanakan perintah Dokter Arif. Kondisi Toby ternyata begitu menurun sehingga dia berada di ICU dengan Toby yang memakai alat bantu oksigen di mulutnya dan juga terlihat punggung tangannya di berikan infus.


Toby juga dalam kondisi yang tidak sadar sama sekali. Tidak tau apa yang terjadi tubuhnya tiba-tiba drop.


" Toby penyakit itu tidak bisa di sembunyikan. Itu hanya akan membuat kamu stres. Lihat apa yang terjadi sekarang karena tekanan pikiran kamu yang tidak normal. Kondisi kamu menurun parah!" batin Dokter Arif yang menatap sendu Toby.


Kasihan pasti pada Toby. Apa lagi dia yang menemukan Toby saat tidak sadarkan diri di rumahnya dan membawanya langsung kerumah sakit.


Flashback.


Arif yang keluar dari rumah sakit menuju mobilnya. Saat membuka pintu mobil. Tiba-tiba hanphonnya berbunyi dan harus secepatnya di angkatnya yang ternyata panggilan masuk dari Toby.


" Kenapa dia menelpon tiba-tiba," batin Arif heran dan langsung mengangkat telpon dari Toby.


" Ada apa Toby? kamu baik-baik saja?" tanya Arif sedikit khawatir.


" Saya baik-baik aja Dok. Saya hanya ingin minta tolong sama Dokter," jawab Toby dengan suaranya yang berat yang bisa di tebak Toby tidak baik-baik saja.


" Minta tolong! minta tolong apa?" tanya Arif heran.


" Dokter. Ini masalah Sasy," sahut Toby.. Arif mendengarnya semakin heran dengan mengkerutkan dahinya.


" Ada apa dengan Sasy?" tanya Arif penuh dengan penasaran. Toby menceritakan pada Arif. Arif menyimak dengan serius apa yang di ceritakan Toby kepadanya.


" Jadi kamu ingin saya...."


" Maaf Dokter kalau saya lancang meminta ini pada Dokter. Saya sangat mencintainya. Tetapi Dokter tau kondisi saya. Saya tidak mungkin melanjutkan hubungan saya dengan Sasy. Apa lagi harus menikahinya. Semua itu sama saja akan membuat di semakin terluka. Dokter saya mohon tolong Dokter gantikan saya di hati Sasy. Pria yang sedang dekat dengannya bukalah Pria baik-baik. Saya tidak akan jika Sasy bersamanya. Tetapi mungkin saya akan tenang jika Dokter bersama Sasy," jelas Toby dengan permintaannya pada Arif.


Arif bingung harus menanggapi apa kata-kata Toby. Dia bahkan terlihat bingung dan merasa Toby aneh-aneh saja.


" Tolong saya Dokter. Hanya Dokter yang bisa saya percayakan untuk Sasy," ucap Toby yang benar-benar telah menitipkan wanita yang di cintainya pada Dokter Arif.


" Toby soal bukan main-main. Kamu tidak bisa seperti ini Toby dan saya tidak mungkin melakukan itu. Kamu jangan aneh-aneh Toby," ucap Dokter Arif yang menolak permintaan masuk akal Toby.


" Mungkin Dokter mengatakan saya aneh. Tetapi Dokter adalah seorang Dokter specialis jantung dan Dokter sudah banyak menangani pasien seperti saya dan pasti juga Dokter sering mendengar permintaan mereka dan sama dengan hari ini saya salah satu dari mereka yang ingin pergi dengan tenang ketika melihat orang yang saya cintai berada di tangan yang tepat," ucap Toby dengan suara semakin berat. Semakin sulit bicara.


" Tetapi kenapa harus saya Toby?" tanya Arif.


" Karena saya percaya pada Dokter," jawab Toby singkat.


" Tapi tetap saja itu tidak mungkin," sahut Arif yang tetap menolak.


" Sekarang Sasy di rumahnya bersama pria berengsek itu. Tolong dia Dokter," ucap Toby yang yang langsung menutup telponnya tanpa pamitan dengan Arif.


Tut, Tut Tut Tut Tut Tut. Suara penutupan telpon sepihak yang terdengar.


" Toby! Toby!" panggil Arif.


" Apa yang di katakannya, kenapa dia memintaku melakukan itu," ucap Arif dengan wajah frustasinya penuh kebingungan dengan permintaan Toby.


Seakan tidak peduli dengan apa yang di katakan Toby. Arif memasuki mobilnya dan memilih pulang. Namun di perjalanan pulang dia terus mengingat kata-kata Toby yang akhirnya membuat nya tidak tenang sampai akhirnya Arif pun membelokkan mobilnya menuju rumah Sasy.


Dia pun membuat skenario apa tujuannya Kerumah itu dan ternyata benar. Sasy bersama Bagas dan untuk datang tepat waktu. Arif berhasil membuat Bagas pulang dan juga memberikan Sasy arahan. Dia juga menganggap Sasy seperti adik sendiri.


Setelah berhasil menemui Sasy dan menjauhkannya dari cowok brengsek itu. Arif menuju rumah Toby yang ingin bicara pada Toby. Dia ingin bicara serius yang pasti tidak ingin terlibat dalam hubungan asmara yang di katakan Toby.


Namun ketika sampai di sana Arif mendapati Toby tidak sadarkan diri dan untuk masih bernapas dan Arif buru-buru membawanya kerumah sakit dan untung Toby masih terselamatkan. Walaupun kondinyasi benar-benar begitu menurun.


Flas on.


Arif menatap sendu Toby yang tidak sadarkan diri itu.


" Kamu benar-benar begitu aneh Toby. Saya mana mungkin melakukan itu Toby. Itu sangat tidak mungkin Toby. Seharusnya kamu menceritakan kepada Sasy apa yang terjadi sebenarnya. Dengan begitu kamu akan mendapat dukungan dan semangat bukan seperti kamu malah di salahkan dan kamu melemah dan seperti orang yang menyerah," batin Arif dengan geleng-geleng kepala yang menarik napas panjang dan membuangnya perlahan kedepan.


" Tolong kamu kontrol terus kesehatannya! titah Arif. Pada suster.


" Baik Dokter," sahut suster dan Arif pun langsung pergi dari ruangan itu Toby. Arif membuka pintu ruangan ICU dan tiba-tiba Sasy yang berjalan buru-buru kesandung tepat di depan ruangan Toby dan kebetulan Arif yang keluar dan alhasil membuat Arif menahan tubuh Sasy yang hampir jatuh.

__ADS_1


Si mana Arif memegang ke-2 lengan Sasy yang hampir jatuh. Napas Sasy naik turun yang schok dengan kondisinya yang hampir jatuh.


" Kamu tidak apa-apa?" tanya Dokter Arif dengan melihat wajah schok Sasy.


" Tidak Dokter, makasih!" sahut Sasy yang masih mengatur napasnya. Dengan perlahan Arif melepas tangannya dari Sasy dan Sasy memegang dadanya dengan menghembuskan napasnya perlahan kedepan.


" Kamu yakin tidak apa-apa?" tanya Arif lagi. Sasy mengangguk dengan masih mengatur napasnya.


" Lain kali hati-hati. Kamu bisa jatuh dan terluka tadi," ucap Arif dengan dingin. Sasy mengangguk pelan.


" Makasih Dokter," sahut Sasy. Arif mengangguk.


" Ya sudah saya permisi dulu!" ucap Arif pamit. Saay mengangguk.


" Huhhhh, untung aja Dokter Arif. Kamu sih Sasy selalu ceroboh dan lihat apa yang terjadi hampir aja kamu jatuh," gumam Sasy.


Sasy melihat ke arah ruangan Toby dari pintu jendela kaca. Di mana suster yang menutupi tubuh Toby sampai dan Sasy tidak bisa melihatnya.


" Dokter Arif selalu punya pasien rutin. Haaaaaaa, kapan aku jadi Dokter senior," gumam Sasy gelang-gelang dan langsung pergi dari depan ruangan itu.


Sasy tidak tau jika Pria yang ada di ranjang rumah sakit itu adalah Toby mantan kekasihnya.


***********


Mobil Verro berhenti di depan rumah Toby. Dia dan Cherry benar-benar mengunjungi Toby untuk melihat kondisi Toby. Verro dan Cherry sama-sama turun dari mobil.


" Kok sepi ya sayang," ucap Cherry.


" Hmmm, mobilnya ada, berarti dia ada di dalam," jawab Verro.


" Tapi pagarnya di kunci," ucap Cherry.


" Apa dia ada penerbangan ya," ucap Verro.


" Aku juga tidak tau. Kalau penerbangan biasanya biasanya di jemput mobil kantor ya," ucap Cherry.


" Hmmm, biasanya seperti itu," sahut Verro.


" Biar aku telpon coba," ucap Cherry. Verro mengangguk dan Cherry langsung mengambil handphone di dalam tasnya dan langsung menelpon Toby.


" Bagaimana sayang apa di angkat?" tanya Verro. Cherry menggeleng.


" Kayaknya Toby ada penerbangan," sahut Verro menebak-nebak.


" Iya, deh kayaknya memang iya," sahut Cherry yang sependapat dengan suaminya.


" Ya sudah nanti saja kita kerumahnya lagi. Setelah ada di dirumah. Sekarang sebaiknya kita pulang," ucap Verro mengambil keputusan.


" Hmmmm, ya sudah sayang," sahut Cherry. Verro tersenyum dan merangkul istrinya kembali ke mobil. membukakan pintu mobil untuk istrinya.


" Ya Allah semoga Toby tidak apa-apa," batin Cherry yang merasa tidak aman.


Pikirannya tidak akan pernah tenang. Jika belum tau semuanya tentang Toby. Pikirannya yang memang tidak akan pernah salah. Namun masih tetap ingin kejelasan dari sahabatnya itu.


***********


Raquel di rumah sakit yang makan bersama Vandy di kantin rumah sakit yang terpisah dari Sasy yang juga makan di kantin yang sama. Namun berbeda tempat duduk. Dia makan sendiri.


" Sampai kapan sih, dia ingin memusuhi kita," ucap Raquel.


" Udahlah biarin aja. Semakin kita dekati dia yang ada semakin merasa paling benar-benar. Jadi biarkan aja. Kalau udah kenak batunya. Paling juga nanti sadar sendiri," sahut Vandy yang tidak mau ribet.


" Tapi tetap aja. Rasanya tidak enak," sahut Raquel.


" Ya kamu pikir kamu aja. Aku paling parah tiap pulang kerumah Azizi akan bertanya, bagaimana Sasy apa tadi dia menegur kamu? apa tadi dia? apa ini? apa itu? semua di tanyain oleh Azizi," ucap Vandy yang berbicara dengan kesal.


" Padahal kita sudah minta maaf sudah mengakui kesalahan. Tetapi tetap aja Sasy masih tetap seperti itu," sahut Raquel dengan lesu.


" Ya namanya juga lagi bucin dengan pacar barunya. Jadi biarin aja. Yang penting kita semua sudah usaha dan selebihnya masa bodo," ucap Vandy benar-benar tidak mau pusing.


Raquel dan Vandy sebentar-sebentar curi-curi pandang dengan Sasy yang makan sendiri dan pasti Sasy pasti sadar jika dia di ceritai. Makanya dia terlihat begitu gelisah.

__ADS_1


Tiba-tiba Arif memasuki area kantin dengan membawa nampan yang berisi makanan. Arif melihat Vandy dan Raquel makan dan pandangannya berpindah pada Sasy yang juga makan sendiri. Arif pun akhirnya memilih untuk menghampiri meja Sasy.


" Saya boleh duduk di sini?" tanya Arif berdiri di depan Sasy.


" Dokter Arif. Ya boleh dong Dok. Mari duduk," sahut Sasy tersenyum yang sama sekali tidak keberatan dan Arif pun langsung duduk di depan Sasy.


" Kenapa 1 meja dengan Vandy dan juga Raquel?" tanya Arif.


" Apa Dokter Arif tidak tau ya jika aku dan mereka lagi tidak baikan," batin Sasy.


" Sasy!" tegur Arif dengan melambaikan tangannya di depan Sasy yang malah bengong.


" Hah! iya Dokter," sahut Sasy gugup.


" Bukannya di jawab. Tetapi malah bengong!" ucap Arif.


" Maaf Dokter. Hmmmm tidak apa-apa. Lagi pengen makan sendiri aja," jawab Sasy bohong.


" Jangan berbohong. Kamu dan mereka bukan rekan 1 profesi. Tetapi juga sahabat. Saya bertanya jelas karena merasa ada yang ganjal bukan," ucap Dokter Arif.


" Dokter benar. Kami ada sedikit masalah," sahut Sasy yang akhirnya jujur.


" Pasti bukan hanya dengan Raquel dan juga Vandy!" tebak Arif. Sasy mengangguk.


" Sasy kamu bukan anak kecil lagi, bukan anak SMA yang harus musuh-musuhan. Kamu sudah dewasa. Kamu juga seorang Dokter yang di impikan para pasien. Jika ada masalah harus di selesaikan. Bukan seperti ini diam-diaman seperti anak kecil," ucap Arif yang lagi-lagi memberikan masukan pada Sasy.


" Dokter tidak tau apa yang terjadi sebenarnya," batin Sasy.


" Saya benarkan?" tanya Dokter Arif. Sasy hanya mengangguk tersenyum. Dia sama sekali tidak berani menyanggah kata-kata Arif. Selain Arif jauh lebih dewasa di bandingkan dirinya. Apa yang di katakan Arif juga ada benarnya.


" Ya sudah kamu makan lagi. Kata-kata saya tidak perlu di pikirkan," ucap Arif.


" Makasih ya Dokter," sahut Sasy. Arif mengangguk.


" Hmmm, oh iya Dokter. Kalau Dokter tidak keberatan nanti mau tidak pulang dari rumah sakit minum kopi sebentar. Saya yang teraktir," ucap Sasy menawarkan. Arif menaikkan alisnya melihat Sasy dengan serius.


" Dalam rangka apa ini?" tanya Arif.


" Hmmmm, anggap saja tadi Dokter sudah menolong saya. Waktu saya jatuh," ucap Sasy.


" Baiklah!" sahut Arif yang tanpa menolak. Hal itu membuat Sasy tersenyum mengembang.


Ternyata Raquel dan Vandy yang sedang makan kembali bergunjing. Karena Arif dan Sasy. Mereka terlihat orang yang kepo dan penuh penasaran.


" Tumben banget kakak lo mau makan di sini. Biasanya makan di ruangannya dan malah sama Sasy lagi. Bukannya ke meja kita?" tanya Raquel kebingungan.


" Mana aku tau. Aku tidak mungkin kesana kan lalu bertanya," sahut Vandy.


" Ya heran aja nggak biasanya," sahut Raquel.


" Entahlah biarin ajalah. Mungkin mereka lagi pedekate kali," sahut Vandy.


" Lo, setuju Sasy sama kakak lo?" tanya Raquel menanggapi serius.


" Ya kalau mereka sama-sama mau. Ya kenapa tidak. Kak Arif jomblo. Permanen lagi. Terus Sasy juga pacarnya nggak jelas gitu. Dia juga udah selesai sama Toby. Ya kenapa tidak kalau mereka sendiri tidak keberatan," sahut Vandy menanggapi santai.


" Lalu Toby gimana?" tanya Raquel.


" Eh Raquel kalau mereka memang tidak jodoh. Mau gimana lagi. Mungkin mereka lebih cocok jadi sahabat," sahut Vandy.


" Lo benar-benar pilih kasih. Giliran aku aja dulu dekat sama Dokter Arif. Kau itu terlihat tidak setuju dan malah mendoakan tidak jadi. Giliran Sasy aja langsung setuju-setuju aja," sahut Raquel kesal.


" Ehhhh, Lo itu juga dekati kak Arif hanya sebagai pelampiasan. Aku itu tau kali mana yang tulus dan tidak. Dan udahlah ngapain sih kita pikirin jodoh orang. Yang penting kita udah punya jodoh. Jadi di jaga aja dengan baik," ucap Vandy yang tidak ingin ribet.


" Iya sih," sahut Raquel menggedikkan bahunya yang juga tidak mau terlalu mencampuri urusan orang lain. Namun Raquel masih melihat ke arah meja Sasy yang makan dengan mengobrol dekat pada Arif sambil Sasy tertawa-tawa. Yang sepertinya begitu nyaman.


Melihat senyum sahabatnya itu yang keluar kembali membuat Raquel merasa lega dan tersenyum dengan lebar.


" Aku hanya berharap hati kamu bisa luluh Sasy dan kita semua bisa kembali lagi. Walau hubungan kamu selesai dengan Toby. Tetapi kata sahabat tidak akan pernah selesai," batin Raquel dengan penuh harapan yang menatap Sasy dengan kebahagian tersendiri untuknya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2