DETAK Love Story' School

DETAK Love Story' School
Episode 107 Kebijakan Raquel.


__ADS_3

Sekolah masih heboh mengenai skandal Azizi. Banyak foto-foto Azizi yang dengan pakaiannya yang pasti terbuka. Dan fotonya berada di Club malam berserakan di mading sekolah dan juga menempel dingding-dingding di sekolah.


Murid-murid jelas sangat marah dengan Azizi yang datang kesekolah mereka dengan penampilan cupu. Tetapi ternyata seorang wanita malam yang menutup identitasnya.


Bukan hanya foto-foto Azizi yang memenuhi sekolah. Bahkan banyak juga murid-murid yang demo. Meminta Azizi di keluarkan dan pasti provokator dari demo itu Selina dan Mita.


Mereka membuat kericuhan di lapangan sekolah yang berhadapan dengan kantor kepala sekolah di lantai 3. Selain meneriaki dengan suara mereka yang kuat. Murid-murid juga membawa beberapa tulisan sebagai bahan pendukung.


..." Parasit harus keluar,"...


..." Dikira cupu tetapi suhu,"...


..." Wanita murahan harus kembali ke asalnya,"...


..." Keluarkan dia jika tidak kami akan melapor para orang tua murid,"...


..." Kami benar-benar tidak ingin belajar dengan murid pekerja sebagai psk,"...


Semua tulisan itu lebih keancaman dan memang pihak sekolah harus mempertimbangkan semua itu. Karena memang jika orang tua murid mengetahui hal itu. Kembali sekolah mereka akan tercemar lagi.


Murid-murid yang setuju dengan pengeluaran Azizi masih berdemo sampai mereka mendapat keputusan yang jelas. Dan pasti harus memuaskan.


Sementara Azizi sudah di panggil keruang kepala sekolah dan beberapa guru sedang mengintimidasinya.Yang pasti mempertanyakan semuanya tentang kejadian sebenarnya.


Lain dengan Azizi yang masih di ruangan kepala sekolah. Nadya, Cherry, Sasy dan Toby mengambil semua foto-foto yang menempel di dinding.


Mereka sangat tidak ingin jika teman mereka lebih di permalukan. Jadi mereka hanya bisa membantu sebisanya.


" Mereka keterlaluan. Macam nggak pernah buat dosa," oceh Sasy sembari menarik Foto temannya yang tertempel di dinding.


Verro, Varell dan Aldo menghampiri wanita-wanita yang berusaha menutupi aib temannya. Mereka memang belum bertanya kepada Azizi tentang kejadian yang sebenarnya.


Mereka tidak perlu bertanya. Karena semua orang punya masalah sendiri. Sebagai teman mereka hanya bisa membantu sedikit.


Verro langsung memberi air putih untuk Cherry. Dia tidak ingin Cherry kelelahan. Makanya dia terus memantau Cherry.


" Makasih," sahut Cherry mengambil botol yang sudah di bukakan Verro.


" Apa Azizi masih di kantor kepala sekolah?" tanya Varell.


" Iya dia sedang di panggil," jawab Nadya.


" Lalu orang tuanya bagaimana, apa sudah datang?" tanya Aldo.

__ADS_1


" Kayaknya tidak, tadi aku sempat dengan Azizi bilang orang tuanya tidak akan datang dan beberapa guru juga menghubungi dan benar orang tuanya tidak mau datang," sahut Toby yang sempat mendengar hal itu.


" Kok gitu sih, aku jadi bingung," ucap Cherry memijat kepalanya. Verro meletakkan tangannya di pundak Cherry memberi ketenangan pada Cherry agar Cherry tidak kepikiran.


" Sudah ya kamu jangan terlalu memikirkan," ucap Verro pelan. Azizi mengangguk.


" Oh, iya Vandy mana?" tanya Sasy tiba-tiba ketika tidak melihat Vandy. Yang lain juga melihat kekiri dan kekanan mereka. Ternyata 1 prang lagi teman mereka memang tidak ada di sana.


" Nggak tau sih. Dari tadi nggak ada sama kita deh," sahut Varell yang baru menyadari jika dari tadi Vandy tidak bersama mereka.


" Kemana dia. Biasanya jika ada masalah Azizi dia paling stress," sahut Toby menggaruk-garuk kepalanya.


" Aku bilang turun," teriakan seorang wanita yang keras membuat Cherry dan yang lainnya kaget. Dan pasti itu suara dari lapangan sekolah.


" Itu bukannya suara Raquel," sahut Sasy.


" Iya kayaknya iya, kenapa dia," sahut Toby penasaran.


" Mending kita lihat," sahut Aldo memutuskan dan berjalan terlebih dahulu melihat apa lagi yang terjadi.


Aldo dan yang lainnya berada di teras lantai 2 dan melihat kebawah yang ternyata Raquel sedang marah-marah di antara banyak murid-murid pendemo.


" Apa kalian pikir kalian sudah merasa paling suci. Dengan kalian berteriak-teriak seperti ini kalian jau lebih kotor seperti sampah," oceh Raquel yang ternyata memarahi para pendemo.


" Raquel lo kok gitu sih. Kok malah belain dia," sahut Selina kesal.


" Lo itu teman kita apa bulan sih," sahut Mitha.


" Tidak! aku tidak berteman dengan orang yang sukanya membuat onar, merasa paling benar, dan menjadi provokator, membuat kericuhan," sahut Raquel dengan tegas.


" Raquel maksud lo apaan," sahut Mitha tidak menyangka dengan perkataan Raquel.


" Kalian berdua dan kalian semua. Bubar dari tempat ini. Kalian semua jangan sok pintar di sini. Kepala sekolah dan guru lainnya jauh lebih bijak. Jadi biarkan mereka yang mengambil tindakan atas apa yang terjadi pada Azizi. Kalian tidak perlu melakukan perbuatan kampungan seperti ini," teriak Raquel dengan penuh emosi.


" Seharusnya sebagai teman 1 sekolah kalian itu bisa berpikir. Kenapa dia bisa melakukan itu. Jika pun itu benar. Kalian tidak punya hak untuk menghakiminya. Karena belum tentu kalian jauh lebih baik darinya," Jelas Raquel dengan bijak. Membuat para lelaki dan wanita dia tas sana yang berjejer menonton tersenyum dengan kata-kata Raquel.


" Tapi dia perempuan murahan dan mempermalukan sekolah kita," sahut Selina.


" Apa kau jauh merasa lebih baik dari pada dia. Bagaimana dengan perbuatan mu, kau juga sudah mempermalukan sekolah dengan tindakan yang barusan kau lakukan. Kau pikir sekolah tidak malu dengan perbuatan kalian," sahut Raquel mengecam sahabatnya itu.


" Dia hanyalah seorang Psk," sahut Mitha geram.


" Apa jika dia seorang Psk. Kau berhak mempermalukan dia. Kau tidak perlu tau privasi orang lain. Semua orang punya masalah dalam hidupnya. Seharusnya kalian pakai otak kalian. Dengan kalian membuka aibnya. Dia akan kehilangan pendidikannya,"

__ADS_1


" Dia juga tidak bikin ulah di sekolah kita. Tidak merugikan kalian. Dia hanya ingin sekolah dan melakukan berbagai cara agar orang-orang tidak tau siapa dia. Agar dia bisa menyelesaikan pendidikannya. Tapi kalian sudah menghancurkannya. Apa kalian merasa lebih baik darinya. Kalian orang-orang yang paling kejam yang justru menghancurkan masa depan orang yang ingin meraih mimpinya," tegas Raquel.


Beberapa murid-murid menunduk mendengar Raquel yang menceramahi mereka. Ya kata-kata Raquel pasti ada benarnya.


" Sebaiknya kalian bubar. Jangan membuat suasana semakin buruk," tegas Raquel.


" Tunggu apa lagi ayo bubar," teriak Raquel mengeluarkan suaranya sekeras-kerasnya.


" Huhhhhhhh," sorak murid-murid yang pada akhirnya membubarkan diri dengan menjatuhkan beberapa slogan yang di pegang mereka.


" Lo benar-benar berubah Raquel," ucap Mitha yang tidak habis pikir.


" Kalian tidak mau bubar?" tanya Raquel dengan santai.


" Lo kehilangan sahabat, saat lo melakukan ini," ucap Mitha dengan wajah seriusnya. Raquel tersenyum.


" Jika perbuatanku benar aku tidak akan kehilangan sahabat. Jadi terserah kalian mau berpikir apa," sahut Raquel dengan santai.


Raquel pun mengutipi semua spanduk dan yang lainnya yang di buang murid-murid. Dia tidak mempedulikan temannya yang kecewa kepadanya.


" Ayo kita pergi Selina. Sekarang dia bukan bagian dari kita," ucap Mitha menarik tangan Selina membawanya pergi.


Raquel tersenyum mendengarnya. Dia tidak peduli. Jika hal itu membuatnya tidak nyaman. Kenapa dia harus bersusah payah untuk mempertahankan persahabatan yang seperti itu persahabatan yang tidak sehat.


Sementara di atas sana, Cherry dan yang lainnya tersenyum bangga dengan Raquel yang berani dalam mengambil tindakan.


" Gila Raquel keren banget," puji Toby geleng-geleng.


" Aduh, aku belum tentu bisa seperti dia. Melawan semua murid. Palingan aku hanya bisa melawan 2 ular itu Selina dan Mitha," sahut Sasy takjub.


" Seseorang memang pasti berubah. Dia memang sangat baik hanya saja pergaulannya salah," sahut Cherry yang juga pernah di tolong Raquel.


" Semoga dia tidak terpengaruh lagi, dengan teman-temanya," sahut Varell.


" Aku rasa tidak. Karena dia sudah tau mana yang bisa di jadikan teman," sahut Varell.


" Dia memang sangat unik," batin Aldo jelas mengagumi Raquel.


" Raquel lo keren banget," teriak Toby sekencang-kencangnya membuat Raquel kaget dan mencari suara itu.


Raquel kaget ternyata banyak yang memperhatikannya. Dan di sana juga ada Aldo membuat Raquel salah tingkah. Raquel hanya tersenyum tipis lalu pergi. Dia malu dengan orang-orang yang di atas sana.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2