
Setelah acara makan siang selesai dan istirahat sejenak menurunkan nasi. Pak Sony kembali mengambil toak nya.
" Baik anak-anak mohon perhatiannya sebentar. Untuk para laki-laki segera bantu masukkan koper-koper teman-teman kalian. Masukkan semua koper teman-teman kalian kedalam bagasi cepat laksanakan, biar kita berangkat, ayo yang laki-laki. Yang mempunya burung, kalau tidak punya jangan ikut mengambil alih," ucap Pak Sony dengan nada bercandaan.
" Sana Toby angkat tu koper kalau nggak mau di bilang nggak punya burung," ejek Sasy.
" Sewot aja," sahut Toby kesal.
" Makanya nggak usah suka ngejek orang sekarang di ejek marah," sahut Azizi membela Sasy.
" Haha, benar, tuh apa kata Azizi," ucap Sasy.
" Kalian berdua diam aja, nggak ada gunanya bicara, berisik tau," desis Toby kesal.
Murid laki-laki menyusun semua koper ke bagasi sesuai dengan perintah Pak Sony. Supir juga sudah mulai memasuki bus untuk memanaskan bus.
" Akhirnya berangkat juga," ucap Azizi yang tidak sabaran.
" Iya benar, aku juga sudah pengen istirahat," sahut Cherry.
" 8 jam waktu yang sangat lama," sahut Sasy tidak bisa membayangkan.
" Oh iya nih, kita minum ini dulu!" Azizi mengeluarkan vitamin dari dalam tas kecil yang di bawanya dan meletakkan telapak tangan Cherry dan Sasy.
" Apa ini?" tanya Cherry heran.
" Ini obat supaya tidak mual di dalam bis," jawab Azizi.
" Begitu," sahut Sasy yang langsung meminumnya. Cherry juga ikut-ikutan dan menelan vitamin tersebut.
Setelah semua koper sudah di masukkan. Pak Sony juga kembali memberi arahan singkat padat dan jelas. Setelah itu Pak Sony pun memerintahkan untuk para murid-murid untuk memasuki bus.
Mengingat mereka harus segera berangkat seharusnya berangkat jam 10. Tetapi malah berangkat jam 1 siang. Pastinya sebelum berangkat mereka juga sudah mulai berdoa dengan kepercayaan mereka masing-masing.
Cherry juga sebelum menaiki bis, kembali berpamitan pada papanya.
Ketika mendapat arahan sudah boleh menaiki bis. Verro pun sudah masuk terlebih dahulu. Dia memang terlalu pusing mendengar banyak arahan. Dia sudah sangat mengantuk.
Apalagi moodnya sangat buruk yang pasti teringat dengan perkataan papanya dan perlakuaan papanya yang semena-mena dengannya. Kepala Verro juga tampak sakit. Mungkin akibat pukulan papanya. Makanya dia merasa pusing. .
Jadi Verro memilih cepat-cepat menaiki bis terlebih dahulu agar bisa istirahat dengan tenang. Verro duduk bagian paling belakang dan yang benar saja saat duduk dia langsung memejamkan matanya.
Satu persatu murid-murid mulai menaiki bus. Begitu juga dengan Fiona. Ketika Fiona memasuki bus dan melihat di samping Verro kosong Fiona langsung duduk di sampingnya dengan enteng.
Tetapi duduknya Fiona membuat Verro sadar dan kaget melihat Fiona yang ada di sampingnya.
" Ngapain kau di sini?" tanya Verro dengan ketus.
Fiona tidak menjawab dan langsung memakai earphone ditelinganya dan tidak mempedulikan Verro. Sontak hal itu membuat Verro berdecak kesal. Hanya saja dia yang memang ingin istirahat membiarkan saja.
Setelah mengobrol dengan Sasy dan Azizi akhirnya Cherry memasuki bus dan melihat Verro duduk bersama Fiona. Cherry harus menghentikan langkah kakinya saat melihat hal itu.
" Kok mereka duduk berdua," batin Cherry yang tampak tidak suka. Apa lagi melihat Verro sudah memejamkan matanya.
" Ada apa?" tanya Fiona ketus.
Cherry geleng-geleng dan tidak peduli. Lalu peri mengambil tempat duduk lain. Cherry juga memilih tempat duduk di pinggir jendela dan jelas tidak sebaris dengan susunan bangku Fiona dan Verro dan yang pasti juga tidak berdekatan.
" Dia bertanya lagi ada apa, apa dia pikir aku mau mengambil tempat duduknya, memang dia yang suka mengambil tempat orang," Cherry bergerutu sendiri kesal dengan Fiona yang bertanya kepadanya.
Cherry bahkan menoleh kembali kebelakang melihat ke arah Fiona dan Verro yang ternyata Fiona masih melihatnya.
" Ishhh," desis Cherry kembali mengalihkan pandangannya.
Aldo pun menaiki bis, setelah berbicara dengan Pak Lucky. Aldo melihat di sebelah Cherry kosong. Aldo tersenyum sepertinya ingin duduk di sebelah Cherry. Tetapi wajah Cherry malah merengut dan bibirnya juga terus bergerutu membuat Aldo bingung.
" Cherry boleh aku duduk di sampingmu," ucap Aldo meminta Izin pada Cherry dengan lembut.
" Oh, apa," sahut Cherry kaget dengan ke hadiran Aldo.
__ADS_1
" Aku ingin duduk di sampingmu, apa boleh?" tanya Aldo sekali lagi.
" Ha, iya boleh, silahkan!" sahut Cherry tersenyum lebar tanpa ragu. Dia juga memang tidak ada teman jadi apa salahnya jika Aldo duduk di sampingnya.
" Makasih," ucap Aldo tersenyum. Cherry mengangguk.
Bisa-bisanya hal itu langsung membuat Verro terbangun dan langsung melihat ke arah Cherry dan Aldo yang sekarang duduk berduaan.
" Selalu mencari kesempatan," batin Verro kesal dengan pemandangan yang memuakkan itu.
" Minggir!" ucap Verro berdiri. Fiona tanda tanya dengan Verro.
" Kenapa?" tanya Fiona bingung.
" Gue bilang minggir," tegas Verro tidak perlu memberi jawaban.
" Atau gue injak!" ancam Verro.
Fiona menarik napas panjang dan langsung berdiri dan Verro langsung keluar. Ternyata Verro menghampiri tempat duduk Cherry.
Verro berdiri dan melihat Cherry dan Aldo yang langsung mengobrol. Tetapi Cherry terdiam ketika melihat Verro sudah berdiri di samping Aldo.
" Verro," lirih Cherry. Aldo menengok kearah Verro dengan mendengus. Sepertinya Aldo sudah tau apa yang akan di lakukan Verro.
" Keluar!" suruh Verro menggerakkan kepalanya pada Cherry. Ya Verro memang tanpa basa-basi.
Dia memang tidak menyukai Cherry dekat dengan Aldo. Tetapi kayaknya bukan Aldo saja tetapi semuanya juga tidak ada yang di sukai Verro.
" Kenapa?" tanya Cherry bingung.
" Aku bilang keluar!" ucap Verro lagi.
" Cepat!" tegas Verro lagi.
Cherry melihat ke arah Aldo. Aldo menganggukkan matanya pertanda iya. Malas juga harus ribut dengan Verro, hanya gara-gara tempat duduk.
" Duduk di sana!" suruh Verro mengarahkan kepalanya di belakang bangku Cherry dan Aldo tadi. Dengan kesal Cherry menuruti Verro duduk di pinggir jendela dan Verro langsung duduk di sampingnya.
" Ishhhh, desis Cherry yang tidak bersemangat,"
" Apa kau harus minta izin kepadanya untuk bergerak dari sampingnya," desis Verro yang melihat Cherry tadi minta Izin pada Aldo dan Aldo mengiyakan baru Cherry pergi.
" Ada apa denganmu, kau tadi duduk di sana, dan kenapa malah heboh mengganggu kenyaman orang," sahut Cherry kesal dengan sikaf Verro yang terus suka-suka nya. Dia tadi bahkan tidak mengganggu Verro.
" Kenyamanan, kau merasa nyaman bersamanya," ucap Verro sinis. Membuat Cherry semakin kesal.
" Terserah mu!" sahut Cherry kesal malas untuk ribut dan memilih melihat ke arah jendela.
" Apa karena dia kau bisa masuk kedalam bis ini, kau lupa berkat siapa kau mengikuti kegiatan ini," ucap Verro yang mengingatkan Cherry karena dirinya Cherry bisa di izinkan untuk mengikuti study tour.
Cherry langsung kembali melihat kesal ke arah Verro dan tersenyum palsu.
" Oke thank you, berkat dirimu aku ikut, puas!" ucap Cherry geram dan kembali mengalihkan pandangannya.
" Jika tau seperti itu, maka sadar diri," sindir Verro. Cherry harus menahan telinganya dengan mulut pedas Verro.
" Iya Verro aku tau, aku tidak akan melakukannya oke," sahut Cherry lagi yang semakin malas berdebat dengan Verro.
" Kenapa juga papa harus mengiyakan saat dia meminta izin, sekarang dia punya pegangan, tetapi jika tidak aku memang tidak akan berada di sini," batin Cherry yang kesal namun harus membenarkan perkataan Verro.
Fiona melihat semua itu. Melihat Verro yang pindah hanya karena Aldo duduk di samping Aldo.
" Dia benar-benar tidak bisa melihat Cherry dekat dengan orang lain," batin Fiona yang melihat terus.
Sasy, Azizi, Toby dan Varell memasuki bis. Sasy melihat-lihat kursi yang kosong dan mencari-cari siapa temannya yang akan duduk bersamanya.
" Cherry sudah sama Verro," ucapnya melihat temannya, " Varell kita duduk bersama yuk," ajak Sasy memegang lengan Varell.
" Lepas," sahut Varell ketus melihat horor lengannya yang di pegang Sasy.
__ADS_1
" Isss," desis Sasy dengan wajah cemberutnya.
" Ayolah, pasti kamu tidak akan menyesal duduk dengan wanita secantik aku," bujuk Sasy.
" Nggak!" tegas Varell.
Varell pun melihat di samping Nadya masih kosong Varell tersenyum tipis dan langsung menghampiri Nadya tanpa mempedulikan Sasy.
" Geser!" ucap Varell ketus. Nadya kaget ketika melihat Varell berdiri di sampingnya.
" Kenapa?" tanya Nadya bingung.
" Buruan!" tegas Varell..
" Kamu mau duduk di sini?" tanya Nadya.
" Cepat!" Varell tidak menjawab dan malah melebarkan matanya.
Nadya memiringkan tubuhnya dan Varell masuk dan duduk di pinggir jendela di samping Nadya. Nady tidak banyak bertanya lagi dan membiarkan saja.
Toh jika dia menolak juga pasti Varell yang akan menang. Dia apa lah tidak bisa berbuat apa-apa dan hanya pasrah dengan apapun. Tetapi untungnya belakangan ini Varell cukup baik.
" Kenapa harus sama Nadya," ucap Sasy kesal dan mengambil tempat duduk lain. Di belakang Cherry dan Verro. Toby langsung menghampiri Sasy dan duduk di sampingnya.
" Ngapain kau di sini, minggir!" usir Sasy mendorong tubuh Cherry.
" Ahhhhh, tidak mau," Toby tetap kekeh dan mempertahankan tubuhnya di tempat duduknya.
" Toby, aku tidak mau duduk denganmu," protes Sasy.
" Tetapi aku mau duduk denganmu," sahut Toby tersenyum lebar.
" Tapi aku tidak mau najis," desis Sasy bertambah kesal.
" Tetapi aku mau," sahut Toby tetap keras kepala.
" Kau!" pekik Sasy dengan suara keras.
" Bisa diam nggak, turun lo berdua, kalau bikin ribut," ucap Verro menengok kebelakang kepalanya tambah sakit mendengar pertengkaran Toby dan Sasy.
" Emang ini bus nenek lo," sambar Sasy kesal.
" Shutttt," Cherry juga melihat kebelakang menempelkan 1 jarinya di bibirnya menyuruh diam.
" Kenapa hari ku sial sekali?" Keluh Sasy sedikit berteriak.
" Diam!" seru Toby.
" Semua ini gara-gara mu," pekik Sasy yang terus menyalahkan Toby.
Sementara Azizi masih mencari-cari tempat yang kosong. Azizi melihat Fiona sendirian. Dia menarik nafas seakan membosankan jika duduk di samping Fiona.
" Apa aku duduk di sebelahnya saja," tanya dalam hatinya yang pasti dengan keraguan yang besar.
Tetapi Azizi melihat di sebelah Vandy kosong dan langsung menghampiri Vandy.
" Vandy, aku boleh duduk di sebelahku?" tanya Azizi dengan ragu.
" Boleh," sahut Vandy tanpa keberatan. Azizi tersenyum dan langsung duduk di sebelah Vandy.
" Makasih," ucap Azizi.
" Sama-sama," jawab Vandy.
💝💝Bersambung
Hay para readers yang baru bergabung. Bantu support ya novel aku yang baru.
Tinggalkan jejak. Komentar, like, dan jangan lupa vote sebanyak-banyaknya. Agar aku semakin semangat melanjutkan ceritanya
__ADS_1