
Sasy dan Toby berada di dalam mobil. Sasy terlihat canggung saat berada di dalam mobil bersama Toby. Memang itulah kelemahan Sasy sangat canggung jika harus berduaan dengan Toby.
" Memang kamu ingin bicara apa?" tanya Sasy gugup.
" Tidak terlalu serius, aku hanya ingin minta maaf," ucap Toby. Mendengarnya Sasy heran sampai mengkerutkan dahinya.
" Kenapa dia minta maaf, memang apa salahnya," batin Sasy bertanya-tanya.
" Minta maaf soal apa. Memang apa yang salah? tanya Sasy benar-benar kebingungan.
" Aku minta maaf, selama aku di Jerman. Aku tidak mengabarimu terlebih dahulu, apa yang terjadi, aku tau kamu pasti sangat menunggu-nunggu," ucap Toby.
" Ohhh, itu. Memang apa perlu harus minta maaf segala. Aku rasa tidak perlu?" tanya Sasy heran. Padahal dia memang tidak mengharapkan maaf dari Toby.
" Aku rasa sangat perlu," jawab Toby.
" Oh... Ya sudah, kalau begitu. Aku maafkan," sahut Sasy juga heran harus menjawab apa. Toby tersenyum mendengarnya.
" Oh, iya Sasy, kamu mau kemana habis ini?" tanya Toby basa-basi.
" Kerumah sakit jemput mobil," jawab Sasy. Dia memang sudah mengatakan hal itu tadi di awal. Jika dia ingin Kerumah sakit.
" Hmmm, kamu nggak ingin bertanya tentang aku di sana bagaimana. Aku bagaimana bisa mengetahui semuanya dan ingin tau ini itu, memang kamu tidak ingin mendengar ceritaku," ucap Toby yang sepertinya ingin di tanya.
" Oh, gitu, iya sih aku juga ingin tau kenapa dan bagaimana kamu bisa mengetahui semua tentang Cherry," sahut Sasy yang tampak canggung bicara dengan Toby.
" Kalau begitu. Kamu berarti tidak akan keberatan kalau kita makan sebentar," ucap Toby.
" Hah, makan," sahut Sasy yang semakin gugup. Dia mengingat sewaktu sarapan bersama dengan Toby. Dia mati kutu dan berharap itu yang terakhir dan sekarang. Toby malah mengajaknya untuk makan lagi. Dia sudah tidak bisa membayangkan bagaimana canggungnya dia nanti.
" Iya bagaimana, kamu mau?" tanya Toby memastikan.
" Oh, gitu ya, ya sudah kalau begitu," sahut Sasy yang tampaknya tidak bisa menolak.
" Ini terpaksa atau tidak?" tanya Toby menaikkan 1 alisnya yang melihat Sasy seperti terpaksa.
" Tidak, tidak terpaksa kok," jawab Sasy dengan cepat.
__ADS_1
" Hmmmm, ya sudah kalau begitu, kamu mau makan di mana?" tanya Toby.
" Terserah kamu saja, aku ikutan aja," sahut Sasy yang memang menyerahkan pada Toby semuanya.
" Ya sudah kalau begitu," sahut Toby tersenyum. Sasy mengangguk-angguk saja.
*********
Di sisi lain Varell mengantarkan Vandy Kerumah sakit dan Nadya masih ada di dalam mobil. Mobil Varell sudah terparkir di rumah sakit.
" Ya sudah aku turun dulu," ucap Vandy membuka seat belt nya.
" Aku juga turun di sini saja," sahut Nadya yang memang tidak nyaman jika harus 1 mobil dengan Varell. Varell melihatnya dari kaca spion.
" Kamu biar aku antar pulang saja," sahut Varell.
" Tidak usah, aku naik ojek saja," sahut Nadya yang membuka pintu mobil. Vandy hanya menyimak saja dengan 2 pasangan itu.
" Nadya," tegur Varell. " Aku akan mengantarmu pulang," ujar Nadya menegaskan.
" Hmmm, iya Nadya, sudahlah kamu di antar Varell saja. Lagian sudah malam juga. Tidak baik jika kamu pulang sendirian. Kalau aku tidak ada kerjaan di rumah sakit. Tidak apa-apa aku masih sempat mengantarmu. Tetapi ini aku ada pekerjaan jadi aku tidak bisa mengantarmu. Jadi kamu pergi sama Varell saja," ucap Vandy yang mendukung sahabatnya.
" Oke kalau begitu. Aku duluan ya," sahut Vandy yang langsung membuka pintu mobil dan langsung pergi.
Sementara Nadya diam saja. Dia akhirnya pasrah ikut bersama Varell. Varell hanya melihatnya dari kaca spion. Dia tau Nadya tidak nyaman. Tetapi dia juga tidak tega. Jika Nadya harus pulang sendirian.
***********
Malam semakin larut. Toby dan Sasy duduk di taman di depan air yang memancur. Sambil Sasy menikmati es krim yang tadi di belikan Toby kepadanya.
" Aku tidak percaya. Jika apa yang kamu yang kamu yakini selama ini. Ternyata benar. Jika Clara itu adalah Cherry," ucap Sasy.
" Memang sangat sulit untuk di percaya. Tetapi memang itulah kenyataannya kalau Cherry sahabat kita masih hidup," sahut Toby.
" Pasti Verro sekarang sangat bahagia. Dia bahkan tidak pernah menyangka jika Cherry wanita yang di cintainya. Telah kembali bersamanya," ucap Sasy sambil menikmati eskirimnya.
" Hmmm, kamu benar, wanita yang di cintainya sudah kembali. Dia sangat setia kepada Cherry. Tidak pernah menyukai wanita lain dan sekarang dia benar-benar menemukan kembali cinta sejatinya," ucap Toby tersenyum melihat ke arah Sasy yang fokus melihat kedepan dengan tersenyum juga.
__ADS_1
" Sama sepertiku yang tidak bisa jatuh hati pada wanita manapun," batin Toby menatap Sasy dalam-dalam. Sampai Sasy akhirnya menoleh ke arah Toby dan Toby masih tetap menatapnya membuat Sasy jadi gerogi.
" Kenapa dia melihatku seperti itu," batin Sasy menjadi gugup.
Mata Toby turun pada ujung bibir Sasy yang terdapat noda eskrim, reflex Toby langsung mengusap noda itu dengan jarinya sampai Sasy terkejut dan bahkan diam membisu.
" Maaf," ucap Toby lembut menunjukkan jarinya yang terdapat noda eskrim.
" Oh, iya, aku memang tidak beres makannya," sahut Sasy semakin gugup. Bahkan terlihat membuang napasnya kedepan. Untuk menenangkan dirinya.
" Sasy kamu benar-benar bikin malu saja," batin Sasy merasa dirinya sangat bodoh.
Toby mendengus tersenyum melihat Sasy yang wajahnya terlihat memerah dan bahkan jelas sangat salah tingkah.
" Lama banget ya kita tidak pernah mengobrol seperti ini," ucap Toby dengan meletakkan ke-2 tangannya di dadanya.
" Iya kamu benar, memang sudah sangat lama. Kita sama-sama sibuk. Jadi jarang bertemu," sahut Sasy.
" Tidak, sebenarnya kita sering reunian dan seperti kalau ada aku. Kamu tidak akan datang reunian. Aku penasaran itu di sengaja atau memang hanya kebetulan," ucap Toby melihat ke arah Sasy.
" Pasti kebetulan lah, mana mungkin di sengaja," ucap Sasy yang tampak gugup.
" Benarkah?" tanya Toby menaikkan 1 alisnya dengan tersenyum miring.
" Hmmm, benarlah, masa iya aku harus bohong," sahut Sasy menegaskan.
" Ya semoga saja setiap ada reunian lagi. Kalau aku ada kamu ada di sana. Apa lagi sekarang ada Cherry. Pasti semakin seru," ucap Toby.
" Hmmm, iya kamu benar akan semakin seru," sahut Sasy yang juga ikut tersenyum.
" Hmmm, oh. Iya Toby. Apa kita tidak bisa pulang. Soalnya sudah larut malam juga," ucap Sasy melihat arloji di tangannya.
" Oke, kenapa tidak. Aku tadi hanya meminta sebentar. Tetapi malah lama," sahut Toby.
" Ya sudah ayo kita pulang," ucap Sasy.
" Hmmm, oke," sahut Toby yang langsung berdiri. Begitu juga Sasy yang ikutan berdiri.
__ADS_1
Bersambung......