DETAK Love Story' School

DETAK Love Story' School
Part 277 Hati yang luka.


__ADS_3

Cherry dan Verro ternyata sudah kembali terlebih dahulu di bandingkan yang lainnya. Pasangan suami istri itu juga sudah sama-sama membersihkan diri mereka masing-masing seperti biasa sebelum tidur.


Di mana Cherry sudah memakai kimono berwarna merah maron lengan pendek sepahanya. Cherry duduk di depan cermin seperti biasa melakukan ritual sebelum dia tidur.


Seperti memakai lotion di kulitnya. Menyisir rambutnya dan terakhir menyemprot parfum pada tubuhnya. Setelah merasa cukup. Cherry beranjak dari ranjang menuju jendela kamarnya di mana jendelanya masih terbuka yang ingin di tutupnya.


Saat ingin menutupnya. Tiba-tiba Verro yang sudah selesai dari kamar mandi melangkah mendekati Cherry dan langsung memeluk Cherry dari belakang dan membuat Cherry tersentak kaget. Namun sedikit tersenyum.


Apa lagi ketika Verro mencium lembut pipinya dari belakang. Dan Cherry langsung berbalik badan menghadap Verro tidak jadi menutup jendela.


" Kamu mengantuk?" tanya Verro.


" Belum, aku belum mengantuk?" jawab Cherry.


" Lalu anak kita bagaimana apa dia sudah tidur?" tanya Verro.


" Aku tidak tau, kamu bisa tanya kepadanya langsung," jawab Cherry. Verro tersenyum berlutut di depan Cherry dan langsung mengusap-usap perut ramping Cherry.


" Sayang apa kamu sudah tidur?" tanya Verro yang mengajak calon buah hatinya berbicara Verro menempelkan telinganya di perut Cherry seakan mendengarkan apa kata sang buah hati.


" Ada apa sayang?" tanya Verro, " Baiklah papa akan mengatakannya pada mama mu?" sahut Verro membuat Cherry heran dengan mengkerutkan dahinya. Dan Verro pun berdiri.


" Apa kata anak kita?" tanya Cherry. Verro meletakkan tangannya di pinggang Cherry lalu membawa Cherry lebih dekat dengannya. Mendekatkan wajahnya sedikit menunduk agar bisa menyatukan keningnya dengan kening Cherry.


" Anak kita bilang dia belum mengantuk, dia ingin papanya menemuinya," ucap Verro yang mempunyai maksud lain yang membuat Cherry tersenyum penuh curiga.


" Benarkah!" sahut Cherry mengalungkan tangannya di leher Verro. Verro mengangguk.

__ADS_1


" Kamu pengen mengunjungi anak kita. Atau ingin menghabiskan malam bersamamu?" tanya Cherry dengan menatap curiga. Verro tersenyum mendengarnya.


" Kalau memang mamanya tidak mengantuk apa salahnya jika papanya ingin bersama mamanya dan sekalian ingin mengunjungi calon buah hatinya," sahut Verro.


" Itu sih maunya kamu," sahut Cherry kesal.


" bagiamana apa mamanya bersedia malam ini atau tidak?" tanya Verro memastikan. Cherry jinjit sedikit. Lalu mencium bibir Verro yang sepertinya itu adalah jawabannya. Verro tersenyum dan memegang pipi Cherry dan mencium lembut kening Cherry.


" Aku mencintaimu," ucap Verro.


" Aku juga mencintaimu," sahut Cherry. Verro mendekatkan diri pada wajah Cherry dan langsung mencium bibir Cherry. Cherry memejamkan matanya saat menerima ciuman lembut suaminya yang mengarah kepada hal tertentu.


Ciuman itu bahkan semakin dalam dengan ke-2 tangan Verro yang memegang tengkuk Cherry tangan Cherry yang sudah turun yang sekarang memegang baju Verro dengan erat.


Ternyata ciuman yang romantis itu yang berada di dalam kamar itu dengan jendela yang terbuka itu terlihat oleh Fiona yang masih menunggu Arif. Air mata Fiona menetes saat menyaksikan bagaimana Verro dan istrinya yang bermesraan.


Air mata Fiona seakan memberikan kesadaran padanya. Bahwa sampai kapanpun Verro memang tidak akan bisa di milikinya. Di mana Verro pasti akan selalu mencintai Cherry ada dan tidak adanya Cherry.


Karena tidak ada tempat wanita lain di dalam hati Verro kecuali Cherry seorang. Dan Fiona yang di akhir-akhir hidupnya hanya bisa merelakan dan harus belajar ikhlas.


" Memang sakit melihatnya. Apa lagi perjuanganku yang begitu panjang yang tidak mendapatkan arti yang sampai kapanpun aku tidak akan pernah bersanding dengan mu. Aku tidak akan pernah mendapatkan tempat di sisimu," batin Fiona dengan air mata kesedihan yang mengalir membasahi pipinya.


" Aku tidak tau apakah aku akan menerima semua ini atau tidak," batinnya lagi yang sangat berat hati untuk menerima kenyataan jika harus mengikhlaskan Verro. Berusaha menyadari jika cinta tidak harus memiliki.


" Apa yang kamu lihat," tiba-tiba terdengar suara yang tampak ketus membuat Fiona kaget dan dengan cepat mengusap air matanya dan membalikkan tubuhnya melihat ke belakang di mana yang ternyata suara ketus itu berasal dari Sasy.


" Kamu ngapain di sini Fiona?" tanya Toby.

__ADS_1


" Kamu berusaha untuk mencari cela sedikit untuk merusak rumah tangga orang lain iya," sahut Sasy yang langsung menuduh. Maklum dia memang sangat membenci wanita itu.


" Aku hanya..." sahut Fiona.


" Sudahlah," sahut Sasy langsung memotong pembicaraan tersebut.


" Kamu dengar ya Fiona, jangan suka mengganggu rumah tangga orang, kamu itu tidak pernah sadar diri ya. Sudah tau Verro sudah menikah masih aja berusaha untuk mengganggunya," ucap Sasy.


" Kamu salah paham," sahut Fiona membela diri.


" Alah, kamu pikir aku tidak tau apa yang ada di otak kamu itu. Aku tidak peduli ya mau kamu sakit atau tidak. Bagiku jika di dalam pikiran mu itu masih menyimpan niat jahat. Kamu sakit tidak sakit itu sama saja bagiku," tegas Sasy uang kalau bicara memang tidak pernah melihat situasi.


" kamu benar-benar hanya salah paham. Aku datang kemari hanya menemui Dokter Arif," sahut Fiona yang menangis karena perkataan Sasy.


" Jika ingin menemui Dokter Arif lalu ngapain kamu berdiri di sini. Di mana kamu harus melihat dengan wajah tidak ikhlas mu itu ketika suami orang sedang bermesraan dengan istrinya," sahut Sasy.


" Benar kata Sasy, jika kamu memang ingin menemui Dokter Arif kamu tidak seharusnya berada di sini," sahut Toby yang membela pacarnya.


" Aku tidak bermaksud apa-apa. Sungguh aku benar-benar tidak sengaja," sahut Fiona yang menjelaskan agar Sasy tidak salah paham.


" Alah, banyak alasan," sahut Sasy tidak percaya. Fiona mengusap air matanya dengan tangannya.


" Aku tau kalian tidak ada yang menyukaiku. Mungkin perbuatan ku di masa lalu membuat kalian sampai detik ini tidak mempercayaiku. Tetapi memang benar aku tidak pernah ada niat sedikitpun kepada Cherry. Aku tidak ada niat untuk mengganggunya dan juga menggangu Verro. Aku memang datang kemari hanya untuk mengambil obatku pada Dokter Arif. Hanya itu saja," jelas Fiona. Namun terlihat wajah Sasy sama sekali sedikitpun tidak mempercayai kata-kata Fiona.


" Sasy, aku minta maaf, jika aku pernah menyakitimu. Maafkan aku. Dan aku menerima kebencianmu kepadaku saat ini. Aku menerimanya. Aku menerima kamu tidak mempercayaiku dan juga tidak memaafkanku. Mungkin memang itu pantas untukku," sahut Fiona dengan air matanya kembali menetes berbicara pada Sasy dan Toby yang berusaha membuat ke-2nya mempercayainya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2