
Di tengah perdebatan Sasy dan Fiona yang mana tetap Sasy merasakan aura-aura tidak sedap pada Fiona. Azizi dan Vandy pun pulang dan menghentikan langkah mereka ketika melihat ada drama di sana.
" Ada apa ini?" tanya Vandy heran.
" Nih, nih anak yang berusaha untuk bikin keributan," sahut Sasy yang kesal dan menatap sewot Fiona.
" Maksudnya bagaimana Sasy?" tanya Azizi heran.
" Apa lagi jika tidak dia tidak berusaha memanfaatkan situasi untuk niatnya yang terpendam selama bertahun-tahun," sahut Sasy yang membuat Vandy dan Azizi bingung.
" Sasy, kamu itu bicara yang jelas. Apa yang kamu katakan. Memang ada apa dengan Fiona dan kamu sendiri Fiona ngapain kamu di sini?" tanya Vandy.
" Aku hanya ingin menemui Dokter Arif untuk mengambil obat. Aku tidak ada maksud lain seperti apa yang di katakan Sasy," ucap Fiona menegaskan.
" Aku memang berdiri di sini dan tidak sengaja melihat kekamar Cherry dan Verro. Lalu kenapa jika aku melihatnya. Apa ada yang salah. Kalian tidak tau apa yang aku rasakan. Iya aku menyukai Verro tapi aku sudah sadar jika dia sudah menikah dan memiliki istri," tegas Fiona.
" Kalian bisa bicara seperti karena kalian tidak tau apa yang aku rasakan. Aku hanya berusaha untuk mengubah diriku. Kalian menerima atau tidak. Aku tidak bisa memaksakan itu. Kalian harus tau aku sedang berusaha untuk menerima kenyataan dan ikhlas dengan semuanya," tegas Fiona dengan air matanya yang terus mengalir berusaha membuat orang-orang mempercayainya.
" Ikhlas kamu bilang, orang juga tidak buta. Kita semua bisa melihat wajah kamu itu penuh dengan sandiwara," sahut Sasy yang tidak percaya dengan Fiona.
" Sasy sudah lah. Kamu jangan bicara lagi," sahut Azizi dengan pelan mencoba mencegah keributan yang semakin memanjang. Sasy pun diam namun tetap wajahnya begitu kesal.
" Kalian semua sudah pulang," sahut Arif yang datang dengan membawa kantung plastik kecil. Fiona langsung mengusap air matanya.
" Ada apa ini?" tanya Arif bingung melihat suasana tegang.
" Fiona kamu kenapa?" tanya Arif heran yang melihat Fiona yang menangis.
__ADS_1
" Tidak apa-apa Dok, mana obat saya," sahut Fiona yang langsung meminta obatnya.
" Ini," sahut Arif memberikan.
" Kalau begitu saya permisi dulu. Saya tidak ingin membuat kekacauan di tempat ini. Maaf jika kehadiran saya sudah mengganggu kalian. Sungguh saya sama sekali tidak bermaksud," ucap Fiona.
" Sebenarnya ada apa ini. Kenapa Fiona menangis seperti ini?" tanya Arif yang tampak khawatir.
" Dia menangis, karena melihat Pria yang di cintainya bercumbu dengan istrinya," sahut Sasy kesal. Fiona bertambah sedih dengan tuduhan. Padahal memang tidak tuduhan tetapi kenyataan. Karena memang dia tadi meneteskan air mata karena melihat Verro dan Cherry.
" Terserah kamu Sasy mau bicara apa. Karena apapun yang aku katakan. Apapun yang aku jelaskan. Kamu tidak akan mempercayaiku. Aku datang sudah jelas untuk obat ini. Aku minta maaf sekali lagi. Karena sudah mengganggu ketengan kalian," tegas Fiona.
" Dokter, saya permisi dulu," ucap Fiona yang langsung pergi.
" Fiona, tunggu dulu masalahnya belum selesai," sahut Arif sedikit berteriak. Namun Fiona tetap melanjutkan langkahnya dan berlari dan berpapasan dengan Nadya dan
" Kamu tidak apa-apa?" tanya Varell pada Nadya. Nadya menggeleng dan mereka melangkah mendekati teman-temannya yang wajahnya tegang-tegang.
" Kenapa dia?" tanya Varell masih menengok kebelakang nya melihat punggung Fiona.
" Berdebat paling sama Sasy," sahut Vandy.
" Siapa yang berdebat, dia nya aja yang mencari-cari kesempatan untuk merusak rumah tangga orang," sahut Sasy kesal.
" Sasy, kamu itu berlebihan. Fiona datang kemari. Memang untuk mengambil obatnya. Karena saya lupa memberikan kepadanya," sahut Arif memberi penjelasan.
" Jangan mentang-mentang dia pasien dokter. Dokter harus membelanya. Apapun itu dengan apa yang aku lihat aku tau siapa dia," sahut Sasy dengan kesal.
__ADS_1
" Saay, sudahlah, kamu jangan malah emosian," sahut Toby mencoba memengankan pacarnya.
" Siapa nggak emosian. Jika semua orang di sini sepertinya sangat simpatik kepadanya," sahut Sasy geram.
" Sasy apa maksud kamu. Kita jelas simpatik pada Fiona. Karena dia sedang sakit. Di mana kita harus memberinya doa. Bukan malah membuatnya sedih," sahut Nadya yang selalu bersikap netral.
" Iya Sasy, seperti yang saya katakan. Fiona sedang sakit kanker stadium akhir. Jadi kamu harus menjaga ucapan kamu yang membuatnya bertambah pikiran dan akhirnya kondisinya semakin menurun," sahut Dokter Arif yang memberi peringatan pada Sasy.
" Jadi hanya karena dia sakit. Kalian semua jadi membelanya," sahut Sasy tampak emosinya mulai bertambah.
" Sasy, sudahlah kamu jangan bicara yang mengada-ada, lagi sudahlah," sahut Vandy yang malas ribut.
" Apa-an sih Vandy. Kamu juga membelanya. Kamu simpatik karena dia sakit. Kalian lupa apa yang dia lakukan dan kamu juga lupa bagaimana dia membuat luka, kamu ada di sana saat dia mendorongku dan menamparku," sahut Sasy emosian yang malah memarahi Vandy.
" Iya aku ingat. Tapi jelas kata kak Arif. Kita tidak perlu harus membuat Fiona tambah sakit. Kita memang punya masalah dengannya. Tetapi kembali lagi. Kita manusia yang punya hati yang kalau ingin menyerang harus melihat siapa yang kita serang!" tegas Vandy yang mencoba memberikan Sasy arahan.
" Sasy kamu seperti ini. Mungkin kamu tidak tau apa itu kanker. Apa yang di alami Fiona mungkin kamu tidak tau rasanya," sahut Azizi yang mengeluarkan suaranya membuat Sasy menatapnya serius.
" Apa maksud kamu Azizi?" tanya Sasy dengan suara menekan.
" Fiona adalah penderita kanker dan pasti itu berat untuknya. Sama halnya dengan ku. Anakku penderita kanker dan Itu sangat berat saat aku mengetahuinya. Kamu tidak akan mengerti Sasy apa yang di alami orang-orang yang memiliki penyakit mematikan itu. Baik penderita atau orang terdekatnya seperti aku sebagai ibu itu penuh ketakutan dan kamu tidak akan paham itu. Makanya kamu bisa berbicara suka-suka pada Fiona dan merasa tidak ingin berdamai dengannya," lanjut Azizi membuat wajah Sasy memerah yang mendapat ceramah yang menusuk itu.
" Apa maksud kamu Azizi. Apa kamu ingin mengatakan aku wanita yang tidak punya hati yang tidak iba sedikitpun pun kepada orang yang penyakitan," sahut Sasy menekan suaranya.
" Bukan itu maksudku. Aku hanya merasa kamu tidak mengerti karena bukan kamu yang mengalaminya," jelas Azizi yang semua orang semakin tegang yang sekarang malah tampaknya Sasy dan Azizi yang berdebat.
Bersambung
__ADS_1