
Mereka yang masih saling menatap, akhirnya Azizi yang tersadar dengan cepat dan langsung melepaskan diri dari Vandy, sehingga Azizi kembali berdiri tegak. Dan Vandy juga kembali fokus dan melihat ke arah 2 Pria itu.
" Maaf, Bu Azizi, kami tidak bermaksud seperti itu. Tetapi Bu Azizi yang membuat saya, harus mendorong Bu Azizi, saya sudah mengatakan berkali-kali. Kami hanya menjalankan tugas. Jadi maafkan kalau apa yang kami lakukan membuat Bu Azizi terluka," ucap salah satu pria yang terlihat menyesal dengan tindakannya.
" Memang ada apa ini?" tanya Vandy kepada 2 Pria itu yang penasaran apa yang terjadi. Apa lagi menyaksikan sendiri Azizi yang menangis-nangis dan memohon. Pertanyaan Vandy membuat Azizi tampak cemas.
" Tidak ada apa-apa," jawab Azizi yang sepertinya ingin menyembunyikan dari Vandy. Memang menurutnya. Tidak seharunya Vandy harus ikut campur dan tidak harus tau dengan masalahnya.
" Ada apa ini pak?" tanya Vandy pada 2 pria itu. Ke-2 pria itu saling melihat. Vandy melihat ke pagar rumah Azizi yang melihat ada tulisan Rumah ini di sita oleh Bank
Dugaan Vandy benar. Jika orang-orang yang terlihat rapi itu adalah pihak dari Bank.
" Ini bukan urusan kamu. Sebaiknya kamu pergi!" usir Azizi yang tampak tidak ingin Vandy ikut campur.
" Azizi," ucap Vandy.
" Sudah lah Vandy," sahut Azizi yang tidak ingin Vandy ikut campur.
" Maaf, kami permisi dulu. Kami hanya meminta kerja sama dari Bu Azizi. Agar mengosongkan rumah ini. Jika tidak kami akan melakukan pengusiran secara paksa. Sekali lagi saya mengatakan, kami hanya menjalankan tugas," ucap petugas bank mengingatkan sekali lagi pada Azizi.
" Jadi Azizi terkendala dengan biaya. Rumahnya di sita karena pembayaran yang tidak tepat," batin Vandy yang sudah bisa menarik kesimpulan dari apa yang di lihatnya.
" Baiklah. Kalau begitu kami permisi," ucap mereka yang langsung pergi.
Azizi terlihat frustasi dengan masalahnya yang datang bertubi-tubi. Azizi mengusap wajahnya dengan kasar, dengan perasaannya yang benar-benar sangat hancur.
" Kenapa masalah sebanyak ini, tidak ada satupun yang terselesaikan," ucapnya langsung pergi dan membiarkan Vandy di tempatnya.
Azizi masuk kedalam rumahnya dan Vandy menarik napasnya panjang dengan membuangnya perlahan melihat kepergian Azizi yang masuk rumahnya.
Vandy melihat di sekitarnya dan langsung memasuki rumah Azizi. Tidak disuruh. Tetapi dia ingin masuk saja.
Vandy memasuki rumah Azizi yang bisa di katakan lumayan besar, kepala Vandy berkeliling melihat isi rumah tersebut dan pandangannya berhenti yang melihat Azizi di ruang tamu duduk dengan mengusap wajahnya dengan ke-2 tangannya, sekali-kali juga melihat Azizi menyisir rambutnya kebelakang dengan 5 jarinya.
__ADS_1
Wajah Azizi tidak bisa bohong. Bahwa dia benar-benar sedang frustasi. Mungkin pikirannya juga tidak bisa berfungsi sekarang. Karena masalahnya yang semakin banyak.
Rumahnya memang di gadaikannya, karena untuk menutup biaya kehidupan nya dengan Iqbal dan di tidak bisa membayar. Karena tabungannya habis untuk biaya pengobatan Iqbal yang semakin menumpuk.
Vandy melangkahkan kakinya tetapi bukan ketempat Azizi. Tetapi Vandy melangkah ke meja makan yang tidak jauh dari ruang tamu. Vandy mengambil gelas dan menuangkan air putih. Lalu melangkah mendekati Azizi dan memberikan gelas yang berisi air putih itu pada Azizi.
Azizi yang menunduk mengangkat kepalanya dan melihat Vandy yang memberinya air putih.
" Minumlah!" ucap Vandy yang merasa jika Azizi membutuhkan air untuk menenangkan dirinya. Dengan perlahan tangan Azizi pun mengambil gelas yang berisi air itu dan meminumnya. Vandy sedikit tersenyum. Lalu duduk di samping Azizi.
Minuman 1 gelas yang di berikan Vandy pun habis semuanya dan Azizi pun meletakkan gelasnya di atas meja.
" Makasih," ucap Azizi yang merasa sedikit leluasa. Karena tenggorokannya yang kering sudah terisi.
" Apa kau sudah baik-baik saja? tanya Vandy. Azizi mengangguk pelan. Walau pasti dia tidak baik-baik saja. Karena memang tidak mungkin dia baik-baik saja.
" Ikutlah denganku!" ucap Vandy.
" Apa maksud kamu?" tanya Azizi heran dengan perkataan Vandy yang tidak masuk akal.
" Aku mengatakan ikutlah denganku," ucap Vandy memperjelasnya.
" Untuk apa?" tanya Azizi heran.
" Kamu tidak bisa sendirian Azizi. Aku tidak mau kamu sendirian. Jadi ikutlah denganku," ucap Vandy dengan tulus.
" Kamu kasihan kepadaku?" tanya Azizi yang tersinggung dengan Vandy yang tampak, hanya simpatik kepadanya.
" Aku tidak kasihan dengan kamu. Aku hanya tidak bisa melihatmu mengalami hal ini sendirian. Jadi ikut lah denganku. Mari kita selesaikan semuanya bersama-sama," ucap Vandy dengan tulus.
" Bersama-sama, kenapa harus bersama-sama?" tanya Azizi heran.
" Memang harus bersama-sama. Karena kamu tidak bisa menghadapi semuanya sendirian. Jangan salah paham, jelas aku tidak ada maksud apa-apa. Aku hanya ingin kamu tau. Kalau kamu tidak sendirian dalam melakukan semua ini," ucap Vandy dengan penjelasannya agar Azizi tidak salah paham dengan apa yang di lakukannya.
__ADS_1
*********
Verro memasuki kamar dan melihat istrinya masih berada di atas ranjang dan sudah memiringkan tubuhnya. Tetapi Verro sangat tau jika sang istri sepertinya sudah bangun.
Verro mendekati ranjang dan menghampiri Cherry, mengusap-usap rambut Cherry sudah bangun.
" Kita makan sebentar," ucap Verro dengan lembut mengajak Cherry untuk makan. Cherry membalikkan tubuhnya dan memeluk Verro yang berada di belakangnya.
" Aku tidak lapar," jawab Cherry. Yang tidak bernafsu untuk makan.
" Tapi kamu belum pernah makan. Jadi mari makan. Agar perut kamu tidak kosong," bujuk Verro.
Cherry melihat ke arah suaminya itu. Verro mencium kening istrinya, melihat wajah istrinya yang masih penuh kesedihan.
" Kita makan ya," ucap Verro lagi yang membujuk Cherry.
" Mau kan?" tanya Verro lagi. Cherry mengangguk.
" Setelah makan. Kita ketempat papa," ucap Cherry yang kembali meneteskan air matanya. Verro tersenyum mendengarnya.
" Hmmm, kita akan menemui papa, kita akan berkunjung tempat papa," ucap Verro yang tidak masalah. Jika istrinya ingin berkunjung lagi. Walau Verro tau Cherry tetap akan sedih. Jika kesana. Tetapi tetap saja. Dia akan melakukan apapun demi Cherry.
" Memang kamu tidak Kerumah sakit?" tanya Cherry.
" Aku mengambil cuti beberapa hari ini. Jadi tidak apa-apa jika aku tidak Kerumah sakit," ucap Verro yang memang sudah mengambil cuti untuk Cherry.
Dia memang harus meluangkan waktunya untuk Cherry. Jadi dia sengaja mengambil cuti. Agar bisa menghabiskan waktu bersama istrinya.
" Apa kamu cuti karena aku?" tanya Cherry merasa tidak enak.
" Tidak sama sekali. Aku cuti memang waktunya sudah cuti," jawab Verro.
Bersambung....
__ADS_1