
Hari ini Iqbal akan di operasi dan sekarang Iqbal masih berada di atas tempat tidur dengan yang mana semua orang sudah ada di sana. Yang pasti tak lain adalah mamanya papanya kakek neneknya.
Ada juga Verro, Sasy, Raquel yang pasti mengambil alih untuk mengoperasi Iqbal dan ada juga Cherry, Nadya dan Varell yang juga pasti untuk menguatkan Azizi di sana. Sementara untuk Toby memang tidak ada di sana. Karena Toby memang ada jadwal penerbangan.
Operasi Iqbal akan di laksanakan 20 menit lagi. Azizi yang panik terus menggengam tangan putranya.
" Sayang, kamu jangan takut ya. Tidak akan sakit," ucap Azizi memberikan istrinya kekuatan.
" Iya ma. Iqbal tidak takut kok, justru mama yang membuat Iqbal takut. Karena mama terus menangis. Iqbal tidak mau mama sedih," ucap Iqbal. Azizi langsung dengan cepat mengusap air matanya.
" Tidak kok sayang, mama tidak menagis, mama hanya ke lilipan," sahut Azizi dengan tersenyum berusaha menutupi kesedihannya. Iqbal meraih tangan Vandy yang di samping Azizi dan menyatukan tangan itu di atas perutnya dan juga di tumpuknya dengan tangannya.
" Mama sama papa harus janji. Kalau Iqbal nanti sudah sembuh dan tidak sakit lagi. Mama sama papa tidak boleh ribut. Mama sama papa jangan bertengkar dan haru selalu sama-sama," ucap Iqbal.
" Iya, kamu jangan khawatir, papa akan melakukannya. Makanya Iqbal harus sembuh," ucap Vandy berjanji. Iqbal tersenyum mendengarnya.
" Mama papa janji ya. Jika Iqbal sembuh mama dan papa tidak boleh pisah," ucapnya lagi yang butuh kepastian. Azizi tampaknya ragu menjawabnya. Karena pada hakikatnya dia dan Vandy menikah untuk kesembuhan Iqbal dan jika Iqbal sembuh, dia juga tidak tau bagaimana lagi akhirnya.
" Mama!" tegur Iqbal yang melihat mamanya bengong.
" Ha, iya sayang kenapa?" tanya Azizi.
" Mama kenapa diam, mama tidak menjawab sama sekali," ucap Iqbal. Yang lainnya juga menunggu jawaban Azizi.
" Pasti, mama akan janji sama Iqbal, mama akan terus sama papa dan juga sama Iqbal," sahut Azizi. Iqbal tersenyum mendengarnya.
" Ya Allah, mungkin anak ini adalah anugrah yang kau berikan untuk mempersatukan Vandy dan juga Azizi," batin Lina yang tersenyum bercampur haru saat melihat semuanya.
" Ya sudah Iqbal, sekarang kita masuk ke ruang operasi ya," ucap Verro.
" Baik Dokter," jawab Ikbal.
" Iqbal yang semangat ya," ucap Cherry.
" Iya Tante Cherry," sahut Iqbal dengan ceria.
" Ya sudah sekarang kita akan masuk ruang operasi," ucap Raquel dengan tersenyum Iqbal mengangguk-angguk. Mereka saling melihat dan dibantu suster untuk mendorong ranjang itu ke ruang operasi.
Saat Iqbal dan suster sudah memasuki ruang operasi. Azizi mendekati Verro.
__ADS_1
" Aku mohon Verro, tolong selamatkan Iqbal," ucap Azizi memohon dengan wajahnya khawatir. Verro mengusap pundak Azizi.
" Kamu percayakan kepada kami ya. Kami akan melakukan yang terbaik, kamu tunggu dan berdoa saja dan semuanya akan baik-baik saja," ucap Verro.
" Iya Azizi, kamu tenang saja. Karena ketenangan kamu akan memberikan energi positif untuk Iqbal," sahut Sasy.
" Iya aku serahkan kepada kalian semuanya," sahut Azizi.
" Ayo kita masuk!" sahut Raquel, Verro dan Sasy mengangguk lalu pergi langsung memasuki ruangan operasi.
Nadya dan Cherry langsung mendekati Aziz i merangkul Azizi dan membawa Azizi untuk duduk agar lebih tenang.
" Kita berdoa ya," ucap Cherry. Azizi mengangguk.
" Semoga, operasi berhasil," sahut Nadya.
" Amin," sahut semuanya serentak.
***********
Operasi belum selesai. Walau sudah berjalan kurang lebih 2 jam. Tetapi belum selesai juga dan Lina, Rudi, Cherry dan Azizi masih menunggu dan Nadya tidak ada di sana yang mana ternyata Nadya sedang membeli makanan yang ternyata Varell menemaninya.
" Masih ada lagi?" tanya Varell yang berdiri di samping Nadya.
" Tidak! ini saja sudah cukup," jawab Nadya.
" Ya sudah kalau memang sudah cukup. Ayo kita pulang!" ajak Varell. Nadya mengangguk dan langsung mengambil kantung plastik yang di pegang Nadya mengambil alih untuk membawanya.
" Aku bisa sendiri," ucap Nadya menolak.
" Tidak apa-apa, biar aku saja. Lagian tidak akan masalah," sahut Varell.
" Tapi..." sahut Nadya.
" Sudah ayo jalan," ajak Varell yang berjalan terlebih dahulu dan mau tidak mau Nadya pun akhirnya mengikut saja.
*********
Di dalam ruang operasi. Sasy, Raquel, Verro dan beberapa suster sedang mengoperasi Iqbal. Beberapa kali suster melap keringat Verro operasi berjalan sudah sangat lama.
__ADS_1
Di depan ruang operasi juga menunggu dengan penuh ketegangan. Tidak Azizi ataupun Vandy yang lainnya juga tegang menunggu hasil operasi tersebut.
" Ya Allah, aku mohon berikan anakku kesembuhan," batin Azizi yang tidak henti-hentinya berdoa.
" Ya Allah, aku hanya seorang ayah tidak bertanggung jawab yang kali ini hanya meminta kesembuhan untuk putraku. Agar aku bisa menebus banyak kesalahanku kepadanya," batin Vandy.
" Aku tau apa yang di rasakan Iqbal. Dia masih kecil. Dia anak yang kuat, aku mohon ya Allah, agar operasinya berjalan dengan lancar dan penyakitnya hilang dari tubuhnya," batin Cherry.
" Anak itu adalah titipan mu. Anak itu sangat pintar dan sangat baik. Berikan dia kesembuhan agar bisa bersama keluarga kecilnya," ucap Nadya di dalam hatinya.
" Aku berharap operasi ini benar-benar lancar," batin Varrell.
Semua memiliki doa masing-masing untuk kesembuhan Iqbal yang masih kecil. Semua orang sangat menyayanginya dan menginginkan kesembuhan untuknya.
Lampu operasi menyala dan berakhirnya operasi tersebut. Tidak lama dari situ. Pintu operasi terbuka dan Verro yang masih memakai pakaian operasi. Azizi langsung berdiri dan menghampiri Verro.
" Verro, bagaimana Iqbal?" tanya Azizi dengan tangannya yang bergetar yang menunggu jawaban itu.
" Verro apa operasinya berhasil?" tanya Vandy yang juga sangat panik. Verro mengangguk.
" Operasinya berhasil," jawab Verro memberikan kabar membahagiakan itu.
" Alhamdulillah," sahut semuanya serentak mengucap sukur dengan mengusap wajah mereka dengan tangannya.
" Terima kasih ya Allah, terima kasih," ucap Azizi yang mengucap syukur bahkan sampai sujud syukur yang tidak percaya dengan operasi sang anak yang berhasil.
Cherry dan Nadya langsung berjongkok untuk mendekati temannya itu dan langsung memeluk Azizi mereka juga merasakan kebahagian yang pasti sama dengan Azizi. Sementara Vandy mengahampiri Verro dan memeluk Verro sebentar.
" Thanks ya kamu sudah bantuin Iqbal," ucap Vandy.
" Aku hanya Dokter sebagai perantara," sahut Verro.
" Alhamdulillah, lalu apa Iqbal sudah bisa di lihat?" tanya Lina yang juga terharu.
" Nanti kami akan memindahkan Iqbal ke ruang perawan. Baru kita akan melihatnya bersama-sama," jawab Verro.
" Terima kasih nak Verro, sudah banyak membantu kami," ucap Lina.
" Tidak, tidak ada yang saya lakukan. Seperti yang saya bilang tadi. Saya hanya sebagai Dokter," sahut Verro.
__ADS_1
Bersambung