
Cherry tampaknya memang tidak ingin membahas masa lalu. Dia pasti mengingat kata-kata Fiona saat study tour di mana bahkan Fiona yang membuatnya menjadi wanita lemah. Tetapi hal itu di anggap masa lalu baginya.
" Cherry, ma kebaikan jadi orang makanya gampang-gampang aja bilang semuanya masa lalu," sahut Sasy.
" Tau nih, Cherry, gini ya kita itu boleh baik, tapi ya harus ingat-ingat juga dong gimana perbuatan orang dan terutama untuk Fiona masa iya perbuatannya nggak di ingat," Raquel, " jangan lupa Cherry dia itu licik, diam-diam hatinya berbahaya," lanjut Raquel dengan berbisik.
" Dengerin tuh Raquel ngomong," sahut Sasy yang mendukung Raquel.
" Ihhhhh, kalian ini ya benar-benar. Sudah-sudah jangan membahas Fiona lagi. Dia itu sedang sakit. Apapun yang terjadi di masa lalu. Biar menjadi masa lalu. Lagian kita harus melihat kondisinya yang sekarang sudah berbeda. Kita mengenal Fiona dan jika kita sudah tau apa yang terjadi padanya. Sebagai temannya, sebagai orang yang mengenalnya kita harus mendoakannya bukan malah merasa bersyukur atas musibah yang menimpanya," jelas Cherry dengan bijaksana memberi kan arahan pada temannya.
Sasy dan Raquel hanya menanggapi datar saja. Mereka memang tau Cherry sangat baik. Jadi wajar saja, kalau Cherry seperti itu.
" Jadi sudah ya, jangan di bahas lagi. Mari kita mendoakan semuanya yang terbaik," sahut Cherry.
" Iya deh kita doain yang terbaik," sahut Sasy sangat jelas tidak ikhlas.
" Hmmm, gitu dong. Oh iya kalian sudah pada siap-siap belum, sudah packing dan segalanya," sahut Cherry tiba-tiba membuat Raquel dan Sasy saling melihat sepertinya heran dengan perkataan Cherry.
" Memang mau kemana?" tanya Sasy heran.
" Kok malah tanya sih, orang pacarnya yang buat rencana dari awal," sahut Cherry.
" Toby, memang rencana apaan," sahut Sasy memang sepertinya tidak tau apa-apa.
" Ya ampun Sasy. Kemarin kan Toby ngajakin kita semua untuk liburan ke Bali, sebelum Vandy menikah. Lalu Vandy menikah dan liburannya di batalkan. Lalu di ganti liburan ke Jepang sekalian bukan madu Vandy dan Azizi," jelas Cherry. Wajah Sasy tampak terkejut sepertinya memang tidak mengetahui rencana baru itu.
" Aku kok nggak tau ya," sahut Sasy dengan bengong.
" Kamu sih, kebanyakan mengurusi orang lain. Makanya rencana berubah tidak tau apa-apa," sahut Cherry geram.
__ADS_1
" Lalu kapan berangkatnya?" tanya Raquel.
" Hmmm, lusa," sahut Cherry.
" Secepat itu," sahut Sasy tampak terkejut. Cherry mengangguk tersenyum.
" Ya ampun, kok Toby nggak cerita apa-apa. Kenapa dia gak bilang kalau rencananya di ubah. Ishhh, persiapannya malah singkat lagi. Malah harus ini itu lagi. Ihhhh, Toby mah, benar-benar ya," ucap Sasy kesal yang kepanikan dan langsung menyalahkan pacaranya.
Raquel dan Cherry hanya saling melihat dan geleng-geleng melihat kepanikan temannya itu.
" Ya ampun Sasy, nggak usah lebay deh, aku aja juga baru tau. Aku juga belum ngapain-ngapain. Kita sama, jadi nggak usah heboh deh," sahut Raquel.
" Gimana nggak panik apa-apa belum di siapin. Apa lagi kita akan pergi ke Jepang. Kan persiapannya lebih banyak," sahut Sasy dengan wajahnya yang semakin panik.
" Sasy, tenanglah, nggak usah panik. Mending kamu sama Raquel hari ini mengurus cuti. Sama kayak Verro. Dia juga haru ini sedang mengurus cuti," sahut Cherry memberi saran.
" Sama aja Cherry. Aku belum siapin apa-apa," sahut Sasy.
" Iya kita sama kok, aku juga tidak nyiapin apa-apa. Jadi nggak usah terlalu panik. Kita juga masih ada waktu satu hari buat persiapan. Jadi stop panik mendadak," sahut Raquel.
Sasy terlihat berpikir. Wajah paniknya juga bahkan belum hilang.
" Tetap aja ini salah Toby," sahut Sasy masih menyalahkan pacarnya.
" Mungkin Toby sibuk jadi nggak sempat kasih tau kamu," sahut Cherry membela temannya.
" Tetap aja dia seharusnya memberi tahuku," sahut Sasy yang tetap kesal.
" Ishhhh, terserah kamu deh. Yang penting kita siapa-siapa aja," sahut Raquel.
__ADS_1
" Benar, nggak usah buang-buang waktu," sahut Cherry. Sasy pun terlihat mengangguk dan sepertinya sudah mulai tenang sedikit. Walau dia juga akan memikirkan kembali. Bagaimana dia akan sangat sibuk dan pasti akan terburu-buru karena persiapan yang baginya sangat sedikit.
**********
Vandy dan Azizi berada di dalam kamar. Setuju tidak setuju Azizi memang akan mengikuti kepergian ke Jepang untuk berbulan madu dan apalagi ini teman-temannya juga ikut. Jadi dia juga tidak bisa berbuat apa-apa.
Azizi juga terlihat di kamarnya sedang mempersiapkan pakaian yang akan di bawa untuk ke Jepang dan selain itu juga mempersiapkan yang lainnya yang memang di pentingkan di sana.
Tiba-tiba Vandy memasuki kamar dan melihat Azizi yang tampak mempersiapkan diri. Vandy melihat Azizi yang sama sekali tidak melihatnya. Tidak tau juga. Azizi menyadari kedatangan Vandy atau tidak.
Tetapi pada intinya Azizi tetap pada pekerjaannya. Di saat Vandy memasuki ruangan itu. Vandy menarik napasnya panjang dan membuangnya perlahan kedepan.
" Aku tidak bisa menolak perkataan mama dan papa," sahut Vandy. Azizi melihat Vandy sebentar dan kembali mengerjakan pekerjaannya.
" Kita menikah untuk tujuan yang kita ketahui apa itu. Jadi tidak ada yang perlu di Khawatirkan. Karena memang kita harus melakukannya," sahut Azizi tampak santai bicara. Yang pasti Vandy mengerti apa maksud Azizi.
" Apapun itu. Aku tidak akan melakukannya jika kamu masih keberatan. Karena aku tidak ingin memaksamu," sahut Vandy membuat Azizi kembali melihatnya dan kali ini melihatnya dengan tatapan yang mempunyai arti.
" Tidak perlu meminta persetujuanku. Aku ingin dan tidak ingin. Itu mang harus kita lakukan untuk Iqbal," sahut Azizi.
" Azizi, aku ingin melakukannya. Dia saat kamu siap tanpa kamu merasa di paksa," sahut Vandy.
" Apa yang kamu harapkan Vandy. Apa aku ingin melakukannya dengan cinta," sahut Azizi, Azizi menjeda ucapannya dan menggeleng-gelengkan kepalanya. " Aku Tidka mungkin melakukannya dengan cinta. Aku hanya akan melakukannya. Karena pernikahan yang di laksanakan karena untuk kesembuhan Iqbal dengan memberikan tulang sumsum pada Iqbal," tegas Azizi yang kembali melanjutkan pekerjaannya. Vandy terdiam mendengarnya.
" Jadi berhentilah berpikir yang lain," lanjut Azizi sambil melanjutkan pekerjaannya.
" Aku tau Azizi, hari kamu belum bisa memberiku maaf dan juga tidak bisa kembali mencintaiku. Tetapi seperti yang aku katakan pernikahan ini. Bukan hanya semata untuk Iqbal. Tetapi untuk memulai semuanya dan aku akan kembali bisa masuk dan mendapat semua kesempatan itu," batin Vandy yang hanya terus menerus melihat Azizi yang tidak mempedulikannya sama sekali.
Vandy tidak bicara lagi. Vandy pun akhirnya keluar dari kamar itu. Setelah kepergian Vandy Azizi terlihat membuang napasnya panjang kedepan.
__ADS_1
" Ya ampun Azizi apa yang kamu katakan tadi. Lalu bagaimana jika dia melakukannya sekarang," batin Azizi yang tampak tadi salah bicara dan sekarang malah sedikit panik dengan ucapannya sendiri.
Bersambung