
Cherry dan Verro masih berada di pemakan dan tidak tau sudah berapa jam mereka ada di sana. Verro dan Cherry duduk di samping makam Laskarta dengan kepala Cherry yang menyandar di bahu Verro.
Tangan Verro yang berada di pundak Cherry. Mengusap-usap pundak itu untuk memberikan kekuatan pada Cherry. Dengan satu tangan Verro yang menggenggam erat ditangan Cherry.
Air mata Cherry tidak pernah berhenti keluar. 2 bola mata itu terus melihat ke arah batu nisan itu. Bola mata yang tampak lelah dan memandang dengan mata kosong. Tidak ada lelahnya untuk Cherry, untuk tidak menangis.
" Kenapa papa sampai berpikiran pendek seperti itu? Apa papa tidak memikirkan dirinya. Kenapa dia sampai melakukan hal itu?" tanya Cherry dengan suara seraknya. Pertanyaan itu sudah beberapa kali di ucapkannya.
" Cherry, pikiran papa tidak pendek justru sangat mencintaimu. Makanya dia melakukan hal itu, dia ingin memberikan kamu kehidupan, kebahagian, dia melakukan itu. Untuk putri kesayangannya," jawab Verro yang menjelaskan berkali-kali. Cherry tersenyum palsu mendengar omongan Verro.
" Lalu apa papa pikir aku akan bahagia. Mana mungkin Verro, aku mana mungkin bahagia. Mana ada anak yang bisa hidup bahagia. Setelah orang tuanya memberikan organ tubuhnya untuk kehidupan anaknya. Mana mungkin Verro aku bisa bahagia, itu sama sekali tidak mungkin Verro," ucap Cherry menyeka terus air matanya.
" Kamu tidak boleh seperti ini. Jika papa mendengarnya. Papa akan marah. Dia akan merasa sia-sia selama ini. Dia akan kecewa. Karena putri kesayangannya tidak menghargai usahanya. Dia akan benar-benar sangat marah Cherry, jadi jangan bicara seperti itu," ucap Verro.
" Tapi Verro, aku yang sudah membuat papa pergi. Apa aku anak yang baik?" tanya Cherry melihat ke arah Verro dengan derain air matanya yang tidak pernah berhenti mengalir.
" Aku jahat Verro, dari dulu, aku menyusahkan papa. Membuat pikiran papa tidak pernah tenang. Membuat papa terus khawatir. Aku benar-benar jahat. Sampai akhirnya papa harus mendonorkan jantungnya untukku hanya karena aku harus hidup. Aku benar-benar anak yang jahat Verro. Aku tidak pernah berguna. Aku sangat jahat," ucap Cherry yang menyalahkan dirinya atas kematian papanya.
Verro geleng-geleng dengan mengusap air mata Cherry dengan ke-2 tangannya. Menatap istrinya itu dengan dalam-dalam.
" Kamu tidak jahat, kamu sangat berguna, semua yang terjadi bukan kesalahan kamu. Jadi berhentilah menyalahkan diri sendiri. Kamu tidak bersalah. Sama sekali tidak bersalah," ucap Verro yang menjelaskan lada istrinya. Dia terus menekankan pada istrinya agar tidak menyalahkan dirinya sendiri.
__ADS_1
" Cherry, sudah ya, kamu jangan memikirkan hal-hal yang lain lagi. Sekarang kita pulang ya. Ini sudah sore. Kamu bisa sakit. Jika terus berada di sini, kamu harus tenangkan diri kamu dulu. Kamu tidak boleh memikirkan hal-hal yang lain lagi," ucap Verro memberikan istrinya saran.
" Kita pulang ya," ucap Verro yang membujuk istrinya. Cherry pun akhirnya mengangguk. Mau di ajak pulang oleh suaminya.
Verro kembali menghapus air mata Cherry, mencium kening Cherry dengan lembut. Lalu membantunya berdiri tangannya pasti tidak lupa untuk tidak menggenggam tangan Cherry dengan erat.
Dia tidak akan membiarkan sang istri kesepian, merasa sendiri. Karena Cherry adalah tanggung jawabnya. Kepercayaan yang di berikan kepadanya. Harus benar-benar di pegangnya. Karena tidak ingin Laskarta kecewa dengan dirinya.
*********
Hari yang cerah sudah berganti menjadi malam. Mereka juga sudah kembali dari pemakan dan sudah sampai di rumah. Cherry berada di atas ranjang dengan menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang.
..." Sayang, papa sangat mencintai kamu. Kamu sama Verro ya. Verro yang akan menjaga kamu. Tugas papa sudah selesai. Kamu selalu bilang sama papa, kalau kamu sangat mencintai Verro. Jadi papa akan berikan kamu pada Verro. Dia juga sangat mencintaimu sama seperti papa. Papa juga tidak ingin Verro kesepian. Jadi papa akan titip Verro untuk kamu....
..." Papa sangat menyayangi kamu, kamu akan bahagia dengan Verro. Karena Verro yang sangat mencintai kamu dan pasti Verro akan membahagiakan putri kesayangan papa,"...
..." Sayang, jangan pernah merasa bersalah dengan semua yang terjadi. Apa yang papa berikan kepada kamu. Sama sekali tidak ada apa-apanya. Papa memberikan semuanya kepada kamu. Untuk kehidupan kamu dengan suami kamu. Jadi apa yang papa berikan. Bukanlah sebuah pengorbanan....
..." Kamu tidak bersalah, sama sekali tidak bersalah. Kamu adalah putri papa yang sangat papa cintai. Sekali lagi ingat pesan papa apa semuanya bukan kesalahan kamu. Papa memang sudah waktunya pergi. Papa ingin menemui mama kamu. Mama dan papa akan terus ada di hati kamu....
..." Kami akan terus bersama kamu, kami tidak pernah pergi. Kami akan ada di hati kamu. Kami sangat mencintai kamu. Papa sangat menyayangi kamu. Kalau kamu rindu sama papa dan mama kamu bisa melihat kami di atas sana. Karena kami berada di antara bintang-bintang. Kami akan bersama kamu terus dan tidak pernah jauh dari kamu,"...
__ADS_1
Air mata Cherry mengalir deras membasahi pipinya. Tetasan air mata itu juga menetes ke lembaran surat itu. Isak tangisnya yang semakin banyak dengan perasaannya yang benar-benar hancur.
Niatnya ingin memberi sang papa kejutan. Tetapi dia malah di kejutkan dengan kematian papanya dan kematian karena jantung yang ada di dalam organ tubuhnya. Adalah jantung dari papanya yang akhirnya meninggal karena memberinya kehidupan.
" Cherry sayang sama papa. Papa sama mama harus tetap pantai Cherry, harus tetap jaga Cherry. Jangan pernah lepas dari memantau Cherry," ucap Cherry dengan suara seraknya.
Krekkk.
Pintu kamar terbuka yang ternyata adalah Verro memasuki kamar dan melihat istrinya yang mengais sengugukan yang pasti dia tau apa yang terjadi pada istrinya adalah luka yang sangat perih untuknya.
Verro mendekati ranjang itu dan naik ke atas ranjang dan langsung meraih istrinya kedalam pelukannya. Dengan mengusap-usap bahu Cherry dan mencium pucuk kepala Cherry. Memberikan Cherry kekuatan penuh. Agar Cherry benar-benar tidak terpukul.
" Aku masih tidak percaya. Jika papa benar-benar sudah pergi," ucap Cherry dengan suara seraknya.
" Aku tau. Tidak ada yang percaya hal itu. Aku juga tau perasaan kamu yang tidak mungkin menerima semua ini dengan cepat. Aku tau itu sayang," ucap Verro.
" Tapi Verro, kenapa harus papa, kenapa hari papa. Kenapa?" tanya Cherry. Cherry memegang pipi Cherry dengan ke-2 tangannya.
" Bukan kenapa harus papa. Tapi aku pun akan melakukan hal itu. Untuk kamu dan mungkin kamu juga akan melakukan hal yang lebih lagi untuk aku. Karena cinta tidak pernah memikirkan apa-apa. Cinta yang sebenarnya adalah melihat kebahagian dan pala melakukan ini. Karena cintanya pada putri kesayangannya," ucap Verro membuat istrinya pengertian. Dan kembali memeluk istrinya dengan erat.
Bersambung....
__ADS_1