
Malam hari di dalam kamar Cherry dan Verro. Verro sudah terlihat berbaring dan tidur dengan lelap dan ternyata Cherry tidak sama sekali.
Dia malah gelisah di samping Verro sebentar-sebentar menghadap kekanan sebentar-sebentar menghadap kekiri. Dia tidak bisa tidur.
Cherry tidak bisa tidur karena banyak spekulasi di dalam hatinya. Apa yang tadi di bicarakan Fiona dengannya membuatnya merasa tidak tenang dan merasa seperti ada sesuatu yang mengganjal di hatinya.
Cherry menghadap suaminya setengah duduk melihat wajah Verro yang tidur tenang. Cherry mencium lembut pipi Verro.
" Aku percaya kepadamu. Kamu hanya mencintaiku. Aku tidak perlu memikirkan apa-apa. Aku hanya mempercayaimu dan mempercayaimu saja. Tidak ada yang aku pikirkan Verro. Maafkan aku jika aku berpikiran buruk padamu," ucap Cherry dengan pelan dan kembali mencium pipi Verro.
" Aku mencintaimu Verro," ucap Cherry lalu memeluk Verro. Perlahan memejamkan matanya agar untuk tertidur dia harus tenang dan tidak memikirkan hal yang tidak-tidak pada Verro.
***********
Pagi hari tiba. Cherry sedang membantu suaminya mengkancing kan kemeja suaminya. Verro tersenyum dengan istrinya yang selalu memperhatikan dirinya.
" Kamu cantik sekali hari ini," puji Verro.
" Aku tau, aku memang cantik," jawab Cherry. Verro meletakkan tangannya di pinggang Cherry dan menarik Cherry lebih dekat dengannya. Lalu mencium pipi kening Cherry dengan lembut. Cherry tersenyum mendapatkan ciuman manis di pagi hari ini.
" Kamu jadi cek kandungan hari ini?" tanya Verro.
" Hmmm, Dokter Anggi dan aku sudah buat janji jam 4 sore. Kamu temani aku kan?" tanya Cherry.
" Hmmm,pasti," sahut Verro.
" Makasih," sahut Cherry tersenyum. Verro menganggukkan matanya.
" Lalu kamu hari ini bagaimana. Kamu mau kemana?" tanya Verro.
" Aku mau kesupermarket hari ini dan nanti mau ketemu, Sasy, Raquel, Azizi dan Nadya, kita mau makan bareng. Lalu setelah itu baru deh kamu temani aku buat cek kandungan," ucap Cherry.
" Baiklah, aku akan mengantarmu ke supermarket dan nanti kamu pulang. Kamu telpon pak Yanto ya," ucap Verro memberi pesan.
" Baik sayang, aman," sahut Cherry mengacungkan jempolnya.
" Ya sudah, ayo kita pergi," ucap Verro. Cherry mengangguk-angguk dengan tersenyum penuh kebahagian. Lalu menggengam tangan suaminya dan pergi bersama. Seakan Cherry melupakan apa yang terjadi kemarin. Dia tidak ambil pusing dengan Fiona. Karena dia mempercayai suaminya dengan sepenuhnya.
**********
Setelah melakukan aktifitasnya seharian Cherry pun akhirnya bergabung bersama teman-temannya menikmati makan di sore hari sambil menunggu Verro selesai dengan urusannya di rumah sakit. Mereka mengobrol- ngobrol dengan panjang lebar maklum kalau wanita pasti heboh sendiri.
__ADS_1
" Lalu apa Iqbal sudah membaik?" tanya Nadya.
" Sudah kok, dia juga sudah mulai sekolah dan aku hanya perlu memantaunya saja," jawab Azizi.
" Syukurlah kalau begitu. Akhirnya Iqbal bisa sembuh seperti biasa lagi," ucap Nadya.
" Itu semua berkat doa kalian. Makasih ya kalian sudah banyak membantuku," sahut Azizi.
" Ya nggak lah, itu memang tugas kita untuk saling membantu," sahut Cherry.
" Benar kata Cherry, teman itu harus ada di saat sulit jangan hanya senang aja," sahut Raquel.
" Iya, kalian memang teman yang terbaik. Jadi makasih ya untuk semuanya," ucap Azizi.
" Hmmm, kamu gimana Cherry apa kandungan kamu baik-baik saja?" tanya Nadya.
" Baik-baik aja kok, aku tidak merasa ada yang aneh dan gejala-gejala lainnya. Jadi aman," sahut Cherry.
" Kamu sangat beruntung Cherry, sewaktu hamil tidak rewel. Padahal kalau aku dulu. Iqbal itu. Huhhhh rewel banget, maunya banyak, aku harus ini itu, banyak ngidamnya," sahut Azizi menceritakan pengalamannya.
" Benarkah, aku sih tidak terlalu, hanya kadang-kadang pengen makan ini itu," sahut Cherry.
" Belum. Baru nanti aku USG untuk bulan ke-3," jawab Cherry.
" Jam berapa?" tanya Azizi sambil mengaduk minumannya.
" Sebentar lagi. Aku masih nungguin Verro. Pasti masih banyak pasien," jawab Cherry.
" Verro, bukannya Verro sudah balik sejam yang lalu ya," sahut Sasy heran sambil mengunyah makanannya.
" Sudah balik?" tanya Cherry. Sasy mengangguk.
" Benar, orang ini hari Jumat, Verro kan jadwalnya sedikit," sahut Raquel yang juga mengetahui hal itu.
" Mungkin lagi keluar sebentar," sahut Azizi. Namun Cherry langsung kepikiran dan mengambil ponselnya dan langsung mengetik pesan.
..." Sayang kamu di mana?" tanya Cherry langsung mengirim pesan pada suaminya....
..." Aku lagi ada di Yayasan. Tadi suster nelpon Fiona tiba-tiba sangat parah, jadi aku kesana," jawab Verro membuat Cherry kaget mendengarnya....
..." Kamu tidak lupakan kalau kamu harus temani aku cek kandungan hari ini?" tanya Cherry....
__ADS_1
..." Iya aku tidak lupa, setengah jam lagi ya, kamu tunggu saja aku. Lagian Dokter Anggi sudah ada di rumah sakit. Kalau aku jam 4 belum datang. Kamu duluan saja. Aku menyusu dan buru agar cepat sampai," ucap Verro. Wajah Cherry tampak murung dengan balasan Verro....
^^^" Ya sudah, kamu hati-hati," ucap Cherry. Lalu meletakkan kembali ponselnya di atas meja.^^^
" Verro kemana Cherry?" tanya Sasy.
" Lagi ada pasien di luar," jawab Cherry.
" Oh," sahut Sasy Datar.
" Kenapa mereka tidak membawa Fiona Kerumah sakit. Apa harus menelpon Verro," batin Cherry yang ternyata mulai tidak tenang.
" Kamu kenapa Cherry?" tanya Azizi.
" Tidak apa-apa," jawab Cherry.
" Yakin tidak apa-apa?" tanya Sasy. Cherry mengangguk tersenyum.
Cherry dan yang lainnya melanjutkan makan dengan mengobrol kembali. Tetapi Cherry terlihat gelisah yang bentar-bentar melihat jam tangan yang hari semakin sore. Suaminya tidak kunjung datang dan bahkan Cherry menelpon Verro sudah tidak aktif.
Sampai akhirnya Cherry memutuskan Kerumah sakit sendiri. Tetapi Cherry masih menunggu di depan ruangan Dokter Anggi dia masih menunggu suaminya walau sudah pukul 6 sore. Cherry mengulur waktu agar tetap bisa di temani suaminya.
" Bu Cherry!" tegur Dokter Anggi.
" Iya Dok," sahut Cherry.
" Apa kita sudah bisa mulai. Soalnya ini sudah malam," ucap Dokter Anggi dan Cherry melihat jam tangannya sudah pukul 7.
" Kamu di mana Verro, kamu masih dengan Fiona. Kamu sudah janji padaku. Tetap kamu tidak mengabariku sama sekali," batin Cherry yang khawatir dengan suaminya.
" Bu Cherry!" tegur Dokter Anggi lagi yang melihat Cherry bengong.
" Iya Dok, ayo kita mulai saja," sahut Cherry memutuskan untuk periksa sendiri tanpa Verro.
Di ruangan itu Cherry sudah terlentang dengan Dokter yang sudah memeriksa kandungannya. Kali ini suaminya tidak ada dan bahkan tidak mengabarinya membuat perasaannya tidak tenang.
Air mata Cherry menetes dengan perasaannya yang tidak menentu. Tidak tau apa yang di rasakannya. Perasaan sensitifnya membuatnya meneteskan air mata.
Mungkin karena kecewa dengan Verro yang tidak ada di sampingnya dan Cherry harus melihat bayinya yang di layar monitor. Seharusnya Verro di sampingnya dengan menggengam tangannya. Tetapi semuanya tidak sesuai harapannya.
Bersambung
__ADS_1