
Verro dan Clara sama-sama bergerutu di dalam hati mereka masing-masing. Sama-sama merasa ada yang aneh sama-sama merasa ada yang ganjal dan sama-sama ingin mengetahui apa yang terjadi.
" Apa yang terjadi dengan ku. Kenapa aku merasa tiba-tiba sangat dekat dengan dia. Padahal kami bertemu. Tetapi aku merasa Verro tidak asing dengan ku," batin Clara yang semakin merasa dekat dengan Verro.
" Mau kemana kamu?" tanya Verro yang akhirnya membuyarkan lamunannya dan Clara juga tersadar dari lamunannya.
" Aku ingin Kerumah sakit. Aku ingin menemui mama ku," jawab Clara dengan suara seraknya.
" Kondisi kamu belum pulih. Kamu harus istirahat," ucap Verro dengan lembut.
" Aku akan pulih jika bertemu mama ku. Jadi jangan cegah aku. Aku tidak ingin kau juga beranggapan yang tidak-tidak kepadaku," sahut Clara yang tampak dingin berbicara.
" Baiklah, aku akan mengantarmu Kerumah sakit. Tetapi kamu harus ganti baju dulu, pakaian yang kamu pakai banyak noda darah. Keluargamu akan bertanya-tanya apa yang terjadi dengamu," ucap Kevin.
Clara langsung melihat ke bajunya yang baru di sadarinya jika pakaiannya benar-benar banyak noda darahnya. Dia mengingat jika dia mimisan dan mungkin sangat banyak sampai dia bisa seperti itu.
Clara masih sibuk melihat-lihat bajunya. Verro langsung masuk kedalam kamar melewati Clara dan Clara pun membalikkan badannya dan melihat Verro yang berjalan menuju lemari.
Saat Clara berbalik badan dia melihat foto besar yang menempel dingding bagian atas ranjang yang memperlihatkan Foto Cherry dan Verro.
Di mana Cherry memakai gaun pengantin dan Verro juga tampak terlihat tampan dan sedang mencium kening Cherry dengan lembut.
" Dia begitu mencintai istrinya, lalu kenapa membawaku kemari," batin Clara yang langsung mengalihkan pandangannya dan melihat kembali ke arah Verro yang sudah mengeluarkan pakaian dari dalam lemari itu dan berjalan mendekatinya.
" Pakailah ini, ganti bajumu dengan ini," ucap Verro yang langsung memberikan Clara pakaian yang masih menggantung di hanger tersebut. Terlihat dress pink yang sangat anggun yang pasti itu adalah milik Cherry.
" Ambilah. Aku akan mengantarmu ketika kau sudah berganti pakaian," ucap Verro dengan ragu Clara pun akhirnya mengambilnya.
" Aku akan menunggumu di luar," ucap Verro yang langsung pergi. Tidak lupa dia pun menutup pintu kamar itu.
Clara yang ingin tau sesuatu dari mamanya akhirnya buru-buru mengganti pakaiannya dengan cepat. Karena dia tidak mau kehilangan kesempatan lagi.
__ADS_1
**********
Tidak berapa lama akhirnya Clara selesai mengganti pakaiannya. Clara melihat dirinya di depan cermin. Clara merasa dia terlihat berbeda dengan pakaian yang di gunakannya. Seumur hidupnya dia tidak pernah memakai dress dan hanya jeans dan blouse.
Dia tidak secentil itu dengan memakai-makai dress. Sementara Cherry memang menyukai dress karena dia gadis remaja yang centil. Meski pakaian itu sudah lama dan pakaian saat Cherry remaja. Tetapi sangat pas untuk Clara.
" Aneh, aku memakai seperti ini," batin Clara yang menyadari ke anehannya. Mata Clara kembali menoleh ke atas nakas dan melihat foto Cherry. Clara mengambilnya dan melihat lama foto itu.
" Siapa sebenarnya dia. Kenapa tidak ada bedanya dengan ku," batin Clara yang baru menyadari memang mereka tidak berbeda.
Clara pun akhirnya meletakkan kembali Foto itu ditempatnya.
" Aku harus segera pergi," ucap Clara yang tidak ingin berlama-lama di kamar itu.
Dan akhirnya Clara pun keluar dari kamar itu. Clara menuruni anak tangga dengan perlahan dan Verro sudah ada di ruang tamu menunggunya.
Mendengar suara langkah itu, membuat Verro langsung membalikkan tubuhnya dan melihat Clara yang berjalan di anak tangga.
Wanita yang di cintainya seakan-akan benar-benar ada di depannya. Berjalan yang semakin dekat dekat dengannya. Bahkan dia ingin melangkah untuk memeluk wanita itu. Tetapi langkahnya terhenti kembali merasa di lema dengan perasaannya yang bum bisa di tentukan nya.
" Aku sudah menggantinya, bisa kita pergi sekarang," ucap Clara yang sudah ada di depan Verro. Dan Verro tersentak kaget mendengar suara Clara.
" Iya, ayo kita pergi," ucap Verro yang harus menahan dirinya. Clara mengangguk dan akhirnya mengikuti Verro juga
***********
Nadya berjalan di pinggir jalan dengan memegang lembaran kertas yang di masukkan kedalam map.
" Ahhhh, ibu ada-ada saja, kenapa juga harus menyuruhku untuk nge print hasil cctv ini. Memang untuk apa. Apa gunanya coba. Lagian pria ini siapa sih, kok tiba-tiba masuk kamar Cherry," oceh Nadya yang tampak sedikit tidak ikhlas dengan suruhan sang ibu yang menurutnya tidak penting-penting amat.
" Lagian dia sih, ngapain pakai recokin kamar Cherry segala. Bikin Ibu banyak kerjaan saja," Nadya terus saja merocos sambil berjalan.
__ADS_1
" Nadya," tiba-tiba seorang wanita memanggilnya. Suara cempreng itu sangat di kenal Nadya dan Nadya langsung berbalik badan dan dugaannya yang memanggilnya adalah Sasy dan Sasy langsung berlari menghampirinya.
" Hhhhhh," terdengar suara berat Sasy dengan napasnya yang tidak beraturan saat berada di depan Nadya. Padahal baru lari sebentar. Tetapi dia sudah sangat lelah.
" pelan-pelan Sasy," ucap Nadya.
" Kamu sih, dipanggil dari tadi tapi tidak dengar-dengar," ucap Sasy yang mengeluh keadaannya.
" Iya maaf deh," sahut Sasy.
" Kamu habis dari mana sih?" tanya Nadya heran.
" Nih, habis nge printer ini di suruh ibu. Hasil cctv di rumah Cherry. Ada yang masuk dan malah ngerecokin kamar Cherry," jawab Nayra dengan wajah cemberutnya.
" Ngerecokin kamar Cherry," sahut Sasy yang heran dengan bicara Nadya.
" Hmmm, benar, nggak tau siapa tapi dia sungguh membuat kerjaan mama semakin banyak," sahut Nadya lagi yang menyimpan banyak kekesalan.
" Coba aku liat siapa orangnya," ucap Sasy yang langsung mengambil apa yang di pegang Nadya dan Sasy langsung kaget melihat melihat hasil printer itu.
" Bayu," ucap Sasy yang langsung terkejut dengan melihat foto Bayu ada di kertas itu. Matanya sampai mau keluar melihat foto itu.
" Kamu mengenalnya?" tanya Nadya heran.
" Iya aku mengenalnya. Kenapa dia bisa ada di rumah Cherry dan kenapa dia tau rumah Cherry siapa dia sebenarnya," ucap Sasy dengan debaran jantungnya yang tidak normal.
Pikirannya juga sudah kemana-mana dia memikirkan keanehan dan bahkan mencurigai sesuatu.
" Memang siapa dia Sasy, apa dia saudara Cherry?" tanya Nadya yang melihat muka Sasy yang masih terkejut dan bahkan masih dan suara napas Sasy jelas terlihat berat.
" Sasy," tegur Nadya yang tidak mendapat jawaban apapun yang membuatnya bingung.
__ADS_1
" Ikut denganku, ini penting," ucap Sasy yang langsung menarik tangan Nadya dan Nadya kaget saat Sasy menariknya. Padahal dia belum menjawab iya atau tidak.