
Farah terus menenangkan suaminya yang kembali emosi karena perbuatan anak tirinya.
Verro dengan kekesalannya memasuki kamarnya. Membanting pintu kamar, dan melempar ranselnya ke atas tempat tidurnya.
Verro berdiri di depan cermin dan melihat ujung bibirnya yang berdarah.
" Selalu seperti ini," desis Verro. Muak dengan perbuatan papanya.
Itu lah yang di hadapi setiap kali berbuat salah. Tidak tau itu kesalahan atau tidak. Tetapi jika berurusan dengan Cherry. Dia akan selalu menjadi imbasnya.
Seakan Cherry adalah wanita paling sempurna yang tak bisa di sakiti. Itu yang membuat Verro muak dengan ke adaannya.
Verro memang selalu ribut dengan papanya. Papanya selalu marah kepada Verro jika menyakiti Cherry. Yang akan membuat Cherry sedih. Apa lagi jika Cherry sampai masuk rumah sakit.
Hal itu akan menjadi kerugian besar untuk ayahnya. Karena papa Cherry adalah rekan bisnis yang selalu menguntungkannya.
Pasti semua akan mempengaruhi bisnis Hariyanto dan bisnis Keluarga Laskarta. Papa Cherry. Pemilik bisnis fashion terkenal dan sudah mendunia.
Cherry memang anak sultan. Anak satu-satunya. Jadi wajar papanya memanjakannya. Terlebih lagi Cherry yang mempunyai masalah jantung. Papanya rela melakukan apapun demi kebahagian Cherry.
Menurut Laskarta hanya Verro yang bisa menjaga Cherry. Dan sepenglihatannya Cherry sangat nyaman bersama Verro.
Hal itu justru di manfaatkan Hariyanto untuk menjalin bisnis yang lebih panjang. Makanya dia akan mengamuk jika Cherry kenapa-napa.
Belum lagi Verro harus melihat sandiwara ibu tirinya yang sok mencemaskannya. Selalu merasa menjadi pahlawan di depan papanya. Seakan membela dirinya.
***********
Kediaman Laskarta
Rumah mewah itu hanya di huni beberapa orang saja. Hanya ada Cherry dan papanya. Ada 3 supir. 4 satpam dan beberapa pelayan.
Malam hari Cherry keluar dari kamar mandi dengan pakaian tidurnya. Piyama lengan panjang dan celana panjang.
Kamarnya yang berwarna pink. Layaknya kamar remaja pada umumnya. Cherry memang menyukai warna pink dan boneka Teddy bear yang pink.
Kamar mewah itu penuh dengan pernak- pernik warna pink. Dari stiker dan boneka-boneka kecil yang berwarna pink. Bukan hanya itu Cherry juga memiliki banyak Barbie yang berwarna pink.
Sampai tempat tidur dengan seprai warna pink. Lemari juga berwarna pink. Hanya lantai yang berwarna coklat.
Di kamar Cherry juga terdapat beberapa foto artis Korea idolanya. Opa Lee Minho dan Om Ji chang - Wook dan duda keren Song joongki. Maklumlah Cherry kebanyakan menonton Drama Korea jadi wajar saja.
Setelah menyisir rambutnya. Cherry duduk di meja riasnya.
" Siapa orang tadi?" batin Cherry masih kepikiran dengan Pria yang tadi di lihatnya saat Verro memarahinya.
__ADS_1
Cherry memang merasa aneh karena bukan pertama kalinya Cherry melihatnya.
Pandangan Cherry beralih ke foto ALM mamanya yang berada di mejanya. Cherry tersenyum dan mengambil tisu.
" Kenapa debu selalu ada di foto mama. Debu itu akan mengotori wajah cantik mama," ucapnya membersihkan debu dari foto sang mama.
Dia memang tidak akan membiarkan sehelai debu berada pada foto ALM ibunya itu.
" Mama sangat cantik, I love you," ucapnya mencium foto mamanya. Sambil memeluk merasa kerinduan. Mamanya Cherry meninggal saat Cherry 10 tahun.
Sampai sekarang papanya memang tidak akan pernah jatuh hati kepada wanita manapun. Karena dia hanya ingin fokus memberi kebahagian kepada Cherry.
Setelah memeluk dan mencium lama. Cherry meletakkannya kembali foto itu di tempat semula dan di sampingnya Cherry melihat fotonya dan foto Verro sewaktu kecil berdampingan dengan ke 2 jari telunjuk Verro mencucuk pipinya. Sehingga terbentuk lesung pipit.
" Isssh," desis Cherry yang langsung kesal melihat foto Verro tertawa tanpa dosa.
" Biarkan saja fotonya ber abu kalau perlu sampai kusam," ujar Cherry kesal dengan Verro menyimpan dendam besar.
" Lihatlah ma, Pria yang di samping mama. Semakin besar dia semakin jahat kepadaku. Dia selalu memarahiku, dia selalu mengatakan. Apa kau tidak bisa sekali saja tidak menyusahkanku," oceh Cherry menirukan suara Verro seakan mengadu kepada mamanya.
" Mama harus memarahinya, mama harus menegurnya. Dia mengomeli putri kesayanganmu," Cherry terus merocos dengan senyum cerianya.
Dengan geram Cherry mengetuk foto di wajah itu dengan kesal. Seakan meluapkan kekesalannya.
Tring-tring-tring.
Mengeluarkan pil yang akan di tekannya. Cherry membuang napasnya perlahan ketika 5 jenis pil itu berkumpul di telapak tangannya.
Cherry langsung menelan sekali semua. Dan meneguk 1 gelas air putih sampai gelas itu kosong.
" Memang jika aku tidak meminumnya, akan mati apa," gerutunya merasa bosan terus meminum obat itu.
Krekkkk.
Tiba-tiba pintu kamar Cherry terbuka, Cherry langsung menoleh kebelakang dan melihat ternyata ada Pria yang barusan di ceritainya. Pria yang di adukannya kepada mamanya.
" Kau," ucap Cherry melihat Verro langsung masuk dengan membawa boucket mawar pink.
Verro langsung meletakkannya di tempat tidur Cherry dan dia merebahkan dirinya di tempat tidur itu dengan dengan kakinya yang masih menginjak lantai.
" Apa yang kau lakukan?" tanya Cherry berdiri di depan Verro yang sudah berbaring dan sekarang sudah bermain ponsel.
" Papa menyuruhku membawakan untukmu, jadi ambillah. Usahamu berhasil," jawab Verro dengan ketus tanpa melihat Cherry. Verro mengambil ponselnya dan melihat ponsel dengan serius.
" Maksudnya?" tanya Cherry bingung yang sudah berdiri di depan Verro.
__ADS_1
" Kau mengadu kepadanya, agar aku datang kemari, meminta maaf, membujukmu, itu yang kau inginkan," sahut Verro yang membuat Cherry semakin bingung.
" Mengadu, aku tidak pernah mengadu. Lagi pula kapan aku bertemu papamu," sahut Cherry apa adanya bingung dengan tuduhan Verro kepadanya.
" Sudahlah jangan banyak alasan, kau memang sengaja melakukan itu kepadaku. Kau sangat suka melihatku menderita," sahut Verro tetap fokus pada ponselnya.
" Kapan aku mengadu kepada papanya. Aneh," batin Cherry bingung.
" Apa dia pikir aku se cinta itu kepadanya. Sampai harus mengadu-ngadu. Agar dia datang meminta maaf. Mau dunia kiamatpun dia tidak akan pernah meminta maaf," ucap Cherry terus bergerutu.
" Hey, bicara pelan-pelan," sahut Verro yang tidak dapat dengan jelas mendengar ucapan Cherry namun melihat bibir Cherry yang merocos terus.
" Issshh," sahut Cherry kesal.
Cherry mengambil boucket tersebut yang di samping Verro. Cherry menghirup aromanya sangat lama. Aroma yang sangat di sukainya.
Cherry langsung memindahkan boucket itu ke tempatnya. Di salah satu atas meja yang penuh mawar pink yang semua pasti pemberian dari Verro.
Verro melirik Cherry menyusun boucket itu, bahkan melapnya menggunakan kemoceng. Cherry memang akan menyimpan bunga-bunga pemberian Verro bahkan yang sudah layu pun masih ada karena dia menyukai bunga mawar pink.
" Jika sudah layu buanglah, jangan di simpan," sahut Verro kembali fokus pada ponselnya.
Cherry mendengar Verro, menoleh ke arah Verro.
Bukan urusannya?" gerutu Cherry pelan merapikan kembali boucket- boucket itu.
" Tapi kenapa Pak Hariyanto tau jika Verro memarahiku," batin Cherry heran.
" Hah sudahlah biarkan saja," ucapnya pelan tidak ingin ambil pusing.
Cherry kembali melanjutkan pekerjaannya. Mungkin Cherry tidak akan kenal waktu jika berurusan dengan bunga. Entah sudah berapa lama dia terus merapikan bunga-bunga itu sambil menghirup terus
" Selesai juga," gumamnya dengan senyum cerianya.
Selesai merapikan Boucket-boucket itu Cherry berdiri dan melihat Verro ternyata sudah tertidur di tempat tidurnya. Satu lengan di letakkan di bawah kepala Verro.
" Apa dia tidak bisa tidur di rumahnya," gerutu Cherry.
" Kenapa di sekolah, kau selalu dingin kepadaku. Mengomeliku di depan orang-orang. kau selalu mempermalukan ku. Seakan akan aku wanita paling menggilaimu, Kau bahkan tidak pernah berbicara lembut kepadaku," gerutu Cherry yang terus melihat Verro tertidur.
Cherry menatap lama Verro sampai Cherry melihat ujung bibir Verro yang luka. Cherry membuka laci di samping tempat tidurnya mengambil salep.
💝💝💝Bersambung
Hay para readers yang baru bergabung. Bantu support ya novel aku yang baru.
__ADS_1
Tinggalkan jejak. Komentar, like, dan jangan lupa vote sebanyak-banyaknya. Agar aku semakin semangat melanjutkan ceritanya