
Vandy, Sasy, dan Raquel berjalan sejajar. Mereka berjalan sambil berbincang-bincang dan tidak tau apa mereka bicarakan. Yang pasti tentang kondisi pasien.
" Tolong!" teriakan Clara berhasil membuat langkah ke-3 sahabat itu.
" Kok ada minta tolong," sahut Raquel.
" Dari kamar itu!" tunjuk Sasy yang kebetulan suara teriakan itu hanya 5 meter dari mereka. Tanpa berpikir lama. Mereka langsung berlari menuju kamar perawatan yang berasal dari teriakan itu.
Vandy, Sasy dan Raquel sudah berada di depan pintu kamar perawatan yang memang tidak di tutup. Dan betapa terkejutnya mereka saat melihat apa yang terjadi.
Mereka melihat Clara yang coba melerai Bayu yang terus berusaha menghajar Verro. Bahkan wajah Verro terdapat luka pukulan yang pasti berasal dari tangan Bayu.
" Verro," lirih Sasy yang schock masih diam mematung.
" Ada apa ini!" bentak Vandy.
" Hentikan apa-apaan sih ini," ucap Raquel.
Tidak ada yang mendengar. Apa lagi Bayu yang semakin emosi dan terus ingin menyerang Verro. Sementara Verro masih berusaha menahan diri.
Akhirnya membuat Vandy yang kehilangan kesabaran langsung menghampiri. Menarik Bayu dengan kasar. Setelah berhasil. Vandy memegang kerah baju Bayu dan mendorongnya sampai kedingding.
" Apa yang lo lakuin. Apa lo gila. Ini rumah sakit," teriak Vandy yang emosi dengan Bayu dan ingin melayangkan pukulan. Tetapi Sasy langsung menahannya.
" Vandy sudah jangan lakukan itu," cegah Sasy. Vandy dengan geram kembali menjatuhkan tangannya menatap Bayu dengan tajam.
" Lepaskan tanganmu," sahut Bayu dengan napasnya yang terasa sesak.
" Vandy sudah lepaskan. Hentikan semuanya. Tidak Ada gunanya bertengkar di sini," ucap Raquel langsung menarik temannya. Sasy juga membantu untuk mencegah Vandy yang bisa menambah kerusuhan.
Sementara Clara yang berada di samping Verro cukup lelah dengan napasnya yang berat. Karena melerai perkelahian itu. Dia juga melihat kesampingnya. Verro yang terluka membuatnya merasa bersalah.
" Apa-apaan ini. Ini rumah sakit bisa-bisanya ribut di sini. Pakai main pukul segala. Kalian bahkan bertengkar di depan seorang pasien," ucap Raquel yang tidak habis pikir.
" Tau nih. Kamu apa-apaan sih. Pake main pukul segala," sahut Sasy kesal dengan Bayu.
" Aku tidak akan memukulnya. Jika dia tidak kurang ajar. Kepada Clara," ucap Bayu menunjuk Verro dengan geram.
" Apa maksud kamu?" tanya Sasy.
__ADS_1
" Sudahlah mas Bayu. Apa-apaan sih. Mas Bayu keterlaluan bisa-bisanya. Mas Bayu jangan menambahi masalah. Mas sudah memukulnya berkali-kali. Jadi sudah cukup!" sahut Clara dengan tegas. Dia seakan tidak mau mendengarkan apa-apa yang di katakan Bayu. Karena kejadian itu membuatnya sangat malu.
" Kamu membelanya. Dia kurang ajar kepadamu. Kamu bisa bicara seperti itu. Karena kamu tidak tau apa yang di lakukannya kepadamu. Diam-diam dia ingin menciummu," teriak Bayu menunjuk Verro lagi.
Mendengar ucapan Bayu membuat semuanya kaget. Tetapi Clara geleng-geleng seakan tidak percaya.
" Apa Verro ingin mencium Clara," beton Sasy melihat ke arah Verro yang tampak marah dengan perkataan Bayu.
" Jangan asal bicara. Menuduh tanpa bukti," sahut Verro dengan suara menekan. Dia jelas membantah semua tuduhan Bayu.
" Aku tidak asal bicara. Mataku tidak buta. Aku melihat sendiri. Bagaimana kau berusaha untuk mencium Clara. Kau diam-diam ingin melecehkannya," teriak Bayu menegaskan.
" Apa benar itu. Tapi masa iya," batin Vandy. masih kaget dengan kata-kata Bayu.
" Itu tidak benar!" bantah Verro.
" Mana ada maling yang mau mengaku," sahut Bayu.
" Sudah hentikan. Tolong kami Dokter di rumah sakit ini. Jadi salah paham ini jangan di perpanjang. Hargai kami sebagai Dokter," sahut Vandy menegaskan.
" Dokter apa. Dokter gadungan atau Dokter mesum," sahut Bayu sinis.
" Heh jaga bicara mu," sahut Sasy geram dengan Bayi yang bicara sesukanya.
" Mas Bayu hentikan!" bentak Clara " jangan mempermalukan diri sendiri. Sudah cukup semua ini," lanjut Clara menegaskan.
" Apa katamu. Kau mengatakan aku mempermalukan diriku. Kau bahkan sudah hampir di lecehkan dan kau malah membelanya. Apa kau menyukai Dokter gadungan itu," ucap Bayu dengan sinis yang tidak terima dengan Clara yang membela Verro.
" Mas Bayu," gertak Clara. Dia benar-benar kesal dengan Bayu yang seakan memojokkan dirinya.
" Apa yang mas Bayu katakan?" tanya Clara.
" Kenapa kau membelanya!" bentak Bayu.
" Sudah cukup semua ini. Dengar ya Pak Bayu. Kami Dokter di sini. Tapi dari tadi Bapak tidak menghargai kami. Bapak malah membuat keributan di depan pasien yang tak lain orang tua anda sendiri, mengatakan yang tidak-tidak," sahut Raquel.
" Semua ini hanya salah paham. Jadi jangan menuduh Dokter tanpa bukti yang bisa merusak nama kami," tegas Vandy.
" Aku tidak menuduh,"
__ADS_1
" Aku menegaskan kepadamu. Aku tidak melakukan apapun kepadanya. Kau sudah banyak merendahkan prosesi di depan semua orang. Itu ada cctv. Periksalah. Jika kau masih saja tidak percaya," sahut Verro menatap Bayu tajam. Semua orang jadi melihat ke ujung tembok yang terdapat cctv.
" Iya periksa saja dari cctv biar semuanya jelas," tambah Raquel.
" Ayo kita keluar dari tempat ini," ajak Vandy yang kesal dengan Bayu yang tidak mau kalah. Verro mengangguk dan merapikan pakaiannya lalu keluar dengan menatap Bayu sebentar tanpa melihat Clara.
Sementara Clara gelisah karena merasa tidak enak dengan kejadian itu. Clara pun melangkah menyusul. Tetapi Bayu menghentikan tangannya.
" Mau kemana kamu?" tanya Bayu.
" Mas Bayu keterlaluan. Menuduh sembarangan dan lihat hasilnya Dokter yang menangani mama menjadi terluka. Mas juga menuduhnya yang tidak-tidak, mas sangat keterlaluan," ucap Clara.
" Kamu masih membelanya?" tanya Bayu.
" Dia tidak salah dan tidak ada yang membela. Aku hanya ingin minta maaf atas kejadian yang memalukan yang mas perbuat. Sangat tercela," ucap Clara dengan tegas. Berusaha melepas tangannya. Tetapi Bayu tetap menahannya.
" Kau tidak perlu minta maaf kepadanya. Dia yang salah," cegah Bayu yang pasti tidak setuju dengan tindakan Clara.
" Cukup mas! Aku capek mendengar kata-kata yang itu-itu terus. Mas bisa lihat cctv. Aku rasa mas tidak perlu membesar-besarkan masalah," sahut Clara yang sudah muak dengan Bayu. Dia merasa malu dengan kejadian itu.
" Jadi lepaskan tanganku!" ucap Clara yang melepaskan tangannya dari Bayu dan melangkah pergi.
" Mama akan di pindahkan hari ini kerumah sakit lain," ucap Bayu tiba-tiba membuat Clara menghentikan langkahnya. Dia sangat terkejut dengan kata-kata Bayu.
" Mas Bayu," lirih Clara membalikkan badannya, " apa yang mas lakukan?" tanya Clara.
" Kenapa apa kamu keberatan?" tanya Bayu.
" Apa mas gila. Mama akan di Operasi lusa dan Mas ingin memindahkannya. Mas ini nggak benar. Jangan melakukan sesuatu. Di luar batas," ucap Clara geleng-geleng.
" Keputusan ada di tanganku," tegas Bayu.
" Tapi aku tidak setuju," tegas Clara yang memang akan menolak keputusan yang tidak masuk akal itu.
" Mama tidak akan di pindahkan. Jadi jangan berpikir untuk melakukan itu," tegas Clara yang langsung pergi. Meninggalkan Bayu yang semakin lama. Semakin tidak waras. Ada-ada saja tingkah Bayu yang membuat Clara benar-benar muak.
" Clara!" panggil Bayu. Clara sama sekali tidak peduli dan tetap melanjutkan langkahnya.
" Dia benar-benar melawan sekarang. Dia pikir dia siapa berani-beraninya pergi seenaknya. Kau memang tidak akan aman jika berada di sini, Kau harus kembali ketempatmu," desis Bayu mengumpat di dalam hatinya.
__ADS_1
Dia sangat marah dengan Clara yang membela Verro terang-terangan dan tadi membantahnya soal pemindahan mamanya.
Bersambung.......