DETAK Love Story' School

DETAK Love Story' School
Episode 367 Peringatan Verro.


__ADS_3

Verro mengantarkan Cherry ke depan rumah sakit, mengantarkan sang istri untuk ke mobil. Verro tidak bisa mengantar Cherry pulang karena masih ada Operasi yang harus di selesaikannya. Jadi Verro menelpon supir untuk untuk menjemput istri tercintanya.


" Ya sudah sayang aku pulang dulu ya," ucap Cherry pamit mencium punggung tangan Verro. Verro mencium kening Cherry dengan lembut.


" Iya sayang, kamu hati-hati ya, ingat langsung pulang," ucap Verro.


" Aku mau kesupermarket sebentar boleh?" tanya Cherry meminta izin.


" Mau ngapain?" tanya Verro.


" Buah-buahan di kulkas habis. Aku ingin membelinya," jawab Cherry.


" Apa tidak bisa bibi aja yang beli. Lagian apa tidak repot kamu bawa-bawa buah. Apa tidak berat nantinya," ucap Verro yang terlihat takut terjadi sesuatu pada istrinya.


" Tidak sayang, tidak akan. Lagian hanya beberapa saja tidak akan berat," sahut Cherry.


" Benar tidak apa-apa?" tanya Verro masih tetap tidak yakin.


" Iya benar," sahut Cherry meyakinkan Verro.


" Ya sudah kalau begitu. Kamu hati-hati ya," ucap Verro yang akhirnya meminta izin.


" Iya, kamu juga semoga operasi berjalan dengan lancar," ucap Cherry memberi semangat.


" Amin," sahut Verro.


" Ya sudah aku pulang," ucap Cherry pamit. Verro mengangguk dan kembali mencium kening istrinya, pipi istrinya kiri dan kanan. Verro membukakan pintu mobil untuk Cherry sampai Cherry masuk kedalam.


" Bye sayang," ucap Cherry melambaikan tangannya.


" Bye," sahut Verro tersenyum dengan melambaikan tangannya dan menunggu sampai mobil istrinya itu pergi. Setelah itu Verro berbalik badan untuk memasuki rumah sakit dan saat berbalik badan Verro berpapasan dengan Sasy. Seperti biasa Sasy akan sangat cuek dengan Verro.


" Sasy," tegur Verro menghalangi jalan Sasy.


" Minggir!" ucap Sasy ketus.


" Aku seniormu di rumah sakit ini. Aku bukan temanmu," sahut Verro menegaskan pada Sasy yang bersifat seperti anak kecil. Sasy mendengarnya mendengus kasar mengangkat kepalanya dan melihat kesal Verro.


" Senior! lalu apa aku harus tunduk padamu," sahut Sasy dengan sinis.


" Aku tidak menyuruhmu tunduk. Tapi profesional dalam bekerja. Ini rumah sakit yang berurusan dengan pasien, kesehatan dan nyawa orang. Ini bukan luaran yang penuh dengan masalah pribadi. Jadi jangan bawa masalah pribadi kedalam rumah sakit," ucap Verro menegaskan kepada Sasy.

__ADS_1


" Siapa yang membawa masalah pribadi. Kau yang membawanya. Aku terlihat biasa. Tetapi kau yang tidak biasa. Dan iya apa kalian sedang mendiskusikan masalah ku dengan Toby tadi di ruanganmu. Kalian semua berkumpul untuk membahas masalah itu. Sekarang aku yang bertanya siapa yang membawa masalah pribadi ke rumah sakit. Aku atau kau," sahut Sasy dengan sinis bicara dengan Toby.


" Kau dengar baik-baik Sasy. Aku sudah mengatakan kepadamu. Aku seniormu dan sangat tidak sopan jika kau mencampuri urusan seniormu. Mau aku membawa siapa kedalam ruanganku, teman-teman ku atau siapapun itu bukan urusanmu dan lain cerita. Jika kau Vandy, atau Raquel. Karena masih temanku. Mungkin mereka bisa menanyakan hal itu. Tetapi tidak dengan kau. Karena kau bukan sabat ku, bukan temanku, kau hanya dokter, juniorku sama dengan Dokter-Dokteryang lain di rumah sakit ini. Kecuali Vandy dan Raquel," ucap Verro menegaskan pada Sasy.


Apa yang di katakan Verro membuat Sasy terkejut. Kata itu begitu menusuk kedalam hatinya yang membuat matanya bergenang.


" Tidak perlukan Sasy, kau sakit hati dengan ala yang aku katakan. Karena kau sendiri yang sudah memutus persahabatan itu. Jadi yang aku katakan seharusnya biasa untukmu," ucap Verro menekankan. Sasy tersenyum mendengar kata-kata Verro.


" Kau benar, aku tidak perlu sakit hati. Karena memang kau atau yang lainnya bukan siapa-siapa ku. Dan iya, aku juga tidak bisa berteman dengan orang-orang yang kacang lupa pada kulitnya," ucap Sasy yang tersenyum sinis mencoba untuk membuat tegar dengan kata-kata Verro.


" Sama denganku dan juga mungkin yang lainnya yang tidak mungkin bisa melanjutkan pertemanan dengan orang yang tidak bisa bicara baik-baik dan memiliki sifat kekanak-kanakan," ucap Verro yang tidak kalah pedas menjawab kata-kata Sasy.


" Ya sudah. Kalau begitu Dokter Verro. Kenapa memanggilku apa ada yang bisa saya bantu?" tanya Sasy dengan senyum palsu.


" Aku memintamu untuk data pasien kemarin dan sampai sekarang kau tidak memberikannya. Dan sebaiknya kau langsung kerjakan dan dengan cepat antar keruangan ku!" ucap Verro memerintah tanpa ampunan.


" Baiklah, Dokter Verro saya akan laksanakan apa yang Dokter Verro inginkan," sahut Sasy tersenyum dengan menundukkan kepalanya yang seolah menghormati Verro.


" Saya permisi dulu," sahut Sasy yang langsung pergi.


" Jangan karena masalah spele kau kehilangan semuanya," ucap Verro menghentikan langkah Sasy.


Air mata Sasy menetes. Namun dia tetap melanjutkan langkahnya yang tidak mengatakan apa-apa lagi. Dia tidak menjawab kata-kata Verro lagi. Verro menarik napasnya panjang dan membuangnya perlahan kedepan. Dia juga merasa lega sudah bicara dengan Sasy.


" Aku berharap masalah ini tidak berlarut-larut Sasy. Aku tau kamu sakit hati. Tetapi aku juga tau. Kamu wanita baik-baik yang bisa bersikap bijak dalam menghadapi semua ini," batin Verro dengan penuh harapannya kepada Sasy.


Ternyata di Raquel dan Vandy yang tidak jauh dari tempat Verro berdiri mendengar apa yang di katakan Verro dan juga Sasy.


" Sasy akan bertambah sakit hati dengan kata-kata Verro," ucap Raquel.


" Tidak Raquel, aku rasa tidak. Lagian apa yang di katakan Verro sangat bagus. Itu bisa membuat Sasy sadar, sebenarnya dia juga kelewatan. Marah boleh. Tetapi tidak perlu semua harus kenak imbasnya. Jadi mungkin dengan Verro menegurnya. Dia bisa sadar," ucap Vandy.


" Ya semoga saja. Aku juga tidak percaya. Jika Sasy yang begitu dulu sangat simpel dan tidak neko-neko bisa berubah 180 derajat. Hanya karena masalah putusnya dia dengan Toby," sahut Raquel.


" Bucinnya, orang beda-beda. Dan mungkin begitulah bicinnya dia dan di tambah banyak masalah dan mungkin saja, ini juga pengaruh pria yang sedang dekat dengannya sekarang ini," sahut Vandy menebak-nebak.


" Maksud kamu Pria yang kemarin itu?" tanya Raquel.


" Aku rasa iya. Karena lihat saja, Sasy itu sangat berbeda. Entah di mana? kapan? dia bertemu Pria itu yang jelas sudah berhasil membuat Sasy seperti orang lain yang hatinya entah kemana-mana yang tidak bisa mengendalikan dirinya," ucap Vandy.


" Apa Pria itu tidak baik?" tanya Raquel.

__ADS_1


" Bisa jadi. Tapi kita tidak tau. Ya dan sepertinya memang kita harus turun tangan untuk mencari tau siapa pria itu," sahut Vandy memunculkan idenya karena merasa Sasy semakin tidak beres.


" Lalu apa itu tidak akan mencampuri urusan Sasy dan masalah apa tidak akan semakin melebar?" tanya Raquel.


" Meski dia sudah memutuskan persahabatan kita. Tetapi dia tetap sahabat kita. Dan semua yang kita lakukan demi kebaikannya," sahut Vandy.


" Ya aku hanya berharap semoga saja ada jalan yang terbaik," sahut Raquel.


" Iya. Ya sudah ayo kita masuk!" ajak Vandy. Raquel mengangguk dan mereka masuk sama-sama.


*********


Sasy berada di dalam mobilnya yang. Dia menangis senggugukan di dalam mobilnya. Kata-kata Verro sepertinya semakin melukai hatinya makanya dia menagis.


" Mereka semua benar-benar tidak peduli kepadaku. Sekarang mereka malah menyalahkanku. Aku tetap di salahkan. Aku tetap yang di salahkan. Mereka semua sudah berpihak pada Toby. Hanya karena Toby berbicara pada mereka dan Toby pasti bicara yang tidak-tidak pada mereka. Aku yakin itu," ucap Sasy yang menagis terisak-isak.


" Sasy sudahlah apa yang kamu tangisi, mereka itu memang tidak peduli denganmu dan lagian persahabatan kalian memang sudah berakhir. Jadi cukup Sasy biarkan saja mereka bicara apapun. Kau dan mereka sudah selesai berhubungan. Kalian sudah tidak punya ikatan apa-apa lagi. Jadi hentikan Sasy jangan dengarkan kata-kata mereka," ucap Sasy menenangkan dirinya.


Sasy beberapa kali menarik napasnya panjang dan membuangnya perlahan kedepan, mengambil handphonya dan bercermin melihat matanya yang benar-benar memerah karena karena menangis karena kata-kata Verro.


" Bagas. Iya aku akan menghubungi Bagas. Hanya dia yang kumiliki saat ini. Semuanya sudah meninggalkanku. Bukannya merasa bersalah. Tetapi mereka malah menyalahkanku. Sebaiknya aku menelpon Bagas hanya dia yang bisa mengerti aku," ucap Sasy yang langsung menekan tombol panggilan menelpon kekasih barunya Bagas.


Ternyata Bagas sedang berada di kafe yang mana sedang makan bersama dengan seorang wanita.


Dratttt Dratttt Dratttt Dratttt Dratttt Dratttt


Ponsel itu bergetar di atas meja dan Bagas melihat ponsel tersebut di mana panggilan dari Sasy.


" Sasy, ngapain dia menelpon, sudah tau orang lagi makan," batin Bagas yang terlihat panik.


" Siapa sayang?" tanya wanita yang makan di depannya itu.


" Oh ini, Hmmm bukan siapa-siapa," sahut Bagas yang langsung mematikan panggilan telpon dari Sasy bahkan mematikan handphone.


" Ayo makan lagi. Ini bukan siapa-siapa," sahut Bagas tersenyum.


" Hmmm, ya sudah kalau begitu," sahut wanita itu yang langsung menyuapi Bagas.


" Apa sih dia menelpon siang-siang seperti ini. Memang tidak ada hari lain apa," batin Bagas.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2