
Mendengar ucapan Raquel membuat Aldo tersentuh. Pasti tidak menyangka. Wanita yang kita sakiti selama ini yang ternyata ada di samping kita dan bahkan dengan mudahnya percaya dengan kata-katanya.
" Kenapa kamu percaya kepadaku?" tanya Aldo.
" Karena kamu mengatakan tidak melakukannya dan itu memang artinya kamu tidak melakukannya dan tidak ada alasan untukku harus bertanya panjang lebar lagi," jawab Raquel simple.
" Aldo apapun masalahnya. Kamu harus menghadapinya. Jika itu bukan kebenarannya. Maka tunjukkan kebenarannya dan kamu adalah Aldo yang aku kenal. Yang tidak akan lari dari masalah. Kamu selalu bisa menghadapi banyak masalah dan satu lagi tidak ada yang meninggalkan mu. Aku dan kami semuanya tidak pernah meninggalkan mu," ucap Raquel yang berbicara dengan tua kepada Aldo.
" Aku mengerti perasaanmu. Aku mengerti ketakutanmu. Tetapi jangan sia-siakan hidupmu. Kamu harus kuat," ucap Raquel. Aldo mengangguk-anggukan kepalanya yang merasa lega dengan kata-kata Raquel.
" Ya sudah, kamu jangan memikirkan apa-apa lagi, kamu makan ya," ucap Raquel.
" Aku sudah kenyang," jawab Aldo.
" Ya sudah kalau kamu sudah kenyang. Kalau begitu kamu istirahatlah," ucap Raquel.
" Iya," sahut Aldo. Raquel tersenyum.
" Aku keluar sebentar," ucap Raquel. Aldo mengangguk dan Raquel pun beralih dari tempat duduknya dan langsung pergi. Aldo terus melihat kepergian Raquel.
" Maafkan aku Raquel, aku sudah menyakitimu, aku sudah menyia-nyiakan mu, maafkan aku," batin Aldo menyesal karena pernah menyakiti Raquel dan nyatanya Raquel lah yang ada do sisinya.
***********
Sasy sedang berada di rumah sakit berada di ruangannya yang tampak mencari-cari sesuatu sampai-sampai membongkar-bongkar lemari dan juga membuka-buka laci.
" Di mana ya aku menaruhnya," gumamnya yang terus mencari-cari.
" Bukannya kemarin langsung di kerjain, malah sibuk yang lain sampai lupa tempatnya," Sasy terus mengoceh dengan tangannya yang sibuk-sibuk membolak-balikkan dokumen.
" Sasy," sapa Vandy yang masuk tiba-tiba Keruangannya.
" Ha, kenapa?" tanya Sasy hanya melihat Vandy sebentar.
" Nih, titipan kamu," sahut Vandy memberikan paper bag.
" Letakkan aja di meja," sahut Sasy.
" Oke," jawab Vandy yang langsung meletakkan.
__ADS_1
" Kamu cari apa sih, sibuk amat?" tanya Vandy.
" Nyari dokumen medis milik Fiona yang kemarin di suruh Verro aku cek. Aku tidak tau di taruh di mana. Raquel tiba-tiba minta," jawab Sasy.
" Memang untuk apa?" tanya Vandy.
" Aku juga tidak tau untuk apa, dia tiba-tiba minta. Aku saja malas melihatnya. Bahkan belum mengeceknya sama sekali," ucap Sasy.
" Kok, belum di cek," sahut Vandy.
" Ihhhh, liat orangnya aja nyebelin mau ngecek- ngecek, malas banget," sahut Sasy yang terlihat jijik dengan Fiona dan kembali mencari-cari.
" Oh, iya aku mau kasih tau mengenai Dokter yang katanya yang ingin melecehkan Fiona," sahut Vandy.
" Kenapa Dokternya, sudah di temukan?" tanya Sasy serius.
" Iya, aku sempat bertemu dengannya dan dia mengatakan tidak melakukan itu sama sekali. Dia tidak melecehkan Fiona sama sekali. Dia hanya mencoba memeriksa Fiona. Tetapi Fiona menolak dengan alasan yang tidak jelas. Sehingga Dokter tersebut harus memaksa sedikit dan membuat Fiona terkesan di lecehkan dan berteriak-teriak," jelas Vandy. Sasy dengan serius menyimak cerita Vandy.
" Lalu?" tanya Sasy.
" Ya terakhirnya orang-orang berdatangan dan terjadi salah paham yang menganggap Dokter tersebut melecehkan Fiona," jawab Vandy.
" Lalu kenapa Dokter itu pergi begitu saja?" tanya Sasy.
" Aneh banget, kapan kejadiannya kapan hebohnya. Memang si Fiona yang cari-cari gara-gara mulu. Aneh tau dianya, bikin ulah, banyak tingkah," sahut Sasy kesal.
" Aku juga tidak tau kenapa seperti itu, hanya gara-gara di periksa dia berpikir bahwa Dokter itu ingin melecehkannya," sahut Vandy menggedikkan bahunya.
" Ishhh, benar-benar, ya namanya juga Dokter harus di periksa. Tetapi memang dasar aneh, gara-gara dia Verro dan Cherry ribut," sahut Sasy semakin kesal.
" Ya begitulah, mau gimana lagi," sahut Vandy yang
" Lalu kamu sudah beritahu Verro?" tanya Sasy.
" Belum. Aku juga tidak melihatnya seharian ini. Apa dia tidak masuk ya," ucap Vandy.
" Paling, ribut sama Cherry. Kalau nggak mengurusi Fiona," sahut Sasy menerka-nerka.
" Ya nanti aku akan memberi tahu masalah Dokter tersebut agar dia dan Cherry tidak ribut lagi," ucap Vandy memutuskan. Sasy mengangguk-angguk.
__ADS_1
" Hmmm, oh iya Aldo bagaimana?" tanya Vandy.
" Raquel bilang sudah membaik, sudah juga mau bicara. Nanti kalau Aldo siap dia akan mencoba untuk menemui kita. Lagian dia akan dia harus cepat-cepat menyelesaikan masalah ini, jangan berlarut-larut terus," ucap Sasy.
" Ya semoga saja, semuanya baik-baik saja," sahut Vandy penuh harapan.
" Masalah memang banyak, Fiona yang membuat Verro dan Cherry berantakan dan Tari bikin ulah. Hhhhh, pusing dengan masalah yang terus berdatangan," ucap Sasy geleng-geleng.
" Ya kita doakan saja, semoga semuanya membaik," sahut Vandy. Sasy mengangguk-angguk.
" Ya sudah bantuin nyariin dari pada tidak ada kerjaan," ucap Sasy.
" Iya," sahut Vandy tidak ikhlas dan membantu Sasy mencari-cari hasil medis Fiona. Yang memang Raquel membutuhkannya karena merasa ada yang tidak beres dengan Fiona.
**********
Azizi berdiri di depan cermin di kamar mandi dengan memegang tes kehamilan dengan tanda 2 garis biru.
" Ternyata benar, aku hamil," ucapnya menatap dirinya di depan cermin dengan mengusap perut rampingnya. Wajah Azizi datar tidak tau harus bahagia atau sedih menanggapi kehamilannya itu.
" Kamu hamil!" tiba-tiba Vandy memasuki kamar mandi.
" Kamu kebiasaan, masuk kamar mandi sembarangan," ucap Azizi dengan mengkerutkan bibirnya.
Vandy tersenyum dan matanya mengarah pada tespeck yang di pegang Azizi. Lalu mendekati Azizi.
" Kamu hamil," ucap Vandy. Azizi mengangguk pelan. Vandy tersenyum mendengar kabar bahagia itu. Azizi pun berjalan ingin keluar kamar mandi dan melewati Vandy. Namun Vandy menahan tangannya dan memeluknya.
" Aku sangat bahagia Azizi dengan kehamilan anak ke-2 kita," ucap Vandy memeluk Azizi erat dan Azizi tidak membalas pelukan itu.
" Aku tau Azizi sampai kapanpun kamu tetap akan marah kepadaku dan tidak akan bisa melupakan masa lalu. Aku tau aku yang bersalah dalam hal itu. Azizi dengan kehamilan kamu ini akan membuatku menebus kesalahanku untuk bertanggung jawab dan ikut ahli dalam merawat kandungan kamu," ucap Vandy yang terus memeluk Azizi yang mencurahkan kebahagiannya.
Vandy melepas pelukan itu dan melihat kearah Azizi.
" kita akan merawat bayi ini sama-sama," ucap Vandy dengan memegang ke-2 pipi Azizi. Azizi tetap diam tanpa menanggapi. Vandy tersenyum lebar dan mencium kening Azizi.
" Terima kasih, kamu sudah mengandung anak ke-2 kita," ucap Vandy lagi.
" Vandy, Azizi, kalian di mana, ayo makan malam!" panggil Lina sang mama membuat mereka melihat ke arah pintu.
__ADS_1
" Ayo kita turun, kita harus memberi kabar bahagia ini pada mama dan papa," ucap Vandy memegang tangan Azizi dan membawanya pergi dan Azizi mengikut saja.
Bersambung