
Verro berdiri di depan cermin dengan memakai jam tangannya yang sudah rapi- rapi yang ingin ke rumah sakit. Sementara Cherry masih tertidur dengan pulas. Verro hanya sekali-sekali melihat kearah istrinya yang tidak kunjung bangun juga dan pasti dia tidak tega membangunkan istrinya yang sangat cantik saat tidur itu.
Setelah selesai bersiap-siap. Verro pun duduk di samping Felly sebagian kepala Felly, dengan mengusap-ngusap lembut pucuk kepala Cherry dan mencium keningnya yang terasa hangat.
Membuat Verro yang menyentuh kulit istrinya itu mengkerutkan dahinya. Verro meletakkan punggung tangannya di kening Cherry.
" Kamu demam," ucap Verro yang merasa tangannya hangat.
Verro langsung membuka tas Dokter nya dan mengeluarkan cek suhu dan memasukkan kedalam mulut istrinya yang ingin mengecek suhu istrinya. Setelah sesuai waktunya. Verro mengangambilnya kembali dan duduk berpindah duduk menghadap Felly.
" Kamu sedang tidak sehat," ucap Verro yang melihat sang istri yang sedang sakit. Verro yang pun mengambil steskop dan langsung memeriksa sang istri. Suaminya yang melakukan banyak hal membuat Cherry membuka matanya perlahan.
" Sayang, kamu sudah bangun," ucap Verro lembut. Cherry yang merasa lemas menganggukan matanya. Verro langsung menggenggam tang istrinya dengan erat.
" Kamu mau makan?" tanya Verro sangat lembut. Cherry menjawab dengan menggelengkan kepalanya sekali.
" Jam berapa sekarang?" tanya Cherry dengan suara serak.
" Sudah jam 8 lewat," jawab Verro
" Kenapa kamu tidak ke rumah sakit?" tanya Cherry.
" Aku tidak Kerumah sakit hati ini. Aku ingin di sini menemanimu," ucap Verro yang mana mungkin meninggalkan sang istri yang sedang tidak enak badan.
" Tapi kasihan pasien-pasien kamu sudah menunggu," ucap Cherry yang memikirkan pasien suaminya.
" Kamu juga pasienku, dan pasien utamamu. Jadi aku akan merawatmu. Aku akan tetap di sini sebagai Dokter dan suamimu yang akan merawatmu sampai kamu sembuh," ucap Verro.
" Aku tidak apa-apa, aku hanya merasa lemas," jawab Cherry yang tidak ingin merepotkan suaminya.
" Aku Dokter, dan aku tau istriku sedang sakit. Jadi kamu mau mengatakan tidak apa-apa. Tetapi tetap aku yang tau kondisi mu," sahut Verro.
" Tapi..." Cherry tetap tidak ingin merepotkan suaminya.
" Tidak ada tapi-tapi. Sekarang kamu makan ya. Setelah itu kamu minum obat. Agar kondisi kamu benar-benar pulih," ucap Verro menegaskan. Cherry pun akhirnya mengalah dan mengangguk menuruti permintaan suaminya.
" Aku akan siapkan sarapan untuk kamu. Kamu mau sarapan apa?" tanya Verro.
" Aku mau bubur ayam, tapi pakai kuah kuning dan jangan ada ayamnya," ucap Cherry dengan permintaannya. Verro tersenyum mendengarnya dengan mengusap-usap pipi istrinya.
" Sayang, itu namanya bukan bubur ayam," sahut Verro tersenyum.
__ADS_1
" Tapi aku mau itu," sahut Cherry dengan manjanya.
" Baiklah. Jika memang kamu mau bubur ayam. Maka aku akan membuatkannya. Jadi kamu jangan khawatir," sahut Verro yang tidak masalah.
" Tidak, aku tidak mau di buatkan. Aku mau kamu membelinya di ujung jalan yang gerobak hijau. Aku mau makan punya bapak-bapak itu," ucap Cherry dengan permintaannya yang aneh-aneh saja.
" Baiklah aku akan membelinya sebentar," sahut Verro tidka masalah.
" Jangan lupa pakai telur mata sapi yang separuh masak dan kuning telurnya harus masih meleleh," ucap Cherry lagi yang banyak permintaan.
" Baik sayang," sahut Verro yang menurut saja.
" Dan satu lagi. Kamu juga beliin aku nanti ku lupis dan juga buah kecapi," ucap Cherry yang tampaknya sedang mengidam.
" Hmmm, ada lagi?" tanya Verro tersenyum.
" Memang masih boleh minta?" tanya Cherry takut merepotkan suaminya. Verro tersenyum mendengarnya.
" Apapun yang kamu minta akan aku belikan walau sejauh manapun dan sesulit apapun," sahut Verro. Cherry tersenyum tipis mendengarnya.
" Kalau begitu kamu pergi dulu nanti aku akan kirim dari wa," ucap Cherry yang sepertinya harus berpikir apa-apa lagi yang ingin di makannya.
" Apa banyak?" tanya Verro. Cherry mengangguk tanpa dosa. Verro tersenyum mendengarnya.
" Makasih," sahut Cherry.
" Sama-sama," jawab Verro lalu mencium lembut kening istrinya.
" Aku pergi sebentar ya," ucap Verro. Cherry mengangguk. Verro pun berdiri dengan berat hati meninggalkan istrinya. Tetapi dia juga pergi untuk membeli beberapa permintaan istrinya.
Tidak berapa lama mobil Verro berhenti di depan rumahnya. Hanya 1 jam dia keluar untuk membeli semua yang di titipkan istrinya padanya. Verro keluar dari mobil dengan ke-2 tangannya yang sudah penuh dengan kantung plastik yang apa lagi jika tidak pesanan untuk istri tercintanya yang pastinya sudah menunggunya.
Verro memasuki rumah dan berpapasan dengan bibi dan bibi yang melihat Verro membawa banyak kantung plastik itu langsung menghampiri Verro.
" Mari bibi bantu mas Verro," ucap Bibi.
" Tidak usah bi!" tolak Verro. " Bibi ambil piring saja untuk tempat ini semua dan bawa kekamar," ucap Verro.
" Baiklah, kalau begitu," sahut bibi dan Verro kembali melanjutkan langkahnya dan langsung memasuki kamar dan melihat Cherry masih terbaring dengan menyandarkan punggungnya di kepala ranjang dengan beralaskan bantal di punggungnya yang mungkin membuat Cherry nyaman.
Melihat sang suami datang membuat matanya berbinar. Pandangan mata indah itu turun ke tangan suaminya, melihat banyaknya bawaan sang suami semakin membuat mata itu berbinar dengan senyum mengembang di wajah Cherry.
__ADS_1
Verro pun langsung menghampiri istrinya dan meletakkan barang bawaannya di atas meja dan kembali duduk di samping Cherry dengan punggung tangannya memegang kening istrinya untuk mengecek suhu panas istrinya.
" Bagaimana Dokter keadaanku?" tanya Cherry dengan nada bercandaan. Membuat Verro mendengus.
" Kamu baik-baik saja. Kondisi kamu akan semakin pulih. Jika kamu menuruti apa kata Dokter," jawab Verro yang tidak kalah bercanda dengan Cherry. Cherry mendengarnya tersenyum lebar.
" Kalau begitu, Dokter harus menciumku. Karena tadi aku jauh lebih baik karena mendapat ciuman lembut itu dan aku yakin aku sembuh kalau Dokter melakukannya lagi," sahut Cherry dengan manjanya. Membuat Verro tersenyum geleng-geleng melihat tingkah istrinya yang menggemaskan.
" Baiklah, sebagai Dokter aku harus memberikan pasienku kenyamanan," sahut Verro. Tiba-tiba Cherry mengkerutkan dahinya mendengar ucapan Verro.
" Itu kata-kata untuk Clara," sahut Cherry yang mengingat ciumannya dengan Verro di balkon rumah sakit dan Verro mengatakan untuk kenyamanan pasien. Verro mendengarnya kembali tersenyum.
" Baiklah, aku akan menciummu agar kamu sembuh," sahut Verro. Cherry tersenyum lebar mendengarnya dan Verro langsung mencium kening istrinya. Cup.
" Apa ada perubahan?" tanya Verro dengan wajahnya yang sangat dekat dengan Cherry dan Cherry menggelengkan kepalanya.
Cup. Verro mencium pipi kanan Cherry lembut.
" Apa ada perubahan?" tanya Verro lagi. Cherry kembali menggeleng dan kembali mencium pipi kanan istrinya.
" Bagaimana dengan ini. Apa kah ada perubahan lagi?" tanya Verro lagi. Cherry kembali menggeleng. Verro mendengus dan mengecup bibir Cherry.
" Kalau ini bagaimana?" tanya Verro. Cherry mengalungkan tangannya di leher Verro.
" Aku belum merasa sembuh, mungkin aku ingin lama," ucap Cherry menggoda Verro. Verro pun memegang dagu istrinya dan meraih bibir istrinya yang mungkin yang ingin menciumnya dalam.
Ceklek.
Belum sempat melakukannya pintu kamar sudah terbuka dan ternyata bibi. Verro langsung melepas, begitupun Cherry melepas tangannya dari leher suaminya dan membuat mereka jadi gugup karena tertangkap.
" Maaf, bibi tidak ketuk pintu dulu," sahut bibi merasa tidak enak yang sudah mengganggu keromantisan pasangan suami istri itu.
" Ha, tidak apa-apa bi," sahut Verro salah tingkah dan bahkan malu.
" Bibi hanya mengantar piring," ucap Bibi yang juga malu.
" Ya sudah masuklah," sahut Verro. Bibi pun masuk dan meletakkan piring di atas meja.
" Kalau begitu bibi keluar duku," ucap bibi pelan. Verro dan Cherry mengangguk dan bibipun langsung pergi dan menutup pintu kamar. Cherry dan Verro pun saling melihat dan malah sama-sama tertawa kecil.
" Kami sih, nakal," ucap Cherry menyalahkan Verro. Padahal dia yang memulai.
__ADS_1
" Iya deh, sekarang kamu makan ya," ucap Verro. Cherry mengangguk tersenyum dan Verro pun memindahkan makanan itu ke dalam piring yang pasti di bantu istrinya Cherry yang juga tidak sabaran untuk memakan makanan yang tadi di pesannya.
Bersambung