DETAK Love Story' School

DETAK Love Story' School
Episode 276 Arif dan Raquel.


__ADS_3

Pantesan Raquel tidak mengangkat telpon Nadya. Ternyata Raquel sedang bersama Dokter Arif. Sepertinya tanpa campur tangan dari Sasy. Raquel bisa aja tuh dekat-dekat dengan Dokter Arif.


Raquel dan Arif sedang berjalan-jalan sambil menikmati makanan di lokasi taman bermain bersama-sama. Mungkin di sana memang tempat orang-orang menghabiskan waktu berdua sambil makan dan sambil mengobrol dengan melakukan banyak hal sama seperti mereka ber-2 yang sepertinya sangat cepat untuk membangun chemistry.


Sama halnya sekarang ini. Arif dan Raquel sedang berada di depan penjual takoyaki. Mereka sama-sama menelan ludah yang sepertinya tidak sabaran untuk menikmati makanan yang membuat ngiler tersebut.


Mereka harus menahan diri dengan pemandangan yang membuat para cacing di dalam sana berdemo. Raquel berkali-kali mengipas-ngipas hidungnya yang tidak sabaran untuk makanan itu.


" Kenapa penjualnya lama sekali membuatnya," ucap Raquel yang sudah tidak sabaran. Arif di sampingnya hanya tersenyum geleng-geleng dengan Raquel.


" Bersabarlah, sebentar lagi," ucap Arif dengan lembut. Raquel mengangguk dan akhirnya penjual pun memberikan makanan itu pada Raquel.


" Dokter tolong pegangkan, saya mau mengambil uang sebentar," ucap Raquel yang memberikan makanan itu pada Arif.


" Biar saya saja yang membayarnya," sahut Arif dengan gentelment langsung mengeluarkan uang dari dompetnya.


" Tidak perlu aku ada kok," sahut Raquel yang tidak enak.


" Kamu sedang megang makanan, jadi biar saya saja," sahut Arif yang langsung memberikan pada penjual dan Raquel tidak bisa melakukan apa-apa lagi.


" Makasih Dokter," ucap Raquel merasa tidak enak.


" Sama-sama, kita makan bersama. Kamu yang pesan dan yang pegang. Saya yang bayar jadi adil bukan," sahut Arif. Raquel tersenyum mendengarnya.


" Terserah Dokter saja deh," sahut Raquel. " Kita makan di mana?" tanya Raquel.


" Di sana, ada tempat duduk. Tidak baik juga makan berdiri," sahut Arif. Raquel mengangguk. Selain untuk kesehatan pasti memang untuk makan berdiri tidak baik dalam hal lain.


Raquel dan Arif menyewa tikar kecil yang di sediakan di tempat itu. Agar mereka tidak langsung duduk di atas rumput.


" Ini Dokter," ucap Raquel memberikan pada Arif. Arif mengambil 1 takoyaki tersebut.


" Kamu juga makan," sahut Arif. Raquel mengangguk dan jelas akan memakannya.


" Kamu menyukainya?" tanya Arif.


" Hmm, makanan Favorite dari dulu. Dulu sewaktu kecil papa kalau ada bisnis ke Jepang pasti membelikan ini sebagai oleh-oleh. Padahal takoyaki kalau di makan hangat baru enak. Tetapi karena papa yang bawa jadi enak di makan walau dingin," sahut Raquel yang bercerita dengan santai.


" Kamu sudah dewasa. Di Jakarta juga banyak sekarang makanan ini. Jadi kamu bisa membelinya sendiri. Tanpa menunggu papa mu untuk ke Jepang," sahut Arif.

__ADS_1


" Hmmm, Dokter benar. Tetapi lebih enak kalau langsung dari tempat produksinya," sahut Raquel.


" Lalu apa sekarang kamu masih menunggu oleh-oleh dari papa mu?" tanya Arif. Raquel menggeleng.


" Ya karena kamu pasti bisa membelinya sendiri," sahut Arif. Raquel mengangguk dengan pelan sambil mengunyah makanan yang di sukainya itu.


" Hmmm, kalau begitu, sekarang gantian. Kamu ada di Jepang kamu belikan saja untuk papamu," sahut Arif. Raquel tersenyum tipis mendengarnya.


" Papa sudah tidak tinggal bersamaku," sahut Raquel.


" Oh, iya, kamu mandiri juga tinggal sendiri," sahut Arif.


" Bukan. Aku tinggal dengan mama. Keluarga ku broken home," sahut Raquel menahan kesedihannya membuat Arif kaget.


" Hmmm, papa dan mama sudah berpisah saat aku kelas naik kelas 3 SMA. Mereka tidak cocok dan memilih untuk berpisah. Tetapi sepertinya mama tidak terima dengan perpisahan itu. Karena ada berurusan dengan orang ke-3 sampai akhirnya mama mengalami gangguan jiwa sampai detik ini dan masalah papa aku tidak tau sampai sekarang bagaiman yang sudah sampai 8 tahun," ucap Raquel yang dengan lempang bercerita dan Aldo mendengarkan dengan wajahnya yang sendu.


" Dan hanya Aldo yang dulu selalu bersamaku," batin Raquel yang harus mengingat Aldo yang ada di sisinya saat kehancuran keluarganya. Sampai air mata Raquel menetes.


" Maaf, saya tidak bermaksud," sahut Arif merasa tidak enak. Raquel langsung tersenyum menutupi kesedihannya.


" Hmmm, tidak apa-apa Dok, itu hanya masa Lalau," sahut Raquel.


" Hmmm, ayo makan lagi. Kita malah kebanyakan ngobrol. Saya juga malah curhat," sahut Raquel yang merasa tidak enak..


" Hmm, aku sama Vandy Sama-sama menyukai makanan ini. Aku sama dia suka berebutan," sahut Arif.


" Hmmm, begitu rupanya," sahut Raquel.


" Kamu makan lagi. Kalau kurang kita beli lagi," sahut Arif.


" Makasih Dokter, sudah di teraktir," sahut Raquel.


" Kamu jangan panggil saya Dokter. Dokter itu profesi. Kamu juga Dokter dan saya tidak panggil kamu Dokter," sahut Arif.


" Habisnya kalau tidak Dokter harus apa. Masa iya. Saya harus panggil Nama kan tidak enak. Kalau memanggil kakak sangat aneh," sahut Raquel bingung.


" Kenapa aneh dari pada kamu memanggil Dokter itu lebih aneh sangat formal," sahut Arif. Raquel tersenyum mendengarnya.


" Hmmm, baiklah kalau begitu aku panggil kak Arif saja," sahut Raquel. Arif mengangguk mendengarnya. Lalu mereka kembali makan bersama dengan bercerita yang tampaknya sangat mudah akrab mungkin memang sangat cocok dan nyaman untuk bicara.

__ADS_1


**************


Setelah jalan dan makan bersama dengan Arif. Raquel dan Arif akhirnya pulang ke penginapan mereka. Mereka berjalan dengan santai sambil mulut mereka tidak henti mengobrol entah apa yang di obroli mereka. Tetapi pembahasan mereka tidak habis-habis.


Saat memasuki gerbang penginapan. Raquel dan Arif melihat Fiona yang duduk di salah satu bangku yang ada di halaman penginapan.


" Fiona," sapa Arif yang langsung menghampiri Fiona. Namun Raquel langsung berdecak kesal melihat ke hadiran Fiona.


" Hmmm, Dokter," sahut Fiona menyapa.


" Ngapain sih nih anak kemari segala," batin Raquel tampak tidak suka. Walau Fiona sudah tersenyum padanya..


" Kamu ngapain di sini malam-malam?" tanya Arif heran.


" Maaf Dokter saya hanya ingin mengambil obat yang kemarin Dokter bilang," jawab Fiona.


" Astaga saya lupa," sahut Arif yang menepuk jidatnya, " Ya ampun maaf banget ya Fiona. Saya benar-benar lupa. Seharusnya saya mengantarkan ke hotel," sahut Arif merasa tidak enak.


" Tidak apa-apa Dokter makanya saya kemari ingin mengambilnya," sahut Fiona.


" Ya sudah, kamu tunggu sini. Biar saya ambil kedalam dulu," sahut Arif yang langsung buru-buru masuk kedalam penginapan.


Dan meninggalkan Fiona dan Raquel yang saling melihat. Fiona menundukkan matanya tersenyum tipis dan Raquel sama sekali tidak.


" Kamu tau dari mana kami menginap di sini?" tanya Raquel sini.


" Aku hanya tau kalau Dokter Arif menginap di sini. Karena sebelumnya dia sudah mengatakannya dan aku tidak tau kalau kalian juga menginap di sini," sahut Fiona dengan santai.


" Terus apa harus kamu datang segala untuk mengambil obatmu. Kamu kan bisa lewat telpon," sahut Raquel.


" Aku harus meminum obatnya secepatnya. Kamu tidak akan mengerti. Jika kamu tidak merasakannya," sahut Fiona. Raquel tersenyum miring mendengarnya.


" Ya mending tidak merasakannya," sahut Raquel yang langsung melangkah masuk meninggalkan Fiona.


" Aku tau kamu tidak menyukaiku," sahut Fiona membuat langkah Raquel berhenti.


" Mungkin banyak kesalahan yang aku lakukan. Sampai membuatmu detik ini masih merasa aku salah. Aku tidak bermaksud apapun Raquel. Aku hanya ingin tidak mempunyai musuh di saat-saat terakhirku," sahut Fiona. Raquel membalikkan tubuhnya dan menyunggingkan senyumnya.


" Asal perkataan mu itu berasa dari hatimu," sahut Raquel menanggapi dengan santai dan langsung pergi meninggalkan Fiona. Wajah Fiona terlihat senduh saat melihat cueknya Raquel kepadanya.

__ADS_1


" Wajar dia seperti itu," batin Fiona.


Bersambung


__ADS_2