
" Vandy, Azizi ada apa. Kenapa kalian diam. Kalian mau kan pergi untuk berbulan madu?" tanya Lina. Azizi terdiam yang tidak bisa menanggapi apa-apa.
" Vandy," tegur Lina lagi yang melihat Vandy bengong.
" Iya ma," sahut Vandy.
" Vandy mama sedang bertanya kamu mau apa tidak untuk perjalanan bulan madu ke Jepang," sahut Arif. Vandy terlihat menarik napasnya panjang dan membuangnya perlahan kedepan.
" Hmmm, iya aku sama Azizi akan pergi," sahut Vandy yang memutuskan tanpa berdiskusi dengan Azizi dulu. Mungkin Vandy tidak mungkin berdiskusi dengan Azizi di meja makan dan Vandy juga tidak mungkin menolak. Sama halnya dengan Azizi yang diam saja dan menerima apapun yang di katakan Vandy.
" Bagus lah kalau begitu, mama sama papa sudah menyiapkan tiket untuk kalian berdua," sahut Lina tersenyum merasa bahagia.
" Mama, akan pergi nenek?" tanya Iqbal.
" Iya, sayang, mama akan pergi bersama papa kamu untuk honymoon ke Jepang," jawab Lina.
" Honymoon itu apa nenek? tanya Iqbal dengan polosnya.
Lina sepertinya salah memberikan teori pada anak seusia Iqbal terakhirnya mereka saling melihati dan kebingungan harus menjawab apa. Azizi juga malu dan tidak tau harus menjelaskan bagaimana pada putranya itu.
" Mama honymoon itu apa?" tanya Iqbal lagi yang sangat penasaran.
" Hmmm, itu, ha," sahut Azizi dengan gagap yang tidak tau harus berbicara apa yang menjelaskan pada putranya.
" Sayang, honeymoon itu artinya jalan-jalan bersama yang khusus untuk orang yang baru menikah," jelas Lina mengambil alih.
" Apa itu artinya Iqbal tidak boleh ikut?" tanya Iqbal.
" Hmmm, benar sayang Iqbal tidak boleh ikut. Itu khusus untuk mama dan papa kamu. Iqbal sama nenek, sama kakek dan sama om Arif di sini. Kalau nanti mama dan papa sudah pulang. Baru kita akan jalan-jalan bersama," jelas Lina dengan tutur kata yang lembut kepada Iqbal yang membuat Iqbal mengerti.
" Ohhh, begitu. Tapi apa mama pulangnya akan lama?" tanya Iqbal.
" Tidak Iqbal hanya beberapa hari saja," sahut papa Vandy.
" Hmmm, oh ya sudah kalau begitu, yang penting mama dan papa hati-hati," sahut Iqbal dengan bijaksana yang mendoakan sang mama. Yang lain tersenyum mendengarnya.
__ADS_1
" Kamu memang anak yang pintar," sahut Lina mengusap-usap rambut Iqbal yang sangat bangga dengan cucunya yang sangat pintar itu.
" Ya sudah sayang kamu makan lagi," sahut Lina.
" Iya nenek," sahut Iqbal.
" Ya Allah, aku dan Vandy akan pergi ke Jepang. Aku sama Vandy akan lebih sering berduaan. Bagaimana ini apa yang harus aku lakukan," batin Azizi yang merasa gelisah.
" Aku tau Azizi, kamu pasti gelisah tidak nyaman dengan permintaan mama dan papa," batin Vandy yang mengerti apa yang di khawatirkan Azizi.
**********
Rumah sakit.
" Kok bisa ada sama kamu kunci mobil aku?" tanya Raquel mengintimidasi Sasy yang duduk di hadapan di kantin rumah sakit.
" Kemarin tidak sengaja aku temui," sahut Sasy mencari alasan. Namun Raquel melihat Sasy tampak dengan curiga.
" Nggak mungkin, itu pasti tidak mungkin, kita kemarin sudah mencari-cari tapi tidak ketemu. Lalu kenapa kamu bisa menemukannya," sahut Raquel tidak percaya.
" Ishhh, nggak percayaan Ama aku bilang apa," sahut Sasy.
" Terserah deh, percaya atau tidak yang jelas aku sudah memberi tahu kebenarannya, aku memang tidak sengaja menemukannya," sahut Sasy dengan santainya sambil makan. Namun Raquel tetap tidak percaya dengan apa yang di katakan Sasy.
" Hmmm, sudahlah Raquel yang pentingkan kamu bisa pulang dengan selamat dan kunci mobil kamu juga sudah di temukan. Jadi jelas tidak ada yang masalah," sahut Sasy dengan santainya.
" Ya aneh, aja," sahut Raquel yang masih merasa ada yang tidak beres.
" Ehem," tiba-tiba di tengah pembicaraan itu Cherry dan Verro datang.
" Hey, Cherry," sahut Sasy. Cherry tersenyum mengangguk.
" Ya sudah sayang kamu sama Sasy dan sama Raquel ya aku kedalam dulu," ucap Verro pamitan pada istrinya.
" Hmm, iya sayang," sahut Cherry mencium punggung tangan suaminya. Lalu Verro mencium kening Cherry. Pasangan itu menunjukkan keromantisan mereka yang membuat Sasy da Raquel semakin iri.
__ADS_1
" Ya sudah aku masuk dulu," ucap Verro. Sasy dan Raquel mengangguk. Verro pun meninggalkan istrinya pada teman-temannya.
" Kalian pada ngomongin apa sih?" tanya Cherry.
" Nggak Cherry hanya bicara masalah kunci mobil saja," sahut Sasy.
" Lalu apa masalahnya?" tanya Cherry heran.
" Gini lo Cherry aku heran saja. Kenapa coba tiba-tiba kunci mobil ku ada sama Sasy. Padahal kan kemarin kita mencarinya kesulitan. Tetapi apa nggak ada hasilnya. Kan aneh sekali kalau tiba-tiba ada sama Sasy," sahut Raquel yang menjelaskan yang lebih tepatnya seperti mengadu.
" Ishhhh, maksudnya apaan, mau nyalahin ni. Aku sudah bilang tidak sengaja di temukan, nggak percayaan banget sih," sahut Sasy lama-lama kesal.
" Iya deh, percaya aja," sahut Raquel.
" Sudahlah, jangan di ributin lagi. Yang penting kunci mobil kamu sudah ketemu dan itu sudah yang terpenting," sahut Cherry.
" Tuh dengarin," sahut Sasy merasa benar karena ada yang membela.
Raquel pun hanya mengiyakan saja. Percaya tidak percaya tetapi itu sudah menjadi kejadian.
" Hmmm, oh iya mengingat pesta pernikahan kemarin waktu ketemu Fiona. Nggak nyangka banget ya kalau Fiona ternyata punya penyakit," sahut Sasy yang tiba-tiba mengingat Fiona.
" Mungkin itu karma kali untuk dia," sahut Raquel yang tampaknya punya dendam yang tidak dapat di selesaikan dengan Fiona.
" Setuju sih. Aku masih ingat banget waktu dia ngatain Cherry. Eh sekarang jadi tau rasa sendirian kenak. Itu lah yang di namakan karma bicara sembarang. Dia pikir hidup itu sebegitu indahnya sampai bicara sembarangan seperti itu," sahut Sasy.
" Kalian ini bicara apa sih. Orang ketimpa musibah bukannya di doakan yang terbaik malah bicara yang lain-lain, malah di Syukurin lagi. Nggak baik tau," sahut Cherry geleng-geleng melihat ke-2 temannya itu.
" Ya ampun Cherry siapa yang bicara yang lain-lain. Kita hanya bilang Fiona itu hanya sedang mendapatkan karma," sahut Sasy.
" Sasy penyakit itu bukan main-main jadi tetap aja kamu nggak boleh gitu," sahut Cherry
" Cherry masa kamu tidak ingat dulu bagaimana dia bicara kepada kamu. Di mana dia merasa paling sempurna yang menghina- hina kamu terus. Aku bahkan menjadi saksi bagaimana dia terus menghina kamu, bilang kamu ini itu," sahut Raquel yang memang dulu dia ada di sana saat Fiona sediakanya bicara dengan Cherry dan bahkan dia yang merekam pembicaraan Fiona.
" Itu masa lalu. Jadi sudah nggak usah di bahas lagi" sahut Cherry yang tidak mau membahas masalah Fiona.
__ADS_1
Bersambung
"