DETAK Love Story' School

DETAK Love Story' School
Episode 183 Bayu yang banyak rahasia.


__ADS_3

Tari memberhentikan mobilnya di depan rumah Clara. Rumah Bayu dan mamanya yang ada di Indonesia.


" Aku harus mengambil vitamin yang sering di konsumsi Clara. Aku sampai melupakan apa yang di katakan Dokter Verro. Karena memang banyak sekali pekerjaan, jadi belum sempat untuk mengambilnya," ucapnya sambil membuka seat belt nya.


Tari memang baru mengingat hal itu. Padahal Verry sudah menyuruhnya sangat lama. Tetapi pekerjaannya yang banyak membuat dia lupa dan baru punya kesempatan hari ini.


Tari keluar dari mobilnya dan langsung memasuki rumah Cherry.


" Bayu!" panggil Tari memanggil-manggil nama Bayu sambil langkahnya terus memasuki rumah itu.


Dia memang tidak akan memberitahu Bayu. Jika tujuannya untuk mengambil obat yang di konsumsi Calara. Dia akan beralasan ingin mengambil pakaian Clara. Karena jika sampai Bayu tau tujuannya. Pasti Bayu akan banyak bertanya-tanya.


Tari terus memanggil Bayu. Karena Setaunya Bayu tidak ada di rumah sakit. Walaupun ingin mengambil sesuatu tanpa sepengetahuan Bayu dan bahkan Cherry sendiri. Tari tetap meminta izin masuk agar tidak menjadi seorang pencuri.


Tari sudah memanggil-manngil. Tetapi tidak ada yang menyahut sama sekali dan akhirnya pun Tari memutuskan untuk menaiki anak tangga yang mana langsung menuju kamar Clara.


Tari langsung memasuki kamar itu. Padahal dia tau kamar itu kosong tetapi masih tetap saja melihat di sekelilingnya seakan takut ada yang melihatnya. Ya apapun itu dia memang harus waspada. Tidak mau ada yang melihatnya.


Tari langsung menuju ranjang Clara dan mendekati meja yang ada di samping ranjang tersebut.


" Di mana ya obatnya," ucap Tari yang terus mencari-cari obat yang sering di konsumsi temannya itu.


Tari juga membuka laci-laci untuk mencari keberadaan obat tersebut sampai akhirnya Tari menemukan boto kecil sama persis di lihatnya saat Clara mengkonsumsinya.


" Hah! iya ini dia obatnya. Akhirnya aku menemukannya juga," ucapnya dengan senyum di wajahnya yang pada akhirnya menemukan apa yang di carinya.


" Ahhhh, sebaiknya aku pergi dari sini secepatnya. Sebelum Bayu akhirnya melihatku mengambil obat ini," batinnya yang buru-buru melangkah.


Tari melanjutkan langkahnya setelah keluar dari kamar Calara.


" Sialllll!!!! suara teriakan itu terdengar di telinga Tari. Membuat langkah tari berhenti.


" Bayu," ucapnya yang mendengar suara teriakan Bayu yang menggelegar yang berasal dari ujung kamar.


" Bayu ada di sini," gumamnya mengira tidak ada Bayu. Karena sedari tadi dia sudah lelah memanggil-manggil. Tetapi tidak ada meresponnya yang beranggapan jika Bayu benar-benar tidak ada di rumah itu.


" Kenapa dia?" tanya Tari penasaran apa yang terjadi pada Bayu.


" Bukannya pergi. Tari melanjutkan langkahnya kearah suara tersebut karena memang penasaran dengan apa yang terjadi pada Bayu.


Langkah Tari berhenti di depan kamar di mana asal usul suara itu timbul.


" Kenapa semuanya seperti ini. Masalah semakin banyak dan pengacara itu sekarang mulai mencurigaiku," ucap Bayu dengan kemarahan di wajahnya membuat Tari yang berada di balik pintu kamar. Heran dengan apa yang di katakan Bayu.

__ADS_1


" Pengacara. Apa maksudnya," batin Tari bingung.


" Aku tidak akan membiarkannya mengetahui sedikitpun tentangku. Biarlah kematian Laudya tetap seperti itu," ucapnya lagi.


" Laudya. Kenapa dia menyebutkan nama Laudya. Apa hubungannya," batin Tari semakin bingung.


" Dari dulu Laudya memang bikin susah. Sudah mati saja. Masih bertingkah. Seharusnya kau tenang di alam mu. Jangan malah membuatku kesulitan. Semua ini gara-gara tari. Dia pakai mengungkap kasus itu segala. Dia memang menambah banyak masalah," ucap Bayu lagi.


" Apa yang di katakan Bayu. Kenapa dia berbicara hal itu. Selama ini dia mendukungku untuk membuka kembali kasus Laudya dan sekarang dia malah berbicara yang tidak-tidak dan seperti Bayu menyembunyikan sesuatu," batin Tari yang merasakan ada yang tidak beres dengan Bayu temannya itu.


" Aku harus cepat-cepat ke Jerman sebelum masalah Laudya semakin mengincarku dan juga yang paling utama sebelum Clara mengetahui identitasnya yang sebenarnya," ucap Bayu. Lagi dan lagi apa yang di katakan Bayu membuat Tari kaget.


" Identitas Clara apa lagi maksud Bayu. Identitas apa. Kenapa dia mengatakan identitas Clara," batin Tari bingung dengan bertanya-tanya.


" Sebaiknya aku ke rumah sakit. Aku harus mengawasi mama sebelum mama mengambil kesempatan untuk bercerita dengan Clara," ucap Bayu melangkah.


Tari yang melihat pergerakan Bayu yang ingin keluar dari kamar. Clara langsung buru-buru pergi sebelum Bayu nanti menemukannya. Bisa panjang urusannya. Jika akhirnya Bayu menemukannya.


Tari bersembunyi di balik tembok dan dengan memegang dadanya yang menahan napasnya. Dia lumayan dek-dekan dengan bersembunyi-sembunyi. Takut ketahuan dengan Bayu.


Huhhhhhhhh Tari membuang napasnya panjang kedepan setelah merasa aman. Karena Bayu benar-benar pergi. Tetapi napasnya justru nail turun.


" Apa yang di bicarakan Bayu. Laudya apa dia ada hubungannya dengan kematian Laudya dan Clara kenapa dia mengatakan identitas. Apa maksudnya," batinnya yang masih kebingungan penuh pertanyaan mengenai apa yang barusan didengarnya.


" Aku kerumah sakit dulu memberikan obat ini pada Dokter Verro dan setelah itu. Aku akan temui Aldo membahas masalah kasus Laudya," ucap Tari memutuskan.


***********


" Tari. Dia ada di sini," ucap Bayu benar-benar panik dengan keberadaan mobil Tari di pekarangan rumahnya.


" Sial," Bayu kembali memasuki rumahnya dengan berlari. Ketika melihat ada mobil Tari yang terparkir di rumahnya.


Brukkk.


Bayu membuka kuat pintu kamar Clara dan melihat Tari yang menyusun baju Clara.


" Bayu," ujar Tari tampak santai.


" Sedang apa kamu?" tanya Bayu.


" Oh aku lagi ambil baju Clara. Tadi aku panggil-panggil kamu ngga ada sahutan jadi aku masuk saja. Soalnya aku juga buru-buru," ucap Tari memberikan alasannya dengan senyum di wajahnya dan terlihat tenang. Agar Bayu tidak curiga kepadanya.


" Begitu rupanya," sahut Bayu yang sepertinya percaya-percaya saja dengan Tari.

__ADS_1


" Aku juga sudah mau selesai," ucap Tari meres tas itu. Lalu melangkah mendekati Bayu.


" Hmmm, ya sudah aku pergi duluan ya. Nanti Clara nungguin," ucap Tari menepuk bahu Bayu. Bayu mengagguk saja.


Saat melewati Bayu Tari bernapas lega. Sambil mengusap dadanya. Dia benar-benar selamat dari Bayu.


Tari memang mengingat jika dia meninggalkan mobilnya dan pasti Bayu mengetahui hal itu dan dengan cepat. Tari kembali kekamar Clara dengan alasan mengambil pakaian Clara. Agar Bayu tidak mencurigainya dan rencananya berhasil dengan sempurna.


************


Azizi yang berada di ruangan perawatan putranya terus merasa sedih. Dia terus menggenggam tangan putranya itu. Dengan erat. Dia hanya pasrah dengan keadaan putranya yang semakin lama semakin memburu.


" Apa yang harus aku lakukan. Aku tidak mungkin mengatakan kepada Vandy. Jika Vandy adalah ayah Iqbal. Dia tidak mengakui Iqbal dari masih di dalam kandungan. Dia juga menghinaku dan mengatakan aku yang tidak-tidak. Jadi mana mungkin aku mengatakan kepadanya. Jika Iqbal adalah anaknya," batin Azizi yang sepertinya masih memikirkan sakit hatinya. Ketimbang anaknya yang sekarang sedang melawan kanker.


Krekkk


Pintu kamar terbuka dan langsung menampilkan Vandy yang membuat Azizi kaget.


" Vandy," ucap Azizi langsung berdiri. Melihat Vandy langsung membuatnya seketika emosi. Kebenciannya pada Vandy memang tidak akan berkurang sedikit pun.


" Ngapain kamu di sini!" tanya Azizi masih dengan suaranya yang pelan.


" Aku ingin bicara denganmu," jawab Vandy dengan lembut. Wajah yang benar-benar ingin di berikan kesempatan untuk bicara.


" Tidak ada yang perlu di bicarakan. Jadi pergilah dari sini," usir Azizi yang sepertinya tidak ingin bicara dengan Vandy.


" Azizi. Sebentar saja," ucap Vandy yang sudah melangkah mendekati Azizi. Tetapi Azizi yang tetap keras kepala mendorong Vandy.


" Aku bilang pergi!" jangan pernah masuk kekamar anakku," ucap Azizi dengan tegas dan sudah mendorong Vandy sampai ke luar ruangan.


" Aku sudah menegaskan kepada kamu untuk tidak mendekati Iqbal. Jadi jangan mengganggunya," ucap Azizi yang kembali menegaskan dan mengingatkan Vandy. Vandy geram dengan Azizi yang sama sekali tidak memberinya kesempatan untuk bicara baik-baik.


" Aku bilang pergi!" usir Azizi.


" Kau tidak bisa mengusirku," sahut Vandy.


" Kenapa?" tanya Azizi menekan suaranya.


" Iqbal adalah anakku dan kau tidak bisa mengusirku dan juga menjadikanku darinya," tegas Vandy. Mendengarnya Azizi langsung mendengus kasar dengan tawa mengejek di wajahnya.


" Apa katamu dia anakmu. Aku sudah mengatakan berkali-kali dia bukan anakmu. Karena aku tidak pernah mengandung anakmu," sahut Azizi langsung membantah keyakinan Vandy.


" Dia anakku. Hasil tes DNA membuktikan jika Iqbal adalah anakku," tegas Vandy.

__ADS_1


Mendengar kata tes DNA membuat Azizi kaget.


Bersambung


__ADS_2