
Vandy dan Azizi sedang sibuk menyiapkan pesta untuk ulang tahun putra mereka besok. Di mana Vandy dan Azizi sedang berada di taman belakang membantu-bantu para art di rumah menyulap taman belakang agar indah.
Azizi melihat ke arah Vandy yang sibuk memperbaiki lampu warna-warni, sepertinya ada yang ingin di katakan Azizi pada suaminya itu. Azizi membuang napasnya perlahan dan langsung menghampiri Vandy.
" Vandy!" lirih Azizi.
" Hmm, ada apa, ada yang ingin di bantu?" tanya Vandy. Azizi mengangguk.
" Aku hanya ingin bicara," ucap Azizi.
" Ya sudah mari duduk," ucap Vandy menepuk kursi di sampingnya.
" Ingin bicara apa?" tanya Vandy heran.
" Kemarin pas aku memberikan undangan pada Sasy. Aku merasa Sasy begitu jutek kepadaku. Dia bicara seperti bukan Sasy dan bahkan langsung pergi begitu saja," ucap Azizi yang menceritakan apa yang di alaminya kemarin.
" Sasy seperti itu," sahut Vandy yang sedikit terkejut.
" Iya, dia sepertinya marah. Tapi aku tidak tau apa kesalahanku," sahut Azizi dengan pemikirannya yang keras.
" Aneh memang, bukan hanya Azizi yang merasa, Cherry juga sempat mengatakan masalah itu. Sebenarnya Sasy kenapa sih," batin Vandy yang menjadi kepikiran.
" Vandy kamu kenapa diam. Kamu tau sesuatu tentang Sasy?" tanya Azizi.
" Entahlah Azizi aku juga tidak tau. Kamu jangan memikirkan apa-apa. Itu mungkin hanya kebetulan saja. Mungkin saja moodnya memang lagi tidak bagus. Kamu jangan terlalu memikirkannya. Percayalah jika ada apa-apa dia pasti akan mengatakannya," ucap Vandy.
" Aku sudah mencoba untuk berpikir seperti itu. Tetapi tetap saja aku kepikiran dan merasa jika Sasy bukanlah Sasy yang aku kenal. Aku juga tidak tau ini berlebihan atau tidak. Aku hanya berpikiran seperti itu saja," ucap Azizi dengan wajahnya yang begitu murung. Vandy mengusap-usap bahu istrinya itu.
" Aku mengerti perasaanmu. Kamu tenang ya percaya kepadaku semua pasti baik-baik saja. Sebaiknya kita fokus untuk ulang tahun Iqbal besok. Aku tidak ingin ulang tahun Iqbal berantakan," ucap Vandy.
" Ya sudah, aku sedikit lega. Karena sudah menyampaikannya kepadamu," ucap Azizi. Vandy tersenyum. Walaupun dia merasa ada sesuatu pada Sasy namun dia masih berpikir positif saja.
**************
Nadya dan Varell sedang makan malam di salah satu Restaurant favorit Varell. Yaitu Restaurant Jepang.
" Varell bukannya kita ingin menghemat. Lalu kenapa makan di tempat ini. Makanan di sini kan mahal-mahal," ucap Nadya yang merasa tempat itu mahal dan pasti hanya buang-buang duit saja.
" Ini tidak mahal Nadya, aku masih punya uang, anggaplah ini honymoon untuk kita. Anggap aja kita di Jepang dan sekarang makan di Restaurant Jepang. Kitakan belum honymoon jadi Anggap kita bukan madu dengan bajet secukupnya," ucap Varell.
" Ya kan aku tidak mau bulan madu. Lagian kita tidak punya uang dan ini juga hanya buang-buang uang saja," sahut Nadya.
" Heyy, sayang sudah ya. Kamu jangan memikirkan masalah uang. Ini tidak ada apa-apa nya. Aku hanya ingin membahagiakan mu. Lagian ini tidak setiap hari, jadi apa salahnya hanya sekali-sekali saja," ucap Varell. Wajah Nadya masih saja begitu gelisah.
" Nadya, sudah dong, kita pesan makan ya," ucap Varell.
" Ya sudah. Tetapi sekali ini saja ya. Kita jangan makan di sini lagi. Uangnya kita tabung saja untuk keperluan yang lain," ucap Nadya.
" Baik sayang. Ya sudah kita pesan ya," ucap Varell. Nadya menganggu dan mereka mulai memilih-milih makanan yang akan mereka nikmati. Pelayan Restaurant juga sudah mencatat pesanan mereka.
" Aku ketoilet sebentar ya," ucap Nadya.
" Ya sudah," sahut Varell. Nadya pun akhirnya ke toilet.
**********
Tidak butuh waktu lama Nadya ketoilet. Hanya 10 menit Nadya sudah keluar dari dalam toilet dan Nadya kembali menghampiri meja di mana suaminya menunggu. Saat ingin menghampiri Varell.
Tiba-tiba Nadya melihat di salah satu meja yang meja yang mencuri perhatiannya di mana ada Sasy dan seorang pria yang di hadapan Sasy yang mereka makan bersama. Namun Pria itu bukan Toby. Tetapi Sasy begitu akrab dengan Pria itu bahkan bicara sampai tertawa-tawa.
" Hahahaha, kamu aneh, masa sampai seperti itu benar-benar sangat random sekali," sahut Sasy yang tertawa terbahak-bahak karena mendengar cerita Pria yang membuat Nadya penasaran.
__ADS_1
Nadya yang bertanya-tanya akhirnya menghampiri meja Sasy.
" Sasy," lirih Nadya yang sudah berdiri di samping Sasy dan Sasy langsung melihat ke arah Nadya.
" Nadya," sahut Sasy. Pria itu terlihat bingung dengan dengan Wanita yang menegur Sasy.
" Kamu ngapain di sini dan dia siapa?" tanya Nadya yang terlihat kepo.
" Aku di sini makanlah, kan kamu lihat sendiri ada makanan di mejaku," sahut Sasy dengan jawaban yang sangat ketus.
Pria itu kebingungan dengan Sasy dan Nadya yang sepertinya sama-sama tegang. Pria itu pun berdiri dengan menjulurkan tangannya.
" Aku Bagas," sahut Pria yang bernama Bagas itu yang memperkenalkan diri langsung tanpa Sasy memperkenalkannya.
Dengan perlahan tangan Nadya menyambut uluran tangan itu.
" Nadya," jawab Nadya dengan gugup yang bercampur dengan bingung.
" Aku temannya Sasy atau lebih tepatnya calon pacar Sasy," sahut Bagas. Mata Nadya membulat sempurna kaget mendengar pernyataan Pria itu.
Mata Nadya berpindah pada Sasy yang tersenyum malu pada Bagas. Hal itu membuat Nadya semakin schok.
" Apa maksudnya calon pacar, Sasy bukan pacaran sama Toby. Lalu kenapa makan berdua dengan Pria lain dengan romantis dan jelas-jelas mengatakan calon pacar," batin Nadya yang benar-benar tidak mengerti situasi yang penuh tanda tanya itu.
" Hello, tangan saya bisa di lepas," sahut Pria itu membuat Nadya terkejut dan langsung melepas tangannya dengan cepat dari Bagas.
" Maaf, maaf, saya tidak bermaksud apa-apa," sahut Nadya yang gugup.
" Hmmm, Nadya kamu kemari sama siapa?" tanya Sasy.
" Aku kebetulan sedang makan sama Varell di sana. Aku tadi ketoilet dan tidak sengaja melihatmu. Jadi aku menghampirimu," jawab Nadya.
Nadya merasa wanita yang bicara itu bukanlah Sasy. Sampai dia bengong melihat Sasy dengan serius.
" Bagas kamu duduk lagi. Kamu lanjutin cerita kamu lanjutin cerita kamu tadi. Nanti lupa lagi," sahut Sasy.
" Oh oke," sahut Bagas yang langsung duduk.
Tanpa memperdulikan Nadya yang ada di sana, Bagas memang melanjutkan cerita mereka. Dan Sasy kembali tertawa-tawa yang tidak mempedulikan Nadya. Nadya begitu terkejut dengan kelakuan Sasy yang berubah 180 derajat.
" Ya Allah apa ini sungguh Sasy. Kenapa dia sampai seperti itu. Apa dia sadar aku adalah Nadya. Apa yang terjadi kenapa dia secuek itu dan Pria ini. Mereka berdua benar-benar begitu dekat. Calon pacar apa maksudnya," batin Nadya dengan matanya yang bergenang yang berada di situasi itu. Nadya membuang napasnya perlahan kedepan.
" Aku permisi Sasy, maaf sudah mengganggu," ucap Nadya yang memilih pergi dari pada menjadi obat nyamuk. Sasy tidak menjawab. Namun setelah Nadya pergi. Sasy baru melihat punggung Nadya yang berjalan semakin jauh.
" Ini yang kalian inginkan. Kalian memang ingin aku tidak ada di sekitar kalian," batin Sasy dengan matanya yang berkaca-kaca. Dia menyadari apa yang di lakukannya keterlaluan. Namun dia sengaja membuat jarak dengan sahabat-sahabat yang merasa sudah meninggalkannya.
" Sasy kamu kenapa?" tanya Bagas dengan melambaikan tangannya di wajah Sasy yang melihat Sasy melamun.
" Hmmm, tidak aku tidak apa-apa," sahut Sasy yang tersenyum seakan merasa tidak ada apa-apa.
************
Nadya kembali kemeja di mana suaminya berada. Nadya duduk dengan lesuh dan wajah yang benar-benar murung.
" Sayang kamu kenapa?" tanya Varell yang merasa istrinya itu sedang ada apa-apa.
" Nanti saja aku bicara sama Varell. Aku tidak mau Varell kepikiran dan terakhirnya merusak makan kami," batin Nadya.
" Sayang ada apa?" tanya Varell lagi dengan membelai rambut Nadya.
" Hmmm, tidak apa-apa," jawab Nadya bohong.
__ADS_1
" Ya sudah kalau memang tidak apa-apa. Ayo kita makan. Semua makanya sudah di sini," ucap Varell.
" Iya Varell," sahut Nadya. Yang akhirnya makan bersama dengan suaminya. Walaupun pikiran Nadya sebenarnya kemana-mana yang apalagi jika bukan banyaknya pertanyaan mengenai Sasy. Dan pasti mengenai Toby juga. Pikiran Nadya benar-benar bercabang-cabang.
**********
Sasy yang selesai makan malam bersama Bagas. Akhirnya sampai Kerumah Saay. Di mana Bagas yang mengantarkan Sasy pulang kerumahnya.
" Makasih ya sudah mengantarkanku," ucap Sasy membuka sabuk pengamannya.
" Aku yang berterima kasih. Kamu sudah mau menemaniku makan," sahut Bagas tersenyum. Sasy membalas senyuman itu.
" Ya sudah aku masuk ya," ucap Sasy membuka pintu mobil. Namun Bagas menghentikan tangan Sasy yang membuat Sasy melihat ke arah Bagas.
" Ada apa?" tanya Sasy.
" Yang aku bicarakan tadi saat kita makan adalah sungguhan. Aku bukan hanya teman atau calon pacar kamu. Tetapi aku juga ingin menjadi pacar kamu," ucap Bagas yang langsung mengungkap perasaannya.
" Maksud kamu?" tanya Sasy yang kelihatan begitu kaget.
" Aku menyukai mu Sasy. Aku ingin lebih dari teman," ucap Bagas. Sasy tampak bingung dengan kata-kata Bagas. Dia memang sudah jomblo. Tetapi apa itu tidak terlalu cepat untuk menjalin hubungan dengan orang yang baru di kenalnya beberapa hari belakangan ini dan mereka bahkan bertemu intens hanya 2 kali.
Bagas meraih tangan Sasy dengan menatap Sasy dalam-dalam.
" Sasy mau kan kamu menjadi pacarku," ucap Bagas.
" Aku sudah putus dengan Toby. Tidak ada kejelasan dalam hubunganku dengan Toby dan Bagas aku melihatnya sangat serius. Dia begitu dewasa dan mempunyai komitmen yang jelas dan aku juga sangat nyaman di sisinya," batin Sasy yang menilai Bagas dari pertemuan mereka yang singkat.
" Sasy kamu kenapa diam. Apa kamu menolakku?" tanya Bagas yang ingin kepastian.
" Bagas, aku tidak menolakmu. Tetapi aku tidak mau hanya berpacaran saja. Aku mau hubungan yang jelas yang benar-benar sampai pada pernikahan," ucap Sasy yang meminta kepastian. Dia mungkin trauma dengan hubungannya dan Toby. Makanya butuh kejelasan. Jika ada Pria yang mengajaknya pacaran.
" Sasy memang itu tujuanku. Aku juga tidak ingin main-main dan aku tidak percaya. Jika kamu juga punya pikiran yang sama denganku," ucap Bagas.
" Maksud kamu?" tanya Sasy.
" Aku juga ingin menjalani hubungan untuk ke pernikahan," sahut Bagas. Sasy tersenyum mendengarnya. Dia seakan mendapatkan Pria yang sepemikiran dengannya.
" Jadi bagaimana apa itu artinya kamu menerimaku?" tanya Bagas lagi yang terus memastikan. Sasy menganggukkan kepalanya yang langsung menerima tanpa memberi waktu. Bahkan Sasy tidak perlu berpikir lama-lama.
" Kamu serius?" tanya Bagas yang malah tidak percaya.
" Aku serius," jawab Sasy. Bagas tersenyum dengan mengusap-usap pipi Sasy.
" Makasih ya," ucap Bagas. Sasy mengangguk-angguk.
" Ya sudah kalau begitu aku masuk dulu. Sampai ketemu besok," ucap Sasy.
" Iya kamu langsung istirahat dan jangan lupa kamu harus memimpikan aku," ucap Bagas. Sasy mengangguk dengan tersenyum malu.
" Bye," sahut Sasy yang langsung membuka mobil. Bagas tersenyum dengan melambaikan tangan pada Sasy.
Bagas melihat Sasy yang sudah memasuki rumah. Barulah dia melajukan mobilnya dengan kecepatan santai.
Yang ternyata tidak jauh dari sana ada mobil Toby yang jelas melihat Sasy keluar dari mobil Pria dan wajah Sasy yang begitu bahagia tersenyum layaknya orang jatuh cinta.
" Ternyata semudah itu Sasy. Aku benar-benar tidak percaya Sasy," batin Toby dengan rasa penuh kekecewaan. Seakan dia tau jika Sasy sedang menjalin hubungan dengan Pria lain.
Bersambung
__ADS_1