KEAJAIBAN CINTA KESYA

KEAJAIBAN CINTA KESYA
Bab 105 "Bukan dia"


__ADS_3

" Bagaimana?" Tanya Arka kepada Fadil.


" Pelayan yang mengantar minuman kepada Kesya, bukan pelayan dari hotel. Sepertinya setelah menyelesaikan tugasnya, dia langsung pergi. Dan masalah ya, dia menggunakan make up untuk mengelabui kita."


" apa maksud mu?"


" Sepertinya dia seorang yang berdandan layaknya perempuan."


" Cari sampai dapat, dan berikan hukuman yang berat untuk nya. Berani nya dia menyentuh milikku"


Di ruang rawat inap, Kesya yang sedang di temani oleh Puput, sedang menangis sesenggukan.


" Hikks, maafin aku Put, seharusnya aku gak marah sama kamu. Kalo gak ada kamu, mungkin aku... Hiks... anak aku.... hiks..."


Puput memeluk tubuh Kesya.


" Hei, jangan sedih gitu, yang terpenting saat ini adalah Lo dan bayi Lo, baik-baik aja. Dan kedepannya Lo harus lebih hati-hati"


Kesya menghapus air matanya, " Terima kasih"


Fadil dan Arka kembali masuk kedalam kamar inap Kesya.


" Sayang " Panggil Arka.


Puput dan Kesya melepaskan pelukannya.


" Daddy dan Mami sudah Mas suruh pulang, Besok mereka akan kembali ke sini."


" Iya Mas"


" Emm, Key, sebaiknya gue pulang juga. Udah malem." Puput cipika cipiki dengan Kesya, dan mengambil clutch yang terletak di atas nakas.


" Om, Kak Fadil, aku duluan ya" Pamit Puput.


Fadil melongo dan menahan tangan Puput.


" Aku antar"


" Gak perlu" Ucap Puput sambil melepaskan tangan Fadil dan melangkah keluar.


" Heran gue, keras kepala banget sih sih tu cewek." Gerutu Fadil. " Gue balik ya Ar. Key, cepat sembuh ya" Pamit Fadil dan mengejar Puput.


Puput yang sedang memesan Taksi online pu. terkejut saat ponselnya di rampas oleh seseorang.


" Gue antar pulang" Ujar Fadil menatap Puput dan menggenggam tangan Puput.


Dengan sedikit memaksa, akhirnya Puput sudah duduk cantik di dalam mobil Fadil.


"Ponsel gue"


Fadil pun memberikan ponsel Puput kepadanya.


Selama di perjalanan, hanya hening dan tidak ada percakapan.

__ADS_1


" Emm, gue boleh nanya?" Tanya Puput membuka suara.


" Apa?"


" Emm, kenapa Om Arka tidak mundur saja dari tender itu?"


Tidak ada jawaban dari Fadil, Puput pun mengalihkan pandangannya keluar jendela.


" Salah satu kepala Divisi ketahuan korupis. Uang yang di gelapkan ya terbilang banyak, dan itu membuat perusahaan yang di pimpin Arka goyang."


Puput mengalihkan pandangannya kearah Fadil.


" Kau tau, begitu banyak orang yang bergantung di perusahaan Moza. Dan Arka memikirkan itu. Jika Arka tidak mendapatkan tender ini, kemungkinan akan ada pengurangan karyawan. Arka yakin dia akan memenangkan tender ini. Untuk itu Arka masih bertahan sampai sekarang."


" Hingga membahayakan keselamatan Kesya?"


" Sebenarnya saat ini Arka berada di dua jurang yang curam. Jika dia melangkah ke kanan untuk menyelamatkan apa yang ada di sana, maka yang dikiri akan jatuh, dan begitupun sebaliknya. Untuk itu Arka harus memenangkan tender ini." Jelas Fadil dan menepikan mobilnya.


" Gue bakal cerita semuanya, tapi gue punya syarat"


" Syarat?"


" Lo harus jadi sekretaris gue"


" simpan aja cerita Lo"


" Kesya gak tau apa-apa, Dan gue butuh Lo untuk selalu di samping Kesya. Karena hanya Lo yang bisa kami percaya"


" Kami?"


" Hmm, Oke. Ini demi Kesya. apa yang harus gue lakukan?"


Fadil menceritakan kronologi perusahaan yang saat ini sedang goyang, dan alasan Arka mempertahankan tender tersebut. Tiga Puput adalah hanya selalu berada di samping Kesya. Fadil menyuruh Puput karena Fadil tau, jika Puput bisa bela diri, yaa walupun masih sabuk kuning, setidaknya dia bisa mengatasi keadaan darurat.


" Jadi Lo mau gue bantuin Kesya mengurus keperluan pembukaan toko kue miliknya?"


Fadil menganggukkan kepalanya.


" Oke, gue setuju"


"Tapi Lo harus ingat, setelah semua ini kelar, Lo harus jadi sekretaris gue"


" Males"


Bukk...


Puput tersentak saat Fadil memajukan dirinya dan sedikit memukul jendela mobil untuk menahan bobot tubuhnya.


" Mau apa Lo?"


Fadil hanya menatap Puput.


" Berani macem-macem, gue tonjok Lo"

__ADS_1


Fadil menyeringai, dan mulai mendekati wajahnya..


Bukk..


Puput meninju perut Fadil.


"Awwwsss" Fadil meringis kesakitan dan memegang perutnya.


Seketika Puput panik. Puput memegang bahu Fadil, dan mencoba melihat keadaan Fadil.


" Lo..Lo gak papa kan? gak mungkin pukula. gue bisa nyakitin Lo kan?" Racau Puput sambil menyandarkan tubuh Fadil kembali ke kursinya.


Di turunkan sandaran kursi Fadil, hingga tubuh Fadil setengah tertidur. Saat puput ingin menegakkan tubuhnya, tangan Puput tergelincir dan mengakibatkan tubuhnya jatuh dan menimpa Fadil.


Bibir Puput menempel di bibir Fadil. Puput melototkan matanya, dan dengan cepat menjauh dari Fadil, tetapi Fadil menahan tengkuk Puput, ditekannya perlahan tengkuk Puput mendekat ke bibirnya, setelah bibir Puput menempel, Fadil langsung saja ******* bibir Puput. Tidak ada perlawanan, dan sampai Fadil menggigit bibir Puput, hingga bisa menerobos masuk ke dalam mulut puput dan memperdalan ciuman mereka, Puput meremas kuat kemeja yang di gunakan fadil. Puput pun perlahan membalas ciuman Fadil, hingga mereka melepaskan ciuman itu secara bersamaan di karenakan kehabisan pasokan pernapasan.


Fadil menyatukan kening mereka, dan saat mata mereka bertemu. Puput langsung menjauhkan tubuhnya seakan mendapatkan kembali kesadarannya, Fadil juga membenarkan duduknya. Wajah Puput sudah memerah malu karena dia mengingat membalas ciuman Fadil.


"Emm, Ap--Apa masih sakit?" Tanya Puput terbata untuk menghilangkan kecanggungan ya.


" Sebenarnya gak sakit" ujar Fadil yang mana membuta Puput menatapnya tidak percaya. "Tapi gue lapar, dari siang belum makan" Ringis Fadil.


Puput hanya mendengus kesal dan menggigit bibir bawahnya. Entah apa yang di rasakan ya saya ini. Ada rasa kesal, benci, tapi juga debaran yang membuat jantungnya bekerja lebih cepat.


Di tempat lain, seseorang sedang menggerutu karena rencananya gagal.


" Sial, seharusnya dia menghabiskan minuman itu, Dasar Puput brengsek. Dia sudah menggagalkan rencana gue" Ujar seorang wanita itu. Sambil menegak wine nya, dia kembali berujar , "Liat aja, banyak cara yang bakal gue tempuh. Lo harus menderita Kesya"


Arka sudah mendapatkan bukti, bahwa Bimo tidak ada keterkaitannya dengan kejadian yang Kesya alami. Lalu siapa yang mencelakai istrinya. Arka harus mencari tahu lebih dalam tentang siapa saja yang membenci sang istri.


Arka membuat panggilan kepada Jodi, dan menyuruh untuk menyisir kembali masa lalu Kesya, dan mencari tau siapa yang memiliki dendam terhadap Kesya.


" Besok pagi semua laporan sudah harus saya terima" Ujar Arka dingin kepada orang yang berada di seberang panggilan.


Arka kembali menatap sang istri yang tengah tertidur. Di usapnya perut rata sang istri, "Maafin Papa sayang, karena lengah menjaga Mama" Bisik Arka.


Mami Laura yang melihat itu, menitikan air matanya. Dan menarik tangan suami untuk membiarkan sang anak bersama menantunya. Mami Laura menarik tangan Papi Farel menjauh dari kamar Kesya.


" Biarin mereka berdua dulu. besok pagi kita kembali" Ujar Mami Laura dan memeluk tubuh sang suami yang walaupun sudah berumur, tetapi masih tegap dan kekar, karena Papi Farel rajin berolah raga dan mengkonsumsi sayur dan buah.


.


.


.


.


.


.


Dukung terus ya cerita author.

__ADS_1


LIKE +VOTE +RATE + KOMENNYA sangat di nanti loh..


Terima kasih juga buat yang udah kasih Like dan Vote nya..


__ADS_2