
Sudah tiga hari Kakek Farel berada di rumah sakit. Akhirnya hal yang tidak di inginkan dan di takutkan pun terjadi. Kakek Farel menutup matanya untuk selama-lamanya.
Bukan hanya Quin dan yang lainnya saja yang terpukul atas meninggalnya kakek Farel. Tetapi, Lucas adalah orang yang paling sangat terpukul, karena telah menolak keinginan Kakek Farel untuk menikah. Padahal pria itu tak peduli, dengan siapa dia menikah saat ini, yang terpenting wanita tersebut haruslah baik dan Solehah.
"Quin," sapa Mama Kesya dan memeluk putri semata wayangnya itu.
"Ma, hiks ... "
Quin menangis sejadi-jadinya di dalam pelukan sang Mama. Menumpahkan semua rasa sedihnya di saat kehilangan sang kakek tercinta.
"Yang tabah ya, Nak. Jangan nangis gini. Sayang kakek, Nak. Pasti saat ini Kakek juga sangat beristirahat jika Quin menangis seperti ini," ujar Mama Kesya menahan sesak di dadanya.
"Biarkan kakek pergi dengan tenang, ya. Kita kirimkan doa agar kakek berada di sisi Allah," bisik Mama Kesya dan mencium pucuk kepala sang putri.
Abi pun menghampiri Mama Kesya dan Quin, mengatakan jika kakek sudah siap untuk di sholatkan.
"Ma, kita sudah waktunya untuk menyolatkan kakek," ujar Abi.
Quin pun merelai pelukannya dengan Mama Kesya. Kemudian mereka pun menghapus air mata masing-masing dan bergegas untuk mengambil air wudhu.
Sesampainya di ruang keluarga yang cukup besar dan mampu menampung seluruh keluarga serta pekerja yang ada di kediaman kakek Farel, Mama Kesya pun menghampiri sang suami yang katanya masih dibasahi dengan air mata.
"Mas," panggil Nama Kesya dan menyentuh bahu Papa Arka.
__ADS_1
Papa Arka pun menoleh dan tersenyum tipis kepada sang istri yang sudah mengenakan mukena.
"Sudah ambil air wudhu?" tanya Mama Kesya yang di angguki oleh Papa Arka.
Tak berapa lama, ustadz pun datang menghampiri Papa Arka dan bertanya apakah Papa Arka sudah siap menjadi imam untuk menyolatkan jenazah Kakek Farel.
"Saya siap, Ustadz," jawab Papa Arka yang di angguki oleh ustadz.
"Baiklah, mari," ajak Ustad.
Papa Arka pun menoleh ke arah Mama Kesya dan tersenyum kepada sang istri.
"Mas pasti kuat," lirih Mama Kesya sambil menahan air matanya.
Papa Arka pun menganggukkan kepalanya dan berjalan mengikuti ustadz untuk mendengarkan apa yang harus dia lakukan nanti.
"Mi," tegur Mama Kesya sambil mengusap lembut bahu sang mertua.
Oma Laura pun menoleh ke arah menantu kesayangannya dan tersenyum tipis. Air matanya pun kembali lolos membasahi pipinya yang sudah terdapat keriput-keriput halus.
"Yang sabar ya, Mi. Kita iklaskan kepergian Papi," bisik Mami Kesya dan mengecup kening Oma Laura.
"Jika gak ada kamu di sini, Key. Mungkin Mami dan Arka gak bisa sekuat ini," lirih Oma Laura.
__ADS_1
Mama Kesya tersenyum tipis dan memeluk tubuh sang mertua.
"Yang penting sekarang kakek udah gak sakit lagi. Ikhlasin kepergian kakek ya, Mi," bisik Mama Kesya.
"Iya, Key."
Mama Kesya pun merelai pelukannya dan menoleh ke arah kakak iparnya yang baru saja tiba di sebelahnya. Tadi, Oma Mega sempat pingsan karena tak sanggup menahan kesedihannya.
"Mbak," sapa Mama Kesya dan memeluk wanita paruh baya itu.
"Kuat ya, Mbak. Kita ikhlaskan kepergian Papi," bisik Mama Kesya yang di angguki oleh Oma Mega.
"Makasih, Key. Karena udah menguatkan kami semua," lirih Oma Mega dan kembali menangis di dalam pelukan Mama Kesya.
Mama Kesya pun mengusap lembut punggung Oma Mega untuk menengakan wanita paruh baya itu.
"Mega, udah. Jangan nangis lagi," bisik Oma Shella yang ikut mengusap bahu Oma Mega.
Oma Mgea pun kembali mengatur napasnya dan merelakan pelukannya dengan Kesya.
Suara dari ustadz pun terdengar untuk membuka salam dan mengumumkan jika sholat jenazah Kakek Farel akan segera di mulai.
Cara sholat dan doa pun di beritahukan oleh ustadz, mana tau ada jamaah sholat jenazah yang belum mengetahui tata cara menyolatkan jenazah dan lafal doanya.
__ADS_1
Terdengar niat sholat yang di pimpin oleh Papa Arka, kemudian di sambung dengan takbirratulilham untuk memulai sholat jenazah.
"Allahuakbar."