
Lana memarkirkan mobilnya asal di pinggir jalan. Tanpa memperdulikan hujan yang lebat, Lana turun dari mobil tanpa menggunakan payung.
"Oma, Tolong izinkan Lana bertemu Anggel." Teriak Lana.
"Duuh, Den Lana. Jangan digoyang-goyangin pagarnya, biar saya bukakan pintu nya sebentar." Ujar Udin, satpam rumah Oma Mega.
"Cepetan bukanya." Pekik Lana tak sabaran.
"Iya Den, iyaa ..."Pak Udin dengan segera membuka pagar tinggi tersebut.
Lana berlari masuk saat pagar itu telah terbuka, namun Lana di hadang oleh pengawal yang siap basah karena hujan demi menjalankan perintah.
"Minggir kalian." Pekik Lana.
"Maaf Tuan, kami hanya menjalankan tugas."
"Oma, Lana cinta Anggel. Lana mohon, jangan pisahkan Lana dengan Anggel, Oma ...."Pekik Lana lantang.
Tak berapa lama Oma Mega keluar dengan menggunakan payung.
"Oma, Lana mohon. Jangan pisahkan Lana dan Anggel." Lirihnya kepada Oma Mega.
"Lana, Keputusan Oma sudah bulat. Ini yang terbaik untuk masa depan Anggel."
"Oma, Lana sungguh-sungguh cinta sama Anggel. Lana mohon Oma, hiks ... Lana mohon jangan pisahkan Anggel dari Lana." Ujar Lana dengan terisak.
"Lana, kamu masih muda, kamu bisa mendapatkan wanita mana pun. Oma yakin, pasti kamu bisa mendapatkan wanita yang lebih baik dari Anggel."
"Omaa, Lana gak mau yang lain ..." Lana berlutut di hadapan Oma Mega.
"Oma, Lana mohon ... kasih Lana kesempatan untuk membahagiakan Anggel, Oma."
Oma Mega menyamakan tinggi nya dengan Lana, di sentuhnya wajah Lana dengan satu tangannya.
Entah apa yang di bicarakan oleh Oma Mega, yang mana membuat Lana semakin menangis terisak. Oma Mega menepuk bahu Lana, kemudian berdiri dan meninggalkan Lana di bawah guyuran hujan.
Lucas dan Fatih pun sampai tepat di saat Oma Mega telah meninggalkan Lana sendirian yang masih menangis pilu.
"Na, ayo berdiri ...." Titah Lucas.
Lana seolah tak berdaya, Lucas dan Fatih pun membopong tubuh Lana yang terasa lemas tak berdaya itu. Tak ada tempat lain yang tepat selain rumah Oma Shella. Bunda Sasa pun dengan sigap membukakan pintu pagar untuk ketiga putranya itu.
Bunda Sasa melototkan mata nya saat melihat wajah ketiga putra nya babak belur. Bunda Sasa pun menyuruh mereka untuk membersihkan diri karena habis kehujanan atau memang mereka sengaja bermain hujan.
"Wajah mereka kenapa, Mbak?" Tanya Mami Vina.
Bunda Sasa pun mengendikkan bahu nya tanda tak tahu.
__ADS_1
*
Di kediaman Oma Mega, Anggel yang melihat Lana di bawah guyuran hujan pun meronta untuk keluar. Namun pengawal melarang Anggel untuk tidak menemui Lana atas perintah Oma Mega.
"Minggir kalian semua." Pekik Anggel berusaha untuk melepaskan diri dari para pengawal tersebut.
"Maaf Nona. Anda tidak boleh keluar."
"Lepasiin guee ..." Pekik Anggel terus memberonta. Namun tenaga Anggel tak sekuat tenaga pengawal perempuannya yang memang terlatih sangat baik di bawah didikan Om Jodi.
"Anggel." Pekik Oma Mega.
Anggel berhenti memberonta, air matanya terus mengalir, namun tatapannya kearah Oma Mega terlihat memelas.
"Mi, Anggel mohon. Izinkan Anggel bertemu dengan Lana, Mi. Anggel Mohon." Rayu Anggel sambil menangis.
"Tidak akan pernah. Kamu sudah Mami jodohkan dengan pria pilihan Mami. Jadi, mulai sekarang kamu tidak boleh bertemu dengan Lana. Kamu harus bisa melupakan Lana secepatnya, dan berusaha mencintai suami kamu nanti nya."
"Gak mau, Mi. Anggel mau Lana. Anggel cuma cinta sama Lana, hiks ...."
"Jangan seperti anak kecil An, bersikap dewasalah kamu."
Setelah mengatakan itu, Oma Mega pun berbalik dan meninggalkan Anggel yang semakin menangis.
"Hikss, Mami jahat ...." Lirih nya dengan suara yang terdengar pilu, salah satu pengawal Anggel pun juga ikut meneteskan air matanya.
*
Quin sedikit meringis sehingga membuat Abi membuka matanya.
"Kamu udah bangun?" Tanya Abi dengan suara seraknya.
"Hu'um. Akkh.." Quin kembali meringis saat ia memaksa menolehkan kepalanya untuk melihat wajah Abi.
"Kenapa?" Abi membenarkan posisi tubuhnya.
"Pusing, mungkin kebanyakan nangis." Ujarnya dengan suara yang masih serak.
Abi pun mendudukkan tubuhnya, kemudian ia memijit pelan kepala Quin.
"Enak?" Tanya Abi saat melihat Quin mulai menikmati setiap pijitan tangannya.
"Huum, ternyata kamu pinter mijit ya."
"Bahkan aku bisa memberikan kenikmatan yang lain juga." bisik Abi.
Quin membuka matanya, menatap wajah Abi yang sudah tersenyum jahil.
__ADS_1
"Maksudnya?" Tanya Quin polos.
"Maksud nya ini." Abi mer*mas gundukan kenyal itu dengan lembut. Quin melototkan matanya dan memukul tangan Abi.
"Iih, dasar mesum." Pekik Quin sambil memukul Abi yang tengah terkekeh melihat wajah Quin yang merona malu.
Quin mengerucutkan bibirnya sebel karena Abi. Namun itu membuat Abi semakin gemes dan menarik tengkuk Quin serta menyambar bibir kenyal menggoda milik Quin.
Quin membelalakkan matanya karena terkejut dengan perlakuan Abi, namun beberapa detik kemudian Quin memejamkan matanya dan menikmati setiap belaian bibir Abi yang bermain manja menggoda di bibir Quin.
*
"Veer," Nafi terkejut saat Veer memeluknya dari belakang.
Saat ini Nafi baru saja selesai membersihkan dirinya setelah belajar memasak di dapur bersama Mama Kesya. Nafi tak menyangka, jika Mama Kesya mau mengajarinya memasak dan membagikan resep rahasia nya kepada Nafi.
"Masak apa aja sama Mama?" Tanya Veer yang masih mengecupi leher jenjang Nafi dengan tangan yang menjelajah bagian kembar yang menonjol dan terasa kenyal dan menagihkan jika di pegang, yang berada di balik handuk kimono yang di gunakan oleh Nafi.
"Ve-veeeeerrhh ... Ta-tangannya jangan nakahaall ehmmpp ...." Nafi menggigit bibirnya, menahan ******* yang siap keluar dari bibirnya.
"Kenapa? hmm?" Veer semakin gencar melakukan aksinya.
"Veerrhh aahh ...." Des*han yang tertahan sedari tadi pun akhirnya lolos dari bibir seksi Nafi.
"Kamu suka?" goda Veer yang mana semakin membuat Nafi semakin memperkuat cengkraman jari jemarinya di handuk kimono miliknya.
Nafi hanya bisa menahan suara yang ingin keluar dengan bunyi tertahan itu. Hingga Veer memutar tubuhnya menghadap dirinya, dan mendudukkan tubuh Nafi di atas lemari penyimpanan jam tangan beserta tali pinggang milik Veer.
Veer membungkam bibir Nafi dengan penuh cinta dan kelembutan. Ciuman yang memabukkan itu pun perlahan berpindah ke pipi dan menurun ke leher Nafi. Veer tak membiarkan Nafi untuk mengambil napas. Veer terus saja mencumbu Nafi penuh dengan kelembutan.
"Ve-veeeeeerhh ... Ma-mamah menunggu kitaah di bawah ...." Ujar Nafi dengan susah payah.
Veer menghentikan cumbuannya dan menatap wajah Nafi yang masih terengah-engah.
"Satu ronde, sayang." Veer kembali mencium bibir Nafi yang sudah membengkak karena ulahnya.
Nafi bisa apa? selain menerima dan melayani sang suami tercinta dengan sepenuh hati.
Yuukkk.. follow IG ku..
IG : Rira Syaqila
jangan lupa Tap jempolnya dan komennya sebagai jejak...
Vote nya juga boleh jika berkenan 😁😁😁
Mari saling berbagi kebahagiaan.
__ADS_1
Salam SULTAN KHILAF