KEAJAIBAN CINTA KESYA

KEAJAIBAN CINTA KESYA
KCK2 - SULTAN KHILAF 134


__ADS_3

“Kamu dari mana?” tanya Quin saat abi sudah masuk kedalam kamarnya.


“Ah, aku ada pekerjaan.”


“Aku mencari kamu di setiap ruangan ini, tetapi kamu tak ada.” Quin mengerucutkan bibirnya.


“Aku bersama bersama Jo di cafe, aku meminta Jo untuk menemani aku.” Bohong Abi


 Sebenarnya tak sepenuhnya berbohong, Abi memang bersama dengan Jo, namun mereka tak mengobrol di cafe melainkan di kamar Jo yang juga super mewah itu. Abi sengaja memesan tiga kamar di lantai yang sama dan berdekatan agar mempermudah Jo untuk menjaga keamanan duo Ratu. Maka dari itu, tentu saja Abi harus berbohong kan karena tak ingin Quin merasa terganggu dan stres karena pemberitaan tentang mereka.


“Kamu kenapa bangun?” tanya Abi yang sudah menghampiri Quin yang duduk di sofa.


“Aku lapar, jadi aku membuat mie seduh.” Quin menunjuk kearah meja dengan dagunya, dimana terdapat mie yang baru saja Quin campur dengan air panas.


Untungnya Quin selalu terbiasa dengan kebiasaannya ini yang selalu menyediakan mie seduh saat mereka menginap di hotel. Karena Quin malas untuk memesan makanan dari restoran.


“Untung kamu sempat membelinya sebelum ke sini,. jadi kamu gak kelaparan.”


“Itu sudah kebiasaan aku, tapi aku kehilangan kamu. Kamu keluar kenapa gak kasih kabar ke aku sih? Aku takut tau, perasaaan aku gak enak.”


Abi menaikkan alisnya sebelah, apa Quin dapat merasakan apa  yang terjadi saat ini?


“Maaf ya, lain kali aku tak akn meninggalkan kamu.” Abi mengelus dan mengecup pucuk kepala Quin.


“Sepertinya sudah bisa di makan. Kamu makan dulu, terlalu kembang mie nya juga gak enak.”


“Baiklah, kamu mau?” Tawar Quin yang sudah mulai mengaduk mie tersebut.


“Tidak, aku sudah kenyang.”


Quin pun tak lagi memaksa Abi untuk memakan mie nya, karena ia sungguh benar-benar lapar. Cuaca dingin membuatnya kelaparan.


Selama Quin menikmati mie seduhnya. Abi melihat sekeliling ruangan kamarnya. Abi menebak-nebak di mana kamera cctv itu bersembunyi. Mata Abi langsung menangkap ke pengharum ruangan yang terdapat di dinding kamar mereka. Abi menunjukkan smrik liciknya kearah kamera.


*


Anita membolakan matanya saat abi menatap kearah kamera pengintainya.


“Apa Abi sudah menyadarinya?”


Anita merasa tubuhnya gemetar di saat Abi menunjukkan smrik iblisnya kearah kamera.


“Tidak\, Abi tidak boleh tau jika aku yang mengintainya.” Anita merem*s-rem*as jari jemarinya dengan gugup.


Panik?


Ya paniklah, rencananya baru di mulai, masa iya  harus berakhir dengan cepat?


Baru saja Anita tertawa bahagia di saat wartawan suruhannya itu memberi kabar bahwa dunia bisnis di Indonesia sedang heboh dengan berita Quin dan Abi yang menginap di satu kamar hotel ternama dan termegah.


“Aku baru memulainya, Anita, berfikirlah, kamu pasti bisa memisahkan mereka dan membuat Abi kembali kepada mu.” Monolog Anita kepada dirinya sendiri.


Anita mengambil air mineral di dalam kulkas dan menegaknya hingga habis. Anita meraup wajahnya dengan kasar dan kembali menatap kearah laptop yang menampilkan wajah menyeramkan dari Abi.


“Baiklah, lihat saja Bi, jika aku tak bisa memiliki mu, maka dia juga tak boleh memiliki mu.”


Anita kembali mengingat saat dirinya mencium Abi. Bibir yang dulu terasa hangat dan lembut yang pernah ia rasakan pun terasa berbeda. Abi nya yang sekarang bukanlah Abi yang dulu. Bahkan detak jantung yang berdegub kencang bukan karena Abi masih mencintainya.


“Maafin aku Abi, aku mohon, kembalilah kepada ku.” Lirih Anita sambil menangis sesenggukan.


Anita memang sangat mencintai Abi. Walaupun ia menjalin hubungan dengan pria kaya demi ambisinya, namun anita tak pernah memberikan harta paling berharga miliknya.setidaknya Anita belum pernah di masuki oleh siapapun. Anita dan kekasih-kekasihnya itu hanya melakukan sentuhan luar dan saling memuaskan tanpa


memasukinya. Hanya itu, walaupun setiap melakukan itu, Anita selalu membayangkan jika kekasihnya itu adalah Abi. Anita membayangkan hal itu agar ia tak merasa jijik dengan apa yang telah ia lakukan.


“Abi, seharusnya kamu katakan sedari dulu jika kamu keturunan dari Subekti yang kaya raya itu, jadi aku tak akan pernah meninggalkan kamu. Aku melakukan semua ini juga demi kita. Aku ingin kta selalu hidup dengan enak dan bergelimang harta, agar jika kita tua, kita tak perlu lagi bekerja dengan keras.”


Anita menangis sejadi-jadinya karena menyesal. Andai ia tahu jika Abi adalah salah satu orang yang paling berkuasa di Eropa saat itu, mungkin ia tak akan pernah meninggalkan Abi.


Anita mengetahui jika Abi adalah salah satu keturunan orang yang berkuasa di Eropa pun langsung mencari jalan untuk kembali kepadanya. Namun usaha Anita seakan ada yang menghalangai untuk kembali kepada Abi.

__ADS_1


Asal kalian tahu, jika saat itu Kakek Andreas mencari tahu keberadaan Anita. Di saat kakek Andreas mengetahui jika Anita menjajalkan tubuhnya kepada salah satu pengusah kaya, maka sejak itu kakek Andreas menutup jalan bagi Abi ataupun Anita untuk kembali bersama. Sampai kapan pun kakek Andreas tak akan merestui


hubungan Abi dan Anita. Kakek Andreas tak sudi memiliki seorang cucu menantu yang begitu murahan. Apapun alasannya, kakek tak akan pernah mau memakluminya.


*


Abi menatap wajah Quin yang tertidur pulas di dalam pelukannya. Abi pun mendaratkan ciumannya di bibir, hidung, dan kening Quin sehingga membuat sang empu terganggu dalam tidurnya.


“Kamu sudah bangun?” tanya Quin dengan suara khasnya bangun tidur.


“Hmm,”


Quin memperhatikan wajah Abi dengan seksama. “Jangan katakan jika kamu tak tidur semalaman.


Abi terkekeh, Quin bisa meenebak jika dirinya tak tidur semalaman karena berjaga untuk melindungi Quin. Abi tak ingin ada yang masuk kedalam kamar mereka di saat dirinya dan Quin terlelap.


Abi harus lebih siaga untuk melindungi Quin. Setidaknya bersama Jo, Abi bisa belajar bagaimana cara menghadapi musuh dengan tenang dan tak terlihat.


Ya, begitulah cara Jo bekerja. Siapaun tak akan bisa menebak isi fikirannya, bahkan Desi sekalipun.


Kecuali, jika Jo sudah berhadapan dengan wanita cantik dan ceriwis yang telah melahirkannya. Sepintar apapun Jo menyembunyikan rahasia, Mami Ara pasti bisa menaklukkan Jo untuk bercerita kepadanya.


Hah, kekuatan sang ibu memang tak ada yang bisa menandingi.


“Kamu tidurlah, aku akan memesan sarapan untuk kita.”


“Baiklah, aku akan kembali tidur setelah kita solat subuh bersama.”


“Aku lagi halangan, sepertinya kamu harus solat sendiri.”


“Baiklah kalo begitu.”


Abi bangkit dari tidur nya dan menuju kamar mandi, sedangkan Quin menyiapkan kopi instan yang ia siapkan sebelumnya. Quin pun masuk kedalam kamar mandi setelah Abi keluar dengan wajah basahnya yang terkena air wudhu.


 Abi telah selesai dengan kewajibannya sebagai seorang muslim. Abi menatap pintu kamar mandi yang masih mengeluarkan suara air shower yang menyala. Abi meraih ponselnya yang sengaja di buat silent agar tak membuat Quin curiga dengan pesan atau pun telepon yang masuk.


Di saat Abi baru saja memegang ponselnya, nama Papa Arka langsung tertera di sana. Abi langsung menggeser tombol hijau itu agar tak membuat sang mertua semakin murka karena telah membiarkan beberapa panggilan dari nya.


“Walaikumsalam, Abi di mana kamu? Kenapa telpon Papa tidak kamu angkat dari tadi.”


“Maaf Pa, Abi tadi sedang bersama Quin. Abi sengaja men-Silent ponsel Abi agar tak membuat Quin curiga dengan ponsel Abi yang terus berdering.”


“Quin di mana sekarang?”


“Quin lagi mandi, Pa.”


“Apa Quin baik-baik aja? Quin tidak mengetahuikan tentang berita ini?”


“Tidak Pa, Abi akan menutupi berita ini sebisa mungkin agar Quin tak mengetahuinya.”


“Bagus, nanti kamu hubungi lagi Papa saat kamu tidak bersama Quin.”


“Baik Pa,”


Papa Arka pun memutuskan panggilan setelah mendengar jawaban salam dari Abi.


*


“Quin kenapa Pa?” Tanya Mama Kesya yang merasa ada yang tak beres dengan satu isi rumah.


Semua orang seakan langsung menutup mulutnya disaat melihat kedatangan Mama Kesya di dapur atau pun dimana pun Mama Kesya melangkah. Mama Kesya sengaja membawakan kopi ke dalam ruang kerja Papa Arka, karena setelah solat subuh tadi, Papa Arka langsung kembali ke ruang kerjanya bersama Veer. Di saat itu lah Mama Kesya mendengar Papa Arka berbicara keapda seseorang yang ia duga menantunya. Karena Papa Arka menyebetkan nama Abi dan juga Quin.


Jantung Mama Kesya berdegup kencang di saaat mendengar Papa Arka menanyakan tentang keadaan Quin.


“Pa, Quin kenapa?” Mama Kesya mengulang kembali pertanyaan nya di saat melihat Papa Arka terdiam membeku melihat kedatangan sang istri yang tiba-tiba.


“Ma, Quin ....”


Mama Kesya melihat ada keraguan di wajah sang suami untuk memberitahukan tentang keadaan Quin. Mama Kesya melangkahkan kakinya dengan lebar dan meraih Ipad yang ada di atas meja.

__ADS_1


Mata Mama Kesya bergerak untuk membaca setiap tulisan yang ada di sana. Mama Kesya menutup mulutnya di saat mengetahui musibah apa yang sedang di alami oleh sang putri.


“Pa, apa ini? Kenapa Quin bisa di beritakan seperti ini?” tanya Mama Kesya dengan air mata yang berderai.


“Ma, Sayang, dengarkan Papa.” Papa Arka menarik tubuh Mama Kesya dan membiarkan Mama Kesya menangis sampai puas di dadanya.


Papa Arka membawa Mama Kesya untuk duduk di sofa yang ada di ruang kerjanya. Veer yang tadinya ingin kembali masuk ke dalam ruangan pun menghentikan langkahnya dan kembali ke kamarnya untuk menemani sang istri yang semenjak kehamilannya itu semakin manja dengan nya.


Papa Arka memberikan air mineral kepada Mama Kesya, Mama Kesya mengambil air tersebut dan menegaknya hingga setengah.


“Sekarang ceritakan, apa yang terjadi dengan Quin.” Tanya Mama Kesya setelah merasa sedikit lega setelah menangis.


Mama Kesya tak menyangka jika apa yang pernah ia alami kembali terulang lagi kepada sang putri. Bukan sekali, melainkan sudah kedua kalinya. Tak ada di dunia ini seorang ibu yang rela melihat anaknya mengalami hal yang serupa dengannya bahkan hingga berkali-kali. Setiap ibu selalu berdoa agar anaknya tak mengalami hal buruk yang serupa dengan apa yang pernah ia rasakan.


 “Ada yang ingin bermain dengan Quin kita. Dan ingin merusak nama baikknya. Secara tak langsung orang tersebut sedang bermain dengan keluarga Moza. Mungkin ia hanya ingin menjatuhkan nama Quin, namun ia memilih lawan yang salah.” Ujar Papa Arka di awal percakapan mereka.


Papa Arka pun mulai menceritakan jika Papa Arka sudah menarik beberapa berita tentang Quin, namun perusahaan yang mengeluarkan berita tentang Quin bukanlah perusahaan kecil atau pun besar yang dengan mudah bisa di taklukkan oleh Papa Arka. Namun perusahaan freedom yang tak terikat oleh pemerintah, di mana semua beritanya di rilis dengan real dan penuh kejutan. Siapapun yang masuk kedalam siaran berita tersebut pasti akan mengalami guncangan berat dan mengganggu perusahaan mereka.


“Papa sudah menyuruh orang untuk menutup berita ini dari Papi, semoga Papi dan Mami tidak mendengar tentang berita ini. Kesehatan Papi akhir-akhir ini semakin memburuk.


 “Jadi apa rencana Papa?”


“Papa akan mengumunkan tentang pernikahan Quin, Papa juga akan melangsungkan konferensi pers kepada wartawan, begitu pun dengan Abi.”


Mama Kesya bernapas lega, setidaknya dunia akan tahu kebenaran tentang sang putri.


“Papa sih, dari awal udah Mama bilang untuk gak menutupi pernikahan mereka.”


“Itu atas permintaan Quin, Ma.”


 “Hmm, seharusnya Papa gak menyetujui pernikahan mereka yang terbilang cepat dan mendadak. Apa kata orang jika mereka berfikir Quin menikah terburu-buru karena sedang hamil.”


Menyadari apa yang Mama Kesya ucapkan, Mama Kesya langsung panik dan heboh.


 “Pa, gimana kalo orang-orang berfikir jika Quin hamil duluar nikah? Aduh Pa, kenapa jadi runyep gini sih hidup Quin. Hikks, sepertinya Abi dan Quin harus mandi kembang dari air zamzam agar terlepas dari berita-berita sial seperti ini.” Kesal Mama Kesya yang mana terlihat lucu di mata Papa Arka.


“Mandi kembang dengan air zamzam?” tanya Papa Arka dengan nada menggoda.


“Papa ih, orang lagi bercanda juga, malah di anggap serius.” Kesal Mama Kesya.


“Gak kebalik itu mah?”


“Dah tau kebalik, tanya lagi. Dah tau suasana lagi panas, bisa-bisanya ketawa.”


“Ha .. ha.. Mama lucu sih.”


“Pelaut kali Mama ampe lucu.”


“Pelawak Ma.”


“Itu maksudnya.”


 Papa Arka tau, saat ini Mama Kesya sedang stres dan memikirkan tentang nasib Quin. Mama Kesya sengaja menghibur dirinya dengan lelucon garing agar tak membuat dirinya semakin stres.


**


Yang belum favoritkan TWINS A and MISS CERIWIS,


Buruan di favoritkan ya ... jangan lupa like dan komen juga ..


Yuukkk.. follow IG ku..


IG : Rira Syaqila


jangan lupa Tap jempolnya dan komennya sebagai jejak...


Vote nya juga boleh jika berkenan 😁😁😁


Mari saling berbagi kebahagiaan.

__ADS_1


Salam SULTAN KHILAF


__ADS_2