KEAJAIBAN CINTA KESYA

KEAJAIBAN CINTA KESYA
KCK2 - SULTAN KHILAF 125


__ADS_3

Sepanjang perjalanan, Abi tak pernah melepaskan dekapannya dari pinggang Quin. Jika Anggel menarik Quin untuk menjauh dari nya, Abi akan kembali menarik tangan Quin dan menggenggamnya, dengan alasan takut Quin hilang.


Jika orang lain melihat, Abi dan Quin adalah pasangan yang saling mencintai satu sama lainnya. Tanpa mereka sadari, jika ada seorang wanita yang sedari mereka berada di restoran sudah memperhatikan Abi dan Quin. Bahkan wanita itu sampai mengikuti Abi dan Quin hingga ke hotel di mana mereka menginap.


"Abi, akhirnya aku menemukan kamu." lirih wanita itu dengan menatap Abi penuh cinta.


*


"Quin, aku mau dengar yang tadi lagi, boleh gak?" rayu Abi.


Quin yang sudah siap untuk tidur pun mengerutkan keningnya. "Dengar apa?"


"Itu, yang tadi. Yang waktu di restoran." Ujar Abi sambil memainkan rambut Quin dengan manja.


"Yang mana?" tanya Quin pura-pura tak tahu apa maksud dari perkataan Abi.


"Ayo lah Quin, aku mohon. Panggil aku lagi dengan sebutan 'sayang'." ujar Abi dengan manja.


"A-aku ngantuk." Ujar Quin sambil merebahkan dirinya dan menarik selimut, karena cuaca yang terasa sangat dingin.


"Quin, aku mohon." lirih Abi dengan memohon."


"Selamat tidur Abi ... Sayang." lirih Quin yang sudah berada di bawah selimut tebal itu.


Abi tersenyum lebar mendengar ucapan sayang dari Quin.


"Selamat tidur, My Quin, sayang."


Abi ikut masuk kedalam selimut dan memeluk Quin penuh cinta. Ah, rasanya Abi sangat bersemangat untuk menanti hari esok.


*


Quin merenggangkan tubuhnya, kemudian ia menoleh kearah Abi yang menatapnya sambil tersenyum dengan kepalanya yang bertumpu di satu tangannya.


"Pagi My Quin." Sapa Abi dengan tersenyum manis.


"Pagi Abi." balas Quin dengan menutup setengah wajahnya.


"Hanya Abi?"


"Lalu?"


"Bisakah kamu menambahkan kata 'Sayang' di belakangnya?" pinta Abi sambil membuat pola abstrak di lengan Quin.


Quin menggigit bibirnya dan menatap Abi dengan malu.


"Ayolah ... Biar aku semakin semangat bekerja." Pinta Abi dengan manja.


"Pa-pagi Abi ... Sayang."


Abi langsung memeluk tubuh Quin yang masih bergelung di bawah selimut.


"Bisakah kamu mulai mencintai Aku, Quin?" bisik Abi.


"Akan aku coba."


"Terima kasih." Abi mendaratkan kecupan bertubi-tubi di pucuk kepala Quin.


*


"Pagi pengantin baruuu." Goda Anggel dan Desi yang sudah menunggu Quin dan Abi di lobi.


"Iih, apaan sih." Ujar Quin dengan merona.


Mereka pun bercanda seperti biasa, yang mana membuat Abi semakin mempererat rengkuhan tangannya yang berada di pinggang Quin.


Di sudut sana, seorang wanita cantik dan anggun sedang mengepalkan tangannya di saat mendengar kata 'Pengantin baru'  yang di tujukan untuk Abi dan Quin.


"Aku tau, kamu masih mencintai aku. Tak ada wanita yang bisa mengganti tempat ku di hati kamu. Aku akan merebut kamu kembali, kita akan hidup bahagia bersama, seperti impian kita selama ini. Aku tau, kamu pasti terpaksa menikah dengannya, dan pernikahan kalian berdasarkan atas kerja sama, bukan karena kamu mencintainya. Karena kamu hanya mencintai aku, sampai kapan pun akan selalu mencintai aku."


*


"Waah, aku benar-benar jadi obat nyamuk di sini." Gerutu Anggel yang mana melihat Quin dan Abi, serta Jo dan Desi.


Desi dan Quin hanya terkikik.


"Haruskah aku menghubungi Martin untuk menemani mu?" Ujar Quin dengan menatap Anggel dengan menggoda.


Anggel mencebikkan bibirnya , yang mana membuat Desi dan Quin tertawa terbahak-bahak.


Pesanan makanan mereka pun tiba, mereka pun langsung menikmati makananya. Seperti biasa, Quin melayani Abi dengan mendekatkan air mineral kepadanya. Abi tersenyum dan mengelus kepala Quin dengan sayang.


Dan lagi, di sudut meja lainnya seorang wanita menggenggam sendok dengan erat hingga buku-buku jari nya memutih.


"Aku tau kalo kamu tak mencintai nya. Kamu tak mencintainya, kamu hanya mencintai aku, hanya aku, hanya aku yang ada di hati kamu. Hanya aku satu-satunya wanita yang bisa membuat diri kamu bahagia."


Tanpa sadar, wanita itu menggebrak meja hingga tangannya menyenggol gelas hingga terjatuh. Suara pecahan kaca itu pun mengambil atensi Abi, Quin, Jo, Desi, dan Anggel. Sayangnya mereka tak bisa melihat siapa wanita yang duduk di sana, karena seorang pelayan menutupinya dengan tubuhnya.


Abi mengernyitkan keningnya saat mengenali siluet tubuh wanita yang baru saja memecahkan gelas tersebut.


"Kamu mengenalnya?" tanya Quin yang melihat wajah Abi masih memperhatikan ke arah wanita itu.

__ADS_1


"Entahlah, aku tak bisa melihatnya. Lupakan dia, sebaiknya kita habiskan makanan kita. Kamu perlu mengisi tenaga untuk menghabiskan uang aku." Ujar Abi dengan mengelus kepala Quin.


Anggel dan Desi yang melihat adegan romantis itu pun langsung bersorak untuk menggoda Quin, yang mana wajahnya sudah merah merona bagaikan mawar yang merekah.


"Tenang aja Quin, kalo kamu gak sanggup habisin, ada kami yang  siap akan membantu kamu." Ujar Anggel sambil merangkul tubuh Desi.


Abi hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah para wanita yang ada di hadapannya itu. Seberapa mahal pun belanjaan mereka, tetap saja belum bisa menghabiskan uang Abi yang telah Abi berikan kepada Quin.


Jo yang penasaran dengan wanita yang menjatuhkan gelas itu, kembali menatap kearah wanita itu. Jo terkejut saat mengetahui siapa wanita itu. Bagaimana bisa wanita itu berada di sini? Abi bersyukur, karena Abi duduk dengan membelakangi wanita itu. Akan Jo pastikan, jika dirinya akan memperhatikan Abi lebih ketat lagi. Jo langsung memainkan ponselnya dan menyuruh anak buahnya untuk mengawasi wanita. Jo bersyukur karena dia mengambil keputusan untuk ikut. Setidaknya Jo bisa langsung menghajar Abi, jika dirinya berani menyakiti Quin seujung jari nya.


*


"My Quin, aku berangkat kerja dulu ya. Kamu jangan lupa makan siang dan kasih kabar ke aku nanti. Ke mana pun kalian ingin pergi, ada supir yang siap mengantar."


"Siap bos besar." Ujar Anggel dan Desi berbarengan.


"Aku pergi ya, Ingat, jangan lirik-lirik Opa di sini.  Mereka gak ada yang seganteng aku." Ujar Abi sambil mengelus sayang rambut Quin.


Quin mencebikkan bibirnya di saat mendengar jika tak ada pria yang lebih tampan dari dirinya, tak tahu kah Abi jika Quin sangat ngefans dengan Ji Chang Wook?


"Quin." tegur Abi saat tak mendapatkan respon dari Abi.


"Iya Abi,"


"Kata semangatnya?"


"Apa?"


"Ayo lah, biar aku semakin bersemangat kerjanya." Ujar Abi manja yang mana membuat Desi dan Anggel membelalakkan matanya, tak menyangka jika Abi bisa juga bersifat manja seperti itu.


Quin menghela napasnya pelan, ia berdehem pelan untuk mengucapkan kata semangat untuk Abi.


"Yang semangat ya cari nafkah halalnya, selamat bekerja, Abi sayang."


Abi langsung mendaratkan ciuman di bibir Quin. Tak peduli dengan reaksi Anggel, Jo, dan Desi. Ataupun reaksi dari orang yang ada di sekitar mereka.  Abi ***** sedikit bibir Quin sebelum melepaskannya.


"Terima kasih, My Quin."


Quin masih mematung dengan apa yang Abii lakukan kepadanya. Abi menciumnya di depan umum? DI DEPAN UMUM.


Desi dan Anggel langsung mengulum bibirnya di kala melihat wajah Quin memerah dan masih berdiri mematung menatap kepergian ABi.


"Cie ... cie .. cie ... Yang dapat ciuman mesra ..." Goda Anggel yang mana makin di ramaikan oleh suara Desi.


Quin tersadar dan langsung menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


"Ya ampun, malu banget aku."


"Romantis apanya? malu-maluin iya." gerutu Quin dan mulai berjalan menuju mobil yang sudah Abi siapkan untuk mereka menjelajah Seoul-Korea.


Anggel dan Desi pun terkekeh dan mengikuti Quin yang sudah berjalan duluan di hadapan mereka. Jo masih memperhatikan sekitar dengan mata elangnya. Jo mendapati wanita yang berada di dalam restoran sedang memperhatikan Quin dari jauh.


"Kamu tidak akan pernah bisa menyentuh Quin." gumam Jo sambil menatap tajam kepada wanita itu, sedangkan wanita itu tidak mengetahui jika Jo sudah menyadari keberadaannya.


*


"Quin, bagus gak?' tanya Anggel yang sedang mencoba mantel bulu berwarna peach di salah satu mall ternama dan terbesar di Seoul.


"Hmm, bagus. Cocok sama kulit kamu."


"Kalo aku Mbak?" tanya Desi yang juga mencoba matel bulu berwarna hitam.


"Ih Desi, masa warna hitam sih. Cari yang berwarna cerah dong. Biar hdup kamu juga ikut berwarna."


"Hidup aku udah berwarna Mbak, dan semakin berwarna semenjak dia hadir dalam hidup aku." Ujar Desi sambil menunjuk kearah Jo yang memang berdiri tegak sudah seperti pengawal.


Padahal Quin sudah mengatakan jika dirinya tak ingin jika Desi dan Jo menjadi pengawalnya, melainkan berbaur seperti biasa. Tapi Jo seolah tak mengindahkan ucapan Quin. Tanpa Quin ketahui, Jika Jo sedang menjalankan siaga 1 untuk melindungi ketiga wanita yang ada bersamanya, terutama Quin.


"Des, ini cocok deh sama kamu." Ujar Anggel sambil memberikan mantel bulu yang sama dengan miliknya.


"Ih, aku mau juga dong samaan." Ujar Quin.


"Oke, kita ambil ini ya samaan, ujar Anggel yang di angguki oleh Desi dan Quin.


Desi sebenarnya segan untuk memilih, karena harga-harga nya sangat mahal, bahkan harga satu mantel yang Desi pilih di awal saja sudah mendekati dua juta, bagaimana dengan mantel yang di pilihkan oleh Anggel? mungkin harganya dua kali lipat lebih dari itu.


Berhubung mereka akan menghabiskan sekitar tiga mingguan di Korea, maka mereka pun membeli 4 mantel untuk satu orang dengan berbagai model yang terkini.


"Nah, si Bang Jo belum ada mantelnya, yuk kita cariin." Ajak Quin yang mana di angguki oleh Anggel dan Desi.


"Quin, aku gak usah. Ini aja udah cukup hangat kok." Ujar Jo sambil menunjukkan mantel jas yang di kenakannya.


"Itu kurang hangat Bang Jo, lagian udah deh, nurut aja apa kata aku."


"Iya bener tu Bang Jo, nurut apa kata Quin, rezeki gak boleh di tolak." tambah Anggel.


Jo hanya melirik kearah Desi, desi mengendikkan bahunya dan tersenyum. Jo menghela napasnya pelan dan pasrah di kala para wanita sultan itu mencocokkan mantel yang akan di belikan untuk dirinya.


Quin melihat satu mantel berwarna coklat. Ia ingat jika dirinya juga membeli mantel berwarna yang sama.


"Miss, please get me that coat (nona, tolong ambilkan aku mantel itu)." ujar Quin kepada salah satu pelayan yang melayani mereka.

__ADS_1


"Sure, wait a minute (tentu, tunggu sebentar)."


Pelayan itu pun mengambilkan mantel coklat yang telah mencuri perhatian Quin.


"Miss, this coat is a limited edition new this month. It fits perfectly with the coat that the lady chose earlier (Nona, matel ini adalah edisi terbatas keluaran baru di bulan ini. Sangat cocok sekali dengan mantel yang nona pilih tadi)." Ujar pelayan toko.


Quin tersenyum, "Ok, i'll take this (Baiklah, aku ambil ini)."


Pelayan tersebut tersenyum dan membungkukkan tubuhnya.


Setelah puas berbelanja mantel, mereka mencari sepatu yang cocok untuk musim dingin di Korea.


Di tempat lain, Abi tersenyum di kala melihat pesan yang masuk kedalam ponselnya. Abi senang, Quin membelanjakan uang yang ia berikan. Itu tandanya, Abi sudah menjalankan salah satu kewajibannya sebagai suami. Abi tidak peduli berapa pun uang yang akan Quin habiskan hari ini. Bagi nya, uang bisa di cari, tapi kebahagiaan Quin adalah satu-satunya yang paling berarti bagi hidupnya.


*


"Quin, haus" ujar Anggel manja dan di angguki wajah memelas dari Desi.


"Oke, gimana kalo kita minum dulu. Emm, kita cari yang halal. Aku takutnya di sini gak ada yang halal."


Salah satu bodyguar yang di kirimkan Abi menghampiri Jo, dan mengatakan jika di Mall ini juga tersedia tempat makan yang halal.


"Quin, di lantai 5 ada restoran khusus muslim." Ujar Jo memberitahukan Quin dan yang lainnya.


"Oke, tancap gas."


Jo mengernyit di saat mendapatkan sosok pria berbaju hitam dan memakai topi yang memperhatikan gerak gerik dari ketiga wanita yang ada bersamanya. Jo langsung memberikan perintah untuk menjaga ketiga wanita itu dengan ketat namun tidak terlalu mencolok. Jo tak ingin membuat Quin dan Anggel trauma akan kejadian yang baru-baru saja mereka alami.


*


Di sebuah gedung tinggi pencakar langit, Abi membeku saat ia di perkenalkan oleh rekan bisnisnya Mr. Kim So hyun kepada seorang wanita yang katanya sudah lama mencari keberadaan Abi, dan ingin bertemu dengan Abi.


"Apa kabar Abi, sudah lama sekali kita tidak bertemu. Aku sangat merindukan kamu." Ujar wanita itu yang tak lain dan tak bukan adalah Anita, mantan kekasih Abi dulu.


Abi merasa jantungnya berdebar dengan cepat, ia tak tahu harus bereaksi seperti apa. Dulu, Abi pernah mempersiapkan dirinya untuk bertemu kembali dengan Anita. Jika Abi bertemu kembali dengan Anita,  Abi akan menarik Anita kedalam pelukannya dan tak akan pernah membiarkan Anita pergi lagi dari hidupnya. Namun itu dulu, sebelum Abi bertemu dan jatuh cinta kepada Quin.


Semenjak bersama Quin, sekali pun Abi tak pernah berfikir akan bertemu dengan Anita. Bahkan Abi berharap sampai kapan pun ia tak akan pernah bertemu lagi dengan Anita. Tetapi takdir seolah sedang menguji Abi saat ini.


Abi belum membalas uluran tangan Anita. Abi masih membeku dan menatap Anita dengan tatapan yang tak bisa di artikan. Bahkan Abi sendiri tak tau apa yang saat ini ia rasakan. Benci, marah, rindu, semuanya bercampur menjadi satu. Anita tersenyum sedih karena Abi belum juga menerima uluran tangannya.


Atensi Abi kembali di saat Mr. Kim So hyun berdehem, dan saat itu dengan jantung yang berdebar serta tangan yang sedikit gemetar, Abi menerima uluran tangan Anita. Senyum Anita mengembang di saat tangan hangat dan besar itu kembali bisa ia sentuh. Dan Anita yakin, jika Abi merasakan debaran yang sama dengannya saat ini.


Mr. Kim so hyun pun memberikan waktu kepada Anita dan Abi untuk berbicara berdua.


"Apa kabar Abi." Sapa Anita dengan lembut.


Bukannya menjawab pertanyaan Anita, Abi malah balik bertanya kepadanya. "Apa yang kamu lakukan di sini, An?"


Anita tersenyum. Abi masih memanggilnya dengan panggilan yang sama. Yang mana hanya Abi lah yang memanggilnya dengan sebutan 'An'.


"Aku bekerja di sini." jawab anita dengan tersenyum manis.


Anita semakin tersenyum di kala melihat Abi yang terus menatapnya tanpa berkedip. Bahkan Abi terlihat sangat gugup dan menggemaskan.


"Aku merindukan mu, Abi." Ujar Anita dengan sendu.


Abi tak menjawab atau pun membalas ucapan rindu dari Anita. Ini benar-benar sangat mengejutkan bagi nya. Ponsel abi berdering, Abi merogoh ponselnya yang ada di dalam kantong. Tertera nama Quin di sana. Abi menarik napasnya dan neggeser tombol hijau tersebut.


"Abi, apa kamu ikut makan malam bersama kami?" tanya Quin di seberang panggilan.


Abi masih terdiam dengan ponsel yang menempel di telinganya, namun matanya menatap kearah Anita tanpa berkedip.


"Abi, kamu mendengar aku? Apa kamu ikut makan malam bersama kami?" Quin mengulang pertanyaannya.


"Ya, kirimkan aku alamatnya, aku akan menyusul."


Abi menyimpan kembali ponselnya, ia menarik napas dan berdiri.


"Aku harus pergi." Ujar ABi dan melangkah menjauhdari Anita.


Baru saja Abi memegang gagang pintu, tiba-tiba saja Abi merasakan tangan kurus yang melingkar di perutnya, serta kepala yang bersandar di punggungnya.


"Maafkan aku, maafkan aku Abi. Aku mencinta mu, aku masih mencintai kamu."


 


 


Yuukkk..


follow IG ku..


IG : Rira Syaqila


jangan lupa Tap jempolnya dan komennya sebagai jejak...


Vote nya juga boleh jika berkenan 😁😁😁


Mari saling berbagi kebahagiaan.


Salam SULTAN KHILAF

__ADS_1


__ADS_2