
Fadil membuka matanya perlahan, darah yang membuka di area matanya sudah di keluarkan, dan mata Fadil sudah tidak terlihat bengkak lagi. Puput bernapas lega, karena Fadil baik-baik saja. Namun Puput enggan bertemu dengan Fadil, karena merasa dirinya tidak layak lagi untuk Fadil. Puput merasa semua ini salahnya, dan karena dirinya lah Fadil, Bara, dan Sasa harus menderita. Akhirnya Puput memutuskan pergi setelah berhasil mengelabui para suster. Puput melihat Fadil untuk terakhir kalinya, saat Fadil sadar dan merasa sangat bersyukur.
" Terima kasih, sudah memberikan cinta yang luar biasa" Gumam Puput di balik pintu kamar inap Fadil.
Puput melangkahkan kaki nya menuju taman, dengan di temani oleh seorang suster. sesampainya di taman, Puput meminta waktu untuk menyendiri, dan suster pun memberikan jarak kepada Puput. Ketika suster lengah, Puput melanjutkan aksinya.
Dan saat ini Puput menghilang, entah kemana. Tak ada yang tahu kepergian Puput, bahkan pihak rumah sakit pun mengatakan, terakhir kali Puput terlihat di taman.
Fadil yang baru sadar, langsung menanyakan keberadaan Puput. Dan saat mengetahui Puput tidak berada dikamar maupun di taman, pihak rumah sakit panik, karena takut akan kemarahan Arka.
" Gue harus cari Puput" Fadil berusaha bangun dari tidurnya, namun karena tubuhnya masih lemah, akhirnya Fadil terjatuh dari tempat tidurnya dengan darah bercucur dari dari tangannya, karena dia melepas paksa infus yang terpasang di pergelangan tangannya.
" Lo tenang dulu, tubuh Lo masih lemah. Biar gue dan Gilang yang nyari keberadaan Puput"
Fadil hanya memegang kepalanya yang terasa pusing. Tanpa ia sadari, air matanya mengalir dari sudut matanya, karena membayangkan Puput kembali di culik oleh Ando, atau Puput tidak akan pernah kembali dari hidupnya.
Di kamar lain, Tn.Yamatama, Arka, Bara, Sasa, Papi Farel, Daddy Roy, dan Mami Shella membahas permasalahan tentang penembakan yang di lakukan oleh Ando.
" Bisakah semuanya di selesaikan secara kekeluargaan?"
" Kami memang berjanji tidak membawa kasus penculikan Puput ke kantor polisi, tapi bagai mana dengan Bara?, Dia terluka, dan itu tidak ada dalam perjanjian kita. " Ujar Arka tenang namun terdengar dingin dan menyeramkan.
" Saya mengerti. Tapi, bisakah masalah ini tidak di publikasikan?"
" Tentu, yang penting Ando harus di hukum" Tambah Daddy Roy.
Tn. Yamatama menghela napas, Semua karena kesalahannya, yang terlalu memanjakan Ando, beserta Tante Ana, anak nya.
" Baiklah, saya terima semua keputusan kalian" Ujar Tn. Yamatama.
Di tempat lain, Ando tengah frustasi karena gagal menikah dengan Puput. Dia membanting semua benda yang ada di dalam kamarnya itu . Tanpa memperdulikan pecahan kaca yang berserakan di lantai, Ando berjalan di atasnya dan kembali menghancurkan barang-barang yang ada di sana.
Tante Ana sudah menangis di luar kamar Ando, tidak ada satu orang pun yang boleh membukakan pintu kamar tersebut, kecuali Tn. Yamatama.
Percakapan bersama Arka, Bara, Papi Farel, dan Daddy Roy pun berakhir dengan Ando di hukum sesuai pasal yang berlaku. Mereka tidak membahas tentang penculikan Puput dan Fadil, akan tetapi kasus penembakan Bara lah yang di naikkan kepersidangan.
Sepeninggalan Tn. Yamatama, Mami Shella menyuruh semua orang keluar dari kamar, kecuali Sasa. " Ingat, jangan macem-macem, halalin dulu Sasa nya" Ancam Mami Shella sebelum meninggalkan Bara dan Sasa.
" Jadi, kamu sudah menerima cinta ku?" Ujar Bara sambil mengedipkan matanya sebelah.
Di kamar inap, Kesya sedang menatap kesal kearah Arka, Daddy Roy, Mami sgella, dan Papi Farel. Karena menyembunyikan kondisi Bara.
" Maafin Mas sayang, Mas yang melarang semuanya untuk tidak bilang ke kamu kondisi Bara"
__ADS_1
" Nyebelin banget, emangnya Key siapa? Apa key bukan anak Mami dan Daddy? Hingga menyembunyikan kondisi Mas Bara? Hiikkss.."
Mami Shella langsung berlari dan memeluk Kesya. " Jangan bilang begitu sayang, Kamu anak Mami. Maafin Mami, mami hanya tidak ingin kamu khawatir dan terjadi apa-apa dengan calon cucu mami. Maafin Mami. Hikss"
Mami Shella menangis sambil memeluk Kesya. Daddy Roy pun ikut memeluk Kesya.
" Maafin Mami dan Daddy Key" Ujar Daddy serak karena juga ikut menangis.
" Hiikkks, Key mau liat Mas Bara. Hikss"
Arka menyuruh suster membawakan kursi roda untuk Kesya, kemudian Arka menggendong Kesya dan mendudukkan nya di kursi roda.
" Aku masih bisa jalan Mas" Ujar Kesya masih dengan nada kesal.
" Mas cuma gak mau kamu lelah"
Arka mendorong pelan kuris roda yang di naiki Kesya menuju ruang inap Bara. Sesampainya di depan pintu, Mami Shella menekan handle pintu dan mendorongnya. Pemandangan pertama yang di lihat eh Mami Shella adalah, Sasa yang sedang membukakan kulit jeruk untuk Bara. Mami Shella tersenyum.
" Mas, Hiikks".
Kesya langsung turun dari kursi roda dan berlari memeluk Bara. Bara menatap Arka tajam, karena sudah memberi tahukan keadaan dirinya.
" Dia curiga dengan kita semua, karena Lo gak jengukin dia. Jadi Kesya ngikutin kita tadi, saat Tn. Yamatama jenguk Lo. Kesya nguping di luar" Jelas Arka sebelum mendengar pertanyaan Bara.
" Nyebelin"
" Aww" Bara meringis saat Kesya mencubit pinggangnya.
" Sakit Key"
" Biarin." Kesya melihat kearah Sasa. " Kamu juga, nyebelin banget, awas aja kalo kamu masih brani nolak cintanya Mas Bara." Ancam Kesya kepada Sasa. Sasa menelan ludahnya kasar, kenapa satu keluarga ini pada mojokin dia sih. Ah, dia rasanya sangat menyesal karena sudah menangis Bara waktu itu.
Fadil masih menunggu kabar dari anak buahnya, namun sudah 3 hari, mereka belum juga mendapatkan kabar tentang Puput. Ayah Iqbal pun tidak mengetahui kemana Puput pergi, karena Puput meninggalkan sepucuk surat untuk dirinya, dan juga untuk di berikan kepada Fadil.
Fadil menatap amplop yang di berikan oelh anak buahnya tadi. Dengan perlahan, Fadil menarik kertas yang berada di dalam amplop tersebut, dengan perlahan dia membuka setiap lembaran kertasnya.
Di baca nya setiap kata dari surat yang Puput tuliskan, tanpa Fadil sadari, Air matanya mulai mengalir dan membasahi pipinya.
" Enggak, kamu gak boleh pergi. Aakkhhh" Fadil meremas surat dari Puput.
Gilang yang kebetulan baru saja sampai, langsung berlari dan menenangkan Fadil yang ingin melepas lagi infus di tangannya.
" Sadar Dil, Sadaar.." Gilang memeluk Fadil kuat. Mili yang melihat Fadil mengamuk, langsung memanggil dokter dan perawat.
__ADS_1
Tak berapa lama dokter datang, dan menyuntikkan obat penenang. Perlahan kekuatan Fadil melemah, dan matanya kembali tertutup.
Kesya yang juga mendengar jeritan Fadil, menatap Arka dengan penuh pertanyaa.
" Mas jelasin di kamar ya " Arka kembali mendorong kursi roda Kesya menuju ruang inap Kesya.
Arka menceritakan kejadian saat Puput menghilang. Yang jelas, kali ini bukan Ando pelakunya, melainkan keinginan Puput sendiri, karena Puput meninggalkan surat untuk keluarganya dan Fadil.
" Mas, Puput pernah bilang, jika dia ingin sekali tinggal di tempat yang jauh. Tempat yang tidak ada satu pun orang yang mengenal dia" Ujar Kesya.
Arka menatap Kesya dengan penuh pertanyaan. " Kamu kira-kira tau di mana itu?"
" Aku gak yakin, tapi Puput pernah bilang, jika dia ingin menghilang dan jauh dari semua masalah yang membuatnya hancur, dia akan tinggal di tempat itu. Karena tempat itu, tidak ada seorang pun yang mengenalnya."
Arka langsung membuat panggilan kepada Gilang, tak berapa lama, Gilang datang bersama Mili.
" Kamu yakin jika dia kesana key?" Tanya Gilang.
" Aku gak yakin, tapi dulu dia pernah bilang ke aku, saat aku mendapatkan masalah di kampus dulu. Jika dia jadi aku, mungkin dia akan pergi ketempat yang satu orang pun tidak ada yang mengenal dia. Dan satu tempat itu adalah pulau K " Kesya menjeda ucapannya. " Itu udah lama banget dia bilangnya ke aku, cuma gak ada salahnya kan jika kita mencari ke sana?"
" Ya, kamu benar sayang. Mas akan urus orang untuk mencarinya di sana"
Di tempat yang tenang, dengan angin yang berhembus, dan suara ombak yang saling berkejar-kejaran. Puput menatap jauh ke lautan lepas itu. Dia berharap, semoga kehidupannya kedepan bisa lebih baik.
" Kak Tari, " Tegur seorang wanita muda.
Perempuan yang bernama Tari pun menoleh, "Bayinya sehat, tetapi ibunya banyak kehabisan darah." Ujar wanita muda.
" Aku akan melihatnya," wanita bernama Tari itu memasuki pondok, di mana ada seorang wanita yang baru saja melahirkan seorang bayi laki-laki.
" Kak Tari, " Panggil wanita yang baru saja melahirkan itu dengan lemah.
Tari pun mendekati wanita itu. " Mau kah kau memberikannya nama?"
Tari tersenyum, Di gendongnya bayi laki-laki itu, " Bismillahirrahmanirrahim, Fadil Maulana. Mulai hari ini namamu adalah Fadil Maulana" Bisik Tari di telinga sang bayi.
Hai readers..
jangan lupa Tap jempolnya yaa..
Cukup like aja udah buat aku bahagia banget loh.
Mari saling berbagi kebahagiaan.
__ADS_1