KEAJAIBAN CINTA KESYA

KEAJAIBAN CINTA KESYA
Bab 153 " Klinik Sehat"


__ADS_3

Banyak mobil mewah masuk ke perkarangan rumah Pak Rojak. Bahkan ada mobil ambulans dalam rombongan tersebut. Arka dan yang lainnya sudah berkumpul di teras menunggu kedatangan Bram dan dokter jaga lainnya yang akan membantu klinik di desa ini.


Bram keluar dari mobil setelah supirnya membukakan pintu. Arka langsung menyambut hangat dengan pelukan kedatangan Abang iparnya itu.


" Selamat datang Mas" Sapa Arka.


" Kayaknya kamu betah di sini yaa, ha..ha..ha.. udara benar-benar seger" Puji Bram.


Arka memperkenalkan Bram kepada Pak Rojak, Buk Siti, Ami, dan Lehah. Bram salut kepada Duda dan Ami. Yang mau berjuang untuk kemajuan Desa nya. Arka mengajak Bram ke klinik, tempat biasa Ami menyembuhkan pasiennya.


Entah kapan dan kerjaan siapa, klinik sudah di hias sedemikian rupa, hingga terdapat pita besar di depan pintunya.


Setelah pembacaan doa dan kata sambutan, akhirnya pemotongan pita untuk meresmikan klinik Sehat pun di resmikan.


" Baiklah, Pak Rojak, Buk Siti, Ami, Duda, dan Lehah. Mari sini, bersama-sama kita potong pitanya " Ujar Bram.


Pak Rojak dan Buk Siti di kuasa menahan air matanya. Bram memberikan gunting tersebut ketangan Ami. Dengan Ami yang berada di tengah, di sebelah kanan ada Pak Rojak dan Duda, dan si sebelah kiri ada Buk Siti dan Lehah.


Dengan mengucapkan Bismillahirrahmanirrahim, pemotongan pita pin di laksanakan. Ami memotong pita dengan mata yang sudah basah dan berkaca-kaca. Saat Bram memberikan gunting sebagai tanda kepercayaan klinik kepadanya, Ami sudah tak kuasa menahan air matanya. Keanggunan dan kemuliaan hati Ami telah tersebar luas di rumah sakit M health, hingga ada seorang Dokter spesialis Jantung yang menawarkan diri untuk mengabdi beberapa bulan di klinik tersebut.


Dokter spesialis jantung itu bernama Dokter Ridwan. Dr.Ridwan sudah memandang Ami dari awal pertama kali jumpa, dan keputusannya untuk mengabdi di klinik sehat ini, yang awalnya hanya beberapa bulan, memutuskan untuk mengabdi selamanya. Karena merasa sudah menemukan tulang rusuknya.


Jodi menyadari tatapan Dokter Ridwan kepada Ami, dan Jodi tersenyum. Setidaknya akan ada pria baik dan lebih layak yang menjadi suami Ami. Jodi berdoa agar Dokter Ridwan dan Ami bisa bersama.


Sebenarnya tidak hanya Dokter Ridwan, ada beberapa perawat dan Dokter sementara juga yang memandang Ami dengan minat. Namun hanya Dokter Ridwan lah yang memandang Ami dengan ketulusan.


Arka ternyata sudah menyiapkannya secara matang, Kesya saja tidak tau kapan Arka menyiapkan semuanya ini. Terdapat makanan enak yang di sajikan untuk umum. Masyarakat pun berbondong-bondong untuk menikmati makanan yang telah di sajikan.


" Bang Duda"


Duda melihat kearah sumber suara, Duda yang tadinya tersenyum dan tertawa dengan warga, langsung merubah ekspresi wajahnya menjadi datar.


" Bang, aku ingin kembali kepada kamu. Tolong terima aku" Ujar Ratna tanpa malu.


" Maaf, saya tidak punya urusan apapun lagi kepada mu"


Ratna mengeluarkan pisau cater dari kantong celananya. Dia mengancam akan menggores pergelangannya jika Duda tidak ingin kembali kepadanya.


" Dari pada aku tersiksa, dan Abang tidak ingin kembali kepada ku, lebih baik aku mati"


Semua orang sudah berusaha untuk menasehati Ratna. Pisau sudah berada di dekat pergelangan Ratna, namun dia masih menatap Duda. Tangan Ratna bergetar saat memegang pisau itu.


Duda tersenyum miring, cukup lama dia mengenal Ratna, dan Duda tau jika Ratna tidak akan berani melakukan hal itu.


" Silahkan saja, karena aku tidak peduli lagi dengan hidup mu" Ujar Duda dan meninggalkan Ratna.


" Aakkhhhrr, Bang Duda.." Teriak Ratna.

__ADS_1


" Dasar Pel***r" Teriak seornag laki-laki dengan suara bergetar nya.


Plaakk..


Duda menghentikan langkahnya, saat mendengar makian itu.


" Kau ingin mati? Baiklah, akan aku kabulkan."


Di raihnya pisau yang ada di tangan Ratna, dan di goresnya pergelangan Ratna hingga menyembur darah segar. Masyarakat yang berada di dekat situ terlambat untuk menarik Mantan Lurah itu, hingga Ratna harus merasakan perih yang tak terkira.


Ami langsung berlari dan menahan kuat pergelangan tangan Ratna, Sedangkan mantan Lurah itu sudah di amankan oleh pengawal Bram. Duda membeku melihat Ratna terkujur lemas dengan darah yang terus menetes di tangannya.


Dokter Ridwan dan Jodi langsung membopong Ratna masuk kedalam ruang tindakan. Ami yang sudah berlumur darah dengan cekatan menghentikan pendarahan yang terjadi. Dokter Ridwan, Bram, perawat, dan beberapa Dokter yang ikut terjun kelapangan menatap takjub dengan apa yang Ami kerjakan. Nur yang sudah terbiasa membantu pun terlihat gesit, membuat para perawat di sana merasa minder. Karena mereka sudah tau jika Nur tidak berpendidikan tinggi, tapi lihatlah, Nur bahkan sudah seperti perawat yang memiliki jam kerja yang tinggi.


Dokter Ridwan yang tadinya ingin membantu, nyatanya terlalu terpesona dengan apa yang di lakukan Ami. Kesya sudah sesenggukan dinluat karena merasa takut melihat kejadian tadi. Arka sedang menenangkannya, memeluknya, memberikan ketenangan yang di butuhkan ya. Sedangkan Duda, Duda terdiam berdiri dan membeku, seakan tak percaya melihat kejadian tadi. Dia yakin jika Ratna tidak akan menggores tangannya, tapi siapa yang sangka jika suami nya itu yang tega melakukannya.


Ami sudah selesai menjahit pergelangan tangan Ratna. Saat ini Ratna sedang tertidur karena efek obat bius.


Tepuk tangan langsung menggema di seluruh ruangan. Ucapan selamat pun terus membanjiri telinga Ami.


" Kamu hebat, cepat, dan cekatan. Desa ini beruntung telah memiliki kamu." Puji Bram.


" Terima kasih Dokter"


" Saya punya tawaran untuk kamu, mau kah kamu bergabung di rumah sakit M health? jika kamu mau, Saya akan membiayai spesialis mu."


" Kamu akan menjadi dokter hebat dan terkenal Di M Health, jika kamu mau bergabung bersama"


Ami membelalakan matanya, mendengar penawaran dari Bram. Ami menelan ludahnya kasar.


"Bagaimana Ami?"


Ami memandanb kedua orang tuanya, Lehah, Jodi, dan masyarakat lainnya.


" Dokter, terima kasih atas tawarannya. Tapi saya minta maaf, saya tidak bisa meninggalkan Desa ini, beserta masyarakat di sini yang sangat membutuhkan saya. Biarlah saya tetap disini, karena memang di sinilah takdir saya untuk berjuang."


" Kamu menolak tawaran dari saya?"


" Maaf Dokter, bukannya saya ingin menolak, tetapi bagi saya, Gelar hanya lah sebuah gelar, yang penting bagi saya bisa menyelamatkan dan menolong orang yang membutuhkan saya"


Senyum Bram semakin mengembang, Arka tidak salah dalam menilai orang. Ami memang benar-benar memegang sumpahnya sebagai dokter. Tujuan utamanya bukanlah mendapatkan pundi-pundi rupiah, namun tujuan utamanya adalah menyelamatkan orang-orang yang membutuhkannya. Dokter Ridwan juga semakin terkagum dengan Ami, rasanya detik itu juga dia ingin meminang Ami.


Bram memberikan tepuk tangannya untuk Ami, disusul oleh Ridwan dan Arka. Kemudian tepuk tangan pun kembali menggema.


" Kamu lulus dari ujian saya. Kamu pantas mendapatkan yang terbaik. Saya akan tetap membiayai sekolah Spesialis mu. Dan kamu akan tetap berada di klinik ini."


" Tapi Dok__"

__ADS_1


" Kamu tinggal bilang, kapan kamu siap untuk melanjutkannya"


Air mata Ami sudah deras mengalir. " Terima kasih Dok, terima kasih banyak"


Warga Desa bangga kepada Ami, karena lebih mementingkan masyarakat dikampungnya. Kesya membuka lebar tangannya, agar Ami masuk kedalam pelukannya, tanpa menunggu lama, Ami langsung berlari dan memeluk Kesya.


Buk Siti pun ikut memeluk Kesya dan Ami, begitu pun dengan Lehah.


Pesta peresmian klinik sehat pun sudah selesai. Di klinik tinggal Ami, Nur, dan Dokter Ridwan. Sedangkan Dokter yang lain dan perawat, mulai bekerja besok. Hari ini mereka istirahat di tempat yang sudah di sediakan.


Saat pertama kali sadar, Ratna menyebut Nama Duda. Ami menenangkan Ratna.


" Dek, Kakak mau ketemu dengan Bang Duda, kakak mohon"


" Kakak tenang dulu ya, nanti Ami coba bicara sama Bang Duda"


Ami keluar dari ruangan Ratna, disana sduah ada Duda yang duduk bersama Dokter Ridwan. Duda menatap Ami.


" Dia kepingin ketemu Abang"


Duda menghela napasnya, Duda berdiri dan menemui Ratna.


" Bang Duda, Aku__"


" Ratna, saya ke sini hanya ingin bilang, saya sudah memiliki kekasih, dan akan segera menikah dengan Dia. Jadi saya harap kamu bisa menjalani hidup kamu sendiri mulaindari sekarang"


" Gak Bang, aku gak mau__"


" Maaf, saya harap ini pertemuan terakhir kita, dan jika memang kita bertemu tanpa sengaja, saya harap kita tidak saling mengenal satu sama lain" Duda meninggalkan Ratna yang berteriak memanggil namanya.


Ami langsung saja menyuntikkan Ratna obat penenang, agar dia tidak kembali berteriak histeris.


Bram dan bebrapa orang penting lainnya sudah kembali ke Ibu Kota. Sedangkan Arka, Kesya, Duda, dan Jodi akan kembali besoknya.


" Alhamdulillah, hari ini adalah hari yang sangat luar biasa" Ujar Pak Rojak.


" Alhamdulillah pak"


" Pak, Buk, saya boleh minta di masaki sayur asam dan sambal terasi besok? Saya ingin makan di sawah lagi" Ujar Arka.


" Tentu Nak Arka"


** Hai readers...


Budayakan setelah membaca untuk menancapkan jempolnya ya...


Terima kasih. Salam KesAr.

__ADS_1


__ADS_2