KEAJAIBAN CINTA KESYA

KEAJAIBAN CINTA KESYA
KCK2 - SULTAN KHILAF 67


__ADS_3

Quin : cepatlah ke sini, atau kamu akan menyesal. Pujaan hati mu di jemput oleh seseorang yang sangat tampan.


Send.


Quin terkekeh dalam hati, mengingat bagaimana reaksi ketiga pria yang saat ini pasti sedang membaca pesan Quin.


.


.


Quin, Raysa, Anggel, dan Kayla telah selesai dengan perawatan mereka. Para gadis itu pun keluar dari ruang perawatan sambil tertawa, hingga tawa dan senyum mereka hilang dan di gantikan dengan wajah terkejut serta pucat, tapi tidak dengan Raysa.


Lana dengan gentle nya datang mendekati Anggel dan tersenyum manis di depannya. Begitu pun dengan Zein dan Fatih.


" Mau apa Lo?" Raysa menepis tangan Fatih di saat dirinya ingin di rangkul oleh Fatih.


" Aku antar kamu pulang."


Raysa menyeringai dan langsung memelintir tangan Fatih di saat tangannya ingin kembali merangkul bahu Raysa.


" Aaw....aww...aww...sakit Gaban.."


Quin sudah tertawa terbahak-bahak di belakang mereka. Anggel dan Kayla langsung menoleh.


" Ulah kamu Quin?" Geram Anggel.


" kalian kira aku gak tau apa, terjadi sesuatu di antara kalian." Quin menunjuk Kayla bersama Zein, dan Anggel bersama Lana.


" Ka-kami gak pacaran kok." Ujar Kayla dengan gugup.


" Oh, jadi kalian udah pacaran?" Quin terssnyum misterius.


" Quin,...."


" Gimana yaa kalo Mama Kesya tau.."


" Quin, jangan bilang ke Mbak Kesya.. Pliss. " rayu Kayla.


" Oke, tapi ada syaratnya."


" Apa?" tanya Kayla antusias.


Quin menyeringai, ini adalah saat yang tepat mengambil kesempatan ini untuk melarikan diri.


.


.


Kediaman Papa Arka sudah di dekor dengan sangat indah. Sesuai permintaan Quin, ia tak ingin pihak wartawan mengetahui pernikahan mereka, cukup di hadiri keluarga inti dan kerabat dekat saja.


Mama keaya memandang putri kesayangannya itu. Tak menyangka jika hari ini pun tiba dengan sangat cepat. Mama Kesya berharap, agar ini adalah pernikahan Quin yang pertama dan terakhir. Mama Kesya percaya, jika suatu saat Quin pasti akan mencintai Abi, seperti Mama Kesya mencintai Papa Arka. Semua hanya perlu waktu.


" Mama kenapa nangis?" Tanya Quin yang menatap sang Mama dari pantulan cermin.


" Mama bahagia, Akhirnya Mama bisa lihat kamu menikah, Quin. Mama gak nyangka, bisa mengantarkan kamu kepada calon suami kamu."


" Mama bahagia?"


" Ya sayang, " Mama Kesya menghapus air matanya. Mama Kesya menghampiri Quin, dan duduk di sebelahnya.

__ADS_1


" Kamu tau, Saat Mama menikah dulu, Mama kandung Mama sudah tak ada lagi, Mama merasa sedih, namun kesedihan itu musnah karena kehadiran Oma Shella." Mama Kesya meremas lembut jari jemari Quin. " Impian seorang ibu adalah, melihat anaknya bahagia dengan pria yang tepat, dan impian seorang ayah adalah, menikahkan putrinya, walau itu sangat berat di lakukannya."


Quin menatap wajah sang Mama yang masih di basahi dengan air mata. Tangan Quin terulur dan menghapus air mata yang baru saja jatuh itu.


" Menurut Mama, Apa Abi adalah pria yang pantas untuk Quin? dan akan selalu melindungi Quin?"


Mama Kesya menarik napasnya pelan, kemudian ia hembuskan dengan pelan dan tersenyum.


" Mama percaya, Abi bisa bahagiain kamu."


Hati Quin terasa bergetar. Kenapa semua orang berpihak kepada Abi? kenapa tak ada yang memikirkan perasaannya.


" Quin, Mama tau, Quin belum siap dengan pernikahan ini, karena Quin belum yakin dengan perasaan Quin, dan juga perasaan Abi."


Mama Kesya menangkup wajah Quin, di daratkannya ciuman di kening Quin.


" Quin mau tau satu rahasia Mama?"


Quin menatap mata sang Mama, dan mengangguk pelan.


" Saat Mama menikah dengan Papa, Mama juga belum yakin dengan perasaan Mama ke papa, begitu pun sebaliknya." Mama Kesya tertawa kecil mengingat masa lalunya.


" Kamu tau, Mama sebenarnya terpaksa menikah dengan Papa, karena saat itu Mama dipilihkan dengan dua pilihan. Saat itu, di waktu bersamaan, dua pria yang tidak Mama cintai, melamar Mama. Dan Mama harus memilih. "


Mama Kesya menatap kosong keatas meja rias. " Surat dari almarhumah Oma, mmebawa Mama untuk memilih Papa kamu, padahal Mana baru saja mengenal Papa kamu, dengan mengucpakan Bismillah, Mama memilih Papa." Mama Kesya tersipu dan tersenyum malu.


" Quin tau, Mama mulai menaruh hati sama Papa, setelah Mama bertunangan, dan saat Mama menikah, Mama jatuh cinta kepada Papa, tapi Mama malu mengatakannya."


Quin ikut tersenyum dan bahagia dengan kebahagian sang Mama. Quin juga tahu sebagian besar cerita sang Mama dan Papa, tapi Quin baru tahu, jika sang Mama saat itu, juga belum siap untuk menikah. Mama Kesya memang sangat penyabar dan dewasa dalam menghadapi semua Maslaah, sehingga orang-orang di sekitarnya tak bisa menebak apa yang di rasakan sang Mama.


' Maafin Quin, Ma, Maafin Quin.' Monolognya dalam hati.


ceklek..


" Quin, kamu cantik sekali.." Puji Anggel.


Quin tersenyum manis, tak berapa lama Kayla dan Raysa pun datang.


" Eemm, Mama di cariin dengan Papa."


Mama Kesya mengerutkan keningnya, "Benarkah?"


" Iya, ada yang mau di bicarakan, penting"


" Baiklah." Mama Kesya pun meninggalkan Quin bersama Anggel, Kayla, dan Raysa.


Mereka tetap setia berada di kamar sampai tim MUA selesai mendandani Quin. kemudian Anggel menyuruh tim MUA untuk keluar.


" Kamu yakin Quin?" Tanya Anggel dengan gugup.


Ya, ini adalah rencana Quin untuk melarikan diri. Quin mengembangkan senyumnya.


" Tenang aja, aku pastikan rencana kita akan berhasil, asal kita bekerja sama."


" Aku takut ketahuan dan kena marah sama Ayah." Ujar Kayla yang juga ketakutan.


" Aku akan tanggung jawab." Quin menoleh kearah Raysa. " Ca, gimana? Fatih dah siap?"


" Hmm,.. Dia udah siap menangkap kamu."

__ADS_1


Quin tersenyum. " Bagaimana dengan Lana dan Kak Zein?" Tanya Quin beralih menatap Kayla dan Anggel bergantian.


" Lana dan Kak Zein siap siaga. Mobil sudah terparkir di luar, saat kamu kasih signal, Lana akan langsung masuk kedalam mobil."


" Good.."


Quin memandang jam yang ada di dinding, 30 menit lagi dirinya akan di panggil untuk turun, menyaksikan Abi untuk mengucapkan ijab qobul.


Quin yang menggunakan kebaya buatan Tante Ara pun terlihat sangat cantik. Quin sengaja menggunakan celana Legging, agak ia bebas bergerak saat mengangkat rok nya.


Quin berjalan kearah jendela, Terlihat Fatih yang sudah siap siaga di bawah sana. Quin memberikan signal kepada Fatih, dan di acungi jempol olehnya.


" Kamu gila Quin." Seru Kayla..


" Itu karna aku tak ingin menikah dengan orang yang tak aku cintai."


Kayla dan Anggel hanya menggelengkan kepalanya, sedangkan Raysa menatap aksi kakak sepupu nya itu.


Dengan seutai tali yang tak sampai tanah, Quin menuruni tali yang sudah di simpul-simpul tersebut secara perlahan. Katakanlah Quin gila, karena melarikan diri dengan menggunakan kebaya nikahnya. Tak ada waktu bagi Quin untuk mengganti pakaiannya lagi.


" Shiit. " Umpat Quin saat tali itu tak sampai ketanah, masih ada sekitar 2 meter lagi ketinggian yang tersisa.


" Bukankah sudah ku bilang, kamu membeli talinya terlalu pendek." Gerutu Fatih.


" Kamu yang menyarankan, jadi ini gimana? " ujar Quin yang masih bergantungan.


" Udah, loncat aja, biar aku tangkap."


" Kamu serius?"


" Yaa.."


" Gimana kalo aku jatuh?"


" Gak akan, cepat.. sebelum ada yang melihat."


Quin menarik napasnya ia menutup matanya, namun suara bariton membuat Quin terkejut dan melepaskan tangannya.


" Quiin..."


" Aaammmmpll" Quin menutup matanya, membayangkan rasa sakit di punggungnya, dan berakibat patah tulang, atau terkilir.


Quin merasakan rengkuhan tangan kokoh yang memegang tubuhnya kuat, Quin tau itu bukan tangan Veer, dan aroma tubuhnya juga bukan Veer ataupun Papa Arka.


Jantung Quin berdegup cepat, takut jika pemikirannya benar. perlahan, Quin membuka matanya sebelah, dan saat melihat siapa yang menggendongnya, Quin membelalakkan matanya.


" Hai Rapunzel !!!"


Quin menelan ludahnya kasar.


Gagal, Quin gagal melarikan diri.


Yuukkk.. follow IG ku..


IG : Rira Syaqila


jangan lupa Tap jempolnya dan komennya sebagai jejak...


Vote nya juga boleh jika berkenan 😁😁😁

__ADS_1


Mari saling berbagi kebahagiaan.


Salam SULTAN KHILAF.


__ADS_2