KEAJAIBAN CINTA KESYA

KEAJAIBAN CINTA KESYA
KCK2 - SULTAN KHILAF 184


__ADS_3

"Bun, kami mau tidur sini, boleh ya.." rengek Anggel, Raysa, dan Quin.


"Kalau Raysa sih bisa, lah kalian berdua ini udah punya suami, izin dong dengan suaminya."


"Pasti di izinin kok. Tenang aja." ujar Anggel dengan semangat.


Ya, Anggel memang di izinkan oleh Lana untuk menginap bersama Kayla, tetapi tidak dengan Quin. Abi melarang Quin karena tak ingin istrinya itu bergadang dan membuat keesokan harinya tubuh sang istri melemah.


"Mas Abi gak seru ih," kesal Quin.


"Cie, Mas Abi!" ledek Raysa yang memang baru mengetahui panggilan yang di berikan oleh Quin untuk suaminya itu.


Quin mencebikkan bibirnya, tak berapa lama Mama Kesya datang untuk menjemput Quin.


"Ma, Quin nginap sini ya," bujuk Quin kepada sang Mama.


"Suami kamu kan gak bolehin, ayo."


"Ma, bujuk Abi dong," rengek Quin lagi.


"Kamu yang istrinya aja gak bisa bujuk dia, apalagi Mama."


"Iih, Mama. Kalau Mama yang ngomong, Mas Abi pasti dengar."


"Quin, ini demi kebaikan kamu. Besok akan menjadi hari yang melelahkan untuk kamu," ujar Mama Kesya sambil membelai rambut Quin dengan sayang.


"Tapi, Ma. Kan ada Anggel di sini."


"Mama bahkan gak yakin dengan Anggel saat ini. Karena kalau kalian udah ngumpul! Pasti bakal ceriwisan sampai pagi."


"Ma," rengek Quin lagi.


"Quin."


Terdengar suara bariton yang berat dari luar kamar memanggil namanya. Tak perlu melihat, karena Quin cukup mengenal siapa si pemilik suara itu.


"Tuh, suami kamu udah jemput," ujar Mama Kesya.


Quin dengan wajah yang di tekuk pun, berat hati bangkit dari duduknya dan berjalan menghampiri sang suami. Anggel, Raysa, dan Kayla pun terkikik sehingga membuat Quin semakin kesal.


"Udah, kalian juga, tidur," titah Mama Kesya.


"Yah, Mama. Baru juga mau mulai," rengek Anggel.


"Iyaa, lagian ini kan malam terakhir Mbak Kayla berstatus perawan." ujar Raysa yang mana mendapatkan sentilan di keningnya dari Mama Kesya.


"Duh, mulutnya udah dewasa ya," ujar Mama Kesya sambil menggelengkan kepalanya.


"Udah, kalian keluar, Kayla harus istirahat," titah Mama Kesya.


"Tapi, Ma__"


"Ayoo, Kalian boleh tidur di sini, tapi gak di kamar Kayla. Udah, sana keluar, cepetan."


Raysa dan Anggel pun mengerucutkan bibirnya. Gagal deh rencana mereka untuk menggoda Kayla di malam terakhirnya berstatus single.


Quin sudah terkikik di luar kamar, akhirnya Anggel dan Raysa juga ikut di usir dari kamar oleh Mama Kesya.


"Senang banget dia, lihat kita di usir," ujar Anggel kepada Raysa.


"Ho'oh." Raysa pun mencebikkan bibirnya.


Quin memeletkan lidahnya dan mengalungkan tangannya pada leher sang suami. Tadi sebenarnya Abi ingin langsung menggendong Quin dan membawanya, tetapi Quin meminta sabar dan ingin mendengarkan Mama Kesya mengusir sahabat-sahabat yang merangkap saudara itu dari kamar aunty kecilnya.


"Ini, sok romantis." ujar Raysa.


"Iri? Bilang bos." Quin sangat puas melihat kekesalan Raysa dan Anggel.


Bagaimana tidak, Lana dan Fatih sibuk bermain batu sambil berjaga malam. Layaknya di malam pernikahan di masyarakat pada umumnya. Bedanya, penjagaan pada rumah Kayla sangatlah ketat, mengingat kejadian yang menimpa Kayla. Bukan tak mungkin kan jika ada orang lain yang ingin berniat buruk juga? Walaupun mereka berharap agar tak terjadi apa-apa lagi kepada Kayla dan juga Zein.


*


Di dalam penjara, Ela merasa hidupnya kembali pada titik nol, di mana awal kehidupannya mulai hancur dan juga membawanya ke titik ini. Titik di mana kehidupannya dapat merasakan kemewahan seperti layaknya yang orang-orang rasakan.

__ADS_1


"Hei, anak baru. Pindah lo," ujar napi lain dan mendorong Ela ke sisi yang lain.


Mau tak mau, Ela berpindah dan memilih tidur di depan kamar mandi. Ela harus merasakan betapa kejamnya dunia yang ada di dalam penjara.


Tanpa backing yang membantunya, serta tanpa memiliki sebuah kekuasaan. Bahkan, namanya dalam dunia permodelan saja tidak terlalu melejit. Ela hanya beruntung karena diaemiloj postur tubuh yang bagus, sehingga bisa lolos dalam ajang pencarian bakat.


Memiliki banyak teman dari dunia luar, membuat Ela ingin merubah sedikit wajahnya menjadi cantik, tentu saja itu dengan nominal yang tak sedikit. Bagaimana cara Ela membayarnya? Ah, sudahlah. Lagi pula dia tak penting. Terserah dia bagaimana mendapatkan uang-uang tersebut dengan jalur halal ataupun haram.


Hanya sekedar untuk di ketahui, jika kehidupan Ela yang susah payah dia gapai seperti saat ini, kembali ke titik nol tanpa bersisa.


*


Zein menatap ponselnya, dia baru saja mengirimkan sebuah pesan untuk calon istrinya itu.


cling ....


Senyum Zein langsung mengembang kala mendapatkan balasan dari calon istrinya. Zein bernapas lega dan menutup matanya agar terlihat fresh esok harinya.


Zein tak ingin terlihat jelek di hadapan calon istri. Tak sabar rasanya menunggu status mereka berubah semoga semuanya baik-baik saja dan berjalan sesuai rencana.


*


"Na, pulang yuuk, bobok," ajak Anggel kepada sang suami.


"Loh, kamu gak jadi tidur di sini?" tanya Lana.


"Gak di kasih bobok sama Kayla, jadi buat apa bobok di sini," Anggel mengatakannya dengan bibir yang di kerucutkan.


"Bentar lagi ya, aku main satu putaran dulu," rayu Lana.


"Iih, nyebelin. Udah ah, aku bobok sama Ica aja."


Anggel pun menghentakkan kakinya dan berjalan menuju rumah Oma Shella.


"An, pelan-pelan," Lana pun akhirnya bangkit dan menyusul sang istri yang sedang merajuk itu.


Akan tetapi, usahanya sia-sia, karena Anggel mengusirnya dengan telak. Anggel bahkan menutup pintu kamar Raysa dengan kencang sehingga membuat semua orang yang ada di sana menggelengkan kepalanya dan menertawakan Lana.


"Makanya, istri lagi hamil jangan suka dinbikin ngambek," ledek Daddy Bara.


"Kenapa? Di usir?" ejek Fatih dan di sambut tawa dengan Lucas.


"Iya, terancam bakal gak dapat jatah nih gue," ujar Lana dan kembali mendudukkan bokongnya di kursi.


"DL," kata Lucas.


"Apaan tuh?"


"Derita Lo," jawab Lucas dan tertawa terbahak-bahak mengejek penderitaan sang sahabat yang juga merangkap sebagai sepupunya itu.


Lana pun mencebikkan bibirnya, dengan perasaan kesal dan pikiran yang tak fokus, dia kembali ikut bermain batu. Ingin kembali ke kamar Raysa pun percuma, Anggel gak akan membukakan pintu untuknya.


Di tempat lain, Quin masih terkikik geli mengingat saat Anggel dan Raysa di usir dari kamar.


"Bahagia banget mereka di usir, kenapa?" tanya Abi yang penasaran.


"Ada deh, rahasia perempuan."


Padahal, mereka sudah merencanakan untuk menggoda Kayla sepanjang malam. Rencana yang di susun dengan sangat matang, tetapi semua rencana itu berantakan karena mereka di larang mengganggu Kayla.


Wajar saja sih, mengingat hari ini Kayla baru pulang dari rumah sakit. Di tambah calon pengantin baru itu harus banyak beristirahat, mengingat besok adalah hari yang melelahkan dan juga membahagiakan.


Pagi menyapa, sebelum azan subuh, Zein telah bangun dan langsung membersihkan dirinya.


"Ikut solat ke mesjid?" tanya Papi Vano yang melihat sang putra telah bersiap.


"Iya."


Papi Vano, Opa Bram, dan juga Zein pun melangkahkan kakinya keluar rumah.


"Loh, kok pada tidur di sini?" ujar Papi Vano kepada Fatih, Lucas, Lana dan juga Farhan yang semalam tiba-tiba datang dan ikut bergabung.


"Gak tau, bangunin aja, No." titah Opa Bram.

__ADS_1


"Luc, bangun.Tih, Farhan." panggil Papi Vano sambil menggoyangkan tubuh mereka.


Tak berapa lama satu persatu mereka terbangun dan mengucek matanya. Fatih menguap dengan mulut yang terbuka lebar sehingga membuat Lucas merasa jijik dan kesal.


"Jorok banget sih, tutup mulut napa?" kesal Lucas sambil memukul bahu Fatih.


Fatih hanya menggaruk kepalanya dan mengumpulkan kesadarannya.


"Kalian kenapa tidur di sini?" tanya Papi Vano.


"Gak sengaja ketiduran, semalam lagi asik cerita aja, Pi." jawab Lucas.


"Ya udah, cuci muka trus bersiap untuk solat ke mesjid." titah Opa Bram.


"Iya, Pi." jawab Lana.


"Iya, Opa." jawab Fatih, Lucas, dan Farhan.


Ke empat pria itu pun bergegas masuk ke dalam rumah dan mencuci wajah mereka, bersiap untuk berangkat sholat Subuh bersama walaupun masih dalam keadaan mengantuk.


*


"Masya Allah, cantik banget kamu Kay!" seru Quin dengan heboh saat melihat Kayla yang sudah selesai di dandani.


"Ya dong, siapa dulu Mbak-nya," ujar Mama Kesya dengan pede.


"Iih, iya deh iya ... Adiknya Mama, sahabatnya aku," ujar Quin dengan terkekeh. "Eh, lucu juga ya, Ma, kalau di jadiin judul novel." Quin terkikik mendengar julukan yang di berikannya seperti sebuah judul novel.


"Apa nih yang lucu?" tanya Anggel yang baru saja masuk ke dalam kamar Kayla.


"Ini, ada deh, rahasia." Quin semakin terkikik melihat wajah Anggel yang merasa kesal dengan dirinya.


"Ini beneran paket sepatu kets?" tanya Anggel.


"Heum, tau sendiri kan gimana kaki aku. Mana bisa aku pake sepatu heels.


Dengan hati-hati tim make up memakaikan sepatu kepada kaki Kayla yang sakit.


"Aaww ...," ringis Kayla.


"Maaf, Mbak," ujar tim make up yang bertugas untuk memakaikan sepatu kepada Kayla.


"Iya, gak papa. pelan-pelan aja, Mbak, masih sakit," ujar Kayla sambil meringis.


Tim make up pun memakaikan sepatu Kayla dengan perlahan. Melihat tatapan tajam dari Anggel, membuatnya sedikit takut dan bergetar.


"Aww...." ringis Kayla lagi.


"Duh, Mbak, bisa pelan-pelan gak sih?" kesal Anggel dan menyuruh tim make up yang bertugas untuk memakaikan sepatu Kayla untuk minggir.


Anggel pun berjongkok dan memakaikan sepatu Kayla.


Aman, mulus, tanpa rasa sakit sedikit pun yang di rasakan oleh Anggel.


"Sudah siap?" tanya Mama Rosa kepada semuanya, terutama Kayla.


"Sudah, Oma." jawab mereka serentak.


Om Kiki pun masuk dan menggendong Kayla untuk di dudukkan di kursi roda.


Raysa mendorong kursi roda yang di duduki oleh Kayla menuju ke ruang tamu, di mana akan berlangsungnya ijab Qabul.


Zein terpana melihat betapa cantiknya Kayla saat ini. Walaupun duduk di kursi roda, akan tetapi tak mengurangi kecantikan Kayla.


Pandangan Zein turun ke arah sepatu yang di kenakan oleh Kayla. Pria itu menghela napasnya pelan.


** Yukk.. follow IG ku..


IG : Rira Syaqila


jangan lupa Tap jempolnya dan komennya sebagai jejak...


Vote nya juga boleh jika berkenan 😁😁😁

__ADS_1


Mari saling berbagi kebahagiaan.


Salam SULTAN KHILAF


__ADS_2