KEAJAIBAN CINTA KESYA

KEAJAIBAN CINTA KESYA
KCK2 - SULTAN KHILAF 17


__ADS_3

Sepeninggalan Quin, Mama Kesya , dan Papa Arka, Veer dan Nafi saling memandang satu sama lain.


" Eemm, aku akan tidur di sofa." Ujar Nafi mencoba mengalah.


' Hah? dia rela tidur di sofa? kok beda dengan yang aku bayangin yaa?' Batin Veer.


" Ngapain kamu?" Ujar Veer saat melihat Nafi sudah memeluk bantal dan guling, serta siap untuk turun dari tempat tidur.


" Tidur si sofa" Jawab Nafi polos.


" Biar aku aja yang di sofa. Kamu tetap di situ."


" Tapi.."


" Udah, aku ngantuk. Malas berdebat." Veer mengambil bantal dan langsung merebahkan dirinya di sofa.


" Kamu gak ganti baju?" Nafi mencoba memberanikan diri bertanya


Pasalnya Veer masih menggunakan baju kemeja nya dan celana bahan.


" Nanti aja, lagi malas."


Nafi bungkam, sebaiknya dia ikut tidur. Tubuhnya sungguh lelah, tidak hanya tubuhnya, fikirannya juga ikut lelah.


Nafi sudah berkali-kali merubah posisi tidurnya, akan tetapi bayangan ular tersebut masih bermain di pelupuk matanya. Nafi duduk dan memandangi Veer yang sepetinya sudah berkelana di alam mimpi.


Nafi menghela napasnya. kembali, Nafi memandangi Veer dari jauh. Terlihat Veer melipat kedua tangannya di atas dada, seolah dirinya kedinginan. Nafi bangkit dengan membawa selimut. Nafi menyelimuti tubuh Veer. Nafi duduk di lantai yang beralaskan karpet tebal. Nafi memeluk tubuh sambil memandangi wajah Veer


7 tahun silam.


Pertandingan Basket antar kelas menjadi pertandingan yang di tunggu-tunggu. Bagaimana tidak, Hanya di pertandingan ini mereka dapat melihat wajah-wajah tampan yang dipenuhi dengan keringat.


" Kak Veer....Kak Lanaa..."


Suara teriakan terus menyebut dua nama pria itu. Pria berparas bule dan pria yang sangat tampan dan ramah. Siapa yang tidak mengenal mereka, terkadang mereka dijuluki si kembar tapi berbeda.


" Kamu dukung siapa Naf?"


" Hah? Aku.. " Mata Nafi terus memandang wajah Veer yang sedang serius membawa bola.


" Biar aku tebak, kamu menyukai Veer?"


" Eeh... Itu.." Nafi menunduk malu."


" Sudah, ini hanya akan menjadi rahasia kita."


Nafi tersenyum kepada melati. Yaa, melati adalah tetangga Nafi yang duduk di bangku SMA, sedangkan Nafi masih duduk di bangku SMP. Mereka sangat akrab, itulah sebabnya kenapa Nafi bisa menonton pertandingan Basket tingkat SMA, karena Melati yang mengajaknya. Dan, hanya kesempatan ini lah yang membuat Nafi bisa memandang wajah Veer. Yaa, Nafi mengagumi Veer sejak pertama kali melihat pria itu. Di mana sekolah menengah pertama dan menengah atas memiliki gerbang yang sama, namun gedung yang berbeda. Namanya juga sekolah elit.


Ingatan Nafi kembali saat pertama kali bertemu dengan Veer.


" Keras banget sih.." Nafi mencoba membuka laci miliknya.


Braak..


Nafi terkejut saat sebuah tangan tiba-tiba saja menarik kuat pintu laci besi tersebut.


" Ini memang sudah rusak. sebaiknya kamu laporkan kepada bagian sekolah. Meminta laci yang lain."


" Eeh, emm .. terima kasih.."

__ADS_1


" Sama-sama"


Veer tersenyum sangat manis dan lembut.


" Veer, kenapa masih di sini? Ayoo, kepala sekolah sudah menunggu." Suara seorang wanita mengambil atensi Nafi.


Sekali lagi, Veer memberikan senykman kepada Nafi. Nafi menatap punggung Veer dan gadis cantik yang memanggilnya itu.


" Veer, kak Veer." Nafi mengulang nama Veer, sambil menyunggingkan senyumnya.


" Heei, melamun ." Melati mengejutkan Nafi.


" eeh, udah selesai?"


" Makanya, jangan melamun aja "


Ponsel Nafi bergetar, dan menampilkan nama sang Papa.


" Halo Pa.."


"....."


" Baiklah, Nafi kesana sekarang." Nafi menyimpan ponselnya.


" Kenapa?"


" Ada tamu urusan mendadak yang harus aku hadiri, Jadi, Om Hari menjemput sekarang, beliau juga sudah menunggu di depan."


" Ya sudah, ayo aku antar."


" Tidak usah, aku bisa sendiri. Gerbangnya sangat jauh. Nanti kak melati lelah berjalan sendiri "


Nafi berjalan melewati koridor sekolah. Mata Nafi menangkap Veer yang tengah bercanda dengan teman pria nya. Pria bermata biru, Nafi tidak begitu mengenal namanya.


" Aaw..." Nafi terjatuh.


" Lihatlah si cupu ini. Heei, anak kecil. Kalo jalan pakai mata. Percuma mata kamu udah 4, tapi masih gak bisa melihat. Ha..ha..ha."


" Maaf, aku tidak sengaja."


" Benarkah? Mari aku bantu."


Nafi memandang uluran tangan gadis cantik itu, Nafi tau siapa dia. Dia wanita yang pernah bersama Veer saat pertama kali Nafi bertemu Veer.


Nafi menerima uluran tangan wanita itu, namun Nafi kembali terjatuh. Nafi geram, Nafia


bangkit dan menantanh gadis itu.


" Lihat lah, berani sekali dia melotot ke arah ku. ha. ha.."


" Dengar, sama sekali tidak takut dengan kalian. Lagi pula aku tidak bersalah."


" Oh yaa? Siapa bilang kamu tidak bersalah? Kamu bersalah, dan sangat bersalah. terutama mata mu itu."


Nafi mengerutkan keningnya, apa yang salah dengan matanya? Apa mereka tau jika bola mata Nafi berwarna hazel?. Selama ini Nafi sengaja menggunakan contac lensa berwarna hitam natural, karena Nafi tidak pede dengan warna bola mata aslinya.


" Ke-kenapa dengan mata ku?" Nafi gugup.


" Karena mata mu itu sering melirik kearah Veer. Dengar gadis kecil, Tidak ada yang boleh mencuri perhatian Veer, apa lagi kau mencoba mendekatinya. Aku tau, kau menyukai Veer, tapi sayang, Veer tidak menyukai gadis jelek yang cupu dan penuh jerawat seperti mu. Kau sangat menjijikkan. Sungguh sangat menjijikkan" Gadis itu menolak-nolak kepala Nafi.

__ADS_1


Nafi menggenggam tangan gadis itu, sehingga dia memekik kesakitan. Dengan gerakan cepat gadis itu menyiram Nafi dengan minumannya sehingga membuat Nafi basah.


" Kau pantas mendapatkannya. Aaaaa. "


Nafi mendorong tubuh wanita itu kuat. Nafi tidak menyadari jika mereka berada di dekat anak tangga, sehingga gadis itu terjatuh. Tidak tinggi memang, hanya dua anak tangga saja. Tapi berhasil membuat kaki gadis itu terkilir.


" Ada apa ini?" Suara bariton yang sangat Nafi kenal mengambil atensi mereka semua.


" Veer, dia mendorong ku. Aku tidak sengaja menabraknya dan menumpahkan minuman keatasnya. Saat aku mencoba membantu membersihkannya, dia marah dan mendorong ku. Veer, aah.. sakit sekali.. kaki ku.."


" Gempi, kau baik-baik saja?" Veer mendekat kearah gadis yang ternyata bernama gempi tersebut.


" Aku baik-baik saja, tapi kaki ku sakit sekali."


Dengan sekali gerakan, Veer menggendong gempi.


" Namamu Nafisa bukan? sebaiknya jaga etika mu kepada yang lebih tua." Veer meninggalkan Nafi setelah mengatakan itu dengan penuh amarah.


Nafi memejamkan matanya, semua tatapan kebencian di tujukan kepadanya. " Perasaan apa ini? Aku senang di saat dia mengetahui nama ku? Tapi dalam saat bersamaan aku juga membencinya. Sangat membencinya." Satu tetes air mata Nafi keluar.


" Nafi, kau baik-baik saja?" Melati menyadarkan lamunan Nafi.


" Aku baik-baik saja." Nafi menghapus air matanya cepat.


" Ayoo, aku temani sampai kegerbang." Melati membantu membawakan barang bawaan Nafi.


" Lihatlah, dia membuat kakak kelasnya sebagai pembantunya. Sunggu melati yang malang." Gempi berusaha menyulut emosi Veer.


Veer berbalik saat melihat Melati berlari kearah Nafi, dan Veer melihat jika Nafi membiarkan melati membawa tasnya, dan meninggalkan Melati di belakangnya. ' Gadis sombong.' Batin Veer.


Sejak saat itu, terdengarlah gosip jika Nafisa adalah gadis sombong dan angkuh. Dia suka memperbudak temannya yang derajatnya lebih rendah dari dirinya. Hingga Nafisa tidak tahan dan pindah sekolah entah kemana. Tidak ada tau, dan juga tidak ada yang peduli kemana Nafisa pergi, termasuk Veer.


.


.


Veer terbangun saat merasakan bajunya di tarik. Veer terkejut saat melihat Nafi duduk dibawah sofa dengan kepalanya bersandar di sofa. Nafi juga menarik baju Veer. Sepertinya wanita ini kedinginan.


Veer menatap tubuhnha yang sudah ditutup selimut. ' Kenapa dia tidur situ? apa dia yang nenyelimutkan aku? Tentu saja dia, karena tidak ada orang lain di kamar ini.' Batin Veer


Ver bangkit, dan mengumpulkan nyawanya. Setelah merasa nyawanya terkumpul, Veer membopong tubuh Nafi dan memindahkannya keatas tempat tidur.


" Jangan.. Aku mohon.. Jangan sentuh aku.. , Racau Nafi.


Veer memandang wajah Nafi yang penuh dengan keringat. ' Apa yang terjadi?'


Veer tersentak saat tanganya digenggam kuat oleh Nafi. " Jangan tinggalkan aku, aku takut.."


Veer menatap wajah Nafi, tiba-tiba saja rasa keingintahuan nyanyentang Nafi tumbuh. Apa yang terjadi dengan Nafi, sehingga dia bisa bermimpi buruk seperti itu.


IG : Rira Syaqila


jangan lupa Tap jempolnya yaa..


Cukup like aja udah buat aku bahagia banget loh.


Jangan lupa komennya yaa.. Biar makin semangat..


Mari saling berbagi kebahagiaan.

__ADS_1


Salam SULTAN KHILAF.


__ADS_2