KEAJAIBAN CINTA KESYA

KEAJAIBAN CINTA KESYA
KCK2 - SULTAN KHILAF 83


__ADS_3

"Kamu kok tau ada eskrim enak dekat sini?"


"Nebak aja."


Quin mengerutkan keningnya, sambil menatap Abi curiga. Abi terkekeh melihat Quin seperti itu.


"Saat ke sini, Aku tak sengaja melihat adabgerai eskrim. Jadi, aku fikir mungkin eskrimnya enak, karena ramai pengunjungnya. Dan lagi pula, mana ada eskrim yang tak enak."


Quin mengangguk setuju, kemudian ia teringat akan Arumi dan Jamal.


"Abi, bagaimana dengan Arumi?" Terlihat wajah kekhawatiran di wajah Quin.


Walaupun Quin merasa Arumi mengkhianatinya, tapi Quin seolah merasa ada yang ingin Arumi katakan kepadanya. Lagi pula, untuk apa Arumi meminum obat penggugur kandungan di saat kandungannya sudah membesar? Pasti ada sesuatu yang tak beres.


"Arumi baik, walaupun anaknya haru masuk ruang NiCU."


Quin mengangguk, ia ingin bertanya tentang Jamal, namun ia urungkan.


Pesanan Quin dan Abi pun sampai. Mata Quin berbinar saat melihat eskrim rasa strawberry tersebut.


"Emm, enak ..." Ujar Quin saat sudah menyendokkan eskrim kedalam mulut nya.


Abi tersenyum di kala melihat wajah Quin yang sangat menikmati eskrim. Quin sebenarnya ingin menyuruh para pengawalnya ikut memakan eksrim, namun melihat situasi yang tidak aman, membuat Quin mengurungkan niatnya. Quin janji, saat semuanya aman, aquin akan mentraktir mereka semua makan eskrim.


*


Nafi menatap ponsel yang ada di tangannya, ia sangat fokus membaca sebuah artikel tentang dirinya dan Veer di sana. Di mana mereka mengadan pernikahan yang megah. Bahkan di sana juga terdapat foto jika Veer sedang mencium dirinya.


Nafi membolakan matanya saat membaca bagian itu. Veer mencium nya di depan semua orang?


Nafi belum percaya jika apa yang di katakan oleh Quin dan juga Mama Kesya dan Mama ayu, jika mereka saling mencintai. Nafi masih berfikir dengan pendiriannya, jika Veer memanfaatkan dirinya untuk memperluas bisnisnya.


"Sayang .."


Suara bariton yang mengejutkan Nafi membuat Nafi harus menjatuhkan ponselnya. Nafi kelabakan, ia dengan cepat menarik selimut dan menutupi tubuhnya. Nafi juga tak berani memandang wajah pria yang sudah berdiri di dekatkan.


Perasaan Nafi, tadi ia bersama Mama Ayu, kapan pria bernama Veer ini masuk? kenapa ia tak mendengar suara pintu terbuka atau derap langkah kaki?


"Sayang, Kamu gak ingat sama aku?" Tanya Veer dengan lirih. Tersirat kesedihan di sana, namun Nafi tak ingin menganggap jika Veer benar- benar sedih. Bisa saja Veer hanya berpura-pura.


"Maaf, bi-bisakah kamu meninggalkan ku? Aku hanya ingin di temani Mama, atau Qila."


Veer menghela napasnya, ia tak ingin membuat Nafi semakin frustasi. Lihat saja, Nafi terlihat sangat ketakutan saat dirinya mendekat. Bahkan tubuh Nafi terlihat bergetar. Sebaiknya Veer harus bersabar dulu.


Hah, Baru saja Veer merasakan kebahagiaan bersama Nafi, namun Veer harus memulainya kembali dari nol, Bahkan di bawah nol.


"Baiklah, aku keluar. Tapi kamu jangan lupa makan ya ... Tidurnya jangan kemaleman. Aku gak mau kamu sakit. Dan, kalo kamu perlu sesuatu, aku akan selalu berada di luar."


Nafi tak menjawab, dan juga yang menganggukkan kepalanya. Tangan Nafi masih setia meremas selimut untuk menutupi tubuhnya, bahkan terlihat jika tangan Nafi semakin bergetar.


"Aku keluar ya ...."


Veer dengan berat hati harus meninggalkan Nafi. Padahal, ia sangat ingin berada di sisi sang istri. Ia ingin menjaga Nafi 24 jam, dan tak ingin jauh dari istrinya itu. Sampai keadaan benar-benar aman.


"Udah bicara?" Tanya Mama ayu saat melihat Veer keluar dari ruang inap Nafi.


"Nafi tak ingin berbicara dengan Veer, Ma." Ujar Veer dengan sendu.

__ADS_1


"Kasih Nafi waktu ya. Dan jangan lupa berdoa, agar Nafi bisa kembali menerima kamu seperti dulu lagi, dan mencintai kamu."


"Iya Ma, Amin.."


Mama Kesya yang melihat Veer sedih pun merasa tak tega. Mama Kesya memegang bahu Veer, seketika Veer langsung memeluk Mama Kesya.


"Veer yang sabar ya, Veer harus kuat. Nafi butuh Veer. Veer percaya kan sama Mama?" Suara Mama Kesya yang lembut dan menenangkan membuat Veer sedikit tenang.


Dedi datang dan memberi kode kepada Veer. Veer pun berpamitan kepada Mama Kesya dan Mama Ayu. Setelah kepergian Veer, Mama Kesya dan Mama ayu pun masuk kedalam ruang inap Nafi.


"Ma ..." Panggil Nafi dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


"Ya sayang." Mama Ayu mendekat.


"Jangan tinggalin aku ... Aku takut." Nafi memeluk Mama Ayu.


"Maafin Mama, Mama hanya memberikan kamu dan Veer waktu untuk berdua."


"Nafi gak mau. Nafi takut Ma. Bagaimana jika dia bukan orang baik?"


Mama Kesya tersenyum di kala Mama ayu melirik kearahnya. Mama Kesya bisa memaklum, Kondisi Nafi saat ini sungguh.l sangat memprihatinkan, wajar saja jika ia tak percaya dengan Veer. Apalagi penjelasan Dokter Dina tadi mengatakan, jika Nafi takut melihat setiap pria. Ia takut jika pria itu bermaksud jahat kepada dirinya, bahkan dengan Papa Danu saja, Nafi juga takut. Segitu besarnya trauma yang Nafi rasakan saat ini.


"Maaf Tante," Ujar Nafi sambil melirik takut kepada Mama Kesya.


Mama Kesya mendekat kearah Nafi. Di belainya rambut Nafi dengan sayang.


"Gak papa, Mama maklum kok. Mama bisa mengerti apa yang Nafi rasakan."


Nafi meraksan hati nya menghangat. Ternyata belaian tangan Mama Kesya di rambut Nafi, membuat Nafi merasa tenang dan nyaman. Nafi pun tersenyum Kikuk, ia tak tau harus bersikap seperti apa. Haruskah ia belajar memanggil Tante Kesya dengan sebutan Mama?


"I-iya Tan, eh, Ma." Nafi meralat panggilannya dengan cepat. Tak ingin membuat Mama Kesya tersinggung.


"I-iya Ma."


*


Veer mendengarkan penjelasan Om Duda. Target Riki saat ini tidak hanya Nafi, melainkan Quin juga. Kecantikan Quin membuat Riki ikut tergoda. Bahkan, sebelum Nafi ternyata Riki pernah memaksa tiga orang perempuan untuk menjadi miliknya dan memuaskannya. Tak hanya itu, Riki sepetinya berniat memiliki 7 wanita cantik yang ingin di jadikannya sebagai bidadari hidupnya. Dari ketiga wanita itu, Di tambah Nafi dan Quin sudah ada lima, itu tandanya Riki akan mencari mangsa hingga 2 wanita cantik lagi.


Lana dan Zein yang mendengar itu, langsung memikirkan tentang Anggel dan Kayla. Mereka bisa di katakan terbilang wanita cantik. Lana dan Zein takut jika pujaan hatinya juga ikut menjadi sasaran si penjahat kelamin tersebut.


"Abash sudah melacak tempat tinggal Riki, memang Riki ini sudah seperti tikus cecurut yang bersembunyi di lobang kecil. Namun kita pasti bisa menangkapnya." Ujar Om Jodi.


"Iya Om, Kami juga akan berusaha mengerahkan semua pengawal untuk menjaga Quin, Anggel, Kayla, dan Nafi." Ujar Lana kepada Om Jodi.


"Ngomong-ngomong soal Quin, mana dia? Dia harus menjelaskan sesuatu kepada Papa."


"Quin bersama Abi."


Papa Arka mengenal napasnya, "Hubungi Abi, suruh dia membawa Quin bersamanya menemui Papa."


Bukan tanpa alasan Papa Arka menyuruh Lana untuk menghubungi Abi. Papa Arka sudah mengetahui tentang Jamal dan Arumi. Papa Arka hanya ingin mendengar penjelasan dari Quin dan juga Abi.


Lana pun menghubungi Abi, dan mengatakan apa yang Papa Arka sampaikan tadi.


*


"Siapa?" Tanya Quin yang baru saja menyendokkan eskrim terakhirnya.

__ADS_1


"Lana,"


"Ada apa?"


"Papa Arka ingin bertemu dengan kita."


Quin menelan ludahnya kasar, baru saja ia ingin menyembunyikan tentang Arumi dan Jamal, namun sepertinya itu adalah hal yang sulit bagi dirinya. Seharusnya ia tak melupakan jika rumah sakit ini juga salah satu kepemilikan keluarga Moza.


'Dasar Quin bloon.' Quin menggurutu untuk dirinya sendiri.


Quin membalas genggaman tangan Abi, saat mereka sudah berada di depan ruangan Opa Bram. Abi mengetuk pintu tersebut, sehingga terdengar sahutan dari dalam. Pintu terbuka, dan memunculkan sosok Abi dan Quin yang saling berpegangan tangan.


"Pa." Lirih Quin saat melihat tatapan elang sang Papa.


Quin tau, Papa nya saat ini pasti sedang kecewa dengan dirinya. Karena kembali ikut campur kedalam urusan Arumi dan Jamal. seharusnya Quin tak memperdulikan mereka, ataupun ikut mengantar Arumi ke rumah sakit. Namun hati nurani Quin menolak akan hal itu.


"Kalian semua keluar." Titah Papa Arka kepada Lana, Zein, Veer, Lucas, Om Leo, Opa Bram, Om Duda, Dedi, Om Jodi dan juga para pengawal yang di percaya.


Tinggal lah Abi, Quin, dan juga Papa Arka. Papa Arka menatap kedua nya bergantian.


"Siapa yang akan menjelaskannya kepada Papa? Papa rasa, kalian berdua tau apa yang Papa maksud kan?"


Quin menelan ludahnya, ia meremas tangan Abi dengan kuat. Abi tau, jika saat ini Quin sedang ketakutan.


"Biar Abi yang jelaskan, Pa."


"Tidak, Biar Quin aja." Quin menatap kearah Abi. "Aku yang akan jelaskan."


Abi menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.


"Pa, Quin minta maaf, karena sudah kembali terjerumus kedalam masalah Arumi dan Jamal."


Quin pun mulai menceritakan kenapa ia bisa sampai membantu Arumi ke rumah sakit, Quin juga mengatakan jika Arumi memaksa untuk bertemu dengannya, karena ada yang ingin di sampaikan nya kepada Quin. Namun, saat Arumi ingin menyampaikan sesuatu, Arumi mendapatkan pendarahan, sehingga Quin merasa iba dan tak tega membiarkan Arumi sendiri ke rumah sakit.


Quin berani bersumpah bahwa bukan dirinya yang mengunjungi Jamal, Abi pun juga tidak. Mereka tidak tau dari mana Jamal sampai tau jika Arumi berada di rumah sakit. Dan saat itu juga, Jamal hendak memukul Quin, namun Bagi menghalangi nya. Hingga terjadilah pertengkaran antara Abi dan Jamal.


Papa Arka mengenal napasnya, Sebelumnya Papa Arka sudah memeriksa keseluruhan cctv yang terjadi di rumah sakit dan juga di toko kue.


Arumi memang terlihat datang sendiri menggunakan taksi, namun setelah kepergian Arumi dan Quin, Dua puluh menit kemudian Jamal menghampiri toko kue, dan mnegacak-acak tempat tersebut. Perkelahian di rumah sakit pun Papa arka juga mengetahuinya, papa Arka hanya ingin Putri nya menjawab dengan jujur apa yang terjadi.


Papa Arka tersenyum dan mendekati Quin. Di sentuhnya kedua bahu Quin.


"Papa percaya, dan Papa bangga sama kamu karena lebih mementingkan nyawa seseorang dari pada rasa benci kamu."


Terlihat Quin bernapas dengan lega.


"Tapi tetap aja, itu berbahaya untuk kamu, karena Jamal itu ingin melukai kamu. Papa gak akan tenang jika tadinya Abi tidak bersama kamu. Papa yakin, Jika Abi pasti bisa menjaga kamu."


Quin tersenyum. 'Papa yakin? Tapi Quin. gak yakin, gimana mau jaga Quin? Sedangkan Abi gak bisa bela diri. Mungkin maksud Papa di kelilingi dengan pengawal kali ya?' Batin Quin.


Yuukkk.. follow IG ku..


IG : Rira Syaqila


jangan lupa Tap jempolnya dan komennya sebagai jejak...


Vote nya juga boleh jika berkenan 😁😁😁

__ADS_1


Mari saling berbagi kebahagiaan.


Salam SULTAN KHILAF.


__ADS_2