
Quin menatap mobil Pajero yang baru saja memarkirkan mobilnya di parkiran. Tak berapa lama, Pintu mobil di bagian kemudi pun terbuka, dan Quin langsung berjalan tergesa kearah si pemilik mobil.
" Kita perlu bicara."
Dan disinilah mereka, di ruangan Abi. Ya, pria pemilik mobil Pajero itu adalah Abi, si Dokter hewan menyebalkan.
" Mari kita buat kesepakatan."
Abi menaikkan alisnya sebelah, lalu dia tersenyum sambil menautkan jari jemarinya diatas meja.
" Baiklah, saya setuju.."
" Ingat, hanya pura-pura menjadi kekasih, dan tidak lebih dari pegangan tangan saat menunjukkan keromantisan di depan beliau-beliau itu." Ujar Quin dengan penuh penekanan.
" Okee..."
" Dan satu lagi, tidak ada pernikahan."
" Okee, ada lagi?"
" Untuk saat ini tidak."
" Baiklah, aku cuma punya satu permintaan."
" Katakan, asal itu tidak membuat ku rugi."
" Jangan pernah jatuh cinta kepadaku."
"Bbwaaahahahahha.... " Quin tidak sanggup menahan tawanya. Hingga dia tertawa terbahak-bahak sambil memukul-mukul meja.
" Apa aku tidak salah dengar?. Ekheemm, baiklah. bukannya aku berlagak sombong atau sok cantik, tapi aku takut jika kamu yang akan jatuh cinta kepadaku "
" Oh yaa, bagaimana jika kamu yang jatuh cinta kepada ku?"
" Tidak akan, aku tidak akan pernah jatuh cinta dengan kamu."
" Oh yaa, segitu yakinkah?"
" Yaa, karena kamu orang yang paling menyebalkan. Bahkan Lana masih lebih baik dari mu.. ha..ha..ha.."
" Baiklah, jadi aku tidak perlu mengkhawatirkan perasaan mu."
" Yang harus kamu khawatirkan adalah perasaan mu sendiri, Dokter.." Quin masih tertawa sambil geleng-geleng kepala. Tak taukah Abi, jika Quin memiliki tipe ideal yang sangat tinggi, dan yang pasti jauh dari Abi.
" Baiklah, jangan menangis jika kamu tiba-tiba jatuh cinta kepadaku.."
" Ha..ha..ha.. tidak akan.."
Setelah membuat kesepakatan yang menurut mereka tidak merugikan satu sama lainnya, Abi langsung meminta Quin untuk bertemu kakeknya malam ini.
" Woow, ternyata kamu gak sabaran yaa.. Baiklah, katakan, aku harus bagaimana?"
" cukup katakan kalau kita saling mencintai."
" Baiklah, bukan hal yang sulit. Tapi ingat, tidak ada yang namanya cium-cium. Atau aku akan menyuruh Empus menggigitmu."
" Empus? hmpp... Baiklah.. bukan hal yang mengerikan."
Quin sudah menaikkan sudut bibirnya dengan tersenyum licik, belum tau saja Abi, Empus itu hewan apa.. Mungkinn bisa kucar-kacir dia jika melihatnya.
.
.
" Kamu yakin tak ingin bertemu dengan mereka?" Veer sengaja datang ke toko untuk membahas acara makan malam yang sudah kakek rencanakan.
" Veer, kita sudah membahas ini. Dan aku tetap pada keputusanku."
" Quin, mereka dari keluarga yang terhormat dan terpandang. Pemilik perusahaan terbesar di Eropa, apa kamu tidak tertarik? Bahkan kamu bisa memelihara 10 ekor Empus jika kamu mau, dan pastinya di hutan pribadi milikmu."
" Apa aku terlihat sematre itu?"
" Bukan itu maksudku, tapi coba lah membuka hati mu.."
'Kenapa tidak kamu saja yang membuka hati Veer?' batin Quin.
" Aku tidak ingin menikah dengan bule. "
" Baiklah jika kamu tidak ingin menikah tapi setidaknya kamu datang, dan jangan membuat kakek kecewa. Hanya makan malam, setelah itu semua keputusan ada di tanganmu." Veer menjeda ucapannya. " Tapi tetap dengan satu syarat dari kakek, kamu harus memiliki pasangan jika tidak ingin perjodohan ini dilanjutkan. Dan, aku rasa menerima Lana bukan ide yang buruk."
" Veer, aku tidak akan menerima Lana."
" Kenapa? Apa kurangnya Lana?. Dia seorang produser muda yang terkenal."
" Veer, aku punya alasan yang kuat untuk menolak Lana."
" Katakan ." Veer sudah menatap Quin dengan meminta penjelasan yang jujur.
Quin menghela napasnya, sepertinya Quin harus jujur kepada Veer. " Anggel menyukai Lana."
Veer membolakan matanya. " kau yakin?"
" Apa aku terlihat seperti sedang berbohong?"
" Sejak kapan?"
__ADS_1
" Sejak SMA, dan Lana hanya menganggapnya adik. yaa, walaupun kamu tau, jika Anggel lebih tua dari pada kita."
" Apa kamu sudah mengatakannya kepada Lana?"
" Apa kamu fikir Lana itu bodoh seperti mu? Yang tidak bisa membedakan perempuan yang menyukainya dan tidak?"
" Jadi Lana tau?"
" Yaa, Lana tau, dan dia menyembunyikan perasaannya, karena masih berfikir jika perasaan itu hanya perasaan seorang Abang ke adiknya."
" Lana bodoh "
' Kau juga Veer, apa kau tidak bisa melihat jika ada wanita yang menyukaimu?' Batin Quin.
" Baiklah, tapi besok aku harap kamu datang Quin. Jangan permalukan kakek, hanya sekedar makan malam. Dan aku akan berusaha membujuk Kakek untuk tidak berharap lebih dengan perjodohan ini."
" Baiklah, hanya makan malam. Dan jangan harap jika aku akan menyetujui perjodohan ini. ingat, aku sudah memiliki kekasih."
" Kau sedang tidak berhalusinasi dengan kekasih cantikmu itu kan?"
Quin hanya mengendikkan bahunya.
.
.
" Kamu sudah siap?"
" Sekarang? bukannya nanti malam?"
" Kita akan ke butik dulu. Ayoo.."
Sesuai apa yang Abi katakan, malam ini Abi akan memperkenalkan Quin kepada Kakek dan Aunty. Sebelumnya Abi harus merubah penampilan Quin, bukannya Quin tidak cantik, tapi Abi ingin memperlihatkan jika wanita pilihannya lebih baik dari pilihan sang kakek.
" Ayoo turun.." Abi sudah membuka seatbelnya.
" Eemm, apa harus ke butik ini?"
" Ini butik ternama di kota ini, kau fikir aku akan membawa mu kebutik sembarangan?"
" Bukan begitu, eem.. Seb,-sebenarnya.. Haahh?" mata Quin membola saat melihat sang Mama tercinta masuk kedalam butik. Dengan cepat Quin menundukkan dirinya.
" Apa yang kau lakukan.."
" Sebaiknya cepat pergi dari sini, jika tidak ingin rencanamu berantakan."
" apa maksudmu?"
" Sudah, pergi saja. Di kota ini banyak butik yang tak kalah bagus.. Cepaat..."
Abi hanya mengendikkan bahunya, dan mengikuti perintah Quin.
Setelah menempuh waktu 30 menit, karena terkena macet. akhirnya mereka sampai di sebuah butik yang lebih kecil dari sebelumnya, dan terlihat sederhana.
" Kamu yakin di sini? Aku rasa tempat tadi akan lebih banyak pakaian yang bagus." Abi siap menjalankan mobilnya, namun Quin menahan tangannya.
" Dengar, jika kamu membawa ku kesana, maka rencana mu akan berantakan. Karena apa? Karena di sana itu bajunya bagus-bagus banget, dan hanya wanita kalangan atas yang mampu membelinya, sedangkan aku? Aku hanya dari kalangan biasa, jelas tidak mampu untuk membeli pakaian di butik itu."
" Kamu meremehkan ku? Hei, walaupun aku hanya seorang dokter hewan, tapi pasienku itu bukan pasien sembarangan. Buktinya, ular piton milikmu itu, kamu tau kan berapa harga perawatannya."
", yaa.. yaa...ya.. dan aku harus bekerja keras demi membiayai Berbi."
" jadi, Ayoo kita kembali ke tempat tadi."
" Tidak, kita tetap ke butik ini. Kamu tau, image gadis sederhana lebih menarik dari pada image wanita glamor, yang pastinya terlihat jika uang lebih penting dari segalanya. Yaa, walaupun bagiku itu benar, tapi tetap saja, aku tidak ingin berpenampilan glamor. Toh hanya makan malam."
" Apa yang kamu bicarakan."
" kalian, para lelaki tidak akan mengerti. Ayoo turun.."
Quin duluan membuka pintu mobil dan turun. Quin melambai kearah Abi agar mengikutinya.
" Dasar cewek aneh" Gumam Abi.
Quin memilih satu gaun yang menurutnya cocok untuk makan malam bersama kakek dan aunty nya Abi.
Tok..tok..
" Qila, apa masih lama? aku akan mencoba beberapa baju..." Abi pun berinisiatif untuk mencoba pakaian yang lebih santai untuk makan malam nanti.
Quin yang sudah selesai memakai gaunnya, dan memoles tipis wajahnya pun keluar dari ruang ganti. Quin celingak-celinguk mencari Abi.
" Nona mencari pacarnya tadi ya, Tuan sedang mengganti pakaiannya." Ujar pelayan toko ramah.
" Dia bukan pacar saya Mbak."
" Ooh, maaf. tapi kalian sangat cocok sekali."
Quin hanya tersenyum tipis dan memilih duduk di kursi yang di sediakan.
" Lama banget sih.." Gerutu Quin yang sudah 15 menit menunggu Abi, akan tetapi belum muncul juga.
" Gimana " Abi yang memakai setelan berbahan jeans pun berlagak seolah dia adalah model top seantero.
__ADS_1
Quin yang sudah menunggu Abi dengan kesal pun melihat Abi dari ujung kaki hingga ujung kepala. " Biasa aja.."
Quin pun berdiri dan tersenyum kepada Abi yang masih mematuk tampilannya di cermin.
" Mau pergi sekarang atau tunggu kaca itu pecah?" Kesal Quin yang melihat Abi sedari tadi masih saja membetulkan rambutnya yang tak seberapa bagus itu. Menurut Quin ya..
" Ganteng gini di bilang biasa aja.. Dasar cewek aneh, rusak kali matanya ya.." Gerutu Abi yang masih di dengar oleh Quin. Quin hanya memutar bola matanya malas.
" Makasih Nona, Tuan, sering-sering berkunjung ke sini."
" Tentu, asal masih ada diskon lagi.." Quin mengedipkan matanya sebelah.
Abi memutar bola matanya malas, namun Mata Abi sekana tertarik dengan penampilan Quin yang sederhana namun sangat elegan. Dress hitam selutut tanpa lengan, serta high heels berwarna cream, di tambah rambut yang di gerai indah. Abi sempat terpana dengan penampilan Quin yang baru saja di sadari nya, jika Quin sangatlah cantik.. 'Ekhem, cantik tapi nyebelin. Masih mending Anita, lembut dan baik hati.' batin Abi.
" Apa kamu orang kaya?" Tanya Quin kepada abi, karena Abi mengajaknya makan di restoran yang sangat mewah.
" Tidak, tapi suami aunty salah satu pemegang saham di restoran ini."
Quin mengangguk-anggukkan kepalanya.
" Kamu gugup?"
" Tidak, Ayoo.."
Quin menggandeng lengan Abi, agar mereka telihat seperti pasangan yang sedang di mabuk asmara.
" Selamat malam kakek.." Abi menegur sang kakek yang sedang berbicara depan aunty, dengan membungkukkan sedikit tubuhnya.
" Malam Abi." Mata kakek langsung tertuju kepada wajah cantik Quin yang sedari tadi tersenyum ramah.
" Apa dia wanita yang akan menjadi calon istri mu?" Tebak Kakek.
" Ah, perkenalkan Kek. Ini Qila. Qila, ini kakek, dan ini aunty Risma."
" Assalamualaikum Kek, Aunty." Quin mencium punggung tangan kakek dan Aunty.
Senyum kakek langsung terbit, begitupun dengan aunty. Gadis bernama Qila ini sudah cantik, Ramah, sopan dan juga santun. Berbeda dengan Anita, perempuan yang lebih mementingkan karirnya dari pada perasaan Abi.
Makan malam pun terasa hangat, Quin benar-benar membuat Abi terpukau. Quin bahkan mampu membuat sang kakek tertawa bahagia, sedangkan Anita?, lupakan. mungkin kakek tidak akan tertawa seperti itu, karena dari awal bertemu Anita, kakek memang tidak menyukainya.
" Jadi, kapan kalian akan menikah?"
Uhukk...uhukk..uhukk...
Abi memberikan air kepada Quin, Quin pun meneguk air itu hingga setengah gelas.
" Kakek.."
" Kenapa? Bukannya tadi kalian mengatakan jika kalian saling mencintai?"
Abi ingin menjawab, namun suara Quin membuat Abi menutup mulutnya, Bahkan Abi kagum dengan jawaban Quin.
" Maaf kakek, kami memang saling mencintai. Kami juga jatuh cinta pada pandangan pertama. Untuk itu, kami masih perlu mengenal lebih jauh lagi. Karena pernikahan bukanlah suatu hubungan yang bisa dipermainkan, bagi saya. Saya ingin menikah dengan ornag yang saya cintai, dan juga mencintai saya, dan menikah untuk yang pertama dan yang terakhir. Hubungan kami baru sebesar jagung muda, akan mudah rontok jika terhempas angin kencang. untuk itu, Qila mohon kesabaran kakek dan aunty, dalam hubungan kami. Biarkan kami saling mengenal lebih jauh, agar tidak ada penyesalan di akhir nanti."
Kakek tersenyum, dalam hati, Qila ini sungguh bijaksana, dan tidak mudah mengambil keputusan dengan cepat.
"Baiklah, tapi jangan lama-lama pacarannya yaa.."
Quin tersenyum. " Doakan saja kek, jika kami berjodoh, maka secepatnya kami akan menikah."
Abi benar-benar tidak menyangka jika Quin akan mengatakan hal seperti itu. Quin menatap kearah Abi yang sedari tadi memandangnya.
Ting..
Satu pesan masuk keponsel Abi, dan Abi pun membacanya.
Qila : Jangan pernah bermimpi untuk menikah dengan Ku.
Abi langsung menoleh kearah Quin, dan melihat senyum Quin yang seakan iblis yang menakutkan.
' Sungguh cewek aneh, dan menyeramkan.' batin Abi.
Abi mengajak sang kakek berbicara empat mata, sedangkan Quin bersama Aunty Risma sedang menceritakan perihal wanita. Walaupun Suami Aunty Risma kaya, tapi aunty Risma sangat sederhana, bahkan tidak suka mengkoleksi barang branded.
" Kakek, Abi sudah memperkenalkan kekasih Abi. Jadi, tolong batalkan perjodohannya."
" Baiklah, kakek akan membatalkan perjodohan mu. Tapi ingat, kamu harus bisa membujuk Qila untuk menikah dengan mu. Kakek menyukai dia. Sederhana dan sangat sopan."
" Iyaa kek, Abi akan berusaha."
" Seru banget ceritanya?" Ujar Abi sambil mendorong kursi roda sang kakek menghampiri Quin dan Aunty Risma.
" Iyaa, Qila ini anaknya seru banget. Aunty merasa langsung cocok dengannya... Aunty dukung kamu dengan Qila. dan sebaiknya, kamu mulai mencintai Qila sepenuh hati. dan Lupakan Anita. " Bisik Aunty yang sedikit di dengar oleh Quin.
Kalian ingat kan, kalo author pernah bilang. Jika pendengaran Quin sangat tajam, bahkan kucing kentut pun Quin mampu mendengarnya.
' Ahh, jadi Dokter Abi gagal move on? Kasian banget..: Batin Quin.
IG : Rira Syaqila
jangan lupa Tap jempolnya dan komennya sebagai jejak...
Vote nya juga boleh jika berkenan 😁😁😁
__ADS_1
Mari saling berbagi kebahagiaan.
Salam SULTAN KHILAF.